PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 435. ALEX MEMASAK


__ADS_3

Sarah memutar bola matanya, “Terserah kau sajalah Bella! Dia suamimu, jadi wajar saja kalau kau memujinya.” ujar Sarah. Dia pun berpindah duduk di kursi piano, bermalas-malasan.


“Bella, bukankah dulu kau sangat ingin menjadi seorang pianis?” tanya Sarah sambil memencet satu tuts piano. Belinda pun pindah duduk disebelah Sarah dan mulai memainkan musik sederhana tanpa menanggapi pertanyaan adiknya.


 


‘Apa kau menikmati main piano? Kau memang sejak dulu berkeinginan menjadi pianis. Apakah kau masih bisa mewujudkan mimpimu setelah menjadi istri Dante? Aku rasa tidak mungkin, Dante sangat mencintaimu dan dia tidak akan mudah membuatmu pergi karena perceraian Bella! Tapi kalau memang cintamu hanya untuknya maka harusnya kau sangat bahagia berada disampingnya bukan? Tapi kenapa wajahmu muram begitu?’


 


Sarah memandang wajah kakaknya sambil bergumam didalam hatinya, dia tidak mengerti apa yang terjadi pada kakaknya itu. Harusnya hari ini adalah hari bahagia Belinda tapi kenapa disaat seperti ini malah tidak ada senyum diwajahnya? Justru dia terlihat murung memainkan pianonya meskipun suara piano itu terdengar ceria tapi Sarah paham bagaimana sikap kakaknya.


 


“Bella? Kau ingin memelukku?” tanya Sarah lagi seolah mengerti suasana hati kakaknya.


Belinda tidak menjawab, dia hanya menoleh menatap Sarah dan melepaskan tuts piano lalu memeluk Sarah erat-erat.


“Kau kenapa? Hari ini adalah hari bahagiamu, kau sudah menikah dengan pria yang kau cintai tapi kenapa kau terlihat murung?”


 


“Aku takut Sarah.” kata-kata itu terdengar jelas ditelinga Sarah meskipun Belinda berusaha untuk mengucapkannya pelan dan dia bahkan tidak menangis tapi tetap saja Sarah merasa khawatir.


“Apa yang kau takutkan Bella? Kau sudah mendapatkan Dante sekarang. Bukankah seharusnya kau bahagia karena sudah menjadi istrinya? Bukankah itu yang kau impikan selama ini?” tanya Sarah lagi.


 


“Aku takut kehilangan Dante. Sangat takut, Sarah!”


“Kehilangan? Apa menurutmu dia akan mengalami sesuatu yang buruk?” tanya Sarah yang mulai ikutan merasa khawatir karena teringat pada Barack. ‘Barack! Apa kau juga sedang dalam masalah disana? Aku jadi ikutan mengkhawatirkanmu kalau begini.’ bisik hati Sarah.


 


“Aku tidak tahu Sarah! Tapi hatiku merasakannya, aku merasa tidak nyaman dari cara dia memperlakukanku, aku merasa ada yang aneh saja. Aku mengkhawatirkannya.” ucap Belinda.


“Sabar dan tenangkan saja dirimu. Semoga semuanya hanya perasaanmu saja dan tidak ada yang terjadi. Kau jangan terlalu berpikir jauh.”


 


“Aku juga berharap seperti itu Sarah tapi tiap kali aku berada didekat Dante akhir-akhir ini, aku merasa kalau aku akan kehilangan dia. Aku takut sekali, Sarah!"


“Apa itu karena pekerjaannya?”


“Iya. Ada hubungannya juga.” jawab Belinda.


 

__ADS_1


“Kenapa kau tidak memintanya untuk menghentikan pekerjaannya saja Bella? Karena aku yakin kalau dia sudah berhenti bekerja pun, dia masih punya cukup uang untuk menghidupi kalian.”


“Aku rasa dia bekerja bukan untuk uang, Sarahh! Tapi karena hal lain yang sedang dikejarnya tapi aku tidak tahu apa itu! Dia seperti sedang mengatur rencana untuk mendapatkan sesuatu yang sudah dia kejar sejak lama.”


 


Dia tidak bisa mengungkapkan kepada siappaun perasaannya dan saat ini Belinda yang memeluk Sarah pun tak luput dari pandangan mata Dante.


‘Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa aku melihat kesedihan diwajahnya? Apa adiknya membicarakan tentang Barack lagi padanya?’ bisik hati Dante.


“Daddy! Aku sudah selesai.” suara Alex mengalihkan pandangan mata Dante.


 


“Alex, kalau kau mau masak seperti ini pastikan api kompornya besar dan lihatlah warnanya harus seperti ini.” kata Dante menjelaskan.


“Ohhhhh….jadi itu tandanya masakan belum matang ya?”


“Ini sebenarnya sudah matang tapi belum well done! Bagian tengahnya masih merah tapi ini sudah cukup enak kalau kau menyukai daging seperti ini. Tapi selera Bella itu selera Indonesia, dia suka yang matang seperti ini.”


 


“Kau juga suka seperti ini daddy?”


“Iya. Karena itu kalau kau mau masak sendiri, kau harus bisa membedakan selera setiap orang. Yang ini untuk Bella dan ini untuk Sarah. Ini untukmu dan aku!” kata Dante lagi.


 


“Maksudmu, kau suka makanan seperti yang kusuka kan?” Dante membenarkan ucapan anak itu.


“Iya daddy!” jawab Alex mengangguk.


“Iya, benar dan seperti itulah kau dan aku punya selera yang sama.”


“Oke aku mengerti daddy.”


 


“Setelah matang, kita akan angkat lalu letakkan di piring ya. Lalu kau menyusun garnishnya.”


“Apa itu penting daddy? Harus dihias supaya cantik?”


“Karena itu yang bisa membangkitkan selera makan. Kau mau mencoba membuatnya? Aku bisa mengajarimu Alex supaya lain kali kau bisa membuatnya untuk mommy-mu.”


 


Alex semakin senang karena akan belajar hal baru lagi. Dia merasa kalau dia sekarang sudah menjadi koki sunggugan. Kalau tadi saat dia bersama Norman, pria itu tidak berani menyuruhnya melakukan semua itu sendiri. Sangat berbeda dengan Dante karena Alex adalah anaknya sendiri dan dia merasa bangga bisa mengajari nakanya belajar memasak.

__ADS_1


 


“Daddy! Lihat aku bisa! Ini menyenangkan sekali daddy!”


“Jadi kau suka main piano dan memasak, Alex?”


“Iya daddy. Aku suka dua-duanya. Itukan favoritku!”


“Setidaknya aku sudah mengajarimu hal-hal yang kau suka Alex. Nanti aku ingin menunjukkan sesuatu juga padamu.” kata Dante tersenyum melihat kepintaran anaknya yang cepat menangkap.


 


“Ini sudah selesai daddy? Apalagi yang harus kubuat?”


“Ya sudah. Sekarang kita hidangkan di meja makan. Ayo bantu bawa kesana.”


Dante dan Alex mengangkat piring-piring itu. Dante membawa tiga piring sekaligus sedangkan Alex membawa piringnya sendiri.


 


“Bisa kau membawanya Alex?”


“Bisa daddy! Ini gampang kok.”


“Sekarang kau bisa memanggil mereka. Suruh mereka datang kemari untuk makan.”


“Iya daddy.” Alex tersenyum dan menegok kearah ruang piano lalu dia berlari menuju tempat itu.


“Mommy Bella! Ayo kita makan dulu! Aku sudah siap memasak.” panggil Alex yang berteriak-teriak sehingga ruangan itu berisik sekali dengan suaranya.


 


“Anakku sudah tambah besar, dia masih berusia empat tahun tapi dia pintar sekali! Aku yakin Alex akan menjadi anak yang hebat kelak. Dan aku akan berjuang untuk bertahan hidup dan menemaninya sampai dewasa. Aku harus ada saat Bella melahirkan anakku dan menjaga mereka semua disisiku.” ujar Dante menatap anaknya dengan senyum.


 


“Mommy Bella! Kenapa kau menangis? Siapa yang membuatmu sedih?” suara Alex terdengar oleh Dante.


“Aku tidak menangis. Aku sangat bahagia, kau tahu arti bahagia kan Alex? Menangis bahagia karena sekarang aku memilikimu dan aku memiliki satu orang anak lagi.”


 


“Kalau bahagia itu harus menangiskah mommy?” lagi-lagi anak itu bertanya.


“Tentu saja Alex. Sudahlah jangan banyak bertanya. Ayo kita makan.” Belinda menggandeng tangan Alex dengan Sarah yang berjalan dibelakang mereka. Menyembunyikan semua rahasia yang dikatakan kakaknya padanya.


 

__ADS_1


__ADS_2