PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BBAB 147. TATIANA MULAI CURIGA


__ADS_3

“Tuan Dante…...” senyum sumringah menghiasi wajah cantik Bella. Dante memeluknya erat penuh kasih sayang seolah enggan melepasnya.


“Kau suka?”


“Hem…..aku senang kau memberikan padaku.” ujar Bella yang masih berada dipelukan Dante. “Ah benar-benar keberuntungan berada dipihakku hari ini.” suara manja menggodanya membuat Dante semakin terpancing gairah.


Tak ingin Bella sakit karena terlalu lama kena air, Dante menyudahi percintaan di kamar mandi lalu membantu membersihkan tubuh Bella dan mengeringkan rambutnya. Dia pun menggendong tubuh Bella ke atas ranjang, Dante yang tak pernah puas jika bersama Bella pun kembali menghunjam dengan liar dan ganas seolah tenaganya tak pernah habis. Keduanya meluapkan segala rasa yang terpendam hingga berjam-jam. Bella kehabisan tenaga, bukan dia yang memuaskan Dante tapi pria itulah yang memuaskannya hingga pelepasan berulang kali.


Keduanya yang tenggelam dalam gairah pun tak sadar jika mereka tidak memakai pengaman. Berulang kali Dante mengeluarkannya didalam seolah tak peduli apapun. Baginya tubuh Bella adalah candunya, dia berbaring disebelah Bella. Meletakkan kepala wanita itu dilengannya lalu memeluknya erat. Senyum terukir diwajahnya, kepuasan dan kerinduan yang terpendam kembali terlampiaskan.


“Bella sayang, kau lelah?”


“Hem….” kedua matanya sudah tertutup rapat. Tidak ada tenaga lagi untuk bicara, kepalanya merapat didada bidang Dante dan pria itu merasakan hembusan napas menerpa dadanya.


“Ada yang sakit?” tanya Dante yang cemas karena tadi permainan mereka sangat liar. Namun Bella tak merespon hanya helaan napas saja yang terdengar. “Sayang…..”


“Capek….kau kuat!”


Dante tersenyum, “Maaf ya sudah membuatmu kelelahan. Tapi aku kan mengikuti mau mu saja.”


‘Kenapa aku berbeda saat bersamamu? Aihhh…..tubuhku juga selalu merasa enggan untuk berhenti. Maafkan aku Tatiana! Aku menginginkan dia, aku tidak bisa mengontrol diriku setiap kali bersamanya.’ ujar Dante dihatinya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. ‘Rasanya beda, kepuasan yang kudapat bersama Bella sangat berbeda dibandingkan dengan Tatiana. Apa karena kami memiliki kenangan di masa lalu dan juga ikatan anak?’


Tangan kekarnya mengelus punggung polos Bella, lalu dia mengecup puncak kepalanya dan menutup mata. Keduanya tertidur pulas setelah olahraga panjang yang menguras tenaga. Baik Dante dan Bella pun tertidur dengan senyum diwajah mereka. Dante tidak habis pikir bagaimana dia bisa seliar itu setiap kali bersama Bella, sedangkan bersama Tatiana hanya melakukannya sekali sudah cukup meskipun durasi permainan mereka cukup lama.


Sementara itu dikamar utama, Tatiana terbangun karena haus. Dia melirik jam didinding lalu menghela napas, dia turun dari tempat tidur namun pitcher-nya kosong. Lalu berjalan keluar kamar sambil membawa pitcher turun kebawah menuju dapur. Suasana dirumah itu temaram, hanya ada cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar yang menerangi seluruh ruangan. Tatiana mengisi pitchernya lalu bergegas kembali ke kamar. Saat menaiki tangga, dia merasa penasaran karena dia tidak melihat lampu menyala diruang kerja suaminya.

__ADS_1


Tatiana meletakkan pitcher diatas nakas lalu keluar lagi dari kamar menuju ruang kerja Dante. Membuka pintu sedikit namun ruangan itu gelap, biasanya kalau Dante tidur diruang kerjanya dia selalu menyalakan lampu kecil. ‘Dimana Dante?” bisiknya menutup pintu kembali. Dia pun memutuskan memeriksa kamar Alex, hanya ada anaknya yang tertidur pulas diatas ranjang. “Hem….biasanya kalau Dante tidak tidur diruang kerja, dia tidur disini menemani Alex. Kemana dia? Coba aku cek kamar sebelah.”


Dia membuka pintu penghubung ke kamar Bella, kamar itu gelap saat dia melangkah masuk namun mendapati kalau tidak ada siapapun disana. Hati Tatiana mulai tak tenang, dia menyalakan lampu tidur lalu memeriksa kamar mandi yang juga kosong. Bahkan pintu balkon terkunci dari dalam. “Kemana perempuan itu? Kenapa dia tidak ada dikamarnya malam-malam begini?”


Tatiana mematikan lampu lalu bergegas keluar, perasaannya semakin tidak tenang setelah memeriksa beberapa ruangan namun tak mendapati keberadaan Dante dan Bella.


“Dimana mereka? Kenapa mereka tidak ada dirumah ini? Awas saja kalau dia merayu suamiku lagi seperti waktu itu! Argggg…...” geramnya mengepalkan kedua tangan. Karena tak tenang, dia mencoba menghubungi ponsel suaminya tapi tak tersambung. “Dante! Dimana kau? Apa kau bersama wanita itu? Kau sudah membohongiku Dante! Aku pernah melihat kalian berpelukan dan berciuman dikamar perempuan jalan itu!”


Amarah menguasai Tatiana namun dia berusaha tenang, “Aku harus tenang! Aku tidak akan pernah membiarkan wanita manapun merebut Dante dariku! Dia suamiku dan milikku! Awas kau Bella!” Dia berjalan keluar rumah lalu kembali masuk kedalam dengan pikiran yang sangat kacau.


“Tapi…..bukankah tadi Dante latihan bersama temannya? Ah iya, mungkin dia pergi bersama temannya. Selalu begitu kalau temannya datang dia selalu menghabiskan waktu bersama mereka.’


Hati Tatiana mulai merasa sedikit lebih tenang. Tapi dia kembali resah karena Bella tidak ditemukan. “Lantas kemana wanita itu? Ini jam empat pagi, tidak mungkin dia berkeliaran diluar dengan cuaca dingin seperti ini. Awas saja dia! Aku menghukumnya tidak bisa keluar kamar tanpa ijinku!”


Tatiana kembali ke kamarnya, tak mau lagi memusingkan soal Bella, yang ada dihatinya hanya keinginan untuk menghukum wanita itu besok.


“Ehm….kau sudah bangun?” Dante melepaskan bibirnya yang mengulum bibir Bella.


“Tuan apa aku ketiduran? Hoaammmm! Sepertinya aku tidur pulas sekali!”


“Kau tahu sudah jam berapa sekarang? Aku menunggumu bangun sejak tadi.”


“Hmm…..memangnya sekarang jam berapa Tuan?” Bella mendongak menatap Dante.


“Jam tujuh pagi! Dan aku ada janji jam delapan, kau tidur lelap sekali seperti batu!”

__ADS_1


Bella tersenyum dan memandang Dante, “Itu karena hadiah darimu Tuan, aku jadi bisa tidur nyenyak. Sekarang dia sudah tidur ya dan tak bangun lagi kan? Aku capek, jangan bangun ya.” ujar Bella.


“Memangnya kau mau lagi kalau dia bangun?”


“Boleh ya? Tapi aku capek!”


“Ya sudah. Ayo mandi!” ucap Dante tapi Bella memeluknya erat. “Kenapa kau memelukku begini?”


“Bisakah kau membuatku jadi milikmu?”


“Kenapa kau berani sekali bicara begitu padaku?”


“Tuan apa yang harus aku lakukan jika aku menginginkanmu setiap hari?” Bella tak mau menyerah dan tetap memeluk pria itu erat. Dia sudah bertekad jadi pelakor untuk membalaskan dendam dan sakit hatinya pada Tatiana yang selalu jahat padanya.


“Tunggu sampai adikmu  ketemu!”


“Sekarang tidak bisa? Bisa ya sesekali kita tidur disini, kau kan paling pintar membawaku kesini.”


“Belinda Alexandra! Kau harus merubah sikapmu, kau tidak boleh seperti ini terus-terusan dan menjadi bodoh begini. Aku tidak suka! Aku akan memberimu dan menuruti mau mu kalau kau bersikap baik.”


“Baiklah. Aku berjanji akan bersikap baik dan hanya menggodamu dan tidak menggoda laki-laki lainnya. Cukupkah itu membuatku selalu berada disisimu?”


“Hem…..” jawab Dante menganggukkan kepala. ‘Tanpa kau minta pun kau akan selalu bersamaku, aku takkan pernah melepaskanmu.’ bisik hati Dante.


Sejenak dia lupa pada istrinya bahkan dia memang selalu lupa istrinya kalau sudah bersama Bella. ‘Aku sudah janji akan menjagamu.  Akan kupikirkan cara untuk bersamamu setiap malam tanpa diketahui Tatiana ataupun yang lainnya. Aku harus tetap hati-hati, aku tidak mau ada yang tersakiti.’

__ADS_1


“Rebahkan tubuhmu!” perintah dante lagi.


 


__ADS_2