
“Baik Tuan.” ucap kedua pria itu dengan senyuman yang membuat Dante pun tersenyum tipis.
“Aku senang bisa bekerjasama dengan kalian berdua! Maafkan aku harus membuat kalian kehilangan nyawa kalian!” kata Dante memuji kesetiaan pilot dan co-pilot itu.
“Tidak masalah tuan. Selama kami bisa membantu anda.” jawab pilot itu dengan sopan. Kedua pilot dan co-pilot tersenyum dan saling melemparkan pandangan.
“Loyal sekali! Terima kasih untuk kebaikan hati kalian yang mau mendukungku sampai sejauh ini.” Dante tak henti memuji mereka.
Dante sudah memikirkan rencananya dengan matang dan dia sudah tahu situasi di lapangan walaupun masih meraba-raba tapi kini dia sudah semakin yakin.
“Kami akan melakukan yang terbaik untuk anda, Tuan!” sahut co-pilot lagi untuk menyakinkan Dante.
“Kalau begitu lanjutkan pekerjaan kalian. Aku kedalam dulu.” Dante pun membalikkan badannya tapi tatapannya tertuju pada dua orang disana.
“Berapa lama lagi kita akan mendarat?” tanyanya kembali.
“Kurang dari lima menit lagi tuan.” jawab pilot.
“Bagus!” Dante menatap keduanya tanpa ekspresi, lalu tanpa memperpanjang percakapan dia melangkah meninggalkan ruang pilot dan menguncinya kembali.
“Apa kau sudah membuatkan kopiku Vince?” Dante bertanya saat dia melihat Vince baru saja duduk.
“Sudah tuan! Ini minuman anda dan minuman saya.” Vince memberikan secangkir kopi pada Dante.
“Bagus!” Dante pun menghempaskan tubuhnya duduk bersebelahan dengan Vince. Tadinya dia duduk berhadapan dengan pria itu tapi kini Dante memilih duduk bersebelahan dengannya.
“Apa yang ingin anda katakan pada saya Tuan?” Vince menatap Dante dan bertanya.
“Tidak ada! Aku hanya ingin duduk disampingmu saja karena kalau aku duduk disana dan menatapmu itu tidak bagus! Aku ingin mati memikirkan tentang istriku dan anakku.” ucap Dante tenang. Dia tidak menyentuh minumannya dan menikmati pemandangan diluar jendela.
Dante duduk bersebelahan dengan Vince tanpa saling bicara, hanya ada keheningan diantara mereka. Dante bahkan menyalakan televisi yang sedang menayangkan berita krusuhan yang sedang terjadi.
__ADS_1
“Waktunya sudah dekat.” Dante bicara lagi dan dia melirik kearah jam tangannya.
“Maksudnya tuan?” Vince yang belum begitu jelas dengan rencana Dante pun bertanya lagi.
“Bukan hal yang harus kau pikirkan! Sekarang sudah tiga puluh detik menuju ke ledakan. Kita dalam posisi akan landing.” Dante memberikan informasi sambil melirik jam tangannya.
‘Jadi aku akan benar-benar akan mati sekarang? Jadi inilah akhir dari hidupku yang mati didalam pesawat? Tapi setidaknya kematianku bermanfaat!’ bisik hati Vince.
‘Aku tidak mati sia-sia. Aku berusaha menyelamatkan dunia seperti yang dikatakan Tuan Dante. Aku percaya padanya! Iya, aku lebih mempercayainya daripada Jenderal Robert Kane! Jika aku disuruh memilih dengan siapa aku aku akan mati? Maka aku lebih memilih mati bersama Dante dan itu adalah sebuah kehormatan bagiku diakhir hidupku.’ gumam Vince dihatinya.
“Dua puluh detik lagi menuju daratan.” kata-kata Dante kembali terdengar. Dia sedang menghitung mundur sebuah bom. Saat ini Vince terlihat sangat cemas, tangannya sudah berkeringat dingin apalagi saat dia menatap keluar jendela dan dia melihat daratan semakin dekat.
‘Ya Tuhan! Berarti aku akan mati sekarang! Dengan begini dunia bisa terselamatkan kan?’ Vince berkata-kata dalam hatinya yang merasa cemas dan ketakutan.
‘Ahhhh akhir dari hidupku harus begini. Aku bahkan harus mendengar sendiri detik-detik waktu yang semakin berkurang dimana ragaku akan terpisah dengan nyawaku.’ Vince dalam keadaan kacau dan sangat menyiksa batinnya saat ini.
“Lima belas…..empat belas…..” Dante menghitung tanpa memandang Vince. Siapkah Vince mati?
“Sepuluh detik lagi!”
”Eeeehhh?” Vince kaget dan Dante menatapnya dengan tersenyum.
“Waktu yang tepat untuk berpisah dengan pesawat ini!” Dante memegang pundak Vince,
“Aku senang bisa bekerjasama denganmu walaupun hanya dalam detik-detik terakhir kita didalam pesawat ini.” itulah yang dikatakan Dante yang hampir saja membuat Vince kencing di celananya saking ketakutannya. Sebelum akhirnya----
Tiiiiittttt
Kedua pintu tempat duduk Dante baru saja dipencetnya dan tiba-tiba saja atap mereka terbuka dan dua kursi itupun terlontar dari pesawat yang sedang mereka naiki.
“KYAAAAKKKK!” Vince berteriak kaget karena dia sudah terlanjur ketakutan begitu terlempar diudara. ‘Tunggu! Aku tidak mati kan? Aku terbang dengan kursiku?” Vince tersadar sesuatu.
__ADS_1
DUAAARRRRR
Suara tabrakan pesawat dengan mansion yang sudah di targetkan Dante pun terdengar. Bunyinya cukup memekakkan telinga hingga membuat Vince menoleh ke belakang melihat apa yang terjadi lalu matanya beralih pada seseorang yang berada disampingnya.
“Tuan Dante?” Vince memekik kencang. Tempat duduk mereka sudah mengeluarkan parasut saat keduanya masih terbang.
‘Ya Tuhan! Aku sudah mempersiapkan diri untuk bertemu denganmu saat ini tapi ternyata kau masih mengizinkanku untuk hidup? Syukurlah! Aku masih belum menikah ya Tuhan! Kalau bisa jangan mati dulu!’ secara refleks Vince mengucap syukur dan merasa lega.
“Bersiaplah untuk mendarat! Setelah kita mendarat tidak ada lagi main-main! Kira akan segera menyerang kedalam!” kata Dante.
“Setelah ini hidup dan mati kita tergantung pada bagaimana kita melindungi diri dan menyelamatkan diri sendiri! Berhati-hatilah Vince!” Dante memperingatkan.
Dante memang selalu serius kalau soal pekerjaan apalagi jika berhubungan dengan nyawa! Dia tahu resiko pekerjaannya sehingga Dante bukanlah orang yang mudah menganggap remeh seseorang.
“Baik Tuan.” jawav Vince. Dan parasut mereka sudah terbuka dan mereka hampir landing dalam beberapa detik lagi.
“Cepat buka sabuk pengamanmu!” pekik Dante ketika mereka sudah mendarat di lapangan terbuka yang berada dibelakang mansion Jeff. Pesawat yang terjatuh tadi membuat pasukan Jeff sibuk mengurusi hal itu sehingga tidak memperhatikan keberadaan Dante dan Vince.
“Tuan Dante. Pesawat itu tadi ada kursi pelontar?”
“Kalau pesawat tidak ada kursi pelontar bagaimana kau bisa ada disini bersamaku?” Dante balik bertanya pada Vince dan menatapnya serius.
“Ah, aku hanya tidak menyangka Tuan Dante! Ini sangat menakjubkan! Pengalaman yang belum pernah kurasakan sebelumnya.”
”Jangan memujiku! Pencet tombol merah itu!” Dante menatap serius dengan rahang mengetat sambil menunjuk pada sebuah tombol yang tertutup parasut.
CESSSS
“Wah, ini persenjataan Tuan Dante?” pekik Vince ketika dia melihat apa yang ada didalam kursi yang mereka duduki tadi. Sungguh dia tidak menyangka Dante memiliki persiapan sedetail itu.
‘Instingku sudah benar! Aku bekerjasama dengan orang yang tepat! Aku tahu kau adalah seorang mafia tapi aku merasa lebih cocok bekerjasama denganmu daripada pembela kebenaran seperti Robert Kane yang merupakan seorang jenderal federal!’ ungkapan tulus didalam hati Vince. Dia pun segera memasang semua persenjataan di tubuhnya.
__ADS_1