
“Fuuhhh! Masalah Barack pun belum selesai, urusan Jeff juga belum selesai. Dia juga sudah bersatu dengan orang-orang yang menentangku dan ingin menghancurkan aku. Sekarang ditambah lagi kecelakaan yang menimpa Omero! Belum lagi masalah White yang mengalami peristiwa tragis dan membuat keluarganya menyerangku. Kapan semua ini akan berakhir?” Dante merasa sangat lelah dengan semua pikiran dan bebannya.
“Sekarang aku juga harus mengurus masalah keluargaku. Aku harus menjaga Bella dan calon anakku! Aku tidak mau kehilangan mereka.” ujar Dante dengan tekad kuat berjuang untuk keluarganya.
Semua peristiwa yang menimpanya silih berganti menjelang akhir tahun dan tidak ada satupun yang diprediksi Dante. Kehilangan orang kepercayaan itu adalah hal paling sulit baginya. Barack pergi dan tak bisa diajak komunikasi lagi ditambah tumpuan harapan Dante juga sekarang sedang dirumah sakit dan tak bisa diharapkan bantuannya.
Nick harus istirahat karena terluka kakinya, dan mereka semua sudah kelelahan sehingga membuatnya semakin penat. “Apa yang harus kulakukan sekarang?”
Biasanya Dante menjadi tumpuan teman-temannya dalam menghadapi persoalan sehingga dia berusaha untuk berpikir. Dia tak ingin keputusannya membahayakan orang-orang terbaiknya. “Adakah orang yang bisa menolongku selain Barack atau Omero?” ucapnya didalam hati.
Dreeetttt dreettttt dreetttttt
Teleponnya bergetar saat dia sedang berpikir keras mencari solusi. Dia merogoh ponsel di sakunya dan melihat siapa yang menghubunginya. “Siapa lagi yang meneleponku sekarang? Cih aku mengharapkan bantuan malah bocah tengil ini pula yang meneleponku!”
‘Angkat tidak ya? Apa mungkin ada hal penting?’ gumamnya didalam hati masih bermalas-malasan melihat siapa yang menghubunginya. Setelah memikirkannya matang-matang akhirnya dia menjawab panggilan masuk itu. ‘Huh! Beruntung kau, aku masih berbaik hati mau mengangkat teleponmu.”
“Ada apa kau meneleponku Anthony?”
“Hei kenapa lama sekali kau mengangkatnya?”
“Masih bagus aku mau mengangkatnya! Tadi malam kau kan bertemu denganku Anthony! Apa kau sudah merindukan aku lagi?”
“Wah wah….baru saja aku menghubungimu dan kau sudah mencecarku dengan rentetan pertanyaan. Cerewet juga ternyata kau ya.”
“Jangan ganggu aku! Kalau tidak ada hal penting yang mau kau bicarakan sebaiknya kau matikan telepon ini dan berhenti menggangguku!”
“Apa kau pikir kau adalah pacarku? Kalau tidak ada hal penting aku tidak akan meneleponmu. Memangnya aku kurang kerjaan?”
“Apa lagi mau mu sekarang Anthony?”
“Aku tidak mau apa-apa Dante. Aku hanya ingin mengabarkan kondisi yang ada disini sekarang.”
“Apa yang mau kau sampaikan?”
“Wanita palsu itu sangat memusingkan kepalaku! Apa yang harus kulakukan padanya? Bisakah kita tidak menggunakannya? Lama-lama aku bisa kehilangan kesabaranku!”
__ADS_1
“Lakukan apa saja untuk membungkamnya. Buat agar dia tidak melawanmu, aku sudah membayarnya cukup mahal untuk menyelesaikan misi ini.”
“Ya aku paham tapi kapan kau akan mulai menyerang Jeff?”
“Aku yakin kau tahu akan ada penjualan besar yang aku lakukan dalam waktu dekat kan? Walaupun tidak sebesar transaksi kemarin.” kata Dante menjelaskan pada Anthony.
“Iya aku sudah tahu. Atasanku juga bilang begitu beberapa minggu lalu Dante!”
“Kau bisa membawanya kesana. Kau tunjukkan jati dirinya dan aku akan membuat dia benar-benar terekspos! Jeff pasti akan menyukai hal ini dan dia akan mengincar wanita itu.”
“Apakah itu berarti dia akan menghancurkan rumah kamu? Kau akan membuat Jeff mengejar kesini?”
“Untuk yang satu itu aku belum bisa memastikan, yang pasti dia akan memperhatikan kedudukan ayahmy, Anthony, kau paham maksudku kan? Dia akan menyerang pihak federal. Dan saat dia lengah kita bisa bekerjasama untuk mendapatkan informasi lebih tentangnya.”
“Hmmmm….baiklah aku mengerti. Tetapi selama itu aku harus membiarkannya tinggal disini? Wanita itu agak susah diatur Dante!”
“Coba segala cara untuk membuatnya bisa menurut dan diatur. Kalau perlu kau bungkam saja bibirnya.” ujar Dante.
“Tapi dengan sikap wanita itu aku kahwatir ayahku akan curiga.”
Lalu Dante pun memutuskan panggilan telepon itu sehingga membuat Anthony mendengus kesal.
“Aiiissss….baru saja aku mau bicara tentang Bella. Tapi dia sudah menutup teleponnya.” Anthony mengomel sendiri sambil meletakkan ponselnya. “Bella asli ada disana sekarang, bagaimana kondisinya ya? Apa Dante memperlakukannya dengan baik? Sedangkan Bella palsu ini sangat menyusahkan.” ujar Anthony sambil berjalan bolak balik didepan kamarnya.
“Anthony! Apa yang sedang kau lakukan disitu?”
“Ah, Anna?” Anthony menyapa wanita yang baru saja menyapanya sambil menggerakkan tangannya memberi isyarat pada Anna agar mendekat padanya.
“Apa yang ingin kau bicarakan Anthony?”
“Banyak hal, Anna! Aku ingin membahas hal penting denganmu.” ujar Anthony tak sabar karena melihat Anna yang berjalan lambat karena memakai heels lima belas senti.
“Pelan-pelan! Aku pakai heels ini.”
“Cepatlah aku ingin bicara denganmu. Kenapa kamu pakai heels?” protes Anthony.
__ADS_1
“Ini? Oh tadi ada pertemuan para dokter se Eropa nanti siang. Tapi apa yang ingin kau bicarakan?”
“Batalkan pertemuan itu! Kau tidak perlu ikut. Ada hal yang jauh lebih penting.” protes Anthony lagi.
“Hah? Tapi kenapa? Ini ada apa? Mengapa sampai masuk ke kamar begini?”
“Karena hal yang ingin kubicarakan denganmu sangat penting dan tidak boleh ada yang tahu.
“Oke, apa yang ingin kau bicarakan denganku sekarang Anthony?”
“Begini, wanita yang berada didalam kamar itu Bella tapi dia bukan Bella yang kemarin.”
“Hah? Kau membuatku bingung.” seru dokter Anna. “Apa maksudmu? Aku tidak paham.”
“Biar kujelaskan padamu.” ujar Anthony lalu dia pun mulai menceritakan semuanya pada Dokter Anna. “Jadi wanita itu palsu?
“Iya Anna! Tapi wanita itu sangat menyebalkan sekali. Permintaannya sangat banyak dan dia juga ingin tahu banyak. Aku rasa apa yang dikatakan Dante tentang wanita itu benar. Dia tidak bisa dipercaya tapi kami membutuhkannya untuk menjebak seseorang.”
“Jeff Amadeo yang kau bilang itu?”
“Hmmm! Kau benar sekali Anna. Dia maksudku. Aku harus menangkap secepatnya dan wanita itu yang akan jadi umpannya karena Jeff menginginkannya.”
“Jadi apa rencanamu sekarang Anthony?”
“Aku membutuhkan bantuanmu Anna. Demi wanita itu, bisakah kau tetap tinggal disini?”
“Hah? Aku?”
“Iya. Hanya ini satu-satunya cara supaya dia bisa diawasi terus olehmu. Aku ingin kau menemaninya dan terus berada disisinya. Walaupun dia pergi dengan ayahku, aku ingin kau tetap ada disampingnya. Katakan saja ini prosedur untuk berpura-pura menjadi Bella! Karena Bella ada gangguan psikologisnya atau apalah!” bujuk Anthony.
“Jadi kau benar-benar ingin aku bicara dengannya dan menemaninya?”
“Iya! Kalau bisa tolong kau berikan dia obat penenang sedikit. Supaya dia tidak terlalu berisik! Mungkin bisa kau taruh dimakanan atau minumannya atau dimana yang menurutmu baik. Supaya dia bisa tidur atau tidak banyak mengoceh lagi. Kau mengerti kan? Paham maksudku?”
“Baiklah. Aku bisa memberinya dosis obat yang tidak terlalu tinggi jadi dia bisa tidur setelah makan tapi ini akan harus dilakukan perlahan agar dia tidak tahu kalau ada obat di makanannya.”
__ADS_1