
“Jadi kau ingin mengembalikan aku dan Alex kerumah lalu kau akan pergi lagi untuk mengurus pekerjaanmu, benar begitu?” Tatiana kembali bertanya.
“Ya benar.” jawab Dante. “Sepertinya semua yang ada dipikiranku bisa kau baca.” Dante tersenyum pada wanita dihadapannya.
“Kenapa kita berdiri dipintu, ayo kita masuk.” ajak Tatiana.
“Tunggu dulu, ada yang mau kuperkenalkan padamu.” Dante menahan tangan Tatiana.
“Apa kau sudah menemukan calon pengasuh anak kita?” tanya Tatiana menatap Dante.
“Ya.” Dante menganggukan kepalanya.
“Apa teman-temanmu yang mencarikan untukmu?” Tatiana belum memutuskan apakah ingin bertemu pengasuh alex atau tidak. Dia hanya bertanya lagi untuk memastikan.
“Iya sayang. Teman-temanku yang mencarinya.”
“Aku tidak percaya pada teman-temanmu. Apa mereka mencarikan wanita yang baik?”
“Apa kau cemas seandainya Alex tidak diperhatikan dan wanita itu melakukan kesalahan?” tanya Dante yang dijawab anggukan oleh Tatiana.
“Iya Dante. Tapi kalau menurutmu wanita itu baik, aku tidak masalah.” jawab Tatiana tersenyum.
“Apa kau mau menemuinya?”
“Boleh. Ayo kita temui dia, aku juga merasa penasaran.” ujar Tatiana.
Wanita itu menggandeng tangan Dante dan menyandarkan kepala dilengannya lalu keduanya melangkah keluar kamar menuju tempat dimana Bella sedang duduk. ‘Pufff…...aku tidak menyangka aku akan mempertemukanmu dengan istriku. Dari dulu aku selalu menjauhkannya darimu tapi sekarang justru aku yang mengantarkanmu padany.’ gumam Dante dalam hati merasa tidak nyaman tapi dia berusaha kuat menutupinya. Dia kembali bersikap tenang seperti biasa meskipun detak jantungnya kencang.
“Halo!” sapa Tatiana saat dia melihat Bella sedang duduk sambil menatap keluar jendela.
“Hai….” ujar Bella melemparkan senyum manis.
__ADS_1
Dante yang melihat senyum Bella mulai mengutuk dalam hatinya. ‘Sial! Seharusnya aku memepringatkanmu tidak boleh tersenyum begitu. Aihhhh senyum itu berbahaya bagiku.’ gumamnya.
“Aku senang bertemu denganmu, suamiku sudah menceritakan semuanya tentangmu. Kau bisa bahasa Inggris kan?” Tatiana bicara ramah pada Bella. Sejak awal mereka memang sudah menggunakan bahasa Inggris tapi Tatiana merasa sedikit khawatir jika Bella tidak menguasai bahasa Inggris dengan lancar dan akan menggenggu komunikasi dengan Alex.
“Ya, aku bisa. Aku sempat tinggal diluar negeri cukup lama, semua orang disana berbahasa Inggris.”
“Oh begitu ya?” Tatiana agak terkejut saat mendengar Bella fasih berbahasa Inggris.
“Bahasa Inggrisnya agak aneh.”
“Oh ya? Dimana tempatmu tinggal?”
“Macau!” jawab Bella singkat penuh percaya diri.
Tatiana mengeryitkan kening merasa kurang suka. ‘Apa yang dilakukannya di Macau? Itu bukan tepat yang baik untuk tempat tinggal.’ gumamnya.
“Aku dulu bekerja disana.” jawab Bella lagi lalu dia melihat Dante yang melotot kearahnya. ‘Aduh apa aku salah ngomong ya?’ gumamnya dalam hati.
“Apa kau bekerja sebagai babysitter disana?” tanya Tatiana menebak-nebak.
“Baguslah kalau begitu. Setidaknya kau sudah punya pengalaman mengurus anak kecil.” ujar Tatiana mulai merasa tenang. Dia menatap Bella dari atas sampai bawah, dia merasa wanita itu terlalu cantik untuk jadi seorang pengasuh. Wanita itu lebih cocok dari model atau aktris. Ada sedikit rasa tidak tenang dihatinya melihat pengasuh anaknya yang bahkan lebih cantik darinya.
Sedangkan Bella hanyut dengan pikirannya, ‘Jangankan punya pengalaman! Main dengan anak kecil saja aku belum pernah. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan anak kecil, Tapi beda denga Sarah, aku sudah mengasuhnya sejak bayi. Mungkin kalau ada anakku maka aku bisa bermain dengan anak kecil,’ Selama ini dia menghindari anak kecil karena akan mengingatkannya pada anaknya yang tidak pernah dia lihat maupun sentuh.
“Baiklah, saat ini anakku sedang tidur. Kau bisa bertemu dengannya besok. Istirahatlah sekarang.”
“Aku?” tanya Bella menunjuk wajahnya sendiri.
“Iya. Di pesawat ini ada dua kamar tidur, satu kamar tidur anakku dan satu kamar tidur lagi milik kami. Aku tidak memintamu untuk tidur dikamar Alex karena dia belum mengenalmu dan takutnya dia akan kaget saat dia bangun. Kau tidak keberatankan jika istirahat ditempat dudukmu? Kau bisa memundurkan kursimu dan tidur disitu.” ujar Tatiana.
“Ah iya tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa naik pesawat ekonomi dan tempat duduknya tidak seluas ini. Aku bisa istirahat disini saja.” Bella mengerti sambil tersenyum dan berusaha bersikap tenang karena dia melihat ekspresi wajah Tatiana yang sulit diartikan.
__ADS_1
‘Kapan ya aku naik pesawat kelas ekonomi? Aku selalu naik kelas bisnis, hi hi hi hi,’ gumam Bella didalam hatinya mencoba menyembunyikan tentang pengalamannya.
“Baiklah kalau begitu. Kalau kau mau makan minta saja pada pramugari.” Tatiana menunjuk kepada pramugari dengan senyum ramah meskipun dalam hatinya mendengus tidak suka melihat pengasuh anaknya yang sangat cantik. Hatinya sebenarnya sudah tidak tenang tapi dia masih bersikap biasa saja.
“Terimakasih,” jawab Bella membalas senyum Tatiana. Matanya sama sekali tidak mau memandang Dante membuat pria itu merasa agak tenang.
‘Pintar juga kau, sudah mulai ada kemajuan dan kuharap kau bisa bertahan tinggal dirumahku.’ bisik Dante dalam hatinya.
“Kami permisi dulu mau istirahat dikamar.” ujar Tatiana.
“Silahkan.” Bella berusaha menjawab sesopan mungkin dan menunggu kedua orang itu pergi.
‘Pantas saja dia bilang kalau wanita it adalah wanita terbaik. Dia sangat baik, tidak mungkin dia mengkhianati wanita sebaik itu meskipun hatiku merasa tidak tenang melihat wanita itu.’ ujar Bella dalam hati meskipun dia tersenyum tapi dalam hatinya merasa miris.
“Beruntung sekali wanita itu dan pria itu juga sangat beruntung. Mereka saling mencintai dan memiliki kehidupan bahagia bersama anak mereka. Apa kelak aku juga bisa mempunyai kehidupan seperti itu dengan pria yang kucintai? Anakku…..aku rindu! Sky….aku selalu menamakanmu sky karena kau ibarat langit malam yang indah bertabur bintang memberi keindahan. Kau bagai langit yang tinggi dan jauh sulit digapai. Haaa…...dalam mimpipun sulit rasanya mendapatkan pria yang bisa mencintaiku seperti kata Tuan Dante, seribu pria sudah menyentuhku dan masa laluku kelam.” Bella tersenyum tipis dan memilih duduk membuang pandangannya keluar jendela.
‘Apa yang sedang mereka lakukan dikamar itu? Kenapa aku merasa kesal membayangkan tubuhnya yang sempurna itu disentuh oleh wanita lain?’ Bella cemberut saat pesawat sudah lepas landas dan sedang mengudara.
‘Hatiku melayang jauh seperti pesawat ini. Rasanya tidak menyenangkan menjadi wanita yang tidak diinginkan. Tuhan kenapa hidupku begini? Sudahlah aku tidak perlu memikirkan semua itu. Aku harus bisa bersyukur karena setelah satu tahun aku bisa bebas dan memulai hidup baru bersama Sarah. Kami akan pergi mencari ketenangan mungkin kami bisa tinggal di pedesaan dan tidak lagi disibukkan dengan kehidupan kota. Aku akan menjauhkan hidupku dari semua orang yang pernah berhubungan denganku. Atau kami bisa tinggal diluar negeri?’ Bella berusaha memikirkan apa yang akan dilakukannya setahun kedepan hingga akhirnya di tertidur.
(Setelah Dante dan Tatiana masuk kedalam kamar mereka untuk istirahat)
“Kenapa kau menatapku seperti itu, sayang?” tanya Dante yang merasa tatapan istrinya sangat mengganggunya, dia membelai lembut rambut istrinya.
“Tidak apa-apa Dante!” wanita itu tersenyum dan terlihat malu-malu.
“Apa kau mau protes padaku? Apa kau tidak menyukainya, sayang?” tanya Dante dengan suara lembut dan tatapan matanya yang teduh membuat wanita dihadapannya merasak semakin hangat didalam pelukannya.
“Apa aku mengatakan itu Dante?” wanita itu mengedipkan matanya manja. Tangan Dante bergerak mengelus bibir merah menyala dan menggairahkan dihadapannya.
“Tidak Tatiana. Aku hanya bertanya saja.” sambil menyentuh bibir wanita itu, dia ingin memuaskan dahaganya yang sudah dia tahan sejak kemarin dan ingin dipuaskannya.
__ADS_1
“Aku merindukanmu Tatiana!”
“Apa kau pikir aku tidak merindukanmu?” tanya Tatiana dengan matanya yang bertautan dengan Dante. Tangannya bergerak menyentuh kancing baju Dante dan mulai membukanya satu persatu.