PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 196. PIJAT PAKAI OBAT NYAMUK


__ADS_3

Kata-kata Barack berhasil membuat Sarah mengerutkan dahinya. “Kau mau memijat punggungku dengan obat nyamuk?” intonasi suara Sarah agak tinggi ketika dia menanyakan itu, antara bingung dan kaget dia menahan tawa.


“Memangnya kita punya apalagi disini?”


“Aduh sakit! Pelan-pelan dong.”


“Aku sudah pelan-pelan ini.” ujar Barack.


“Sakit sekali disana!” jawab Sarah yang menenggelamkan wajahnya ke bantal.


“Masih terasa sakit?”


“Hem….sssshhhh sakit sekali!” ucap Sarah setiap kali tangan Barack menyentuh punggungnya.


“Lama-lama juga sakitnya akan berkurang.”


“Benarkah?”


Barack tidak bicara, dia terus memijat dibagian yang terasa sakit tanpa mempedulikan Sarah yang terus menerus meringis kesakitan.


“Apa sudah mendingan sekarang?” tanya Barack.


“Entahlah tapi terasa lebih ringan.” jawab Sarah yang menoleh lalu tersenyum pada Barack. “Terimakasih ya, aku tidak menyangka kalau kau bisa menghilangkan sakitnya.”


“Sudah kukatakan padamu kalau aku bisa menyembuhkanmu, kau saja yang tidak percaya.” celetuk Barack sambil tertawa.


“Terimakasih ya.” suara Sarah terdengar agak manja.


“Apa masih adalagi yang sakit?”


“Ada!” jawabnya singkat.


“Apa?” Barack terlihat serius menatap Sarah.


“Disini!” telunjuk Sarah mengarah ke dadanya.


“Kau main-main denganku!”


“Memang benar! Sakit dihatiku karena kau terus-terusan menolakku.”

__ADS_1


“Dasar anak kecil! Jangan banyak bicara ayo cepat! Sebentar lagi kita akan dijemput.”


Sarah kembali menganggukkan kepalanya. Dia berusaha bangun dari tempat tidur walaupun menahan sakit dan meringis.


“Naik ke punggungku sekarang!” ucap Barack.


“Masih sakit sih tapi aku mau jalan saja. Kakimu juga, tidak mungkin menggendongku kan?”


“Naiklah! Tidak perlu mengasihaniku!”


“Tidak apa-apa! Orang akan memperhatikan kita kalau aku naik ke punggungmu, itu akan membuat orang-orang curiga. Aku pegang tanganmu saja ya.” ucap Sarah.


Barack melirik Sarah lalu berkata, “Kau berbahaya kalau bersikap manja begini.”


“Aku tidak manja pada setiap orang, aku hanya manja pada Bella saja.”


“Lalu apa yang kau lakukan sekarang, ha?”


“Mencoba menarik perhatianmu supaya nanti kalau usiaku sudah dua puluh lima tahun kau mau bersamaku!” ujar Sarah sekenanya.


Barack memutar bolamatanya, sambil mengambil tas dan satu tangannya dipegang oleh Sarah.


“Kyaaa! Apa yang kau lakukan padanya?” Sarah panik, matanya terus terpaut pada Barack dan dia sangat mengkhawatirkan pria itu.


“Ikut aku!”


“Lepaskan aku! Barack!”


Bug bug bug


“Ba….hhpppph!”


“Saraaaahhhhhh…….”


Bug bug bug…..DOOORRRRR DOOOOORRRR


Sementara itu di Kota Nova Gorica, Slovenia


Anthony mengamatai Bella yang masih tertidur lelap di tempat tidur sambil bicara pelan, “Kau masih belum sadar juga! Sudah hampir delapan jam kau tidur, aku sudah menanyakan pada dokter tapi kondisimu juga tidak apa-apa tapi kenapa kau lama sekali tidurnya?” ada rasa khawatir yang membuat Anthony yang tadinya duduk di sofa kini berdiri dan melangkah mendekati Bella.

__ADS_1


“Aku tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana bisa dia menyiksamu seperti itu padahal dia bisa melihatmu begitu lemah!” Anthony menggelengkan kepalanya sambil terus saja bicara lalu dia duduk ditepi tempat tidur Bella sambil memegang tangan Bella, “Kau sudah aman disini Bella! Kau bisa bangun sekarang, aku akan berusaha bicara dengan jenderal supaya tidak melibatkanmu dalam operasi apapun itu.” ucap Anthony sambil mengelus tangan Bella.


“Apa sebenarnya rahasiamu dengan Dante? Kenapa kau bisa dibawa pulang olehnya dan kenapa kau bisa mendapatkan semua masalah ini? Aku sama sekali tidak mengerti Bella! Bangunlah dan jelaskan padaku, aku berjanji akan melindungi dan menjagamu. Aku sudah mengecek semua informasi tentang Dante tapi tidak ada yang berhubungan denganmu! Siapa sebenarnya kau ini Bella?” tanya Anthony sambil menatap Bella yang masih terpejam.


Dia memandangi wajah pucat Bella dengan rambut tergerai dan tubuh lemahnya yang tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. “Bella…..apa kau tahu kalau kau sangat cantik walaupun wajahmu pucat begini? Kau masih menunjukkan aura kecantikanmu!” Anthony tersenyum sejenak tapi dia tidak melakukan apapun, hanya memegang tangan Bella sambil mengamati wajah wanita itu.


“Apakah Tuan Dante jatuh cinta padamu? Bagaimana kalau aku juga merasakan hal yang sama? Ah….kau memiliki cara hidup yang berbeda dari wanita kebanyakan, apalagi caramu makan pisang! Itu tidak bisa membuatku berhenti tertawa seharian waktu aku melihatmu makan pisang dengan cara itu. Kau juga seperti anak kecil, polos dan tidak malu menunjukkan itu padaku.” Anthony bicara lagi seolah-olah Bella tersadar dan sedang bicara dengannya.


Pria itu sangat senang memandangi wajah Bella padahal dia sudah berada disana berjam-jam, padahal dia mengantuk tapi dia terus saja mengajak Bella berbicara meskipun tidak ada respon dari wanita itu.


Tok tok tok


‘Pufff untung ada ketukan pintu, kalau tidak aku sudah mengecup dahi Bella!’ gumam hati Anthony yang kini berdiri sambil sedikit bergidik berjalan menjauh dari Bella menuju pintu lalu membukanya.


“Saya ingin mengantarkan makan malam untuk anda, Tuan,”


“Terimakasih.” Anthony mengambil baki makanan tanpa banyak bicara lagi, tapi pelayan itu tak pergi juga dari sana. “Apa ada makanan juga untuknnya?” tanya Anthony.


“Dokter mengatakan tidak ada makanan sampai dia sadar. Semua suplemen dan kebutuhan nutrisinya akan diberikan melalui infus, Tuan.”


“Ah, baiklah kalau begitu. Terimakasih. Lalu apa yang membuatmu masih berdiri disana?”


“Ada satu informasi yang ingin saya sampaikan.” jawab pelayan rumah itu dengan senyum diwajahnya,


“Apa itu Canta?”


“Tuan sudah kembali dan beliau bilang agar anda menemuinya diruang kerja setelah makan malam.”


“Tapi wanita ini belum sadar! Bagaimana bisa aku meninggalkanny? Dia akan panik kalau aku pergi dan saat dia terbangun nanti tidak ada siapapun disini atau dia tidak melihat orang yang dikenalnya.” ujar Anthony yang mengkhawatirkan kondisi Bella.


“Begitu perintahnya, Tuan!”


“Baiklah.” Anthony tadinya ingin menolak tapi akhirnya dia punya jalan keluar lalu menatap pelayan itu, “Begini saja, aku akan makan malam nanti, sekarang kau masuklah dulu dan temani dia. Jika dia sadar segera panggil aku. Aku akan menemui ayahku sekarang. Kau mengerti kan Canta?”


“Mengerti Tuan. Jika itu yang terbaik menurut Tuan, saya akan tinggal disini.” jawab Canta.


“Terimakasih!” Anthony menyerahkan nampan berisi makanan itu kepada pelayannya, Canta masuk kedalam kamar itu sedangkan Anthony pergi menemui ayahnya.


‘Apa yang ingin dia bicarakan denganku? Apakah ini tentang Bella? Semoga saa ini tidak akan mendatangkan masalah untuk Bella, untuk pertama kalinya aku ingin melindungi seseorang benar-benar melindunginya, dia butuh bantuanku!’ ucap Anthony didalam hatinya sambil berjalan menuju ke ruang kerja. Saat dia sudah berada tepat didepan pintu ruang kerja, pria itu menarik napas panjang lalu mengetuk pintu didepannya.

__ADS_1


Tok tok tok


__ADS_2