PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 474. MERASA CURIGA


__ADS_3

Damian:


“Iya. Itu satu-satunya jalan yang memungkinkan. Jangan lewat darat karena jalan disini kurang bagus dan tidak bisa membuatmu bersembunyi. Aku terpojok disini sekarang dan setelah aku melihat bagaimana suasana medan yang harus kulalui.”


“Baiklah aku paham sekarang.” ucap Eddie.


“Eddie! Aku peringatkan padamu jangan percaya pada siapapun! Jangan katakan apapun pada mereka dan satu hal penting yang harus kau tahu, jangan katakan kalau aku meneleponmu. Aku tidak yahu dimana Robert Kane dan aku tidak tahu siapa saja anak buahnya.”


“Baiklah Dante! Aku paham.”


Setelah memberikan pengarahan pada Ediie, Dante kembali memasukkan ponsel kedalam saku celananya. Sementara itu Eddie menatap layar ponselnya.


“Ada apa? Ada masalah?” tanya orang yang sedang bertransaksi dengan Eddie.


“Tidak ada ! anda sudah bisa pergi sekarang. Senjata anda sudah aman ditempat yang anda minta.” Eddie langsung menunjukkan ponselnya pada orang itu.


Di sana sudah terlihat pasukannya sudah sampai di tempat tujuan dengan foto mereka yang dikirimkan padanya sedang memasuki gerbang.


“Kau cukup cerdas.” puji pria itu pada Eddie sambil tersenyum. “Kau tidak membawa senjata itu kesini tapi kau menaruhnya langsung ketempatku! Hmmm….itu bagus sekali dan sangat memudahkanku.”


Eddie mengangguk, “Aku belajar dari kesalahan kemarin! Aku tidak mau ada yang menggagalkan transaksi lagi dan membuat nama kami semakin buruk.” ucap Eddie.


“Bagus!” pria itu kembali menganggukkan kepalanya. “Lalu bagaimana sekarang kita tetap berada didalam sini dan membiarkan begitu saja sampai aksi tembak menembak itu selesai?”


“Baku tembak masih terjadi diluar. Sepertinya mereka mulai menyerang kita!” kata Eddie. “Temanku Dante ingin aku melindungi orang yang menjadi rekan bisnis kami. Karena itu kami sudah mengatur salah satu peti kemas ini sebagai tempat perlindungan.”


“Oh begitu ternyata. Kau cukup pintar dan aku melihat kalau kau sangat loyal pada Dante. Kalau boleh tahu apa yang sudah dia berikan padamu sampai dia memiliki anak buah yang sangat loyal sepertimu dan teman-temanmu yang lain?” tanya pria itu. Namun Eddie sepertinya tak berniat untuk menjawab pertanyaan itu.


Dia hanya melirik rekan bisnisnya lalu mengisi kembali pelurunya. Eddie bukan tipe orang yang suka membicarakan hal-hal yang tidak penting. “Maaf aku tidak menjawab pertanyaanmu. Aku bukan orang yang suka membicarakan sesuatu yang tidak pada tempatnya.” eddie tidak mau waktunya terbuang percuma karena dia harus tetap fokus.


“Aku paham! Maaf jika pertanyaanku membuatmu sulit.” ucap pria itu lagi.

__ADS_1


“Ini sudah waktunya kita harus keluar.” sahut Eddie


“Tapi didepan masih ada baku tembak? Apa kau yakin ingin membawaku keluar sekarang?”


Pernyatan pria itu membuat Eddie menatap pria dihadapannya dengan serius. Pria itu seakan tidak mau keluar dari tempat persembunyian mereka.


“Mereka tidak bisa melukaimu.” jawab Eddie lagi yang sudah menyiapkan senjatanya. “Anak buahku akan membantumu untuk kembali ke mobilmu! Lagipula kau tidak mungkin bersembunyi terus disini sampai pasukan federal mengirimkan lebih banyak pasukan bukan?” ujar Eddi mengeryitkan keningnya merasa heran.


‘Aneh? Orang ini harusnya mencari cara untuk keluar dan segera meninggalkan tempat ini! Karena tidak mungkin setelah penyerangan ini pasukan federal tidak akan mengirimkan bantuan. Apa dia bodoh dan tidak pernah ikut berperang? Saat musuh lengah bukankah seharusnya harus segera pergi sebelum kita diberi serangan balik?’


Eddie bergumam didalam hatinya sambil terus mengamati pria itu.


“Begitukah? Aku akan aman? Tapi tinggal ditempat ini untuk sementara waktu sepertinya lebih aman daripada kita pergi keluar.” pria itu bicara seolah menunjukkan ketakutannya.


“Aku sudah memperkirakan kejadian ini. Kami adalah orang-orang yang bisa belajar dari kesalahan!” ucap Eddie.


“Dan supaya kau ingat bahwa yang namanya tempat persembunyian bukan tempat perhentian terakhir dan kita tetap harus pergi dari dalam peti kemas ini.” ucap Eddie sambil mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. “Kenapa tidak diangkat?” Eddie merasa bimbang lalu melihat nomor teleponnya lagi dan mencoba menghubungi nomor itu lagi.


‘Noel! Disaat genting seperti ini kau malah tidak bisa duhubungu?’ tanya Eddie didalam hatinya. Dia semakin merasa tidak tenang dengan situasi ini.


“Hmmmm! Bicaralah. Kenapa lambat sekali kau mengangkat teleponnya?” tanya Eddie dengan nada suara yang kecewa dan sedikit membentak.


“Maafkan saya Tuan. Saya kehilangan Sarah. Saya harus menjaganya tapi dia malah kabur setelah dia melihat video Bella yang disekap oleh seseorang! Saya sudah berusaha untuk menenangkannya tapi tetap tidak bisa dan seseorang sudah membawa Sarah.”


“Apa maksudmu?” tanya Eddie sambil memijat keningnya.


‘Masalag baru lagi! Kenapa setiap kali mengerjakan transaksi seperti ini semuanya tidak berjalan sesuai rencana? Ini semua terjadi disaat Bella sudah mulai ada didalam kehidupan kami.’ didalam hati Eddie dia mulai merasa kesal.


“Ada dimana kau sekarang?” tanya Eddie.


“Saya kembali ke mobil tuan! Tapi saya kena tembak! Tapi untunglah kaki saya yang kena tembak. Ada orang yang ingin menembak saya dari belakang.”

__ADS_1


Suara Noel terdengar panik. “Dan dia menembak kaki saya untungnya tadi saya sempat menunduk dan tembakan itu meleset. Sepertinya Tuan Barack melindungi saya.”


“Barack? Kau sudah bertemu dengan Barack? Apa dia yang membawa Sarah pergi?”


“Iya Tuan. Tapi dia mengatakan kalau namanya Rodrigo pada wanita bernama Sarah itu.”


Eddie tersenyum dan hatinya pun merasa lega. “Kalau Sarah dibawa pergi oleh Barack dia pasti baik-baik saja. Aku bisa tenang sekarang. Aku tidak jadi masuk kerumah sakit karena serangan jantung.” bisik hati Eddie. Dan dia mendengar suara meringis kesakitan.


“Tidak ada yang namanya Rodrigo! Barack pasti memiliki alasannya sendiri.” ucap Eddie.


“Biarkan saja dia membawa Sarah bersamanya. Itu bukan hal penting yang harus kau pikirkan karena sekarang sebaiknya kau memikirkan kondisimu sendiri. Apakah keadaanmu buruk?”


“Saya hanya terkena luka tembak dikaki saja, Tuan.” jawab Noel.


“Kau masih ada diatas bukit itu?” tanya Eddie kembali.


“Iya Tuan. Saya masih ada diatas bukit.”


“Kalau begitu pasukanku nanti akan datang kesana untuk membawamu pergi. Kau tunggu saja didalam mobil dulu! Kondisi disini masih berantakan dan aku masih berusaha pergi tapi baku tembak semakin gencar diluar.”


“Baik Tuan. Saya paham.”


Setelah berbicara dengan Noel, Eddie pun menghela napas lega sekarang. ‘Kau melakukan yang sama seperti yang kau lakukan pada Nick, Barack! Kau menyelamatkan Noel dengan menembak kakinya. Barack tidakkah kau bisa mencari cara yang lebih baik lagi ketimbang melukai temanmu sendiri?’ bisik hati Eddoe.


“Catat nomor ini dan naiklah keatas bukit itu. Cari orang yang memiliki nomor telepon ini. Dan antarkan dia menjauh dari tempat itu. Dia sedang terluka.” ujar Eddie pada anak buahnya. Lalu dia membuka kembali pintu peti kemas tempat mereka bersembunyi.


“Apa kau ingin menunggu disini atau kau ingin keluar denganku sekarang?”


“Tentu saja aku menunggu disini sampai keadaan aman. Kalau kau ingin keluar, pergi saja.”


Eddie yang merasa heran dan aneh dengan sikap orang itu pun menatapnya tajam. ‘Apa-apaan orang ini? Tidak mungkin dia bisa aman menunggu disini.’

__ADS_1


Eddie merasa semakin tidak nyaman tapi dia tidak memprotes keinginan pria itu.


“Baiklah kalau begitu.” Eddie mengangguk dan ingin segera pergi. Tapi---’Kenapa aku menjadi curiga pada orang ini? Sepertinya ada sesuatu hal tentangnya.’ gumam Eddie didalam hatinya lalu dia menatap kembali orang yang ada didalam peti kemas.


__ADS_2