
“Nikmati saja!”
“Apa kau menikmati permainanmu? Aku tidak menikmatinya sama sekali! Tadi aku sedang tidur dikamarku dan tiba-tiba kepala pelayan itu membawaku eksini. Bagaimana bisa aku menikmati peperangan? Aku hanya berharap ini semua hanya mimpi.” Bella terus saja mengomel.
“Kau kemana Anthony? Apa yang sedang kau lakukan?” dalam gelapnya malam dia masih mencari keberadaan Anthony.
“Dia belum mati. Kau tidak perlu takut. Maksudku dia belum mati tapi kau sudah panik.”
“Apa kau memang sengaja memainkan ini untuk membunuhnya?”
“Aku hanya mengujinya. Apakah dia pantas untuk bekerja padaku atau pantas mendapatkan hadiahku hanya itu saja. Kau nikmati saja permainan ini sampai selesai.”
“Kau benar-benar kurang ajar Dante! Kau seenaknya mempermainkan nyawa orang seperti ini.”
“Hati-hati dengan kata-katamu, aku bisa membuatmu semakin kesulitan.” hardik Dante.
“Kau memang sudah membuatku berada diposisi sulit! Kenapa tidak kau suruh saja temanmu yang berada dimenara itu melemparkan granatnya padaku? Biar aku langsung mati saja dan tenang.”
“Tidak semudah itu! Apa kau pikir kalau kau mati maka adikmu Sarah akan tenang?”
“Sarah? Aku juga tidak tahu keberadaannya dimana sekarang, apa dia masih hidup atau sudah mati karena kau belum menemukannya, iyakan?”
“Barack sahabatku masih bersama dengan Sarah.” ucap Dante.
“Oh ya? Tapi dimana mereka? Apa mereka bersembunyi? Kau jangan membohongiku!” ujar Bella. ‘Huh orang ini apa-apaan sih sedang dalam kondisi genting begini dia masih saja membicarakan masalah Sarah. Dia membuatku tidak fokus dan keadaan ini berbahaya, bisa saja tembakan itu mengenaiku kan?’ omel Bella dihatinya.
“Tapi….aku harus bagaimana sekarang?” mata Bella kembali memicing berusaha mencari keberadaan Anthony di gelapnya malam. Akhirnya dia melihat sesuatu yang bergerak perlahan. “Ah sesuatu disana! Anthony ya itu Anthony! Akhirnya…...” mata Bella berbinar ketika melihat sosok yang familiar. “Kau pintar sekali Anthony, aku tidak menyangka kau akan naik keatas menara itu.”
Mata Bella kembali terbeliak saat dia melihat baku hantam dari kejauhan. Pemandangan itu sangat mengerikan, dua pria saling memukul diatas menara.
“Bisa kau tenang tidak?” teriak Dante marah.
__ADS_1
“Dimenara itu! Anthony naik ke menara itu dan sedang bergelut dengan temanmu, ini beneran berantem bukan seperti permainan. Bisakah kau hentikan mereka?” Bella kembali mengoceh dengan suara lembut memohon pada Dante.
‘Aku tidak menyangka Anthony akan naik ke menara itu. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan aku disini harus pergi ke menara itu, dia harus melumpuhkan orang yang ada diatas menara itu agar berhenti menyerangnya. Dengan begitu dia baru bisa menyelamatkanku. Pintar sekali Anthony! Aku bahkan tidak terpikir kearah situ.” Bella mulai merasa senang. “Tapi….apakah dia bisa selamat? Oh tidak! Mereka saling memukul.” ucap Bella ketika melihat apa yang terjadi diatas menara.
Lampu di menara itu terang benderang sehingga bisa terlihat jelas apa yang terjadi disana. “Dante! Bisakah kau menghentikan mereka?” tapi tidak ada jawaban dari pria itu. ‘Aisssss kemana lagi dia? Kenapa tidak ada jawaban?’
“Apakah kau menikmati permainanmu ini? Atau kau ingin membunuh temanmu sendiri? Atau kau ingin Anthony terbunuh? Mereka berdua benar-benar saling memukul.”
Meskipun Bella terus bicara namun tidak ada respon dari Dante, sedangkan tatapan matanya fokus kearah menara melihat apa yang terjadi disana. “Oh tida! Apa yang terjadi disana? Mereka saling menggerakkan senjatanya? Mereka bisa salah tembak.” Bella mulai panik dan merasakan ketakutan semaki ketika Anthony dan Nick benar-benar asyik bertarung dan berusaha saling menjatuhkan tapi kedua pria itu tidak menyadari jika perbuatan mereka justru membuat tubuh mereka semakin dekat dengan senjata.
Doooorrrr doooorrrrr doooooorrrrrr
“Hiyaaaaaa….apa yang dilakukan orang itu? Dia mencoba merebut senjata dari tangan Anthony dan dia menggerakkan senjata itu untuk mengalahkan Anthony! Dia menembak sembarangan, ini benar-benar buruk!” ucap Bella saat dia melihat Nick yang hampir kalah tapi dia cukup pintar dan licik, dia menembakkan senjata mengenai apa saja sehingga membuat Anthony semakin khawatir dan saat Anthony menleh kearah dimana Bella berada, Nick berhasil memukulnya dan membuat senjata ditangannya terlepas, Nick berhasil memukul Anthony.
“Tidak…..tidak…..Anthony tidak bisa mati. Mereka sekarang berebutan senjata itu. Bagaimana kalai senjata itu malah menembak kearahku? Tidak! Aku tidak mungkin jadi sasaran pria itu bukan? Dia berusaha mengalahkan Anthony dengan menembak kearahku?” ucap Bella seraya melihat perubahan arah senapan yang kini mengarah ke puncak bukit dimana dia berada.
“Tidak!” teriaknya ketakutan.
Anthony melancarkan pukulan demi pukulan kearah Nick. “Anthony masih berusaha memukul orang itu tapi pria itu sepertinya tidak mau mengalah, dia tetap mengarahkan senapanya kearahku! Ada apa ini? Mereka saling menyerang dan…..”
Dooooooorrrrr……….suara tembakan terdengar lagi.
“Ahhhh…...itu mengarah padaku kah?”
Doooorrrrr dooooorrrr doooooorrrr
Bella sangat terkejut lalu berteriak ketika melihat peluru tertuju padanya. “Aku takut! Apa aku akan mati sekarang? Kalau aku mati akan masuk surga?” pertanyaan konyol yang meluncur dari mulutnya tanpa dia sadari saking ketakutan. Suara tembakan pun terus terdengar.
“Apa aku sudah mati tertembak? Berarti aku sudah berada dialam lain ya? Tapi kenapa tidak ada rasa sakit sama sekali? Apa itu artinya aku sudah masuk surga? Karena katanya kalau masuk surga tidak menyakitkan matinya tapi kalau masuk neraka matinya menyakitkan, bukan?”
Tiiittt…...tiiiittttt…….tiiittttttt…..guingggg…...guingggg…….
__ADS_1
“Ha? Suara sirine dan bel apa lagi itu? Apakah itu tandanya aku sudah masuk ke alam lain dan itu pintu gerbang yang akan terbuka untukku?
“Dasar bodoh!” terdengar suara bariton memaki.
“Kenapa aku mendengar suara itu lagi?” ucapnya masih menutup mata.
“Cuih! Aku yakin sekarang kau pasti ketakutan dan menutup matamu, iyakan?”
“Ha? Darimana kau tahu aku menutup mataku?” Bella meladeni suara itu.
“Buka matamu Belinda! Kenapa kau menutup kedua matamu begitu? Lihat didepanmu!”
“Tidak mau! Aku akan membuka mataku setelah sampai disurga.” jawab Bella.
“Belinda Alexandra buka matamu! Dan lihat kalau kau masih ada di mansionku dan masih hidup.”
Dante merasa sangat marah meladeni wanita itu yang sedang berada didunia fantasinya tentang kematian, surga dan neraka.
“Ha? Benarkah aku masih hidup?” justru pertanyaan bodoh itu yang ditanyakan Bella.
“Dasar bodoh! Apa kau pikir ini suara malaikat kematian?” Dante bersungut kesal dan bicara dengan intonasi tinggi.
“Ya, aku pikir begitu. Kau sangat cocok dan pantas sekali jadi malaikat kematian pencabut nyawaku!” jawab Bella asal masih memejamkan matanya.
“Apa kau bilang? Sekarang apa kau sudah membuka matamu!” ucap Dante masih mencoba menyabarkan diri menghadapi wanita itu.
“Belum!” jawab Bella polos.
“Aku bilang buka matamu atau aku yang akan menyuruh mereka menembaki.” ancam Dante.
“Baiklah...baiklah, aku buka. Tunggu ya….jangan suruh mereka menembak dulu, aku masih ingin bertemu sarah. Aku juga masih ingin menikmati hidup dan mengejar impianku kalau aku masih bisa hidup. Pokoknya jangan suruh mereka menembak, ok?”
__ADS_1
“Jangan banyak bicara! Kau cerewet sekali!” ujar Dante yang semakin gemas.