
Namun dia tidak berani untuk menanyakan lebih jauh soal Bella. Dia hanya menatap sahabtanya yang menghajar Julian hingga babak belur.
“Nick! Bawa orang ini pergi!”
“Oh...sudah selesai ya?” tanya Nick. Tapi lirikan tajam mata sahabatnya membuat Nick takut. “Hei jangan kau pandangi aku seperti itu. Baiklah aku bawa dia pergi.”
“Aku belum selesai dengannya. Berikan hukuman yang berat padanya. Dia harus menerima konsekuensi atas perbuatannya pada Bella!” teriak Dante penuh amarah, matanya menatap Julian dengan tajam membuat Nick segera menarik Julian kedalam lift dan pergi.
Arrrgggggg!
Bug!!!!!!!
Dante sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia mengepalkan tangannya lalu memukul dinding. Melepaskan emosi yang sudah tertahan sejak tadi. Dante berteriak marah, “Apa yang kau lakukan? Aku sudah memberikanmu uang banyak tapi apa yang sudah kau lakukan? Bajingan! Kau menjual putrimu lagi? Aku memberikan kebebasan padanya tapi apa yang kau perbuat bajingan!
Bug!!!! Tanganya kembali memukuli dinging. ‘Kau malah memenjarakan lagi putrimu didunia malam. Menjualnya pada orang-orang tidak bertanggung jawab!” teriaknya marah. ‘Bajingan! Brengsek kau! Kenapa kau lakukan itu pada putrimu?’
Napasnya terengah-engah karena emosi yang memuncak. Dia tak habis pikir betap malangnya nasib gadis itu. Sesuatu yang terasa menusuk hatinya menimbulkan rasa sakit bak tikaman belati tepat didadanya. Sakit! Sangat sakit! Entah mengapa dia merasakan sakit yang sangat dalam.
Setiap kalimat yang terucap berulang kali dari bibir Bella kembali tergiang-giang ditelinganya. Dante mengepalkan tangannya dengan emosi, bahkan tidak peduli dengan darah yang mengalir dari tangannya. Dia tidak merasakan sakit sama sekali, kemarahannya sudah diambang batas. Pikirannya kembali pada kenangan empat tahun silam.
Flashback on
“Maaf Tuan. Semua sudah disiapkan.”
“Apa kau yakin dai gadis baik-baik? Sudah kau periksa dengan teliti?” ucap Dante sambil menyandarkan tubuhnya dan menatap lurus pada kepala pelayannya.
__ADS_1
“Sudah, Tuan dan saya sangat yakin. Saat pria itu menawarkan putrinya, kami sudah mengeceknya. Gadis itu bersih dan masih muda, tidak ada masalah sama sekali.”
“Apa kau sudah pastikan dia sesuai dengan keinginanku?” tanya Dante kembali.
“Sudah Tuan! Kami sudah menutup matanya, dia tidak akan melihat anda. Kain penutup matanya tiga lapis ditambah kain hitam yang menutup kepalanya. Anda tidak akan melihat wajahnya sesuai dengan keinginan Tuan. Bukankah anda bilang kalau anda tidak mau ingat wajahnya? Mulutnya tidak kami tutup jadi anda bisa mendengar suaranya seperti keinginan Tuan. Kami juag sudah mengikat tangan dan kakinya dengan rantai untuk mencegahnya membuka penutup. Dia tidak akan bisa menyentuh Tuan.”
Dante hanya menggangguk-anggukkan kepalanya. “Apa kau sudah menyiapkan pelayan khusus untuknya?”
“Sudah Tuan. Seorang wanita berusia lima puluhan dan dia akan melayani gadis itu saja.” jelas kepala pelayan.
“Dia dari Asia?” kembali bertanya.
“Iya benar Tuan. Dia berasal dari Asia tenggara. Namanya Belinda Alexandra Amani. Sepertinya dia blasteran kalau dilihat dari wajahnya dan kulit putihnya. Gadis itu memiliki mata bulat yang sangat indah. Dia bersih dan masih segel. Semuanya sesuai dengan keinginan Tuan.” jawab kepala pelayan itu lagi.
“Baik Tuan, akan saya laksanakan sesuai perintah.”
Kepala pelayan itupun pergi untuk memberitahukan pelayan lain agar mempersiapkan gadis itu untuk dipersembahkan pada majikannya.
Dante yang puas dengan informasi yang didapat dari kepala pelayanpun menyunggingkan senyum puas. Dia pun berdiri menuju pintu lalu menuju tempat yang sudah disiapkan untuk malam itu.
Ceklek! Pintu terbuka, aroma wangi tercium dari dalam ruangan itu.
“Silahkan Tuan.” ucap seorang pelayan. Bertepatan saat Dante masuk kedalam, seorang pelayan wanita pun keluar dari ruangan itu. Dia memberi hormat pada Dante sebelum dia meninggalkan ruangan itu. Tampak seorang wanita terikat diatas ranjang dengan mata tertutup kain hitam.
“Halo, Nyonya tunggu dulu jangan pergi! Tolong berikan penjelasan padaku. Tolong lepaskan aku dari sini!” teriak wanita yang terikat ditempat tidur memanggil-manggil dan terlihat panik dihadapan Dante.
__ADS_1
Tidak ada suara apapun lagi selain suara pintu yang ditutup. Wanita itu semakin gelisah berusaha menggerakkan kaki dan tangannya berusaha untuk melepaskan diri dari rantai yang mengikatnya.
‘Belinda Alexandra Amani! Jadi itu namanya! Dante berjalan mendekat dan mengamati tubuh yang menggeliat. Sejenak Dante yang berada diujung tempat tidur memegang besi yang ada disana dan menatap wanita yang terikat dan panik meskipun belum melakukan apa-apa.
‘Belinda! Gadis ini masih sangat muda sekali, dia masih bersih dan aku memang meminta gadis yang masih bersih. Ucap Dante dalam hatinya lalu berjalan menghampairi. ‘Baiklah aku ingin melihat bagaimana tubuhnya, kalau tidak salah usianya baru tujuh belas tahun, bukan? Apakah dia bisa membuatku bergairah atau tidak. Aku tidak akan bersamanya kalau tubuhnya tidak menarik! Ucapnya.
Lalu tangannya terjulur ke punggung tangan gadis yang bernama Belinda itu. “Aarrrhhhh….siapa! Siapa itu?” gadis itu terlihat panik apalagi saat Dante membiarkan saja saaj tangan gadis itu menyentuh tangannya lalu sejenak gadis itu menyadari kalau tangan itu bukanlah tangan wanita.
Sudut bibir Dante bergerak naik, dia menatap gadis dihadapannya dengan penuh gairah.
‘Hmmmm…..aku suka dengan caranya berteriak! Sangat menarik! Dante semakin tersenyum puas dan mulai menggerakkan tangannya memegang kancing pakaian gadis itu. Perlahan mulai membuka kancing baju satu persatu seiring dengan kepanikan sang gadis.
“Tidak! Aku mohon jangan sentuh aku, tolong jangan lakukan itu padaku. Aku mohon lepaskan aku.”
Dante semakin menyeringai, ‘ Hmmmm sungguh menarik, aku suka kepanikannya, deru napasnya yang terengah-engah akan membuat permainan ini semakin menarik, gumamnya lagi. Dante kembali menyesap anggur di gelas yang dipegangnya, perlahan-lahan kesadarannya hilang sedikit demi sedikit.
Dia sudah banyak minum diruang kerjanya, dia memang sengaja melakukan itu dengan menyuruh pelayan menyiapkan anggur untuknya dalam kamar itu juga.
‘Malam ini aku akan berpesta denganmu’ Dante bergumam dan menyakinkan hatinya ketika tangannya mulai bergerak menyentuh bagian tubuh lainnya.
“Tuan tolong jangan lakukan itu, aku mohon padamu jangan lakukan ini padaku. Siapapun kau, aku mohon belas kasihanmu. Aku masih muda dan aku tidak melakukan kesalahan apapun padamu tapi kenapa kau lakukan ini padaku? Berhentilah Tuan, tolong kasihani aku.”
Gadis itu memohon tapi Dante sudah tidak peduli lagi dan dia sudah melepaskannya pakaianya dan sudah bergerak untuk menyalurkan semua hasrat dan keinginannya. Tangannya mengelus paha mulus dan kaki ramping dan panjang gadis itu, indah benar benar indah! Gumamnya lagi.
“Aku mohon jangan! Lepaskan aku Tuan.” tangisan pilu gadis itu memnuhi kamar tapi pria itu mengacuhkannya.
__ADS_1