
Wajah Bella cemberut dan tanpa sadar dia memukul kepalanya pelan. Dante yang melihat tingkahnya hanya bisa tertawa terbahak-bahak mengejeknya. “ha ha ha ha….kau lihat bagaimana pertahanan diriku? Kau tidak akan bisa menggodaku!” Dante menggelengkan kepala dan melangkah keluar dari kamar mandi.
‘Mau sampai kapanpun kau menggodaku aku tidak akan tergoda. Meskipun sebenarnya aku sangat menginginkanmu tapi aku harus bisa menahan diriku, aku sudah terlatih untuk hal semacam itu.’ gumamnya merasa menang dan hatinya tenang.
“Tuan, biarkan aku mencobanya sekali lagi.”
“Tidak! Kau hanya kuijinkan mencoba satu kali dan tidak ada kesempatan kedua.” Dante terus berjalan tanpa mempedulikan Bella yang ada dibelakangnya. ‘Aku tidak boleh memberinya kesempatan kedua, karena aku tidak yakin bisa menahan diriku lagi. Kalau sampai aku kehilangan kontrol diri maka aku tidak akan bisa mengendalikan diriku saat dia sudah berada dirumahku dan itu sangat berbahaya. Aku tidak mau Tatiana tahu.’
‘Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi,” teriak Bella mengejar Dante. Dia sangat penasaran kenapa pria itu tidak tergoda.
“No second chance! Aku lapar!”
Bella hanya terdiam mengatupkan bibirnya dan melangkah bersama-sama tanpa sehelai benangpun ditubuh mereka.
‘Sudah kukatakan kau tidak bisa menggodaku! Hanya Tatiana yang bisa dan kau sudah lihat bagaimana kontrol diriku, bukan? Hmmm…..sebenarnya alasanku tidak mau menyentuhmu karena aku tidak ingin menyakiti istriku. Padahal tadi aku sudah hampir kelepasan tapi aku bisa menahannya. Hanya Tatiana yang aku cintai dan hanya dia yang boleh merasakannya.’ ego Dante menutupi perasaan hatinya yang sebenarnya. Dengan sengaja dia menutupi kebenaran bahwa dia mencintai dan menginginkan Bella.
‘Aku tidak akan pernah memberikan kesempatan kedua padamu Belinda, karena sangat melelahkan bagiku untuk mencoba menolak semua rangsanganmu….aahhhhhh kau membuatku lapar! Aku khawatir di kesempatan kedua aku akan gagal dan aku akan terus menginginkan tubuhmu seperti dulu.’ bisik hatinya saat membuka kulkas mengambil bahan makanan untuk dimasak.
“Apa yang kau lakukan disitu? Kenapa kau diam saja?” matanya melotot menatap Bella yang berdiri disisinya sambil senyum-senyum ngak jelas menikmati fantasinya.
“Tidak apa-apa.” jawab Bella.
“Hei tunggu! Kau tidak bisa pergi sebelum kau katakan apa yang ada dipikiranmu.” ucap Dante.
“Hihi….aku senang melihatmu tidak memakai apa-apa. Aku jadi bisa memandangi tubuhmu meskipun kau tida tertarik padaku, tapi aku tertarik padamu dan aku tidak peduli soal itu. Melihatmu saja suda membuatku senang, walaupun dia tidak mau bangun tapi dia hot! Roti sobeknya juga...awww...hot!” ujar Bella yang membuat Dante mendengus.
“Apa kau juga pernah mengatakan itu pada pria lain?” ucapnya kesal.
“Belum! Tidak pernah dan kau yang pertama! Kau pria tersulit yang pernah kutemui dan tidak bisa ku mengerti. Kau yang paling spesial dan aku tida tahu kenapa aku sangat menyukaimu.”
“Sudahlah jangan banyak bicara. Duduk saja disana, jangan ganggu aku masak atau kau mau membantuku memasak?”
“Aku tidak bisa masak. Bagaimana aku membantumu?”
__ADS_1
“Siapkan saja bahan-bahannya untuk ku masak.”
“Maksudnya, aku memotong bahannya gitu?” tanya Bella seperti anak kecil. Dante hanya meliriknya lalu menganggukkan kepala.
“Baiklah. Aku bisa coba.” ucapnya tersenyum. “Kau ingin masak apa Tuan?”
“Sup ikan. Kesukaan putraku. Dia sangat menyukai masakanku.”
“Wah….aku juga suka sup ikan. Aku sering membelinya.” ujarnya sambil mulai memotong bahan-bahan yang mau dimasak Dante.
‘Kau benar-benar persis sama seperti anakmu! Punya selera makan yang sama.’ gumam Dante.
“Aww…...” teriak Bella kesakitan.
“Kau kenapa? Apa kau mau bunuh diri?”
“Maaf Tuan. Aku tidak sengaja, bukan mau bunuh diri dengan pisau ini. Lukanya kecil.”
“Kemarikan tanganmu!”
“Lain kali harus hati-hati! Darahnya suda berhenti, kau duduk saja disana. Aku carikan plester untuk lukamu.”
“Terimakasih Tuan tapi aku ingin membantumu.”
“Tidak usah. Kau tidak tahu cara memotong yang benar.” tolak Dante.
“Aku mau belajar, tuan. Aku juga mau belajar memasak.” Bella memohon dengan mata memelas.
‘Aduh….menggemaskan sekali dia ini! Ada-ada saja! Dia teledor sekali, apa aku yakin memintanya untuk mengasuh Alex? Aisss…...tapi dia ingin melihat anaknya. Meskipun dia dan Alex hanya akan berteman bukan sebagai ibu dan anak.’ Dante mulai tidak yakin jika Bella bisa mengasuh Alex dan membiarkannya memasak. Tapi melihat wajah memelas wanita itu, dia memilih membuka kabinet dan mengeluarkan kotak P3K mencari plester untuk luka Bella.
“Sini aku ajarkan kau cara memotong sayuran.”
Bella semakin senang karena keduanya dalam keadaan polos dan Dante berdiri dibelakangnya mengajarinya cara memotong sambil memegang tangannya. ‘Waw ini romantis sekali sudah seperti di film. Dia dibelakangku memegang kedua tanganku lalu menggerakkan tanganku sampai aku bisa memotong. So sweet! Ternyata begini caranya memotong yang benar ya?’ tanya Bella dalam hati.
__ADS_1
“Sudah mengerti belum?”
“Sudah tuan.” jawabnya cepat. ‘Tapi jangan lepaskan dulu, milikmu dibelakang seperti mengganjal. Apa dia mengeras ya? Ah sudahlah, meskipun mengeras kau juga tidak mau memberikannya padaku, kau malah menahannya sekuat tenaga.’ ujarnya sambil fokus memotong. Sesuatu yang dibelakangnya sudah bangun dan membesar dan Bella pun menyadarinya tapi dia tidak peduli lagi. Dia hanya menikmati sentuhan tangan Dante yang mengajarinya memotong.
“Sekarang kau lakukan sendiri.” ujar Dante yang sadar miliknya bangun dan kepalanya mendadak pusing.
“Baik Tuan.” Bella mendengus. ‘Huh….setelah berhasil menciutkannya baru melepaskanku. Pintar kau ya Tuan!’ gumamnya penuh kekesalan. Sepanjang senja itu mereka berdua menghabiskan waktu saling membantu didapur.
“Kau sadar tidak kalau keberadaanmu disini hanya membuat makanan ini semakin lama matangnya?”
“Tahu Tuan! Tapi aku tadi kan tidak sengaja membuat kesalahan.”
‘Huh! Keras kepalamu sama seperti anakmu! Tidak mau dibilangin! Dari tadi sudah kusuruh duduk biar aku saja yang masak tapi kau selalu bilang mau membantuku dan sekarang kau lihat sendiri bagaimana akhirnya? Apa aku akan sakit kepala nanti menghadapimu dan anakmu? Kalian berdua sama-sama keras kepala!’
“Jangan marah Tuan nanti hilang tampannya. Sebentar lagi makanannya sudah matang kok.”
“Sudah berapa lama kita memasak? Aku tidak pernah masak selama ini.” Dante mengeryitkan dahinya sambil memijit keningnya.
“Apa lagi? Kenapa kau senyum-senyum nggak jelas begitu?”
“Hi hi….kau tampan sekali Tuan. Apalagi saat kau berdiri dengan tangan didahi seperti itu.”
“Hei! Bisa tidak kau jaga kata-katamu? Jangan sembarangan bicara, ingat ya kau harus bicara sopan dan tidak memujiku dirumahku!” bentak Dante membuat Bella kembali terdiam.
‘Aduh kenapa sih kau ini Belinda? Kenapa selalu terbawa perasaan dengannya dan bicara seenakmu?’
“Sepertinya otakmu memang sudah rusak.” ujar Dante sambil menyentil-yentil puncak tertinggi Bella secara bergantian.
“Hem….sssshhhh….”
“Hei….hei…..sadar diri! Aku tidak tertarik padamu. Pergi keruang gym dan ambil ponselku didalam saku celanaku.”
“Baik, tuan.” Bella langsung bergegas pergi keruang gym.
__ADS_1
‘Puhhh…..wanita itu selalu saja ceroboh! Bicara tidak dipikir dulu dan lihat yang dilakukannya selalu menggodaku. Sampai kapan aku bisa menahan diri? Oh….Belinda….apa kau tidak tahu betapa sakitnya kepalaku karena ulahmu? Aku harus cepat-cepat membawanya kerumahku. Jika dia bekerja maka dia tidak akan punya waktu menggodaku lagi. Biarkan dia sibuk mengasuh anaknya.’ gumamnya.