
“Kau sudah membuat kesalahan!” ujar Tatiana dengan suara rendah seperti berbisik.
“Maafkan aku. Tapi wanita itu sudah hampir ketangkap olehku! Memang aku merencanakan supaya dia dipecat secepatnya.” ujar Lorenzo tersenyum puas.
“Untung saja aku datang. Kau bisa bayangkan apa yang terjadi kalau aku tidak datang. Bisa-bisa kau sudah menjadi mayat didepanku.” Tatiana meringis.
“Aku mengerti. Aku akan pergi meninggalkan rumahmu sekarang.”
“Pergilah!” ada senyum merekah dibibir Tatiana.
“Sepertinya kau senang melihatku dipukul begini?”
“Tentu saja aku senang! Kau berkorban sedikit untukku tidak apa-apakan?”
“Apa?”
“Ah...walaupun kali ini kau tidak melakukan sesuai dengan rencana yang sudah kukatakan, tapi aku juga sneang karena kau berhasil membuat Bella keluar dari rumah ini selama-lamanya.”
Sementara itu, saat Bella keluar dari ruang piano mengikuti Henry yang berjalan didepannya. “Tuan Henry, ruangan apa yang akan aku masuki itu?” tanya Bella pelan dibelakang Henry.
“Nanti aku juga akan tahu!” jawab Henry pelan tapi membuat bulu kuduk Bella berdiri.
‘Kenapa feelingku tidak enak ya? Tempat ini banyak rahasianya, dari luarnya kelihatan indah tapi aku tidak tahu apa saja yang ada didalam mansion ini.’ bisik hati Bella gelisah.
“Apa itu lebih mengerikan daripada yang ada diatas bukit kemarin?” Bella kembali bertanya pada Henry karena pikirannya tidak tenang dan rasanya ingin meledak.
“Saat kau berada didalam sana, kau akan tahu bagaimana tempat itu.” kalimat itu langsung membuat Bella semakin resah.
‘Apakah aku akan mendapat hukuman yang mengerikan? Tapi semua ini bukan salahku. Aku tidak menggodanya bahkan dia yang terus menerus menggodaku dan membuatku tak bisa bergerak. Tapi kenapa sekarang malah aku yang disalahkan? Kenapa Lorenzo mengatakan kalau aku yang menggodanya? Apakah semua ini jebakan?’ Bella meringis memikirkannya.
‘Tapi kenapa Lorenzo ingin menjebakku? Apa tujuan sebenarnya? Aku merasa ngeri untuk percaya dengan seseorang sekarang. Mereka seperti ingin mempermainku saja dan sekarang aku yang menanggung akibatnya. Tuan dante sepertinya benar-benar marah, aduhhh aku sudah berusaha melepaskan diri tadi. Tapi pria itu sangat kuat menekan tubuhku. Aduh…..’
Bella berusaha bertanya pada Henry tapi jawaban yang didapatnya hanyalah jawaban singkat yang tak sinkron dengan pertanyaan Bella. Dia akhirnya hanya berjalan mengikuti langkah kaki Henry hingga mereka tiba disebuah ruangan. Tempat itu agak jauh dibelakang sekitar seperempat kilometer dari mansion.
“Ayo masuk.”
“Pintu ini menuju keruang bawah tanah ya?” Bella bertanya saat Henry membuka sebuah pintu dan tempat pintu hanya seperti kotak telepon setelah kuncinya dibuka terdapat anak tangga menuju kebawah.
“Iya. Ayo masuk.”
__ADS_1
Bella merasa ragu tapi melihat mata henry yang tajam, dia tidak ada jalan lain selain memaksa Bella untuk turun kebawah.
“Dingin sekali disini!” ujar Bella lagi sambil melangkah turun. Tembok diruangan itu terbuat dari batu alam. Tak ada cahaya kecuali di pintu masuk utama, ruangannya gelap dengan sedikit pencahayaan. Bahkan lampu pertama dengan lampu berikutnya berjarak sepuluh meter.
Lampur-lampu itu terlihat seperti lampu lima watt yang berwarna kuning dengan cahaya redup sehingga membuat ruangan itu sangat mengerikan. “Tuan, apa aku bisa tidak usah masuk kedalam sini?” tanya Bella yang berhenti lalu mendongak menatap Henry.
“Ini perintah Tuan! Tidak ada yang bisa menghentikan perintahnya.” bahkan suara henry terdengar bergema ditempat itu.
“Tidak bisakah kau menolongku? Aku tidak bersalah.”
“Walaupun aku punya seribu nyawa,, kalau aku mengeluarkanmu dari sini maka satu persatu nyawaku akan hilang dan ujung-ujungnya aku tidak bisa bertahan hidup lagi.”
“Jadi, aku tidak bisa menyelamatkanku?” bella tertunduk lemas.
“Jalan!”
Hati Bella semakin takut dan sejujurnya langkah kakinya bergetar semakin mereka turun suasana diruangan itu semakin dingin rasanya. Hingga saat mereka sampai didekat sebuah ruangan terdengar suara. “Tolong keluarkan kami dari sini! Aku minta maaf tuan Dante!” suara pertama yang didengan Bella dari sebuah pintu disaat dia hampir sampai dilantai paling bawah.
“Siapa yang dikurung disana?”
“Sebaiknya kau urus saja urusanmu sendiri dan jangan pedulikan apa yang ada disana! Tempat ini tidak akan mengerikan bagi orang yang tidak bersalah.”
“Apa mereka disiksa didalam sana?” tanya Bella lagi.
“Lalu tempat yang kita tuju sekarang, apakah tempat penyiksaan?”
Henry membuka pintu didepannya. “Masuk!”
“Tangga lagi?” bella menatap henry. “Jadi aku tidak berhenti ditempat ini? Masih harus pergi ketempat lain?” rasa ngeri mulai dirasakan Bella melihat ruangan dibawahnya.
“Silahkan masuk.” ucap Henry tanpa bisa ditentang sehingga Bella pun melangkahkan kakinya kedalam.
“Aduh tempat ini lebih mengerikan dibandingkan tempat pertama tadi.” ujar Bella lagi yang saat itu sudah menuruni anak tangga satu persatu.
“Kita sekarang ada dikedalaman lima puluh meter dibawah bumi. Kau akan merasa panas disini tapi itu tidak masalah, masih ada oksigen yang akan kau dapatkan.” Henry bicara setelah mereka tiba diujung tangga dengan pintu yang masih tertutup rapat.
“Aku harus masuk kedalam sana?”
“Ya, kau harus tinggal dulu ditempatmu ini. Aku sarankan kau menghemat tenagamu dan tidak banyak bicara, cukup diam saja. Karena sekencang apapun kau berteriak tidak akan ada orang yang bisa mendengar suaramu.” ujar Henry.
__ADS_1
“Apa kau bilang?” Bella membalikkan badan dan menatap Henry. “Aku takut gelap! Aku takut sendirian, aku mohon jangan tinggalkan aku disini.” wajah Bella memelas, dia sangat ketakutan.
“Masuklah!”
“Tidak! Aku mohon!” Bella memelas.
“Maafkan aku. Bukan aku tidak ingin menolongmu tapi kau sendiri yang mencari masalah.” Henry mengeryitkan dahinya langsung memberikan kode dengan tangan agar Bella masuk kedalam dan dia secepatnya menyelesaikan pekerjaannya.
“Masuklah.” perintah Henry lagi.
“Tapi Henry?” Bella ketakutan.
“Aku menyuruhmu masuk! Berdoalah kau masih bisa hidup lebih lama lagi!”
Deg
Detak jantung Bella bertambah kencang mendengar ucapan Henry, dia semakin ketakutan. “Tuan Henry, aku mohon tolong aku supaya aku tidak perlu tinggal disini. Tempat ini sangat gelap. Aku takut gelap.” ujar Bella.
“Masuklah. Itu hukumanmu! Tunggulah sampai keputusan Tuan Dante diberikan.”
“Aku mohon.” Bella mulai menangis memohon pada Henry.
“Silahkan masuk.” Henry memaksa.
“Aku mohon aku tidak berani!”
Brakkkk
“Hiaaaa….awwww” Bella meringis ketika Henry mendorong kuat tubuhnya kedalam ruangan, kulitnya seperti tergores sesuatu dan terasa sangat perih.
“Kau yang memaksaku berbuat itu Bella! Aku sudah menyuruhmu untuk masuk tapi kau tidak mau mendengar dan menurut.” lalu henry pun menutup pintu ruangan itu.
“Tuan Henry! Aku mohon jangan tutup pintunya!” Bella berusaha mengedor pintu besi.
“Aku mohon buka pintunya, aku mohon keluarkan aku dari sini. Aku takut sekali didalam sini. Disini gelap, aku takut! Tolong keluarkan aku dari sini.” Bella kembali memohon sambil menggedor pintu dengan sangat kuat.
“Bella! Sebaiknya kau dengarkan aku kalau kau tidak mau kehabisan tenaga dan sakit tenggorokanmu. Kau tidak akan mendapatkan air minum, sebaiknya kau diam saja.”
“Tidak! Aku akan terus berteriak!”
__ADS_1
“Percuma kau berteriak karena tidak ada seorangpun yang akan mendengarmu. Aku sudah mengingatkanku sejak awal bahwa pasokan oksigen juga tidak terlalu banyak didalam sini, kau akan merasa pening maka merenunglah semoga Tuan Dante memaafkanmu!”
‘Ssss….aku juga merasa ngeri. Tuan Dante hanya pernah memasukkan satu orang kedalam sini dan haaahh….aku tidak bisa membayangkan bagaimana Tuan Dante akan melampiaskan kemarahannya pada orang itu.’ dalam hati Henry dia merasa miris.