PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 259. JANGAN SENTUH AKU!


__ADS_3

Dia sudah bertekad akan membawa Tatiana ke psikiater, dia tidak ingin Tatiana dalam kondisi sekarang. Karena itulah sebagai seorang ayah dia memikirkan cara untuk membawa Tatiana pergi jauh tanpa menyinggungnya dan tanpa membuatnya marah seperti dulu yang membuat Tatiana berani melakukan hal buruk pada Cassandra. Ini memang belum diceritakannya pada Dante, dia masih menyimpan hal itu dari menantunya.


“Kita sudah sampai dirumah!”


“Ya!” hanya satu kata itu saja yang terucap dari bibir Dante lalu dia menatap Sarah. “Tolong pegang Alex!” ucapnya lalu menyerahkan Alex pada Sarah lalu dia menoleh pada Hans, “Aku minta padamu membawa mereka ke kamar mereka dan pastikan penjagaan didepan kamar mareka, aku juga mau kau memperhatikan mereka. Jangan lepaskan mereka dari matamu sedikitpun!”


“Aduh dante! Banyak sekali permintaanmu.” Hans bicara menggunakan bahasa Italia. “Tapi aku tertarik dengan berita yang dibawa Omero! Ternyata kehidupan ini tidak bisa dibayangkan! Alex adalah cucunya hahahaha!”


“Jangan mengatakan apapun Hans! Dan jangan menghubungi siapapun. Nick dan Eddie sedang bekerja jadi kau tidak boleh bergosip. Mereka sedang menghadapi Barack yang sedang hilang ingatan. Jadi aku mau kau tetap menjaga rahasia ini, kau mengerti?”


“Kau yakin dia hilang ingatan Dante?” sekarang Omero yang bicara.


“Kau menemukan sesuatu yang janggal ayah?” tanya Dante menoleh.


“Ada Dante! Hehehe….aku sungguh tidak yakin Barack hilang ingatan seperti yang kau katakan. Dia mungkin hanya bermain-main saja.”


“Bocah tengil itu! Main-main dengan membakar uangku sepuluh juta dolar?” ucap Dante mendengus.


“Tidak! Dia tidak membuatmu kehilangan itu.” jawab Omero.


“Hei kalian sedang membicarkan Barack kan? Kenapa sih kalian susah sekali bicara pakai bahasa Inggris saja? Apa aku harus kursus bahasa Italia?” celetuk Sarah kesal.


“Dante kau sudah kembali?” baru saja juga Dante mau menjawab pertanyaan Sarah sudah terdengar suara panggilan Tatiana dari dalam mansion membuat mereka semua terdiam. Dante tidak menoleh untuk memandang wanita itu.


“Dante, aku tidak menyangka kalau kau sudah kembali! Akhirnya kau pulang juga setelah satu bulan. Aku sangat merindukanmu Dante!” karena Dante tidak bicara sepatah katapun, Tatiana berjalan mendekati pria itu dengan hati senang sekali melihat pria yang sudah ditunggu-tunggunya.


Tatiana menunjukkan wajah gembira menyambut kedatangan Dante dengan sukacita menatap pria itu.

__ADS_1


“Lepaskan tanganmu dariku Tatiana!” bentak Dante marah.


“Dante, ada apa denganmu?” tanya Tatiana heran mengeryitkan dahinya.


“LEPASKAN!” teriak dante kencang karena wanita itu tetap meraih tangannya. Tatiana tak terima mendengar perintah Dante untuk tidak menyentuhnya.


“Dante! Tega kau membentakku!”


“Hmmm! Karena kau susah dikasi tahu!” ketus Dante lagi. Dia adalah seorang laki-laki dan saat rasa itu sudah hilang untuk Tatiana dan dia merasa dikhianati maka Dante lebih mengutamakan logika dibandingkan perasaan. Dante yang sekarang bukan Dante yang dulu lagi yang selalu mengutamakan rasa kasih sayangnya pada Tatiana.


Dia berubah menjadi dingin, Dante justru seperi orang yang tidak pernah mengenal Tatiana sebelumnya. Tidak ada sedikitpun ramah-ramahnya, ini yang membuat Omero merasa sangat kahwatir.


‘Semoga Dante menepati janjinya padaku untuk tidak berlaku buruk pada Tatiana!’ bisik hati Omero.


Di satu sisi dia merasa dilema sedangkan disisi lain dia merasa senang karena sudah menemukan saudara kembar Cassandra yaitu Bella yang ternyata adalah ibu kandung Alex. Tapi dia merasakan kehawatiran lain yang sangat besar untuk putrinya Tatiana. Seburuk apapun anaknya masih merasa cinta untuk mereka begitulah orang tua dan itu terjadi pada Omero saat ini.


“Aku tidak mengerti! Apa maksudnya ini semua?” Tatiana mulai menunjukkan sikap tidak senangnya dan pandangan matanya menyapu sekitarnya dan jatuh pada wanita yang ada dibelakang Dante.


“Apakah karena wanita yang bersama Alex itu kau berubah jadi dingin padaku?” dengan wajah sinis Tatiana bertanya, hatinya meronta-ronta dan tidak terima apabila Sarah merebut Dante.


Dia pun mulai merasa benci dan dendam semakin membesar di lubuk hatinya.’Apakah wanita itu tidur dengan suamiku selama suamiku di Jakarta? Dia tampak dekat sekali dengan Alex! Malah lebih dekat daripada Bella! Pantas saja Dante betah satu bulan di Jakarta. Apakah wanita ini yang menyuguhkan kehangatan padanya? Arrggggg aku sudah curiga dari awal, harusnya aku ikut dengannya ke Jakarta karena waktu di sana Dante begitu berbeda! Aku sangat menikmati permainan Dante kala itu.’ ada sesal dan kecurigaan yang besar dihatinya.


“Jangan kaitkan masalah kita dengannya!” Dante membuang wajahnya kesal dengan kedua tangan sudah berkacak pinggang. “Ayo kita bicara dulu Tatiana. Ikuti aku!”


“Dante, apa aku perlu ikut denganmu?” tanya Omero yang tidak ingin membiarkan mereka bicara berdua saja karena dia khawatir sesuatu yang buruk terjadi.


‘Bukan aku tidak percaya pada Dante dan janjinya tapi setiap manusia bisa kehilangan kendali diri. Aku tidak mau dia menyakiti Tatiana walaupun Tatiana telah menyakitinya tapi setidaknya dia masih putriku dan aku ingin melindunginya.’ kekhawatiran sebagai seorang ayah membuat Omero ingin menjadi penengah diantara pembicaraan Dante dan Tatiana.

__ADS_1


“Ayah apa ini semua karena kau?” Tatiana mulai curiga dan dia meninggikan suaranya dan mencoba menjegal Omero.


“Jangan kaitkan ini dengan ayahmu! Ikuti aku! Kita bicara didalam.” ucap Dante dan tak menunggu jawaban dari tatiana dia kembali melangkah.


“Ayah, aku tahu pasti kau yang membuat suamiku berubah seperti ini. Mengaku saja ayah!” tapi Tatiana tidak mau mendengarkan Dante, dia justru malah menatap ayahnya.


“Jangan terlalu banyak berspekulasi Tatiana! Sebaiknya kau ikut aku saja karena banyak yang harus kita bicarakan.” jawab dante yang sudah membalikkan badannya lagi dengan geram dan menahan gejolak amarahnya. ‘Selama kau tidak menyinggung Omero maka aku tidak akan menyakitimu Tatiana!’ bisik hati Dante.


Setiap detik dia mengingatkan dirinya tentang siapa Omero, balas budinya pada Omero membuat pria itu berusaha tetap menjaga sikapnya sehingga saat ini Dante mengalihkan pandangannya pada Hans.


“Tolong antarkan Alex dan Sarah ke kamar mereka.” ucap Dante mencoba mengalihkan pikirannya.


“Siapa dia Dante? Siapa wanita itu?” ucap Tatiana yang tak bisa lagi menahan diri dan ingin tahu lebih banyak tentang Sarah.


“Aku akan menceritakannya nanti.” jelas Dante sudah membalikkan badan dan berjalan cepat menuju keruang kerjanya. Sebenarnya dia bisa saja bicara dengan tatiana diruang tamu atau dimanapun tapi berhubung banyak orang dirumahnya dan Dante juga menghargai perasaan Omero, dia tidak melakukan itu dan memilih untuk bicara diruang kerja yang lebih privasi.


“Dante! Bisa kita bicara berdua saja?” Tatiana mencoba bernegosiasi dengan suaminya itu.


“Aku tidak akan bicara berdua denganmu Tatiana! Yang ada saat kita bicara berdua aku malah mematahkan tulang lehermu!”


Ancaman yang dibuat dante bukan sekedar ancaman dimulut saja karena saat ini Dante sudah berkeringat dingin dan kedua tangannya sudah mengepal sempurna. Bahkan Henry merasa ngeri menatapnya. Kepala pelayan itu sudah bisa menebak apa yang bakal terjadi dirumah itu hari ini.


“Apa maksudnya semua ini Dante?”


“Nanti juga kau tahu.” Dante tidak banyak bicara hanya satu kalimat singkat. Dia tetap melangkah cepat untuk menyalurkan semua amarah dan emosinya dalam setiap langkahnya sampai dia tiba didepan pintu ruang kerjanya lalu membuka pintu. Sedangkan Tatiana yang mulai merasa tidak tenang dan hatinya yang terasa sakit karena melihat Dante membawa pulang wanita lain pun membuatnya semakin marah.


 

__ADS_1


__ADS_2