PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 360. SANDIWARA JEBAKAN


__ADS_3

“Apa kau yakin?”


“Sangat yakin sekali. Bagaimana Dante? Aku harus jawab apa padanya?”


‘Memindahkan sebuah transaksi besar dari yang seharusnya dua minggu lagi jadi besok? Ini sangat aneh dan mencurigakan! Meskipun alasannya masuk akal. Tapi aku tetap punya penilaian lain. Mungkinkah dia melakukan ini atas perintah Barack? Tapi aku harus memastikan dulu.’ bisik hati dante.


Dia mencoba berpikir sebelum menjawab pertanyaan Nick.


“Dante, kau masih disana?”


“Ya, aku mendengar suaramu Nick!”


“Apa yang harus aku lakukan? Dia menunggu jawabanmu Dante!”


“Lakukan apa yang ingin dia lakukan!”


“Kau yakin Dante? Kau tidak khawatir ini adalah jebakan?”


“Nick! Pekerjaan kita penuh resiko. Jadi apalgi yang kau tunggu? Aku menyuruhmu untuk menghubunginya dan mengatakan padanya bahwa kita terima tantangannya!”


“Baiklah kalau begitu aku akan segera menghubunginya.”


“Itu saja yang ingin kau sampaikan?”


“Ya itu saja!”


“Bagaimana dengan wanita itu dan adiknya juga anakku?”


“Mereka aman Dante! Kau tidak perlu memikirkannya.”


Klik….


Tak menunggu lama Dante sudah mematikan teleponnya.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya wanita yang ada disamping Dante yang sejak tadi memperhatikan Dante tapi dia tidak banyak bicara.


“Urus saja urusanmu sendiri. Tak perlu perhatikan aku!” jawab Dante ketus sambil dia menghubungi nomor lain melalui ponselnya.’Sshhh...lambat sekali kau angkat teleponnya! Saat tidak penting saja kau meneleponku, saat aku ada urusan penting kau tidak ada dan sulit dihubungi!’ Dante mengoceh sendiri ditelepon sambil menunggu orang diseberang menerima teleponnya.


Setelah menunggu sekian menit, masih belum juga dijawab sehingga Dante pun mencoba menghubungi kembali. ‘Kalau memang kau tidak bsia dihubungi saat ini juga aku tidak akan pernah mengangkat teleponmu lagi dan semua rencana yang sudah kita buat ini akan aku batalkan.’ gumam Dante kesal.

__ADS_1


“Hei, kau meneleponku terus-terusan.” ucap Anthony. “Apa kau tidak tahu aku sedang berada dimana?” suaranya sangat panik dan dia bicara sambil berbisik pada Dante.


“Dimana kau sekarang?”


“Aku ada di markas federal! Ada pekerjaan yang harus aku lakukan disini! Kenapa kau meneleponku?”


“Apa nomor teleponmu tersadap disana?”


“Tidak ada yang menyadap teleponku. Tapi aku tidak mau mendengar teleponmu!” ucap Anthony.


“Kalau begitu diam saja dan dengarkan apa yang akan aku katakan!”


“Baiklah katakan apa yang ingin kau katakan.”


“Dengarkan aku baik-baik karena aku tidak akan mengulang kata-kataku ini.”


“Baiklah Dante.”


“Besok adalah hari penting! Besok adalah hari dimana aku akan mengadakan transaksi besar. Jadi aku ingin kau mengingat hal ini! Bawa wanita itu ke tempat transaksi, aku belum tahu dimana tempat transaksi akan berlangsung tapi aku ingin kau membawa wanita itu kesana dan bawa pasukan federal juga! Kita akan membuat sandiwara. Apa kau paham?”


“Kau serius?” Anthony kaget, dia tidak menyangka yang dikatakan oleh Dante itu adalah kenyataan sehingga matanya terbelalak. Anthony juga sedikit menaikkan intonasi suaranya saat bicara.


“Baiklah, aku akan mengurus hal itu.”


“Jangan sampai ada kesalahan! Apa kau paham maksudku?”


“Tentu saja! Aku sudah lama mengincarnya. Aku tidak akan membuat satu kesalahanpun!”


Klik…


Dante tidak lagi bicara panjang lebar dan langsung mematikan teleponnya membiarkan Anthony sedikit termenung. Sementara di tempat lain persis seperti yang Dante prediksi, Anthony memang sedang termenung dan berpikir keras tentang apa yang disampaikan Dante tadi.


‘Fuuh! Apa yang harus kukatakan padanya tentang hal ini? Dia pasti akan banyak bertanya padaku dari mana aku mendapat informasi tentang ini! Padahal kemarin sudah sempurna kalau transaksi akan dialkukan dua minggu yang akan datang! Aku mengatakan akan membawa wanita yang berpura-pura menjadi Bella itu.’ bisik Anthony didalam hatinya.


Kepalanya sedikit pusing memikirkan hal ini. Robert cukup pandai dan dia adalah orang yang sulit untuk ditipu. Anthony menyadari hal itu. ‘Apa mungkin aku mengatakan kalau ada intelyang menyusup kesana? Tapi tidak mungkin juga! Aduh...alasan apa ya?’ gumamnya lagi.


“Apa yang kau lakukan disini?”


Suara yang menyapanya membuat Anthony menengok dan sedikti panik. “Jenderal Robert!” sapanya dengan hormat, ‘Kenapa dia harus muncul sekarang? Aduh….dia tidak akan puas dengan jawaban sederhana dariku! Berpikirlah Anthony! Buat dia percaya padamu!’ bisik hati Anthony.

__ADS_1


Sejujurnya jika boleh memilih, Anthony lebih suka memilih masuk kedalam kamar dan tak bicara apapun lagi tapi itu tidak mungkin dia lakukan sekarang.


“Sedang apa kau disini?” tanya Robert lagi.


“Aku sedang berpikir.” jawab Anthony seadanya.


“Berpikir?” Jenderal Robert menatapnya serius.


“Ya, Dante sedang mempersiapkan senjata. Anak buahnya di rumah itu yang memberitahuku.”


“Anak buahnya?” sang jenderal cukup terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan Anthony.


“Iya. Kau pikir aku bisa keluar dari tempat itu tanpa bantuan orang lain?”


Robert sedikti bimbang,”Jadi kau mendapatkan bantuan?”


“Ya jelaslah jenderal!” Anthony mengangguk. “Orang kepercayaan Dante, dia yang membantuku keluar. Tanpa bantuannya aku tidak akan bisa sampai disini. Aku tidak tahu situasi di sekitar sana.”


“Baiklah. Apa yang dia katakan?” Robert berusaha untuk percaya pada Anthony.


‘Sepertinya dia sudah mulai terbuai dan mulai percaya padaku.’ bisik hati Anthony. Dia tidak semapt memikirkan tentang hal ini sebelumnya tapi akhirnya kata-kata itu yang dia ucapkan begitu saja yang membuat Robert terkejut.


“Dia mengatakan seperti yang tadi aku bilang, Dante sedang menyiapkan senjata dalam jumlah besar. Apa kau yakin tidak ada transaksi dalam waktu dekat ini?” Anthony sengaja bertanya pada Robert. Dia sengaja mengusik Jenderal Robert untuk membuatnya tidak mencurigai Anthony.


“Senjata dalam jumlah besar? Aku tidak tahu tentang rencana ini.” jawab Robert jujur, tapi pikirannya terus mencoba mencerna semua informasi yang diberikan oleh Anthony.


“Aku rasa memang akan ada penjualan! Karena senjata-senjata yang disiapkan adalah senjata baru.” kini Anthony mencoba untuk memancing Robert lagi.


“Mereka membuat senjata lagi?” tanya Robert mengeryitkan dahinya. ‘ Tidak mungkin mereka membuat senjata kalau tidak untuk dijual. Dalam jumlah besar? Kemana mereka akan menjualnya?’ Jenderal Robert jadi penasaran. Umpan yang dilemparkan Anthony tepat mengenai sasarannya.


“Aku rasa begitu.”


“Mungkinkah informanku salah memberikan informasi?” Robert pun mulai bimbang.


“Apa kau yakin rencananya dua minggu lagi? Jangan-jangan itu adalah taktik yang dibuat oleh Dante. Padahal sebenarnya dia mau melakukan transaksi dalam waktu dekat.” ujar Anthony yang membuat jiwa Robert semakin terkoyak dan dia tak ingin melepaskan Dante.


Sebelum menjawab ucapan Anthony, pria paruh baya itu menatapnya lekat-lekat. ‘Aku ingat taktik ini. Dulu Mateo pernah melakukan taktik seperti ini. Dia bilang akan mempresentasikan senjata pembunuh massal miliknya itu tiga hari setelah kami bertemu! Tapi saat itu dia bukannya mempresentasikan benda itu tapi dalam waktu tiga hari dia menghilangkan benda itu dari laptopnya.’ bisiknya didalam hati.


 

__ADS_1


 


__ADS_2