PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 481. TIDAK MENDUGA


__ADS_3

“Aku tidak mengingat tentang itu, Dante! Untung saja kau meneleponku. Aku sudah panik sejak tadi dengan situasi kita, aku tidak tahu harus berbuat apa!” ucap Eddie.


“Sudahlah! Kau tak perlu panik lagi sekarang. Katakan padaku dimana orang yang menyamar sebagai klien kita itu berada?” tanya Dante.


“Dia masih berada ditempat transaksi! Tadi aku meninggalkannya disana. Dia berusaha mengejarmu dan dia juga yang menyadap semua alat komunikasi kita! Orang itu licik!”


“Itu berarti Anthony dalam kondisi bahaya sekarang.” ucap Dante berdecak kesal.


“Kau masih memikirkannya juga Dante? Bukankah dia bekerjasama dengan pria itu untuk menjebak kita seperti ini?” ujar Eddie protes.


“Tidak! Bukan Anthony yang melakukannya. Justru kondisi Anthony sekarang berada dalam bahaya! Dan aku tidak bisa berkomunikasi dengannya untuk memperingatkannya.”


“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang Dante?”


“Aku tahu apa yang harus kulakukan. Dia mencarimu bukan?”


“Iya!” jawab Eddie singkat.


“Apa kau punya beberapa bom dengan daya ledak rendah disekitar tempat transaksi?” tanya Dante yang sambil berpikir untuk memperhitungkan seberapa besar kekuatan yang dimilikinya saat ini untuk melawan musuh-musuhnya.


“Ada. Aku juga masih berada ditempat transaksi!” ucap Eddie.


“Kalau begitu bantu aku! Gerakkan anak buahmu yang ada dilaut untuk menyerang mereka yang ada ditepi pantai. Dan itu akan membuat mereka semua akan fokus untuk menyerang anak buah kita. Disaan seperti ini aku bisa melakukan sesuatu disana! Apa kau mengerti Eddie?” ujar Dante yang menemukan solusi.


“Apa yang ingin kau lakukan, Dante?”


“Aku tidak bisa menceritakan sekarang padamu, waktu kita terbatas! Kau hanya perlu melakukan apa yang harus kukatakan padamu. Kau paham?”


“Baiklah kalau egitu aku akan melakukan itu Dante.”


Telepon pun langsung dimatikan dan Eddie kini merasa lega dan tersenyum penuh makna. Semua kecemasan yang tadi menyelimuti hatinya pun kini hilang berganti dengan ketenangan seiring dengan sebuah rencana yang sudah ada dibenaknya.


“Bagaimana bos?” tanya anak buahnya yang sedang menatap Eddie. Mereka bertanya karena merasa khawatir dengan kondisi pasukan mereka.

__ADS_1


“Tunggu sebentar. Aku harus menelepon Nick dulu.” jawab Eddie. Dia akan melakukan apa yang diperintahkan oleh Dante dan memberitahukan hal itu pada Nick.


”Ed! Untung saja kau meneleponku. Siapa yang bisa kuhubungi di gudang? Aku tidak tahu anak buah kita disana bersama dengan siapa sekarang!” ucap Nick tanpa basa basi begitu panggilan sudah tersambung. Mereka dalam keadaan terdesak sehingga semuanya harus dilakukan dengan cepat dan fokus.


“Aku rasa aku tahu siapa saja yang ada disana! Kau bisa menghubungi mereka dan menyuruh mereka untuk masuk kedalam ruang bawah tanah! Pasti disana ada pintunya, suruh mereka segera menemukannya dan bersembunyi diruang bawah tanah untuk sementara waktu.” ujar Eddie.


“Aku paham! Aku akan melakukannya dan aku akan mengatur rudal itu dengan radius tiga puluh meter diatas gedung itu!” ucap Nick. Kini mereka sudah menemukan solusi untuk mengatasi kondisi pasukan mereka dilapangan. Keduanya sudah memiliki cara masing-masing untuk melakukan bagiannya.


“Bagus! Aku akan mengurus yang ada digudang. Aku juga akan menyiapkan sesegera mungkin alat berat untuk mengeluarkan mereka dari tumpukan puing-puing itu. Kau hanya perlu memastikan pihak federal tidak banyak mengganggu lagi untuk sementara waktu ketika aku bekerjasama dengan Henry mengeluarkan pasukan kita dari sana.”


“Baiklah. Kalau ada hal lainnya segera hubungi aku.” ucap Nick sebelum memutuskan panggilan telepon tersebut. Dan kini keduanya merasa tenang setelah bicara dan saling bertukar informasi dengan sahabatnya. Mereka sekarang sudah bisa fokus menjalankan rencana yang baru saja dibicarakan.


‘Setidaknya aku tidak membunuh orang-orangku dengan cara yang menyedihkan! Ada bantuan agar mereka bisa bertahan hidup.’ gumam Eddie didalam hatinya yang merasa tenang karena pasukannya masih bisa diselamatkan.


“Apa semuanya beres bos?” tanya anak buah Eddie lagi.


“Iya semuanya akan baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir sekarang.”


“Setidaknya sekarang kita bisa bernapas lega. Tuan Dante sudah memberikan bantuan.” ujar Eddie yang sudah tidak kehilangan arah lagi dan dia merasa senang sehingga dia pun langsung menghubungi anak buahnya yang berada diatas kapal.


“Ada senjata dikapal. Apa kalian sudah mau pindah ke kapal yang lebih besar sekarang?”


“Ya bos! Kami sudah ada di tengah laut tapi kami masih bisa menjangkau tepian pantai, kapal yang membawa kami pun sudah diamankan oleh pasukan anda bos.”


Dante memang sudah menyiapkan kapal yang lebih besar sebelumnya untuk menampung semua pasukannya dan sudah dilengkapi dengan senjata perang. Tapi karena dia menyiapkannya dengan Henry sehingga tidak bisa disadap oleh federal.


“Buat semua yang ada ditepian pantai merasa khawatir dan terancam dengan senjata kalian! Tembak mereka sampai mereka berada dalam kondisi terdesak!” perintah Eddie.


“Baiklah bos. Akan kami lakukan sesuai perintah anda!” jawab Jim.


“Mulailah permainannya sekarang.” ucap Eddie tersenyum ketika dia bicara.


Lalu Eddie menghubungi seseorang lagi setelah memberikan perintah pada anak buahnya dikapal. Dia tersenyum saat menghubungi orang ini.

__ADS_1


“Ada apa lagi kau menghubungiku? Apa kau sudah mau menyerah sekarang?”


“Jangan harap kami akan menyerah! Lihatlah apa yang akan terjadi pada anak buahmu.” balas Eddie mendengus. Lalu tak lama kemudian terdengar suara ledakan.


BOOOOOMMMMM!


“Oh jadi maksudmu kau menyerang kami yang ada disini? Apa kau pikir kami tidak bisa membalas seranganmu?” ujar pria itu.


“Balaslah kalau kau memang ingin membalasnya. Aku tahu kehebatanmu sejauh ini, kau sudah bisa menyadap semua alat komunikasi kami tapi bisakah kau memprediksi semua yang akan kami lakukan selanjutnya?” ejek Eddie membuat orang itu kesal.


“Jenderal!” anak buah pria itu memanggil dan dia terdengar terengah-engah.


“Ada masalah jenderal! Seluruh anggota kita yang mengepung gudang mereka semuanya mati terkena bom!” ujar orang itu segera menyampaikan informasi pada atasannya. Eddie masih bisa mendengar perbincangan diseberang telepon sebelum panggilan itu diputuskan. Dia semakin tersenyum lebar karena sepertinya rencana mereka berhasil.


‘Eddie semoga kau mengerti apa yang tadi kujelaskan padamu. Aku sudah bisa membayangkan apa yang harus kulakukan sekarang dan aku bisa melihat kemenangan ada dipihak kita. Kalau kau melakukan seperti apa yang aku perintahkan padamu.’ gumam hati Dante sesaat setelah dia menutup teleponnya.


Kini dia merasa ada harapan setelah bicara dengan Eddie.


“Aku sudah menelepon eddie. Hanya ini yang ingin disampaikannya padaku?” tanya Dante pada Noel dengan merubah pandangannya pada Noel. “Atau dia menyampaikan sesuatu kepada yang lainnya juga?”


Noel hanya memandang Dante sambil menggelengkan kepalanya.


”Ya, kurasa hanya itu yang ingin dilakukan oleh Eddie.” ucap Noel.


Dante tersenyum kecil, ‘Eddie! Aku sangat beruntung karena kau juga pintar. Pasti sulit bagimu untuk mencari jalan keluar dari situasi ini.’ pikir Dante ketika mengingat sahabatnya yang tadi bicara dengannya.


“Baiklah. Kita sudah bisa pergi sekarang! Aku yang akan menyetir.” ucap Dante.


“Baik.” Noel mengangguk lalu dia menoleh pada anak buah Dante yang tadi menyetir mobil.


“Silahkan Tuan Dante.” ujar pria itu dengan refleks membukakan pintu untuk Dante.


“Kalian berdua duduklah di jok belakang.” perintah Dante pada kedua pria itu.

__ADS_1


“Baik Tuan!” jawab mereka berdua serempak dan langsung masuk kedalam mobil.


__ADS_2