PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 95. MENGUJI DANTE


__ADS_3

“Hai Bella! Kenapa kau memegang tanganku? Aku tidak mau ada yang salah paham, meskipun aku juga senang sih..he he.” kata Anthony terkekeh dan kaget saat tangan Bella memegang lengannya.


“Maaf ya, punggungku sakit sekali, aku tidak kuat jalan makanya aku memegang tanganmu, bolehkan?” ujar Bella sengaja menaikkan suaranya agar didengar oleh Dante. Dan benar saja ucapannya itu terdengar sampai ke meja makan dimana Dante dan Tatiana duduk, keduanya tidak melihat kearah Anthony dan Bella tapi tetap melanjutkan makannya.


“Sakit? Kau kenapa bisa sakit? Apa karena tadi main voli?” tanya Anthony.


“Hmmmm! Bagian sini sakit sekali sshhhhh…..” ujar Bella meringis.


“Hati-hati ya.” ucap Anthony. Suara percakapan itu masih terdengar dari meja makan.


‘Sengaja kau ya melakukan ini dihadapanku? Berani kau memegang tangan pria lain didepanku, ha? Kau masih ingin menguji nyalimu dihadapanku?’ celetuk Dante didalam hatinya.


Dari luar tampaknya Dante cukup tenang dan bersikap wajar tapi didalam hatinya dia semakin panas membara bak gunung merapi yang siap meledakkan lava panasnya, dia tidak suka dengan apa yang baru saja dilihatnya.


“Dante, sayang. Maafkan aku ya karena aku lupa mengingatkan Bella kalau dia tidak boleh memakai pakaian seperti itu dirumah. Apalagi untuk seorang pelayan tidak pantas berpakaian seperti itu.” ucapan Tatiana yang masih bisa didengar oleh Dante yang hanya meliriknya dan tidak berkomentar. Dante kembali fokus pada makanannya meskipun kini rasa makanan itu hambar dimulutnya.


‘Sejak awal aku membawamu kesini aku sudah memperingatkanmu untuk menjaga sikap dengan pelayanku! Jagalah hubungan dan jaga jarak dengan pelayan laki-laki disini tapi kau tidak melakukannya! Apa masih tidak cukup rasa sakit yang tadi aku berikan? Kau masih tidak belajar juga? Kau masih mau mencobaku?’ Dante tersenyum kecut didalam hatinya. Dia benar-benar marah, bayangan Bella memegang tangan pria lain terus bermain dibenaknya. Belum lagi apa yang tadi dilihatnya dihalaman belakang, tubuh Bella yang jatuh kepelukan pelayan laki-laki dan memeluknya menorehkan sakit dihatinya.


“Dante! Aku sedang bicara denganmu. Kenapa kau diam saja dari tadi?”


“Ha?”


“Kau tidak mendengarku, Dante?”


“Habiskan saja makananmu Tatiana! Aku masih punya banyak pekerjaan. Aku harus kembali keruang kerjaku sekarang!”


“Dante, tunggu dulu….” teriak Tatiana memanggil suaminya. Lalu dia memegang tangan Dante yang sudah berjalan hendak pergi keruang kerjanya.


“Kau tidak fokus sejak tadi Dante!” protes Tatiana sambil mendonggakkan kepala menatap cemas.

__ADS_1


“Ugh? Maafkan aku, tadi kau bilang apa?”


Dante yang ingin pergi meninggalkan Tatiana terpaksa kembali duduk ketempat duduknya semula dan mencoba bicara pada istrinya yang kembali tersenyum. ‘Aku tidak boleh membuatnya sedih! Hampir saja aku membuatnya kecewa dengan meninggalkannya disini makan sendiri! Bella ini semua karena ulahmu membuatku tidak fokus!’ celetuk Dante didalam hati. Meskipun dia merasa geram tapi dia berusaha bersikap tenang dikursinya.


“Ada apa denganmu Dante?”


“Tidak ada apa-apa yang perlu kau khawatirkan Tatiana!” Dante bicara sambil berusaha tersenyum.


“Tapi kuperhatikan dari tadi sejak kita ke kota aku melihatmu tidak fokus. Kau juga bicara sedikit dengan orang dan agak emosian. Apa kau sadar jika tadi kau memarahi semua orang dikantormu? Ada apa denganmu? Apa kau masih memikirkan tentang temanmu Barack?” Tatiana berusaha mencari tahu apa penyebab sikap suaminya berbeda hari ini.


Tatiana menatap suaminya dengan tatapan penuh kekhawatiran.


“Maafkan aku sudah membuatmu khawatir. Aku juga tidak menginginkan ini Tatiana! Masalah pekerjaanku yang membuatku kehilangan konsentrasi belum lagi masalah hilangnya Barack dan lainnya.” Dante bicara mencoba untuk menutupi semuanya dan membuat Tatiana tidak resah.  Bagaimanapun Tatiana tidak boleh tahu tentang hubungannya dengan Bella.


“Dante, sayang. Pekerjaanmu sepertinya sangat banyak. Tadi kau sudah mengurus pekerjaanmu di kota tapi sekarang kau mau bekerja lagi? Apa kau masih tidak tertarik dengan ajakanku supaya kita bisa hidup damai dan kau tinggalkan dunia hitam ini?” Tatiana mencoba keberuntungannya meminta sesuatu yang sudah berulang kali dimintanya pada Dante.


“Baiklah kalau memang begitu maafkan aku kalau terlalu memaksakan keinginanku padamu, Dante.” Tatiana kembali mencoba sabar dan tersenyum dihadapan Dante.


“Maafkan aku juga karena membuatmu khawatir, setelah semua ini selesai dan jika waktunya sudah tepat aku akan berjanji mengabulkan keinginanmu, Tatiana!” ucap Dante.


“Baiklah, aku akan menunggumu! Sekarang pergilah supaya kau bisa secepatnya menyelesaikan pekerjaanmu!” ucap Tatiana. Ucapan itu yang sudah ditunggu-tunggu Dante sejak tadi lalu dia mengangguk lalu berdiri.


“Aku keruang kerjaku dulu.” ucapnya lalu mengecup kening istrinya sebagai tanda perpisahan malam itu, karena Dante segera menuju ruang kerjanya dan akan menghabiskan banyak waktunya disana. ‘Puff untung istriku sangat pengertian,’ ucap hatinya sambil tersenyum namun saat dia memikirkan wanita lain itu senyum diwajahnya langsung hilang.


‘Kenapa wanita itu sulit mengerti kata-kataku? Apa sih maunya dia? Kenapa dia tidak bisa bersikap manis seperti Tatiana dan tidak terus menerus memancing emosiku?’ gumam Dante kesal didalam hatinya, yang langsung melangkahkan kakinya naik kelantai atas.


“Apa dia marah padaku? Apa yang tadi sudah kulakukan padanya? Apa gara-gara itu dia marah padaku dan sengaja membalasku? Dia mencoba mengujiku untuk membuatku kesal? Kenapa dia masih tidak sadar kalau aku benar-benar marah padanya? Apa dia ingin aku berbuat sekejam tadi lagi atau dia ingin aku melakukan yang lebih keji lagi?’ Dante mendengus dan duduk dikursinya, engga untuk memikirkan Bella meskipun sulit karena otaknya sudah penuh diisi oleh Bella. Dante pun mengeluarkan ponselnya menghubungi Hans.


“Aku meneleponmu ribuan kali sejak tadi.” ujar Hans kesal.

__ADS_1


“Apa sudah ada kabar dari barack?


“Belum ada! Tapi ada satu masalah lagi yang meresahkan disini.” jawab Hans.


“Huh? Masalah apa?”


“Aku rasa ada baiknya kita menunda pengembangan bisnis kita di Asia Tenggara karena ini bukan waktu yang tepat, Dante.”


“Kau tahu kalau aku paling tidak suka menunda-nunda seandainya aku sudah membuat rencana.”


“Aku tahu itu tapi kau akan mengalami masalah yang cukup pelik seandainya kau tidak menunda sebentar saja. Masalah kali ini lebih rumit.” ujar Hans.


“Maksudmu?”


“Nick memberitahuku kalau pengiriman barang kita dicegat di Singapura! Ada oknum yang melaporkan kepihak berwajib dan semua orang yang sudah kita sogok tidak berhasil menyelamatkannya. Semua barang-barang kita ditahan.”


BRAAKKKK!


“Tidak mungkin! Aku sendiri yang sudah memastikan semua jalur itu aman dan tidak akan ada masalah. Katakan apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?” geram Dante yang menggebrak meja.


“Entahlah! Aku juga tidak tahu, tapi semua barang kita sudah ditahan dan sekarang sedalam dalam investigasi oleh pihak berwajib disana!” jawab Hans.


“Selamatkan! Lakukan segera!”


“Bagaimana caranya? Kau tahu seberapa sulit berurusan dengan pihak berwajib di Singapura?”


“Aku tidak mau tahu! Aku mau kau selamatkan semua barang itu!”


“Dante, masalahnya ini di Singapura. Beda kalau tadinya terjadi di Thailand atau Vietnam kita masih mudah lepas dengan membayar!”

__ADS_1


__ADS_2