
“Alex bermain agak lama tadi dan dia belum mau berhenti jadi aku menemaninya. Makanya aku tidak bisa beristirahat. Ha ha ha.” Tatiana terkekeh.
“Dimana Bella? Kenapa dia tidak membantumu?” tanya Dante mulai marah.
“Mungkin dia kelelahan, sayang. Aku tadi tidak menutup pintunya tapi kata pelayan dia tidak ada keluar dari kamarnya. Sudahlah biarkan saja Dante!”
“Dimana Alex sekarang? Biar kita gantian mengurusnya.”
“Dia sudah tidur, dia juga sudah makan malam.” jawab Tatiana.
“Baiklah. Aku akan mengecek Alex dulu.”
“Ya sudah. Tapi maukah kau makan malam bersamaku?” tanya Tatiana lagi.
“Kau belum makan malam? Kukira kau akan makan bersama Alex. Tapi kalau kau belum makan malan, lebih baik kita makan malam dikamar saja.” Dante pun langsung berinisiatif untuk menyenangkan istrinya.
“Baiklah.” jawab Tatian setuju. “Aku mandi dulu.”
“Aku mau mengecek Alex, kalau tidak ada yang menjaganya aku khawatir dia akan rewel dan menangis histeris. Telepon aku kalau kau sudah selesai mandi ya.”
“Ok dante sayang.”
Cup! Dante mengecup kening istrinya lalu bergegas pergi menuju kamar anaknya.
‘Aisssss…...Belinda! Kenapa sulit sekali memberitahumu? Apalagi yang dilakukannya dikamar itu? Apa dia melakukan hal bodoh itu lagi ya?’
Dante membuka pintu kamar anaknya lalu masuk. Dia memperhatikan Alex yang tertidur pulas.”Kau sangat kelelahan Alex!”
Lalu Dante pun membuka pintu lain dikamar itu yang terhubung ke kamar yang ditempati oleh Bella. Tampak dia terbaring diatas ranjang dan tertidur pulas. “Huffff betul dugaanku, dia belum bisa bisa mnegendalikan dirinya untuk tidak tidur di pagi hari.” ujarnya berjalan mendekati Bella.
“Ssshhhh…..ehmm….”
“Bangun! Kau tahu sudah jam berapa ini? Apa aku harus selalu membangunkanmu dengan cara ini?”
“Ha! Tuan apa yang kau lakukan disini?” Bella terkejut melihat dante dikamarnya, dia mengucek matanya dengan kedua tangannya. Dante memperhatikan gerak-gerik wanita itu yang sama persis seperti Alex saat bangun tidur.
“Apa harus dengan cara ini aku selalu membangunkanmu?”
“Cara? Oh…..ma—maaf tuan.” ujar Bella. ‘Dasar brengsek! Aku sudah bangun tapi tangannya belum dilepaskannya. Dasar munafik! Selalu bilang tidak mau menyentuhku tapi lihatlah apa yang dilakukannya, apa kau memang sangat ingin memegangnya ya? Sepertinya itu tempat favoritnya ditubuhku, dia sangat suka menyentuh itu.’ gumamnya dalam hati.
__ADS_1
“Masih berani bicara, ha?”
“Maaf tuan, tadi aku kelelahan. Apa aku harus bekerja sekarang?”
“Cepat mandi! Bersihkan tubuhmu dan pergilah ke dapur. Carilah makanan.”
“Makan?”
“Iya. Kau belum makan iyakan?”
Bella menjawab dengan anggukan kepala, tangan Dante seakan engga melepaskan benda yang dipegangnya dan Bella pun hanya membiarkan saja.
‘Huh kau ingin aku membuatkanmu makan malam, iyakan? Aku bisa lihat diwajahmu itu! Tapi aku tidak akan bisa melakukannya karena ini dirumah dan ada istriku disini, huh! Kenapa dadaku rasanya sesak melihatmu?’ gumam hati Dante.
“Bagaimana dengan anakmu, tuan?”
“Aku yang akan menjaganya sampai kau selesai. Setelah makan kau langsung masuk ke kamarnya lewat pintu itu dan temani anakku tidur. Dia sudah menunggumu seharian tapi kau seenaknya malah tidur. Apa kau tahu apa yang dilakukan istriku? Dia yang mengasuh anakku sendirian! Ingat ya jangan buat masalah lagi!” Dante memberikan ultimatum pada Bella dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Maafkan aku ya tuan karena istrimu sudah mengasuh anakmu sendirian. Aku janji tidak akan mengulangi lagi.”
Dalam hatinya Bella mengomel,’Dasar perempuan munafik penuh kepura-puraan! Memang itu maunya supaya terlihat suaminya kalau dia mengasuh anaknya sendirian. Supaya terlihat hebat dimata suaminya tapi peduli amat! Amat aja tidak peduli kok! Lagian itukan anak mereka ya wajarlah dia mengasuhnya, terserah kalian saja deh. Bukan urusanku!’
“Ini tempat untuk bekerja bukan tempat tidur-tiduran dan bermalas-malasan ya!”
“Oh….pintar pintar kau sekarang ya! Apa kau mengancamku?” tanya Dante memegang dagu Bella. Jakunnya naik turun melihat bibir lembab warna merah muda yang menggoda itu.
“Bukankah kau yang mengajariku, Tuan?”
“Cepat bangun! Bersihkan tubuhmu!” ucap Dante lalu melepaskan tangannya dari dagu Bella.
“Kupikir kau mau mandi bersama seperti waktu itu.” goda Bella membuat Dante memelototinya. Bella terdiam lalu menundukkan wajahnya.
‘Wanita ini! Sudah mulai berani dia menggodaku? Aku sudah memperlihatkan padanya kalau aku tidak akan pernah tergoda meskipun malah sebaliknya. Ini tidak baik! Kalau sampai Tatiana melihat kami, bakal timbul masalah besar pada Bella.’ gumam hatinya.
“Tunggu!” kata Bella saat Dante melangkah pergi.
“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?” tanya Dante tanpa membalikkan tubuh.
“Begini, setelah semua ini selesai bisakah kau melakukan sesuatu untukku, Tuan?”
__ADS_1
“Katakan!”
“Bisakah kau membantuku mencari tahu tentang anakku? Dimana aku bisa menemukan makam anakku? Apa benar dia sudah meninggal atau masih hidup? Bisakah kau membantuku mencari pria pertamaku? Mumpung kita berada diluar negeri, jika bisa menemukan pria itu maka aku bisa mengetahui semua tentang anakku.”
“Apa kau bilang? Apa kau pikir aku ini detektif?” ucap Dante membalikkan badan dan menatap tajam pada Bella.
“Setidaknya kau bisa membayar detektif untuk membantuku Tuan! Kau kaya dan banyak uang, pasti kau bisa melakukan itu untukku.”
“Kau lakukan saja sendiri dengan caramu! Tapi saranku ya jangan buang waktumu karena kau tidak akan mendapatkan pria itu dan anakmu!” tanpa sadar Dante mengucapkan kalimat itu yang tidak disadari maknanya oleh Bella.
“Kau kejam! Aku membencimu!” ucap Bella bersamaan dengan pintu yang dibanting oleh Dante.”Aku sangat lelah dan emngantuk tadi. Sekarang aku harus bekerja lagi tapi orang yang harus aku temani malah sudah tidur. Tapi biarlah!” Bella tidak mau pusing lalu dia membersihkan tubuh dan berganti pakaian.
Setelah selesai dia pergi ke dapur untuk mencari makanan sebelum menemani Alex.
“Hei, apa kau mau makan?”
“Hai Sharon! Kurasa aku tidak mau makan, aku hanya mau makan buah saja. Apakah ada dua buah pisang?” tanya Bella.
“Kau hanya mau makan itu? Apa kau bisa kenyang hanya makan itu saja?”
“Iya. Lagipula ini sudah malam dan tidak baik makan malam. Tadi pagi aku sudah makan banyak dan aku belum begitu lapar. Apa ada pisang?”
“Sini ikuti aku. Kalau kau makanan ambillah disini, semuanya ada.” kata Sharon menunjukkan tempat penyimpanan makanan dan dimana dia bisa makan.
“Aha! Ini buah yang aku mau!” Bella langsung mengambil buah yang diinginkannya.
“Hei! Apa kau baru disini ya?” tanya seorang pelayan menyapa Bella.
“Iya! Senang berkenalan denganmu.”
“Tapi kau belum menyebutkan namamu. Kau cantik sekali.” kata pelayan itu.
“Oh iya...he he….namaku Bella.”
“Kenalkan namaku Anthony.” pria itu mengulurkan tangan menyambut uluran tangan Bella.
“Senang berkenalan denganmu Anthony! Aku permisi dulu ya, terimakasih untuk ini dan airnya.: kata Bella menoleh pada Sharon. “Aku harus segera naik keatas.”
Tapi, Bella lupa dimana pintunya. Karena tadi terburu-buru dia lupa karena mansion itu sangat besar,
__ADS_1
“Kamarku yang mana ya?” gumamnya sambil celingak celinguk. “Apa lebih baik baku turun kebawah dan bertanya pada pelayan? Mereka pasti tahu.” celetuknya sambil melangkah hendak turun kebawah.
“Kau mau kemana lagi?” suara bariton milik Dante memanggilnya membuat Bella berhenti lalu menoleh ke belakang.