PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 438. HARTA KARUN TAK TERNILAI


__ADS_3

“Aku sudah lihat semua harta yang ada disini daddy! Sekarang kita mau apa daddy?” tanya Alex yang tampak masih bersemangat. Dia menikmati kebersamaannya dengan ayahnya.


“Kau belum melihat semua harta karunnya Alex! Kau hanya melihat sebagian saja. Masih banyak harta karun yang lainnya.” Dante menjelaskan lagi dengan lembut pada putranya.


“Jadi masih banyak lagi daddy? Wah….daddy kaya sekali!” ujar Alex bertepuk tangan dengan sinar mata yang takjub.


 


Dante mengangguk.”Masih banyak lagi. Kau mau melihat yang lainnya? Tapi harta karun yang ini tidak berupa emas. Hanya sesuatu yang lebih berharga daripada emas. Yang bisa mempengaruhi kehidupan orang banyak dan kalau sampai benda ini jatuh ketangan orang jahat maka kau bisa menghancurkan duni. Itu artinya kiamat, Alex!”


 


“Hah? Kenapa menakutkan sekali daddy?”


“Ya karena memang menakutkan Alex. Makanya kau harus menjaga tempat ini dengan baik. Tidak boleh ada yang tahu tentang tempat ini. Kau paham kan Alex?”


“Paham daddy.” jawabnya singkat.


“Ayo, kuantarkan kau kesana.” Dante menggandeng tangan anaknnya lalu berjalan.


 


“Tidak ada pintu disini daddy? Kita mau kemana lagi? Ini dinding!”


“Ini bukan hanya dinding Alex. Dibelakang sini adalah rahasia terbesarku!” jawab Dante.


“Hah? Apa itu hebat daddy?” Alex tak berhenti bertanya dan bicara. Dia cerewet sekali seperti ibunya yang membuat Dante hanya tersenyum menatap anaknya.


“Ya tentu saja Alex! Dan kau harus ingat ya, benda ini harus digunakan hati-hati dan tidak boleh orang sembarangan yang menyentuhnya. Kau tidak boleh mengajak siapapun kesini kecuali Henry!”


 


“Iya daddy! Aku tidak ajak-ajak siapapun.”


“Apa kau mau mencoba membukanya Alex?”


“Bagaimana caranya daddy?” tanya Alex mendongak menatap ayahnya.


“Sini aku ajarkan padamu cara membukanya.” Dante pun langsung menggendong Alex. “Dorong ini Alex. Kau harus mendorongnya agak kuat.”


 


“Sudah daddy!”


Tiiitt!


“Hanya tanganmu yang bisa mendorongnya Alex supaya bisa terbuka. Dan pemindai retina mata juga tidak akan muncul kalau bukan kau yang melakukannya.”


“Pakai mataku lagi daddy?”


Dante mengangguk dan membawa Alex mendekat ke benda untuk memindai retina matanya.


Tiiitt!

__ADS_1


 


“Sudah daddy.” jawab Alex tapi dia mengerutkan alisnya. “Kenapa pintunya tidak terbuka juga?”


“Kau harus memasukkan pin disana Alex.”


“Oh begitu? Banyak sekali daddy!” Alex mengerjapkan matanya dan Dante kembali mendekatkan Alex kepada tempat untuk menekan nomor pin.


 


“Masukkan angkanya Alex.”


“Apa nomornya daddy?”


“Hanya sesuatu yang simpel saja.” Dante mendekat lalu memencet pin.


“Nomor apa itu daddy?”


 


“1590! kau harus ingat nomor itu Alex.”


“Oke daddy! Aku tidak akan lupa. Kepalaku mudah ingat!”


“Tapi disini ada lagi pemindai wajah. Jadi saat kau memencet angka itu, sidik jarimu juga akan terekam  untuk membuka pintunya. Kalau bukan sidik jarimu maka tidak akan bisa terbuka.”


 


“Oh...banyak sekali daddy? Kenapa harus banyak? Aku bisa lupa kalau terlalu banyak.”


“Iya daddy. Kadang lupa juga kalau terlalu banyak. Hehehe.” Alex terkekeh karena sejujurnya dia juga tidak bisa mengingat semuanya.


“Ada lagi yang paling penting disini Alex! Kalau wajahmu tidak terdeteksi maka pintu tidak terbuka.”


 


Dante lalu mendekatkan wajah anaknya ke pemindai wajah. Tiiiitt!


“Sudah berbunyi lagi daddy! Tapi kenapa pintunya tidak terbuka juga? Apa ada yang salah?”


“Apa menurutmu kau melakukan kesalahan Alex?” tanya Dante menggoda anaknya yang hanya sekedar iseng karena dia melihat wajah Alex sangat serius dan seperti khawatir kalau dia melakukan kesalahan.


 


‘Kalau aku melihatmu seperti ini kau benar-benar mirip dengan ibumu Alex! Dia suka sekali terlihat bodoh seperti ini! Hahahaha tapi kau sangat pintar, pintar sekali! Karena kau anakku, bukan anaknya kau pintar seperti aku.’ ucap Dante berbangga diri.


Alex menggelengkan kepalanya. “Tidak! Aku kan sudah lakukan semua sesuai dengan perintahmu daddy! Tapi pintunya tidak mau buka. Mungkin pintunya rusak daddy!” Alex menatap Dante serius dan tak mau disalahkan.


 


‘Lihat kan sudah aku bilang kalau anakku ini pintar sepertiku. Kalau dia lagi bodoh baru mirip seperi ibunya.’ lagi-lagi dante tertawa didalam hatinya. “Lalu kenapa pintunya tidak mau terbuka juga Alex?”


Alex mengangkat bahunya mendengar pertanyaan Dante, dia polos dan tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

__ADS_1


 


“Karena tidak ada pintunya disini Alex.”


“Apa daddy? Kalau tidak ada pintunya kenapa aku pencet-pencet dari tadi daddy?”


“Menurutmu kenapa?”


Pertanyaan Dante membuat Alex mengerjapkan matanya lalu menatap kearah dinding lagi. “Apa yang kita lakukan disana?” dia kembali mempertanyakan dengan tatapan murung pada dinding.


 


“Disini hanya untuk menunjukkan passwordnya saja Alex! Kau mau tahu dimana pintunya?”


“Iya daddy.”


“Ayo aku tunjukkan padamu.” Dante berjalan sambil menggandeng putranya menuju kesebelah kanan dan berhenti setelah buntu tidak ada jalan lain disana.


 


“Ini dinding lagi daddy!”


“Memang benar Alex! Tapi tempelkan tanganmu disini. Harus dititik ini Alex.” Dante bicara sambil menggerakkan tangan putranya ketempat dimana dia ingin Alex mengingatnya.


“Wow! Dindingnya bergerak daddy! Tuh tuh lihat! Dindingnya bergeser!” teriak Alex takjub.


 


“Iya dan kau sudah bisa masuk kedalam sana Alex.” ucap Dante sambil menunggu dinding yang bergerak itu berhenti.


“Tapi disini gelap sekali daddy! Aku kan takut gelap seperti mommy!” protes anaknya dan membuat Dante menyunggingkan senyum.


‘Lihatlah Bella! Apa yang kau turunkan pada putramu ini? Takut gelap! Cih! Anakku seharusnya jadi pemberani tapi gen-mu membuatnya jadi seperti ini!’ gumam hati Dante kembali menyalahkan Belinda dari semua kekurangan anaknya.


“Tunggu sampai kita masuk dan dindingnya tertutup. Ketika kita sudah melangkah, maka apa yang dijanjikan nyata akan menjadi nyata.” ucap Dante melirik Alex yang langsung tersenyum senang.


“Tempat apa ini daddy? Aku tidak mengerti?”


“Disebelah sana itu adalah reaktor nuklir Alex.” Dante menunjuk kesebelah kanan tempat dimana Alex sedang berdiri.


 


“Wah kau punya benda sekeren itu daddy?”


Dante milirik Alex dan mengangguk. Putranya itu tidak mengerti apa itu reaktor nuklir dan hanya sekedar berkomentar karena tampilan benda itu memang terlihat sangat keren.


“Tapi reaktor itu tidak diaktifkan Alex! Aku sengaja tidak mengaktifkan karena kita belum membutuhkannya.”


 


“Oooooo…...kapan kita butuh daddy?” tanya Alex yang masih belum mengerti maksud Dante. Bahasa yang digunakan oleh Dante untuk menjelaskan terlalu sulit untuk dipahami anak seusianya.


“Kau tidak boleh menghidupkan reaktor itu ya! Kalau kau ingin tahu tentang itu maka kau bisa menanyakan pada Barack atau kepada Henry. Mereka yang paham! Kau mengerti Alex?”

__ADS_1


 


“Aku tidak bisa mengerti daddy! Aku kan masih kecil? Kenapa kau tidak bicara pakai bahasa anak-anak saja, daddy?” ujar Alex protes karena dia ingin tahu semua benda-benda yang ada diruangan itu. Tapi penjelasan ayahnya membigungkannya dan dia tak mengerti apapun.


__ADS_2