PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 153. SEORANG MASOKIS


__ADS_3

Semakin menyakitkan maka mereka semakin menyukainya, tapi Dante tidak pernah tahu sisi gelap istrinya itu karena Tatiana sangat pandai menyembunyikannya. Dia selalu bersikap lembut dan terlihat seperti wanita normal.


Tatiana selalu tampil mempedona dan elegan layaknya wanita kaya lainnya, kelihaiannya menutupi jati diri membuat tak seorangpun yang tahu kalau dia seorang masokis, kecuali Lorenzo yang juga seorang masokis.


Keduanya sering melakukan perbuatan tak beradab itu tanpa sepengetahuan Dante. Setiap kali Lorenzo datang untu mengajari Alex piano, Tatiana dan Lorenzo selalu mencari kesempatan untuk memuaskan diri.


Mungkin ada seseorang di mansion itu yang sudah mulai merasa curiga yaitu sang koki bernama Norman. Dia selalu merasa jika nyonya dan guru piano itu memiliki hubungan spesial tapi dia tidak punya bukti.


“Ssshshhhh…..cakaran kukumu sepertinya dalam sekali mengenai punggungku! Enak dan nikmat sekali!” Lorenzo bicara dan sudah berlutut.


“Aku kesal sekali Lorenzo! Biarkan aku melampiaskan semuanya dan mengeluarkan semua keinginanku. Buat aku terbang, karena tadi malam Dante sibuk dengan teman-temannya dan dia tidak menyentuhku. Sudah beberapa hari ini dia tidak bisa membuat tubuhku merasa enak!” Tatiana berkata dengan santainya, mengeluarkan semua keluhannya pada Lorenzo.


“Tenang saja, aku akan melakukannya untukmu selama kau masih mau memberikan tubuhmu padaku, aku pun akan melakukannya untukmu Tatiana!”


Plaakkkkkk!


Gerakan sabuk Tatiana pun kembali memukul punggung Lorenzo. “Buat aku semakin enak Lorenzo! Permainannya! Haaahhhh! Buat sampai berdarah."


“Kau mau aku melakukan apalagi?” tanya Lorenzo yang baru saja mendapatkan tumpahan air terjun Tatiana. Bagi wanita itu satu kali masih belum cukup.


“Aku mau diatas juga, dibawah juga. Buat aku mengeluarkan semuanya.” Tatiana ingin melampiaskan kemarahan dan rasa kesalnya dengan melecut Lorenzo menggunakan sabuk.


“Baiklah Tatiana! Tiduranlah diatas piano.” lalu Lorenzo mengatur letak tubuh Tatiana diatas piano. “Apa kau mau aku mengikat tanganmu?”


“Lakukanlah! Berikan aku apa yang kuinginkan.”


“Tentu saja sayang.” Lorenzo mengambil sabuk tadi dan mengikatnya pada lengan Tatiana. “Harusnya kau bilang pada suamimu kalau kau seorang masokis, Tatiana.”


“Hem….aku tidak mungkin melakukan itu. Aku selalu tampil baik dihadapannya! Dia itu adalah ambisiku. Dia harus melihatku sebagai wanita sempurna.” jawab Tatiana.


“Dan kau membiarkanku yang memberikan kepuasan untukmu disiksa?” Lorenzo tersenyum puas dengan ucapan Tatiana.


“Lakukan apapun yang kau mau, berikan aku kepuasan asal tidak mengganggu dan merusak tubuhku. Lakukan dibagian yang tidak bisa dilihat oleh suamiku.”


“Baiklah kalau itu maumu!” Lorenzo langsung menarik Tatiana mendekat lalu mulai melakukan apa yang Tatiana perintahkan.


“Eh…..aku ingin sesuatu yang lebih menyakitkan! Bukan yang enak….Eghhh….ya seperti itu Lorenzo! Yang begitu baru dasyat! Lakukan lagi.” Tatiana benar-benar menikmati semua siksaan yang diberikan Lorenzo. Pria itu memasukkan jepitan kebagian inti Tatiana dan menjepitnya hingga berdarah. Barulah Tatiana merasa puas dengan semua rasa sakitnya.


“Bagaimana rasanya Tatiana? Apa kau mau yang lebih dasyat dan sakit?”

__ADS_1


“Sedikit kenikmatan! Tapi aku ingin lebih dasyat! Lebih sakit!”


“Tentu saja akan kuberikan. Kenapa kau jarang memanggilku sekarang? Aku pikir kau sudah cukup main-mainnya Tatiana.”


“Ugghhh….ingat ya, kalau kau ingin membuat luka ditubuhku jangan ditempat yang bisa dilihat suamiku.” ucap Tatiana mengingatkan.


“Aku tahu! Apa kau merasa enak sekarang?”


“Iya.” Tatiana merasakan sensasi sakit yang diinginkannya. “Darah mengalir disana bukan?”


“Ya. Aku menggunakan gerigi tajam kalungku untuk menggores bagian dalammu sampai berdarah.” uhar Lorenzo.


“Terimakasih Lorenzo! Sekarang aku merasa lega. Haa…..aku benar-benar membutuhkanmu Lorenzo.”


Lorenzo memukul dan menampar tubuh Tatiana, dan wanita itupun melakukan hal yang sama sampai keduanya merasakan kesakitan yang teramat dalam.


“Kenapa kau tidak minta suamimu melakukan ini. Aku rasa dia bisa lebih kejam dariku.”


“Dia selalu melakukannya lemah lembut seakan aku ini barang yang mudah pecah. Tapi saat kami di Indonesia dia melakukan agak kasar dan aku sangat menyukainya.” jawab Tatiana tersenyum menatap Lorenzo. “Tapi tidak ada yang bisa memenuhi kebutuhanku seperti kau memenuhinya. Sakit seperti inilah yang kuinginkan! Rasa tersiksa dan terbakar didalam tubuh.”


“Jadi aku yang terbaik?”


Haakk…..


“Bagaimana jika aku loncat?” tanya Lorenzo.


“Kau bisa mematahkan tulangku, Lorenzo!”


“Oh aku tidak akan melakukan itu. Aku ingin kau masih tetap hidup dan kita masih bisa saling menyakiti berdua, Tatiana!” ujar Lorenzo tersenyum menatap Tatiana.


“Kau ingin aku menyakitimu?”


“Tentu saja Tatiana! Aku belum puas, kau baru memukulku dengan sabuk!”


“Baiklah! Sekarang berbaliklah ke belakang, aku akan membuatmu puas dengan rasa sakit yang kau inginkan itu Lorenzo!”


“Kalau kau memberitahuku lebih awal, aku akan memakai sabuk yang bergerigi, dengan begitu aku bisa merasa lebih puas dengan rasa sakitnya.”


“Saat kau menemuiku seharusnya kau selalu bersiap! Kan aku tidak tahu kapan aku menginginkanmu.”

__ADS_1


“Tapi kau juga harus melihat kapan suamimu lengah, Tatiana.”


“Tentu saja! Aku tidak mau dia tahu.”


Plaakkkk Plaaakkkk Plaaakkkkkk


Tatiana memukuli Lorenzo berulang. “Ahhhh belum terasa sakitnya Tatiana! Kenapa baru sekali?”


“Salahmu sendiri kau tidak membawa peralatan penyiksaanmu.” Tatiana memakinya.


“Ah, cakaran kukumu ini lebih enak Tatiana! Kukumu masuk sampai kedalam tubuhku.”


“Kau senang Lorenzo?” tanya Tatiana sambil memandang Lorenzo yang merintih kesakitan.


“Sangat senang! Apalagi jambakanmu dikepalaku, rasanya sangat nikmat saat akar-akar rambutnya terasa mau tercabut! Uhhhh buat lebih kuat lagi!”


Bug! Bug!


“Apa itu cukup Lorenzo? Aku baru saja memukul lambungmu dan darah muncrat dari bibirmu.”


“Yes! Ini nikmat sekali Tatiana!” Lorenzo tersenyum dengan mulut mengeluarkan darah.


Kedua manusia itu terus melanjutkan kegilaannya dengan saling memukul dan menyakiti. Lorenzo membalikkan posisi tubuh Tatiana dengan kepala kebawah dan kaki diatas. Lorenzo membiarkan Tatiana dalam posisi itu sambil menyiksanya. Tangan Lorenzo memukul bagian belakang Tatiana sedangkan bagian depannya ditusuk jarum dari cincin Lorenzo. Tatiana benarp-benar merasa kesakitan dengan posisi itu semua darahnya terkumpul di kepala.


Dia bukannya marah tapi malah tersenyum dan semakin menikmati siksaan yang diberikan Lorenzo.


“Lihat wajahmu sudah memerah! Darahmu sudah kumpul di otakmu!” kata Lorenzo.


“Enak sekali! Harusnya kau melukai sedikit leherku, dengan begitu akan ada aliran darah mengalir. Bisa menghilangkan stress ku.” ujar Tatiana lagi.


“Harusnya begitu dan kau akan mati dalam tiga puluh menit jika aku tidak membalikkan tubuhmu.”


“Apa kau berniat untuk membunuhku?” tanya Tatiana pada Lorenzo.


“Selama kau masih bisa memberikan rasa sakit itu, aku tidak akan membunuhmu.” ucap Lorenzo.


“Kita harus segera selesaikan ini, jangan sampai lewat dari waktu belajar anak itu.”


“Baiklah Tatiana, tunggu sebentar.” keduanya pun merasakan kenikmatan dari rasa sakit.

__ADS_1


“Kau sudah puas Tatiana?” bisik Lorenzo ditelinga Tatiana.


“Belum! Tapi untuk sekarang sudah cukup dulu. Aku ingin yang lebih menyakitkan dan mengerikan!”


__ADS_2