
Selama ini dia tidak pernah menginginkannya dari pria lain seperti saat ini dia menginginkan Dante, dia pun tidak mengerti kenapa dia bisa seperti ini dihadapan pria itu.
‘Apa dia dalam pengaruh obat sampai dia berani seperti ini? Dia benar-benar menginginkan barang terlarang itu dan tidak bisa mengontrol dirinya! Ah Julian! Wendy! Kalian berdua telah membuat kesalahan besar padaku. Aku tidak akan membiarkan kalian sampai keturuan kalian yang terakhir aku tidak akan memberi ampun! Aku akan menghancurkan garis keturunan terakhirmu jauh lebih buruk dari apa yang kalian lakukan pada Belinda!’ gumam Dante yang menduga bahwa Bella saat ini menginginkan tubuhnya karena ketergantungan obat.
“Hei mau apa kau menaruh tanganmu disana?”
“Ini…..memelintir ini tuan. Bagian bawahku sudah basah sekali, lihatlah tuan sampai tumpah begini. Aku tak tahan lagi dengan rasa yang membakar tubuhku…..aku harus melakukan sesuatu untuk menyelesaikannya.” jawab Bella menggerakkan kedua tangannya memegang puncak kenikmatan yang biasa dipegang oleh Dante.
“Lepaskan tanganmu dari sana! Kau tidak boleh melakukan itu!” perintah Dante tak suka melihatnya.
“Tapi tuan-----” dia benar-benar seperti seorang yang sedang ketagihan dan meminta sesuatu untuk mengendalikan dirinya.
“Pijat lagi tubuhku, jangan berpikir yang macam-macam lagi. Dari tadi aku memintamu untuk memijatku dengan scrub setelah itu aku keluar dari sauna ini dan mandi. Kalau kau masih saja seperti itu aku akan merendamu dia air dingin. Apa kau mau itu?”
“Silahkan tuan lakukan apa saja!”
“Apa?” Dante benar-benar terkejut mendengar jawaban Bella.
Bella menganggukkan kepalanya dengan mantap melihat Dante. Dante tidak menyangka kalau Bella akan memberikan jawaban seperti itu.
“Silahkan saja kalau tuan mau merendamku di air dingin, lakukan apa saja, kau juga boleh meyentil keningku atau apapun itu tapi ijinkan aku memegangnya sebentar lagi Tuan. Biarkan aku merasakannya sebentar lagi.”
‘Ah…..wanita bodoh ini benar-benar sudah rusak! Aku harus membenarkan otaknya, bagaimana caraku membenarkannya kalau sudah begini? Hufff…..’ gumam Dante dihatinya yang merasa menyesal karena dulu dia melepaskan Belinda setelah wanita itu melahirkan. Sesaat dia diam dan termenung memikirkan apa yang telah dilakukannya pada Belinda di masa lalu. Rasa bersalah itu semakin besar.
“Hei lepaskan tanganmu dari sana! Aku belum mengijinkanmu menyentuhnya!”
__ADS_1
Bella melakukan sesuatu yang tak terduga yang membuat Dante marah dan meninggikan suaranya. ‘Tungu…..ada apa denganku? Aku bisa saja menghentikan tangannya dan mengusirnya jika aku tidak suka. Biasanya aku melakukannya langsung menghentikan orang itu kalau aku ingin dia melepaskannya. Tapi kenapa aku hanya membentaknya dan membiarkannya sadar atas apa yang dilakukannya? Kenapa hatiku mengharapkan dia tetap menyentuhnya? Aku sangat suka saat dia menyentuhku, ah….dante kau semakin kacau dan hanyut dalam perasaanmu padanya.’ bisik hatinya berusaha untuk menahan diri yang sulit dilakukannya.
“Tidak mau! Aku tidak mau melepasnya meski kau memarahiku! Aku mau memegangnya sebentar lagi…..ahhhh aku suka sekali Tuan. Bagaimana rasanya kalau menegang?” Bella yang keras kepala tak mempedulikan ancaman Dante, dia malah bicara ngelantur.
“Apa-apaan kau ini? Kau tidak takut kalau aku melakukan sesuatu pada adikmu?”
Ucapan pria itu membuat Bella diam dan hanya menatapnya cemberut dan menahan airmata.
“Lepaskan tanganmu!”
Enggan melepasnya, Bella malah menolak dengan menggelengkan kepala dan mencengkeram lebih erat lagi.
“Belinda! Kau mau aku benar-benar melakukan ancamanku?” ujar Dante menatap tajam wanita itu yang sebenarnya sudah tidak bisa menahan gairahnya. ‘Sial! Sampai kapan aku bisa menahannya?’ Dia berusaha untuk bersikap biasa saja seolah tidak terpengaruh dengan tindakan tangan Bella.
“Tuan, aku mau pegang sebentar saja. Tolong jangan sakiti adikku, toh aku tidak merugikanmu. Aku hanya mencoba membangunkannya, aku mau lihat kalau dia bangun sempurna seperti dugaanku.”
Bella tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Kalau dugaanku benar tentang ukuran milikmu, mungkin aku tidak akan tergoda lagi.” ujarnya. ‘Tapi sebenarnya aku tidak peduli berapa panjangnya selagi aku bisa menyentuhnya, tapi bagaimana caranya ya? Aku ingin dia…..’
“Memangnya dari semua klienmu punya siapa yang terpanjang?”
“Maksudnya yang pernah aku lihat ya?” tanya Bella polos.
“Ya…..” Dante masih dalam posisi yang sama sambil bicara dengan Bella. Sedangkan tangan Bella masih memegang sesuatu ditangannya sambil meremasnya.
“Hanya ada tiga yang aku suka.” jawab Bella.
__ADS_1
“Oh ya? Kau masih ingat?”
“Masih. Dan yang sering datang adalah orang yang tidak kau sukai itu, tuan.” jawab Bella jujur.
“Pintar! Kau tidak lagi menyebut namanya dihadapanku.” celetuk Dante senang.
“Aku tidak mau kau marah lagi tuan makanya aku tidak berani.”
‘Polosnya kau, apa seperti itu caramu bicara? Sayang sekali dulu aku tidak pernah bicara denganmu!’ gumam Dante dalam hati.
“Apa pria itu pemain yang kau sukai?” tanyanya penasaran. Entah apa yang ada dipikiran Dante.
‘Aduh bodoh! Kenapa aku malah menanyakan itu? Pusing kepalaku! Bagaimana kalau dia menjawab iya? Bisa-bisa hari ini juga aku akan mencari orang bernama Jeff itu dan membunuhnya!’ Dante pun kesal sendiri dengan pertanyaan yang sudah sempat dilontarkannya. Dia tidak bisa memikirkan seandainya Bella membandingkan permainannya dengan orang itu.
“Benar Tuan, aku sangat suka permainannya meskipun aku tidak ingat bagaimana caranya bermain tapi dia selalu memuaskanku lebih dari tiga kali. Sangat menyenangkan sekali, Tuan. Aku suka pria kuat dan berotot tuan.” lagi-lagi Bella bicara tanpa disortir dulu ucapannya.
“Jadi menurutmu dia yang terbaik?”
Sesaat Bella diam tidak menjawab seakan sedang berpikir lalu melirik Dante dan menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu yang membuat pria itu bingung.
‘Puffff…..syukurlah bukan dia yang terbaik! Aku tidak suka kalau kau menyebutnya sebagai yang terbaik!’ omel pria itu lagi.
“Ha ha ha ha jadi orang yang selalu kau rindukan itu bukan dia? Ha ha ha ha.” Dante tertawa terbahak-bahak namun langsung terdiam lagi. ‘Eh….kalau bukan pria itu yang terbaik lantas siapa lagi? Jangan-jangan dia membandingkanku dengan orang lain lagi!’ batinnya mulai merasa insecure.
“Bukan begitu tuan, sebenarnya permainannya memang baik dari semua yang pernah bersamaku! Aku suka bermanja dengannya setelah selesai karena dia selalu memanjakanku, mengelus rambutku, memelukku dan membuatku merasa nyaman. Tubuhnya juga kekar dan dadanya bidang sepertimu. Pria lain juga ada yang berbadan sepertimu tapi dia sangat mempesona sama sepertimu, tatapan matanya sejuk saat dia melakukannya pun penuh kelembutan. Aku bisa menikmati.” Bella tersenyum yang menimbulkan kemarahan Dante.
__ADS_1
“Pergi sana! Jangan kau pegang milikku lagi! Jangan-jangan sekarang kau sedang membayangkan miliknya saat memegangku, iyakan?”
Bella menghela napas panjang lalu menggelengkan kepala. “Tidak ada hubungannya sama sekali Tuan. Aku tidak memikirkan siapapun saat menyentuhmumu.” jawabnya jujur tapi dalam hatinya bertanya-tanya apakah dia sedang tidak memikirkan siapapun.