
‘Kau pikir aku ini bodoh? Kau mau istirahat dikamar Alex? Kamar itu terhubung langsung ke kamar pengasuh sialan itu! Aku tidak akan membiarkanmu tidur di kamar Alex. Kau pikir aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan disana? Wanita itu terlalu cantik dan seksi, tidak mungkin kalau kau tidak tergoda padany. Sikapmu saja berbeda padanya sejak dia kau bawa kerumah ini!’ bisik hati Tatiana.
Mereka berdua pun melangkah kelantai atas. Tatiana memegang lengan Dante, merangkulnya dan menyandarkan kepalanya di lengan itu dengan mesra.
“Kau manja sekali Tatiana!” ucap Dante.
“Apa kau melarangku bermanja-manja seperti ini? Kau tidak suka Dante?” Tatiana balik bertanya sambil mendongak menatap Dante.
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya. Tadinya dia memang hanya alasan saja ingin mengecek Alex, sebenarnya dia ingin melihat Bella tapi sepertinya Tatiana curiga dan minta ikut sehingga Dante tidak bisa menolak. Dia hanya tidak mau istrinya mengetahui apa yang dia lakukan dikamar Bella.
“Aku suka kalau kau bermanja seperti begini Tatiana! Kau sangat lucu.”
“Lucu? Maksudmu?” Tatiana mengeryitkan matanya sedikit menatap Dante.
“Ya, kadang kalau kau tersenyum begini, kau mengingatkanku pada Cassandra!” ujar Dante.
Kalimat yang diucapkan Dante sontak membuat Tatiana menegang. “Maafkan aku karena mengingatkanmu pada sesuatu yang tidak ingin kau sukai.”
Dante yang menyadari ketidaksukaan Tatiana dari perubahan sikapnya pun jadi merasa tidak enak hati.
“Tidak apa-apa Dante. Aku hanya kepikiran saja setiap kali kau mengingatnya.” jawab Tatiana lagi.
“Cassandra sangat membekas dihati kita. Gadis kecil itu, kenapa dia pergi begitu cepat?” celetuk tatiana lagi menutupi semua rasa tidak nyaman dihatinya setiap mendengar nama itu.
“Semua salahku Tatiana! Kalau bukan karena aku, mungkin Cassandra masih ada bersama kita disini.”
“Dante, jangan dipikirkan lagi. Semua yang terjadi pada Cassandra memang sudah takdirnya. Aku tidak suka kalau kau masih mengingatnya! Tidak perlu diingat lagi. Lagipula kau sudah mempunyai Alex, anak laki-laki kecilmu yang sangat mencintaimu.” bujuk Tatiana. Didalam hatinya dia merasa sangat kesal dan marah karena sampai sekarang Dante masih tidak bisa melupakan Cassandra gadis kecil itu.
“Ya kau benar. Aku sudah punya Alex! Dan dia juga mirip sekali dengan Cassandra! Sekarang hiduoku terasa lengkap dengan adanya kau dan Alex, sayang. Maafkan aku karena aku telag mengambil adikmu.” ujar Dante.
__ADS_1
“Sudahlah Dante. Aku sudah lama tidak memikirkannya lagi.” Tatiana menggelengkan kepalanya dan kembali merapatkan tangannya pada Dante. ‘Untuk apa kau ingat lagi gadis kecil itu? Adik perempuanku yang selalu mengisi hatimu! Untung saja dia sudah mati, kalau masih hidup bukan aku yang jadi istrimu sekarang!’ bisik hati Tatiana.
Dante membuka pintu kamar Alex.
“Oh Tuhan Dante! Kenapa lampunya dimatikan? Apakah dia tidak diberitahu ya kalau anak kita takut gelap?” kata Tatiana dengan marah.
“Siapa yang melakukan ini pada Alex?” Dante bicara sambil menyalakan lampu.
“Tadi dia bermain bersama Bella, mungkin pengasuh itu tidak tahu kalau Alex takut gelap makanya dia mematikan lampunya, Dante.”
Dante tidak mengubris ucapan Tatiana dia berjalan mendekati ranjang lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh anaknya. Mata terbelalak melihat dua orang yang tidur saling berpelukan dibawah selimut. Ada bahagia didalam hatinya, dia merasa sangat senang melihat pemandangan itu.
‘Sialan! Apa yang dilakukan wanita ini disini? Bukankah tadi dia da dikamarnya sat aku membawa Alex kekamar ini?’ bisik Tatiana dalam hatinya, ia merasa tidak tenang sedangkan Dante menatap kedua orang dihadapannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Tadi terlihat ada kemarahan dimatanya tapi sekarang kemarahan itu sirna dan tergantikan dengan binar bahagia yang tak dipahami Tatiana apa maksud ekspresi suaminya. Apa dia marah? Apa dia kesal? Atau apa ya? Kenapa raut wajahnya seperti itu menatap mereka? Kenapa Dante menatap keduanya seperti itu? Atau dia khawatir? Oh, tidak itu bukan ekspresi khawatir?
“Dante….”
Belum sempat Tatiana melanjutkan ucapannya, tangan Dante sudah ada dibibirnya memintanya diam. ‘Ada apa ini? Bukankah seharusnya dia marah dan menyeret wanita itu? Tapi apa--? Apa maksudnya semuaini? Kenapa dia malah menarikku paksa dari kamar itu? Tatiana merasa tidak tenang didalam hatinya dengan sikap dan ekspresi suaminya.
“Dante.”
“Biarkan mereka tidur. Ayo!” Dante menarik Tatiana keluar dari kamar Alex.
“Dante! Tapi tadi wanita itu mematikan lampu di kamar Alex! Apa kau pikir ini tidak akan menimbulkan trauma bagi Alex? Ini tidak bisa dibiarkan!” Tatiana sudah kehabisan kata-kata.
“Aku sudah menyalakan lampunya. Lagipula, apa kau tidak melihat apa yang dilakukannya? Dia memeluk Alex! Mungkin itu caranya untuk mencoba membantu Alex melupakan traumanya.” Dante melirik pada Tatiana.
‘Ah Belinda! Kau sangat pintar, aku sudah mengajarimu untuk melupakan masa lalu itu. Kau mulai belajar untuk menghindari ketakutanmu pada gelap. Aku senang melihat kemajuanmu dan teruslah belajar. Aku yakin kau pasti bisa dan aku berharap suatu saat ketika aku harus meninggalkanmu, kau sudah bisa hidup tenang tanpa ketakutan lagi.’ ujarnya dalam hati, meskipun dia merasa tidak tenang saat mengucapkan kata ‘meninggalkanmu’ tapi Dante berusaha menepisnya.
__ADS_1
“Dante! Apa kau yakin? Apa kau tidak takut kalau ini nantinya akan buruk untuk Alex?”
“Tenang saja Tatiana! Kau jangan menangis dan cemas begitu. Bella mungkin mencoba membuat Alex menjadi pemberani! Sudahlah, ayo kita masuk ke kamar kita.” Dante membuka pintu kamarnya dan menarik istrinya kedalam walaupun tanpa dia sadari hati Tatiana sudah memanas atas sikap Dante. Dia semakin yakin ada yang tidak beres antara wanita itu dan suaminya.
“Dante, sayang apa kau ingin istirahat atau ingin sesuatu?”
“Kenapa dari tadi pertanyaanmu banyak sekali Tatiana? Aku hanya mau merebahkan tubuhku, aku lelah sekali!” ucap Dante yang merasa sedikit kesal karena hari ini Tatiana tidak berhenti bertanya.
“Kau hanya tidur sebentar tadi malam, itupun diruang kerja, iyakan?” ucap Tatiana sarkas, sedangkan dalam benaknya dia mempertanyakan apa benar suaminya tidur diruang kerja?
Dante hanya mengangguk lalu menarik Tatiana berbaring diranjang mereka. “Aku sangat mengantuk Tatiana. Aku merasa sangat lelah. Aku tidak bisa melakukan apapun sekarang, maaf ya….hem….bisakah kita tidur sekarang? Nanti setelah aku bangun aku akan memberikanmu kepuasan. Bagaimana menurutmu?”
“Dante, aku tidak pernah berpikir tentang itu. Yang terpenting bagiku adalah dirimu selalu ada disisiku, aku sudah puas Kau adalah anugerah terbaik dalam hidupku dan kepuasan itu bukan selalu harus dengan menyatukan diri Dante! Kita bisa bercinta kapanpun, aku tidak memaksamu jika kau lelah.”
‘AH, andaikan Belinda bisa berpikir sepertimu, haaa! Dia hanya menganggap aku sebagai objek pelampiasan saja, dia tidak menganggapku manusia yang punya perasaan. Berbeda dengan Tatiana yang selalu menganggap aku manusia dan tidak terlalu menuntut kepuasan dariku.’ ujar Dante lagi dalam hatinya yang menarik Tatiana makin merapat dan memeluk tubuh istrinya dengan erat.
“Kau ingin tiduran?” tanya Tatiana.
“Hem!” Dante menghela napas.
“Apa yang membuatmu menghela napas?” ucap Tatiana menatap Dante.
“Tidak apa-apa. Ayo tidur.” jawab Dante tersenyum.
“Aku juga lelah Dante tapi masih ada beberapa hal yang harus aku urus dulu.” kata Tatiana.
“Apa yang mau kau lakukan? Kau tidak mau menemaniku istirahat?”
“Bukan begitu. Tadi aku lupa mengatakan sesuatu pada pelayan dibawah karena malam ini kau tidak jadi berangkat jadi aku ingin membuat sedikit perayaan untukmu. Apa bisa kita memanggil Lorenzo?”
__ADS_1
“Kau ingin Alex belaja piano lagi?” tanya Dante karena Tatiana menyebut nama pria yang merupakan guru les piano Alex.