
Dante ingin melepaskan pelukan Bella tapi bukannya mendorongnya, tangan Dante malah membalas memeluk Bella dengan erat. ‘Sejenak saja hanya sejenak…….aku sangat ingin memeluknya seperti ini. Aku merindukan pelukan hangat ini, dia mampu meredakan semua gejolak dalam diriku. Sentuhan tangannya mampu meredakan emosiku, sebentar saja aku ingin merasakan aroma tubuhnya. Sentuhan ini mampu menenangkanku. Tatiana…..maafkan aku. Aku hanya ingin memeluknya sebentar. Sebentar saja....
Pria itu meresapi momen kebersamaan mereka, dia merasa enggan jika pelukan itu berakhir cepat. Ada rasa bersalah dalam hatinya tapi kerinduan itu mengalahkan rasa bersalahnya. Dia benar-benar merasakan gejolak dalam hatinya yang berbeda saat bersama Bella.
‘Maafkan aku Tatiana…...aku hanya ingin memeluknya seperti ini. Dulu dia tak pernah memelukku seperti ini karena tangannya terikat! Inikah rasanya saat dia memelukku? Belinda…..’ ucap Dante sambil tangannya ingin mendorong tubuh Bella menjauh tapi dia tak sanggup.
Dia masih ingin dipeluk lebih lama lagi, dia sangat merindukan gadis itu selama bertahun-tahun dia tak pernah mampu menghilangkan bayangannya dari benaknya. Dia sudah mencari wanitanya kemana-mana selama empat tahun.
Saat Bella memeluknya dia merasakan kedamaian yang selama ini dicarinya ternyata dia rasakan bersama Bella.
“Terimakasih Tuan.” ucap Bella dengan suara lirih, sudut matanya meneteskan airmata.
‘Kenapa kata-katanya membuat hatiku seakan retak dan sakit? Kenapa airmataku ingin keluar?’ ucap Dante dalam hati seraya menahan diri untuk tidak menangis.
Seberapa kuatnya dia menahan diri tapi entah kenapa bening airmata itu lepas dari sudut matanya. ‘Maafkan aku Tatiana!’ untuk kesekian kainya dia meminta maaf pada istrinya didalam hati dengan rasa sakit yang menusuk-nusuk.
“Adikku adalah segalanya baiku. Apapun akan kulakukan untukknya seandainya kau menyelamatkannya. Aku tidak ingin adikku mengalami hidup yang sama sepertiku. Aku ingin Sarah memiliki kehidupan yang baik dan normal. Dia masih muda dan masih panjang jalan yang harus dia tempuh. Aku ingin kelak adikku bisa jadi orang sukses dan punya kehidupan baik.” ucap Bella.
Dia terus berbicara tentang adikknya dan harapan-harapan yang dia inginkan dimasa depan tanpa melepaskan tangannya sedikitpun justru dia semakin memeluk Dante. Pria itu tak bergeming, membiarkan Bella memeluknya erat karena dia merindukan wanitanya.
“Apa kau sudah puas sekarang?” tanya Dante menatap Bella yang menenggelamkan kepalanya didada bidang pria itu.
“Puas? Maksudnya, Tuan?” Bella mendonggakkan kepala menatap Dante. Mata indah Bella sangat mempesona dan menghipnotis Dante.
“Apa aku memberimu ijin untuk memelukku?” tanya Dante.
‘Aduh…...aku kelepasan memeluknya. Tapi aku merasa sangat nyaman sekali dalam pelukannya. Ya ampun….aku kenapa malah buat masalah lagi?’ Bella mengeryitkan kening dan langsung melepaskan pelukannya yang sudah menempel erat ditubuh Dante.
“Maafkan aku, Tuan! Aku tidak sengaja tadi aku begitu senang makanya aku memelukmu. Sekali lagi maafkan aku.” jawab Bella menundukkan kepala merasa tidak enak hati pada Dante.
“Apa kau tahu berapa lama kau memelukku?”
“Sudah lama sekali. Maafkan aku Tuan, sudah sangat lama aku tidak merasakan dipeluk seseorang dan rasanya….”
__ADS_1
“Apa yang sedang kau pikirkan, hm?”
Bella menjepit bibirnya tak berani melanjutkan ucapannya dan menggelengkan kepala menatap Dante dengan mata sendu.
‘Hampir saja aku kelepasan bilang kalau aku sangat merindukan pelukan seperti itu.’ gumamnya meringis dalam hati.
“Kenapa kau diam?” tanya Dante lagi.
“Maafkan aku Tuan.” ujar Bella sambil berusaha tersenyum pada Dante.
“Apa kau membenci orang itu?” tanya Dante penasaran tentang perasaan Bella.
“Orang? Orang mana maksudnya?” tanya Bella bingung dengan pertanyaan pria itu.
“Gelap! Kau selalu menggingau minta dibebaskan. Orang itu yang membuatmu takut pada gelap. Apakah kau membencinya?” tanya Dante lagi.
“Ah dia…...pria itu…..” hanya kata itu yang mampu keluar dari bibirnya dan diapun menundukkan kepala dengan wajah tanpa ekspresi.
“Apa anda benar-benar mau aku menjawabnya?”
Dante menganggukkan kepala menatap Bella dengan mata sendu. Ada rasa sakit yang kembali menusuk dadanya. “Jadi benar kalau kau membencinya?”
Bella hanya menundukkan kepala dan mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun membuat Dante merasa frustasi.
“Katakan padaku seberapa besar rasa bencimu padanya!”
“Apa anda ingin mendengarnya, Tuan? Kenapa? Apa anda mengenalnya?”
“Jelaskan saja padaku! Tidak isah banyak tanya."
Bella kembali diam dan mendadak merasa merinding mengingat kembali masa lalunya yang sangat menyakitkan dan menghancurkannya. Dia tertunduk dalam tak mau menatap Dante.
“Kenapa kau tidak mau bicara, hmm?”
__ADS_1
Bella mencoba tersenyum tipis dan mengangkat wajahnya menatap Dante. “Anda benar-benar ingin mendengarnya Tuan?”
"Hmmm…...katakanlah. Aku mau dengar!”
“Baiklah kalau begitu aku akan menjawabnya.” ujar Bella sambil menatap Dante lekat-lekat. Dia mulai memberanikan diri mengatur perasaan yang tidak pernah dia ceritakan pada siapapun.
“Aku…..”
“Aku apa? Bicara yang jelas padaku!”
“Pfffhhh…..” Bella menghela napas dalam-dalam mencoba menenangkan hatinya untuk memulai cerita masa lalunya yang ingin dia lupakan.
“Aku sangat….sangat membencinya! Dialah orang satu-satunya didunia ini yang aku benci sampai aku menghembuskan napas terakhirku! Aku tidak akan pernah memaafkannya.”
“Lanjutkan. Apalagi?” tanya Dante dengan suara bariton yang dingin.
“Anda ingin mendengar semuanya? Tapi kenapa, Tuan?”
Dante tidak menjawab hanya menatap Bella, membiarkan wanita itu mengambil keputusannya sendiri untuk menceritakan semua yang dia simpan dalam hatinya, semua perasaannya.
“Aku sangat membencinya sepanjang hidupku dia satu-satunya orang yang paling aku benci didunia ini! Aku tidak akan pernah mau bertemu dengannya! Aku jijik padanya! Untungnya aku tidak pernah tahu seperti apa wajahnya! Mataku ditutup kain hitam sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Jadi aku tidak dihantui oleh bayangan wajahnya! Tapi aku tidak akan pernah memaafkannya! Jika aku tahu siapa dia, akan kubalaskan semua rasa sakit yang pernah dia berikan padaku!”
“Jadi sebegitu bencinya kau padanya?”
Bella menjawab dengan anggukan, matanya merah menatap tajam seakan ada dendam yang dia simpan. “Tapi pria itu bukan orang yang aku temui dari Julian dan Madam Wendy.” Bella melirik Dante.
“Berarti pria itu bukan pelangganmu?”
Bella kembali menjawab dengan gelengan kepala. “Dia adalah ayah dari anakku!”
“Dia seorang pria kejam yang tidak punya hati! Dia merenggut kesucianku, menghamiliku lalu membuangku tanpa mengijinkanku melihat mayat anakku! Saat aku melahirkan anakku, mereka bilang anakku meninggal, aku hanya ingin memeluk tubuh anakku untuk pertama dan terakhir kalinya. Aku memohon untuk memeluknya, meski hanya sebentar saja aku memohon untuk merasakan tubuh anakku sebelum mereka menguburnya. Tapi dia tidak mengijinkanku! Aku hanya ingin merasakan bayi itu ditanganku untuk terakhir kalinya!” suara Bella terdengar pelan seolah dia sedang menahan kesedihannya.
__ADS_1