
“Sarah, kau sudah berbuat salah.cepat minta maaf!”
“Kau tidak boleh marah pada Sarah. Dia tidak bilang padaku daddy! Aku yang lihat sendiri karena aku pergi ke dapur.” ujar Alex membela Sarah.
“Kau ke dapur?” tanya Dante menatap anaknya dan anak itu menganggukkan kepalanya.
“Iya. Aku pikir kau ada didapur dan aku mendengar Norman bilang kalau makanan itu untukku! Dan yang mengantar makanan itu harus bilang kalau makanan itu buatan daddy.” jawab Alex.
Dante kehilangan kata-kata. ‘Apa yang sudah aku lakukan? Aku berbohong dihadapan putraku? Aku mengajarkan sesuatu yang salah padanya dan berharap kelak dia menjadi pria sejati?’ bisik hati Dante.
‘Oh ya Tuhan. Mudah-mudahan Dante tidak percaya apa yang dikatakan Alex. Wajahnya sudah setegang itu tapi aku tahu apa yang ada didalam pikirannya hingga dia diam saja.’ bisik hati Bella.
‘Ya Tuhan jangan sampai adikku dimasukkan kedalam ruang bawah tanah yang gelap itu. Tempat itu mengerikan kalau sampai Dante menghukumnya disana.’ gumam hati Bella panik.
“Jadi kau mencariku tadi pagi?” ujar Dante dengan suara lembut.
Alex mengangguk, “Soalnya daddy mengambil Bella dariku. Tadi malam Hans bilang padaku dia akan mencari daddy makanya dia pergi keluar dengan Nick. Tapi sampai pagi mereka tidak pulang-pulang! Aku mau cari daddy tapi aku tidak tahu cari kemana. Jadi aku cari ke semuanya.” jawab Alex lagi.
Akhirnya Dante mengerti setelah anaknya menjelaskan semua yang tadi ada didalam pikirannya. “Alex, bisa aku bicara padamu sebentar.” ujar Dante yang tak mengerti apa yang dipikirkan oleh anaknya itu.
Dia semakin pusing menghadapi anak yang menurut pengamatan Dante semakin hari semakin ingin bersaing dengannya.
“Daddy, mau bicara apa denganku?” tanya Alex serius. Anak itu agak tertegun karena Dante tidak seperti ingin mengguruinya tapi memberinya kesempatan untuk menolak atau menerima.
“Iya Alex. Kau tidak sibuk kan untuk bicara denganku sebentar saja?”
Alex berpikir sejenak kemudian dia menganggukkan kepalanya, ‘Apa yang mau daddy bicarakan?”
“Pembicaraan dua orang dewasa!”ucap Dante sedikit membungkuk dan menatap Alex serius. Lalu tersenyum, cara Dante bicara dan memberikan penekanan cukup menarik sehingga anaknya langsung menganggukkan kepalanya.
“Dimana kau ingin bicara denganku daddy? Bicara orang dewasa kan?” ucapan Alex ini membuat Bella mengerjapkan matanya terkejut.
‘Sejak kapan anak ini jadi bersikap seperti orang dewasa begini?’ pikirnya. ‘Usianya baru empat tahun tapi bagaimana caranya dia sudah bisa bicara seperti itu? Dia mirip sekali dengan Dante!’
__ADS_1
“Hmmm….karena ini adalah pembicaraan dua pria dewasa maka kita akan membicarakannya diruang kerjaku. Bagaimana menurutmu Alex?”
Alex pun tersenyum mendengar ucapan daddy-nya. Dante pun mulai merasa sedikit tenang. Alex sangat menyukai jika dia dianggap orang dewasa dan dilibatkan pembicaraan seperti orang dewasa.
‘Kalau dia sudah tersenyum seperti ini maka selanjutnya akan lebih mudah bicara dengannya.’ gumam Dante didalam hatinya.
“Iya daddy.”
“Baiklah. Ayo kita bicara sekarang.” Dante menegakkan tubuhnya dan Alex melakukan hal yang sama. Mereka berdua berjalan meninggalkan Bella dan Sarah tanpa bicara apapun lagi. Hingga kedua wanita itu hanya bisa diam mematung.
“Alex! Bukannya kita mau main ya?” tanya Bella sebelum kedua pria beda generasi itu menjauh.
“Bella nanti ya kita bermain. Sekarang aku harus bicara antar sesama pria dewasa dengan daddy ku! Ini adalah pembicaraan sangat penting! Perempuan tidak boleh ikut.” ucap Alex tegas.
‘Ya ampun, kenapa dia bisa bicara begitu padaku? Dan dia sudah pergi begitu saja sebelum aku menjawabnya. Apa-apaan ini? Gayanya itu sudah seperti pria dewasa saja! Bagaimana Dante mendidik anakku itu?’
“Belinda!” panggil Sarah membuyarkan pikiran Bella lalu dia menoleh pada adiknya.
“Ada apa?”
“Maaf Sarah. Aku tadi memperhatikan Alex. Dia hebat sekali bisa seperti itu.”
“Kau ini menipu dirimu sendiri kan? Kau bukan bilang dia hebat, Belinda! Kau hanya tidak percaya kalau Alex bisa jadi dewasa begitu dan kau merasa kecewa bukan karena telah ditinggalkan Alex?”
“Kau benar Sarah. Aku bersalah sudah meninggalkan Alex. Sebenarnya yang salah itu aku.”
“Yang salah itu dia! Pasti dia mau macam-macam denganmu, iyakan Belinda?” Sarah mencibir.
“Bukan Dante yang mau tapi aku yang menyerahkan diri kepadanya.” ucap bella menundukkan kepala.
“Apa?” Sarah terkekeh.
“Menurutmu lucu ya? Aku memang menginginkannya Sarah! Tapi dia tidak menginginkanku. Dia tidak menyukaiku. Itu diawalnya sehingga aku terus meminta padanya tapi kemudian dia mau.” Bella tersenyum pada Sarah mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam.
__ADS_1
“Dia sangat baik padaku. Dia sangat perhatian padaku. Bahkan dia mau menuruti apa yang aku minta.”
“Belinda! Jadi sekarang sudah pasti kau benar-benar menyukainya?” tanya Sarah saat dia melihat kakaknya itu tersenyum bahagian.
“Dari dulu aku memang menyukainya tapi dia baru sekarang menyukaiku.” jawab Bella tersenyum.
“Ah, baiklah. Terserah kau saja.”
“Tapi kenapa kau bicara begitu pada Alex? Kau lihat apa yang terjadi? Mereka berdua bertengkar”
“Aku rasa tidak. Sepertinya pria itu tahu bagaimana menangani anaknya, kau bisa lihat sendiri tadi bagaimana Alex menurut padanya dan mengikutinya.”
“Ya, kau benar juga!” Bella tersenyum getir dan sedikit kecewa karena dia ingin bersama anaknya. “Kalau memang Alex marah dia tidak mau ikut dengannya. Haahh aku harus menunggu sampai Alex kembali.”
“Tidak akan lama tapi kau benar, Alex tak marah padanya Belinda! Aku bilang juga dia tidak mungkin marah. Merajuk sedikit ya wajarlah.”
“Lalu kenapa kau bicara masalah makanan dengan Alex? Apa kau yang membawanya kedaput?”
Sarah menggelengkan kepalanya. “Aku tidak membawany ke dapur. Dia mencari ayahnya dan mencarimu juga. Seperti sudah kubilang tadi. aku sudah mencoba untuk menenangkannya tapi tidak berhasil.
“Aduhhhh masalah lagi deh.” ucap Bella panik.
“Tapi suamimu itu tega sekali belunda. Sikapnya itu tidak baik, dia menipu anaknya.”
Bella memicingkan matanya menatap Sarah, “Dante tidak pernah menipu. Dia sangat menyayangi Alex!” jawab Bella tegas.
“Kau saja yang tidak tahu selama di Jakarta dan juga setelah sampai disini dia selalu mengatakan masakan Norman adalah masakannya. Anaknya hanya tahu kalau itu adalah masakan ayahnya. Kau pikir itu baik? Dia tidak bisa memasak tapi dia mencoba menipu anaknya sendiri.”
“Ya Tuhan! Sarah kau sudah salah sangka pada Dante.”
“Masa sih? Aku lihat sendiri Belinda.”
“Sarah! Dante itu pintar sekali memasak. Masakannya juga sangat enak. Aku yakin dia punya alasan sendiri kenapa melakukan itu.” ujar Bella membela Dante.
__ADS_1
“Kau sudah pernah merasakan masakannya?” tanya Sarah penasaran.
Bella mengangguk, “Iya. Aku pernah bahkan sering. Tadi malam dia memasakkan sup ikan untukku. Masakannya memang enak sekali. Aku dan Alex menyukai steak buatannya. Jadi tolonglah Sarah jangan berkata seperti itu tentang Dante. Itu semua salah!”