
Henry tidak ingin Dante sampai kehilangan kontrol dirinya dan saat itu juga Dante mengangguk, mereka berua berjalan meninggalkan teras rumahnya menuju ke pintu gerbang utama dimana keributan masih berlangsung.
“Apa sebenarnya yang kau sembunyikan dariku dengan gerbangmu yang tinggi ini?” ujar Tatiana saat dia melihat kedatangan Dante dan Henry.
Namun Dante tidak mengubrinya, dia hanya tersenyum dengan kedua tangannya bersidekap berdiri tegak diseberang gerbang yang masih tertutup pintunya. “Omero mengatakan kalau dia tidak ingin bertemu lagi denganmu! Jadi pergilah!”
“Kau pikir aku percaya padamu? Heh? Kau menawan ayahku didalam rumahku, bukan? Kemarin kau sudah mengambil banyak sekali senjata dari gudangnya dan sekarang kau menawannya! Apa maumu Dante?” teriak Tatiana marah.
“Sejak kapan kau mengurusi masalah senjata Tatiana?” tanya Dante sambil menyuruh penjaga untuk membuka gerbangnya. ‘Jeff! Apakah dia yang membuat wanita ini juga memperhatikan semua milik Omero? Aku curiga ada yang dia inginkan dari Omero! Tatiana…..Tatiana….kau sangat bodoh sampai kau jatuh dan dipengaruhi oleh pria macam Jeff Amadeo!’
Dante mencoba memikirkan apa yang ada dipikiran Tatiana sambil dia melangkah keluar dan mendekati wanita yang dulu adalah istri dan wanita yang sangat dicintainya. “Aku keluar bukan untuk mengijinkanmu masuk, Tatiana! Kau tidak boleh menginjakkan kakimu disini!”
Dante bicara sambil melangkah dan berdiri tepat dihadapan Tatiana.
“Aku tahu!” jawab Tatiana yang kini tersenyum karena antara dirinya dan Dante tidak ada penghalang lagi. Inilah yang diharapkan Tatiana, sehingga dia pun menghampiri Dante.
“Jangan mendekat padaku! Jarak seperti ini sudah cukup dekat Tatiana! Jangan membuat emosiku bertambah tinggi!”
“Ehm!” Tatiana berdehem, kini dia menatap serius pada Dante, “Kau tidak mengijinkanku masuk dan memilih bicara denganku diluar gerbang begini? Kamu masih ingin membuat jarak denganku, Dante?” ujarnya dengan nada tak senang.
“Ya! Karena aku tidak suka dekat-dekat dengan mu!” ujar Dante dengan tatapan jijik.
__ADS_1
“Dante! Jangan terlalu dingin padaku. Aku masih berstatus istrimu, Dante!”
Dante tersenyum tipis, “Sudah tidak lagi! Kau bukan istriku lagi!” lalu Dante menoleh pada Henry dan meminta pria itu memberikan sesuatu untuk menyakinkan Tatiana.
“Apa ini? Aku tidak pernah menandatanginya! Bagaimana mungkin kau bisa membuat surat cerai ini?” Tatiana protes tak terima dirinya diceraikan dan surat cerai ditangannya sah.
Ingin sekali dia merobek-robek kertas yang ada ditangannya. Tapi dia mengurungkan niatnya, dia hanya mencengkeram erat surat cerainya sambil menatap dante dengan dingin.
“Sekarang statusmu bukan lagi istriku! Kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan!” Dante lalu tersenyum tipis, “Maafkan aku, tapi aku harus pergi dari tempat ini kalau memang sudah tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan!”
“Apa maumu Dante? Setelah kau menceraikanku apa kau juga ingin menguasai seluruh harta keluargaku? Kau sudah melakukan aksimu dengan mengambil semua senjata di gudang senjata ayahku? Mau kau apakan semua senjata itu, hah? Kau tak berhak atas senjata-senjata itu!”
“Tatiana! Aku ada kerjasama bisnis dengan ayahmu! Kau pasti paham hal itu bukan? Sebelum aku menikah denganmu pun kami sudah sering bekerjasama. Aku mengambil senjata itu karena kami memang berbisnis! Kenapa kau bisa berpikir sepicik itu?”
Apalagi dia mengingat bagaimana dia memperlakukan Tatiana, selama mereka berhubungan dulu. Hubungan mereka bukan cuma satu tahun, mereka sudah mengenal sejak usia tujuh tahun dan pernikahan mereka sudah lima belas tahun.
Tentu saja masih ada bekas perasaan dan Dante masih ingat betul bagaimana dia bersikap pada wanita itu sehingga rasanya masih ada sesuatu yang mengganjal yang membuatnya sangat marah.
“Lihatlah apa yang sudah kau lakukan? Kau membawa ayahku kesini bukan?” ucapan Tatiana yang masih didengar Dante walaupun pikirannya sedang berusaha mengendalikan emosinya dan menahan semua amarah.
“Jadi kau datang kesini untuk menemui Omero?” tanya Dante dengan mendongakkan dagu memandang Tatiana dengan tatapan merendahkan.
__ADS_1
“Ya! Aku ingin bertemu dengannya dan aku ingin bicara dengannya! Apa-apaan kau membatasi semua yang ingin kulakukan dirumahku sendiri! Apa kau yang menyuruhnya juga?”
Dante menggelengkan kepalanya, “Aku memang orang yang tegas! Tapi aku bukan penjilat! Kau tahu sendiri dari dulu Omero selalu ingin aku yang mengurus pertambangannya. Tapi aku tidak pernah mau!”
“Sampai sekarang aku tidak pernah melakukan apapun pada perusahaannya! Apa yang kau lakukan diluar sana sampai kau memperhatikan gudang senjata itu? Lokasinya berada ditempat paling jauh dibelakang mansion tempat tinggalmu, itu bukan tempat kau jalan-jalan bukan?”
“Ehm….itu….” Tatiana tidak bisa menjelaskan apapun justru dia terlihat sangat cemas dan langsung mengalihkan pembicaraannya.
“Dante! Baiklah kalau memang kau memutuskan kita bercerai, aku menerimanya. Tapi saat ini aku ingin bicara dengan ayahku! Aku sudah katakan padamu ada yang harus kubicarakan dengannya, hal sangat penting. Izinkan aku bertemu dengannya, oke?”
“Apa yang kau inginkan? Kau bisa katakan padaku dan akan kusampaikan pada ayahmu!” kata Dante dengan tegas. Dia tidak akan mbiarkan Tatiana menemui Omero.
“Dante! Dia itu ayahku! Aku masih berhak untuk bertemu dengannya! Apa-apaan kau ini mengambil ayahku seperti ini? Aku bisa menuntutmu secara hukum, Dante!” Tatiana mencoba untuk mengancam Dante tapi yang dia lakukan hanya membuat pria itu justru tertawa.
“Tuntutlah kalau kau memang ingin melakukan itu! Aku tunggu tuntutanmu!”
‘Oh tidak! Tidak mungkin begini! Kenapa? Dia bisa bersikap seperti ini padaku? Apakah dia sudah tidak mencintaiku lagi? Jadi semua yang sudah diancamkan kepadaku bukan hanya bualan semata? Jadi semuanya adalah kenyataan? Dia bukan hanya menggertak?’ Tatiana semakin galau memikirkan perubahan sikap Dante padanya.
‘Apa benar wanita kecil yang bersama dengan Alex adalah wanita yang mengambil Dante dariku? Wanita itu masih kecil, sama sekali bukan tipe Dante. Tapi kenapa Dante membawa wanita itu kerumahnya dan sepertinya sangat dekat dengan Alex. Apa kelebihan wanita itu sehingga bisa membuat Dante berubah seperti ini?’
Ada rasa kecewa didalam hati Tatiana karena dirinya bukan lagi wanita nomor satu didalam hati Dante. Dia sungguh terluka, sedangkan Dante tidak banyak bicara.
__ADS_1
Tatiana tahu sikap Dante yang seperti ini memanglah sikap Dante yang sebenarnya. Dia selalu seperti ini kepada setiap orang kecuali orang-orang yang dicintainya.
“Dante! Seperti inikah sikapmu padaku? Inikah akhir dari perjalanan cinta, persahabatan, pernikahan dan persaudaraan kita? Berakhir seperti ini?” Tatiana masih mencoba memancing.