PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 52. MASAKANMU ENAK


__ADS_3

Dante menggelengkan kepala menolak idenya. ‘Tidak…..tidak…..itu bukan ide bagus. Aku tidak mau mereka menjaganya. Apa aku harus membawanya ke mansion tempat dimana dulu aku menaruhnya? Oh tidak….aku tidak bisa lakukan itu. Aku tidak ingin kau mengingat masa lalu itu dan mengingat pria itu.’ bisik hatinya.


“Apa kau tidak makan, Tuan?” suara lembut Bella menyadarkan Dante dari lamunannya. Dia melihat kearah piring yang sudah disiapkan untuknya dan berjalan mendekat ke meja.


“Kau benar-benar kelaparan?” tanya Dante melirik piring Bella yang sudah hampir kosong.


“Masakanmu enak sekali. Aku sangat suka….hmmmm…..kau sangat pandai memasak Tuan.” puji Bella dengan senyum manis.


“Bagaimana caranya kau memakan itu? Kau sudah menghabiskan setenga porsi makanan yang masih panas.”


“Ini enak sekali dan aku suka makanan yang masih panas. Kalau ketemu makanan enak seperti ini maka aku makan tanpa berpikir. Aku akan menghabiskannya secepat aku bisa.” ujar Bella tanpa mempedulikan pria didepannya.


“Kau mau tambah?”


“Ha? Apa kau tidak makan?” tanya Bella karena makanannya suda habis sedangkan Dante masih belum menyentuh makanannya sama sekali. Dia hanya melihat wanita itu makan sedari tadi.


“Aku tidak lapar!” ujar Dante lalu memberikan piringnya pada Bella. ‘Apa sifat Alex menurun darinya?’ gumamnya dalam hati.


“Heemmmm enak sekali Tuan. Makanan seenak ini aku bisa menghabiskan sepuluh piring.


“Yakin? Setelah itu kau tidak akan pernah lagi mau makan fetucini.” celetuk Dante menatap Bella yang terus mengoceh sambil makan.


“Ha? Mengapa begitu?”


“Karena perutmu akan mual dan kau tidak akan menyukai makanan itu lagi. Makanan hanya enak kalau dimakan dengan porsi kecil dan tida terlalu sering. Jadi kau akan selalu merindukan makanan itu.”


Bella mulai berpikir tentang kesamaan Dante dan fettucini. ‘Apa itu alasannya dia tidak mengijinkan aku menyentuhnya? Pegang sedikit saja suda membuatku mabuk kepayang. Apakah itu yang dia inginkan? Dia mau membuatku merindukannya?’


“Ya mungkin ucapanmu benar, Tuan.” ujar Bella sambil mengangguk.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Dante heran. ‘Aissshhh…..kenapa sikapnya tiba-tiba berubah? Apa dia salah paham tentang ucapanku tadi? Anak ini otaknya dangkal dan tidak bisa berpikir.’ ucap Dante menyindir Bella dihatinya.


“Aku sedang mengingat sesuatu, aku pernah makan sebuah makanan tapi aku lupa nama makannnya apa.” jari tangannya menepuk pelan sudut keningnya seolah sedang mengingat sesuatu.


“Hei….aku tahu kau suka makananmu tapi jangan begitu makannya. Bisa rapi dikit tidak? Rambutmu berantakan dan kotor dengan makanan.” Dante refleks bicara lalu berdiri.


“Oh iya. Maaf.” jawab Bella yang bingung melihat Dante yang mengurus rambutnya. “Tuan apa yang kau lakukan?” kaget karena merasakan tangan besar pria itu sedang memegang rambutnya.


“Aku sedang mengepang rambutmu supaya tidak mengganggu. Lanjutkan saja makanmu. Cepat habiskan.”

__ADS_1


‘Ha? Dia merapikan rambutku? Ah….apakah ini nyata bukan mimpi kan?’ Bella bergumam dalam hatinya tanpa terasa airmata menetes dari sudut matanya. Sejenak dia melupakan makanan didepannya hingga Dante selesai mengepang rambutnya.


“Kenapa kau diam? Cepat habiskan makananmu.” ujar Dante melihat keanehan sikap wanita itu.


“Aku tidak apa-apa, Tuan.” sambil menggelengkan kepala Bella menghapus cairan bening disudut matanya lalu kembali menyuap makanan.


“Apa kau menangis? Kenapa?”


“Maaf, Tuan.” jawab Bella lirih berusaha menahan kesedihan dihatinya.


“Katakanapa alasannya kau menangis.”


“Aku hanya teringat pada ibuku.” wajahnya berubah sendu.


“Ibumu?” tanya Dante. ‘Pufff…..syukurlah dia menangis karena ingat ibunya bukan karena ingin bertemu Alex. Aku tidak akan pernah membiarkan Alez mengakuinya sebagai ibunya dan itu bisa menyakti hati Tatiana.’


‘Iya Tuan. Aku teringat ibuku, dulu ibu sering mengepang rambutku.” ujarnya sambil memegang rambutnya yang sudah dikepang Dante.


“Cepat habiskan makananmu!”


“Iya Tuan. Lebih baik aku habiskan makananku daripada nangis.” ucap Bella tapi dalam hatinya menggerutu ‘Pria ini sama sekali tidak ada pedulinya.’


“Ha? Kenapa kau memanggilku dengan nama itu?” matanya mengerjap menatap Dante.


“Bukankah itu namamu?”


“Darimana Tuan tahu nama ku?”


“Apa kau bodoh, ha?” Dante mengeryitkan dahinya.


“Tidak. Aku tidak bodoh.”


“Hu….bisa-bisanya kau bilang diirmu tidak bodoh padahal kau sebenarnya bodoh.”


“Aku hanya tanya darimana tahu namaku?”


“Tadi adikmu menelepon kan dan meminta untuk bicara dengan Belinda.”


“Ah...itu….” Bella kembali tersenyum melupakan semua ketengangan yang terjadi.

__ADS_1


‘Kupikir dia mengenalku sebelumnya makanya dia memanggilku Belinda. Tapi aku suka sata dia memanggilku dengan nama itu. Terdengar hangat dan nyaman.’ gumamnya dalam hati. Dia tak tahu jika Dante pun lebih menyukai nama Belinda daripada Bella.


‘Aku memang tidak suka memanggilmu Bella. Aku membenci nama itu dan kesal mendengar nama itu. Aku memang sedang mencari cara untuk memanggilmu Belinda. Aku lebih suka nama itu karena saat pertama kali aku mengenalmu sebagai Belinda. Tapi aku tidak ingin siapapun memanggilmu dengan Belinda, hanya aku yang layak memanggilmu dengan nama itu.’ batinnya.


“Apa kau senang hari ini?” tanya Dante lagi.


“Karena Tuan memanggilku dengan nama itu?”


Dante hanya menatap Bella. ‘Kenapa kau berikan senyum manis itu lagi? Tidak tahukah kau kalau hatiku meleleh dan luluh oleh senyummu?’ Dante tidak merasa nyaman melihat senyum Bella.


“Pelan-pelanlah makan. Tidak ada orang lain yang akan merebut makananmu.”


“Aku juga maunya makan pelan-pelan, Tuan tapi kalau aku makan pelan maka kau akan menungguku lama dan aku tidak mau dimarahi lagi.” jawab Bella/


“Isssss….aku menyuruhmu makan pelan-pelan karena kalau kau tersedak, aku juga yang repot.”


“Baik, Tuan.” jawab Bella ‘Galak banget sih dia ini tapi dia pintar masak. Makanan ini enak sekali, padahal dia laki-laki tapi bagaimana bisa laki-laki pintar masak seenak ini ya? Bukankah dia sudah menikah, apa istrinya tidak memasak dirumah?’ hatinya bertanya-tanya.


“Apa yang kau pikirkan?” Dante mengeryitkan dahinya saat mengamaati Bella yang bengong.


“Tidak ada.”


“Jangan bohong!”


“Aku hanya berpikir bagaimana caramu memasak? Padahal Tuan orang kaya dan pasti punya chef dirumah kan.”


‘Huff...dasar bodoh! Hampir saja aku ketawa mendengar jawabannya. Aku tidak boleh terlihat lembut dimatanya aku harus tetap bersikap tegas dan dingin.’ gumam Dante.


“Kalau sudah selesai makan cepatlah kembali ke kamar dan tidur!”


“Apakah Tuan mau kekamar juga ya?” tanya Bella polos.


“Hmmm…..” jawab Dante berdiri dan hendak melangkah pergi. “Kenapa kau masih diam disitu?” saat dia melihat Bella masih duduk diam.


“Aku tidak bisa tidur sekarang.”


“Apa kau tidak lihat ini sudah jam berapa? Masih mau buka matamu, ha?”


“Aku sudah terbiasa tidak tidur malam hari dan sangat sulit untuk merubah pola tidurku.” ujar Bella.

__ADS_1


__ADS_2