
“Oh begitu. Apa aku juga harus tidur Dante?”
‘Ya ampun! Dia banyak sekali bicaranya? Bisakah kau diam saja dan tidak bicara terus? Orang tidur mana bisa diajak berbincang?’ bisik hati Dante. ‘Tapi dia punya trauma, aku tidak boleh membentaknya! Aku harus berhati-hati dengan psikisnya.’ Dante mengingatkan dirinya lagi. Apalagi saat ini Bella sedang hamil dan dia tidak mau kehamilan Bella beresiko.
“Iya Bella! Kau tidur disampingku. Sekarang pejamkan matamu dan jangan bicara lagi oke?”
“Iya Dante.” Bella mengangguk lalau memeluk Dante dan berusaha memejamkan matanya sambil tersenyum bahagia.
‘Huff! Syukurlah dia mengerti apa yang harus dilakukannya.’ tenang hati Dante bisa tidur sekarang.
“Dante?”
“Apa lagi Bella?” Dante kembali kesal. ‘Aku bisa jadi zombie dan sakit jantung kalau tidak tidur!’ hati Dante terus mengomel walaupun dia tetap menahan diri agar tidak mengatakan apapun. Dia bicara dengan lemah lembut dan menahan amarahnya.
“Bisakah kau tidur membuka pakaianmu Dante? Aku tidak bisa menyentuhmu.”
“Kau menginginkan itu?”
“Iya.”
Tanpa banyak bicara, Dante berdiri lalu melepaskan pakaiannya. “Segini sudah cukup? Apa aku harus membuka semuanya?”
“Tidak! Kau sudah lelah, tidak perlu membuka celanamu.” Bella menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah. Ayo tidur Bella.”
‘Semoga saja kali ini kau tidak membangunkan aku lagi Bella!’ gumam hatinya sudah semakin tak sabar ingin menutup matanya. Dante memeluk Bella dan mereka kembali tidur. Untungnya kali ini Bella tidak lagi membangunkan Dante, dia diam dan memeluk erat tubuh pria itu.
Ada sedikit ketenangan sehingga Dante bisa kembali berusaha untuk memejamkan matanya dan tidur. Tapi baru beberapa menit dia memejamkan mata, alarm ponselnya berbunyi.
“Dante! Alarmnya sudah berbunyi. Katamu kalau alarm bunyi aku harus membangunkanmu kan?”
“Huuuuh!” Dante memegangi keningnya sambil berpikir.
‘Kesabaranku sudah benar-benar habis! Tapi….dia sedang mengandung anaku, dia juga begini karena aku! Berpikirlah bagaimana caranya untuk membuatnya diam!’ Dante bergumam mencoba berpikir dengan sisa tenaganya. Dia harus menemukan cara untuk bicara dengan wanita itu. Dante menatap Bella yang kini dalam posisi duduk dan menatap Dante.
“Dante, tadi kau yang menyuruhku membangunkannya kalau alarm sudah bunyi.” Bella bicara dengan takut-takut dan dia menatap pria itu yang hanya diam menatapnya.
“Belinda Alexandra!” suara bariton itu terdengar berat memanggil nama lengkapnya.
__ADS_1
“Iya Dante?”
Bella selalu tersenyum saat Dante memanggilnya, dia semakin bersemangat. Dia memandang Dante dan dia melihat wajah Dante yang terlihat kelelahan. Sedangkan Dante menatap wanita itu tanpa bicara lagi, tangannya menyentuh pipi Bella membuat wanita itu memejamkan matanya merasakan tangan Dante yang menyentuh wajahnya dengan lembut.
“Belinda Alexandra! Apa kau menyukaiku?”
“Iya Dante! Aku menyukaimu.” jawabnya cepat.
“Oke. Apa yang kau lakukan seandainya aku mati?”
“Hah? Apa maksudmu bicara begitu Dante?”
“Apa kau sudah siap hidup tanpaku Belinda Alexandra?”
“Tidak! Aku tidak mau Dante! Aku baru bertemu denganmu lagi. Kenapa sekarang aku harus hidup tanpamu dan kenapa kau ingin mati? Aku tidak siap! Bagaimana dengan anak-anak kalau kau mati?’
Bella langsung menunjukkan ekspresi cemas dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan. Airmatanya pun mulai menetes. “Dante, apakah kau akan meninggalkanku?”
“Aku tidak punya pilihan Belinda. Kau akan membunuhku Belinda, tanpa kau sadari.”
“Tidak Dante! Aku tidak mau membunuhmu. Kenapa kau bicara begitu padaku?” Bella menolak apa yang dikatakan oleh Dante dengan menggelengkan kepalanya.
“Aku mohon jangan mati, Dante! Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu! Nanti bagaimana dengan Alex? Bayiku?” Bella berusaha memandang pria itu sambil bicara. Pikirannya semakin kalut dan itu bisa dilihat oleh Dante. Dia mengubah posisi tangannya menarik tangan Bella untuk mendekat padanya dan mendekapnya erat.
“Jangan menangis lagi Belinda!” ucap Dante menghapus airmata wanita itu yang mengucur deras.
“Aku tidak mungkin tidak menangis kalau kau mati Dante!”
“Jadi kau tidak mau aku matai, iyakan?” tanya Dante lagi yang dijawab Bella dengan anggukan. “Apa kau tahu bagaimana caranya membuatku tetap hidup?”
Bella kembali menganggukkan kepalanga, kata mati dan perpisahan dengan Dante adalah sebuah mimpi buruk baginya sehingga dia mendengarkan dengan seksama setiap perkataan Dante.
“Apa kau keberatan kalau aku tidur dulu sebentar?” bisik Dante ditleinga Bella dengan begitu lembut sama seperti dulu dia memperlakukan Tatiana. Bella mendongak menatapnya tanpa bicara.
“Bagaimana Belinda? Apakah kau mengizinkanku?” Dante bertanya lagi dengan sisa-sisa tenaganya
“Jadi kau mau tidur dulu?”
“Hmmm!” Dante mengangguk. “Belinda, bukankah kau juga belum tidur semalaman?” Dante mencoba bicara kembali dengan suara lembut tapi tidak dijawab oleh Bella. Tapi dia tidak menyerah begitu saja untuk bicara dengan Bella.
__ADS_1
“Aku ingin sekali membuatkan makanan untukmu. Kita akan bikin sup ikan seperti yang kau inginkan. Tapi saat ini aku sudah tidak sanggp lagi untuk berdiri. Aku benar-benar kelelahan Belinda!” ujar Dante mengelus rambut Bella sedangkan Bella berbaring dengan berbantalkan lengan Dante.
“Jadi sekarang kita tidur saja Dante?”
“Iya! Aku minta maaf aku pikir tadi aku bisa tidur selama dua puluh menit. Tapi ternyata tidak bisa karena kau terus memanggilku. Kalau sekarang aku memaksakan diri untuk bangun, aku tidak sanggup lagi Belinda! Kau tidak apa-apa kan Belinda?”
“Dante….” bella akhrinya menjawab dan menatap pria yang sedang memeluknya.
“Apa yang mau kau katakan padaku?”
“Tidak ada.” Bella menggelengkan kepalanya tanpa ekspresi.
“Jadi sudah tidak ada lagi yang mau kau katakan padaku Belinda?”
Bella mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata lagi.
“Jadi kau mengizinkan aku tidur?”
“Iya Dante! Tidurlah.” jawabnya mengangguk.
“Kalau begitu, bisakah kau berhenti bicara Belinda? Biarkan aku tidur dan jangan ganggu aku dulu. Kau tidak mau aku mati kan?” kata Dante dengan penekanan.
“Iya Dante.”
“Kemarilah. Kau juga harus memejamkan matamu. Jangan sampai kau sakit, kalau kau sakit bagaimana dengan nasib anakku? Dia tidak jadi tumbuh dalam kandunganmu Belinda.”
“Aku?”
Dante mengangguk sambil menatap Bella.
“Tapi aku nanti….”
“Tidurlah! Pejamkan matamu seperti ini.” Dante mengerakkan tangannya menutup mata Bella perlahan-lahan agar wanita itu pun tidur bersamanya. “Aku juga akan membelai lembut rambutmu sampai kau tertidur.” suara Dante berbisik itu terdengar merdu ditelinga Bella.
“Dante?”
“Sssst! Jangan panggil namaku lagi, Belinda! Jangan buka matamu. Aku akan memelukmu begini sampai kau bangun dari tidur. Jadi tidurlah. Aku juga akan mengelus rambutmu.”
Kata-kata itu terus diucapkan oleh Dante dengan suara lembut sehingga suara bariton itu terdengar memanjakan telinga Bella. Suara yang membuat perempuan didalam pelukan Dante yang tadinya tidur telentang kini merubah posisinya miring ke kiri dan tangan kanannya memeluk pinggan Dante.
__ADS_1