PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 466. SALING MENGANCAM


__ADS_3

Suasana disana gelap dan seperti mobil biasa pada umumnya tidak mencurigakan sehingga mereka juga tidak terlalu memperhatikannya tapi Dante bisa melihat dengan jelas siapa orang yang ada diluar sana.


“Dante! Tapi Barack…..” ucap Sarah dengan suara tercekat saat dia melihat sosok yang sangat dikenalnya dan sudah dirindukannya selama ini.


“Sarah! Apa kau ingin membunuh kami semua?” bentak Dante dengan amarah.


Sarah mengatupkan bibirnya dan dia berusaha untuk mengendalikan dirinya juga tangisannya.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Barack mengikuti pria itu? Siapa dia sebenarnya?”


“Aku tidak bisa menjelaskan semuanya padamu disini.” kata Dante mengangkat bahunya.


“Baiklah!” ucap Sarah akhirnya mencoba untuk tenang walaupun Dante tidak percaya pada Sarah.


“Noel!” panggil Dante meskipun pandangan matanya masih menatap Sarah dengan tajam.


“Iya…..Dante, ada apa?”


“Duduklah dibelakang. Temani dia!”


“Baiklah.” ucap Noel yang langsung berpindah kebelakang dan duduk disebelah Sarah.


“Kau menjagaku seperti tahanan?” tanya Sarah dengan nada tak senang.


“Iya, memang.” Dante memberikan pada Noel sebuah borgol untuk memborgol tangan Sarah.


“Noel, kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?”


“Dante! Tapi Barack?” protes Sarah tapi tak ada yang mempedulikannya.


Baik Dante maupun Noel hanya diam dan mengacuhkan Sarah sepenuhnya.

__ADS_1


“Kalian benar-benar menjadikanku seperti tahanan!” protes Sarah lagi mengerucutkan bibirnya.


“Pokoknya nanti setelah sampai dirumah aku akan mengadukan ini pada Bella. Aku akan mengatakan pada Bella kalau kau mengikatku dan memperlakukanku tidak manusiawi.” ucap Sarah kesal karena tangannya terikat pada pintu mobil sekarang.


Dia tidak bisa bergerak apalgi keluar dari mobil.


“Hmmmm! Memangnya kau pikir kakakmu itu bisa apa?” ujar Dante kembali tergelitik dan tidak fokus bekerja. Protes Sarah mengganggu konsentrasinya.


“Kau akan rugi karena kau tidak akan mendapatkan apa-apa dari Bella! Mungkin kau akan tidur diluar selama beberapa malam! Baru kau akan tahu bagaimana rasanya diacuhkan kakakku.”


“Hahahahah!” Dante tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Sarah.


“Sekarang kau boleh tertawa tapi lihat saja nanti kalau memang Bella sudah melakukan itu, apa kau tahan untuk tidak melakukannya? Tunggu saja waktunya tiba! Baru kau tahu kalau kakakku marah.”


“Pffff! Dengarkan aku ya anak menyusahkan! Saat sampai dirumah bukan hanya aku yang akan mendapatkan hukuman!” ujar Dante menatap tajam kearah Sarah.


“Tapi kau juga akan mendapatkan hukuman karena sudah mengganggu pekerjaanku. Sekarang kau dengarkan aku baik-baik, bukan aku yang rugi jika Bella akan melakukan seperti apa yang tadi kau katakan itu.” senyumpun merekah diwajah Dante yang membuat Sarah mengeryitkan keningnya tak mengerti maksud dari perkataan Dante.


“Apa maksudmu berkata begitu?”


‘Bella mengancamku untuk tidak melakukan itu? Hah? Apa dia bisa mengancamku begitu? Baru memegang sedikit saja dia sudah kepanasan dan ingin aku meminta memasukkannya! Tapi boleh juga kalau aku menghukum Bella karena ide gilanya soal Sarah sekarang!’ bisik hati Dante.


‘Kau harus merasakan sesuatu yang berat, Bella! Setelah aku sampai dirumah nanti aku pastikan akan menghukummu, kau mengirim adikmu mengikutiku!’ Dante tersenyum kecil memikirkan apa yang ada didalam kepalanya.


‘Berhubung kau sedang hamil jadi aku tidak bisa menghukummu dengan sesuatu yang menyakitimu tapi aku akan menghukkummu dengan sesuatu yang enak!’


Mungkin pelayanan plus-plus untukku semalam suntuk? Sarah sudah mengganggu pikiranku hingga aku tidak bisa fokus pada pekerjaanku. Karena ini adalah idemu pada adikmu maka kau yang akan menerima hukuman dariku saat pulang nanti.’ Dante kembali sulit untuk fokus, beberapa kali dia menggelengkan kepalanya dan berusaha memikirkan pekerjaannya dulu.


Saat ini kondisi serius dan dia tidak boleh teralihkan pikirannya pada hal lain. ‘Lagi dan lagi aku terdistraksi! Arggghhhh! Baru kali ini aku pergi kerja membawa bocah! Bella, kenapa kau sampai punya ide gila untuk menyuruh adikmu mengikutiku? Ada-ada saja kau, apa kau tidak tahu betapa berbahayanya situasi kami saat ini?’ ujar Dante berdcak.


Dia mencoba bersikap serius dan memperhatikan lokasi transaksi tapi ada beberapa hal yang terlewatkan olehnya sehingga ada rasa tidak puas didalam pikirannya.

__ADS_1


Dreeettt dreeetttt dreeettt


Ponselnya berbunyi membuat Dante kembali mengumpat didalam hatinya.


“Ada apa Anthony? Kenapa kau meneleponku?”


“Dante! Aku sudah ada diposisiku, kau sedang berada dimana sekarang? Aku tidak bisa melihatmu.” tanya Anthony mengeryitkan keningnya.


‘Ada apa dengan Dante? Apa dia marah padaku sehingga dia meninggikan suaranya? Biasanya dia selalu bersikap tenang.’ ungkap hati Anthony yang mulai merasa curiga ketika mendengar suara Dante.


‘Dia bisa ku percaya bukan? Dia tidak akan berniat buruk padaku dan dia tidak bekerjasama dengan Jeff Amadeo bukan? Vince, aku jadi memikirkan semua kata-katamu kalau Dante mungkin akan sengaja menghubungi Jeff karena mereka sama-sama sindikat dan mereka menjebak kita!'


'Tapi aku sudah bekerja dengannya selama tiga bulan dulu dan dia bukan tipe orang seperti itu.’


Pikiran Anthony pun mulai kacau, hal itu bisa saja terjadi karena mereka bukan berasal dari kubu yang sama.


Sehingga masih ada sikap saling menjaga antara Anthony dan Dante. Apalagi memang Anthony tidak tahu siapa sebenarnya Dante, didalam dunia spionase seperti ini tidak ada yang bisa dipercaya dan inilah yang membuat Anthony curiga.


“Katakan saja dimana posisimu sekarang.” ujar Dante karena di tidak mau memberitahu Anthony dulu walaupun Anthony belum tahu siapa dirinya dan Dante masih harus berjaga-jaga karena dia juga harus melindungi orang-orangnya.


“Aku ada di arah jam sepuluh dari tempat transaksi! Aku juga sudah menyiapkan panggungnya Dante! Aku tidak akan naik keatas sana tapi proyektor akan menampilkan disana.” ucap Anthony.


“Berarti kau berada diseberang bukit itu?” tanya Dante memastikan lokasi yang dikatakan Anthony.


“Hmmmm! Iya kau benar sekali, Dante.”


“Berarti kau bisa melihat dengan jelas kearah bukit?” Dante menanyakan pertanyaan yang paling penting baginya saat ini. ‘Berapa kekuatan yang ada dibelakangku? Siapa saja yang ada dibelakangku? Apakah dia bisa memberitahuku hal ini?’


“Iya! Ada sesuatu diatas bukit itu, Dante! Aku merasa curiga. Tapi aku sudah mempersiapkan pengamanan untuk aksiku supaya mereka tidak mengganggu nanti!” ucap Anthony lagi.


“Jadi kau memodifikasi rencana?” suara berat Dante penuh penekanan karena dia paling tidak suka dengan perubahan rencana apalagi disaat-saat mendekati waktu eksekusi.

__ADS_1


“Tidak, Dante! Rencana tetap sama seperti sebelumnya, sesuai yang kau inginkan tapi aku hanya menambahkan extra pengamanan saja supaya mereka tidak mengganggu rencanaku dan setidaknya aku bisa bergerak leluasa setelah memecah belah konsentrasi mereka nanti.” jawab Anthony menjelaskan.


‘Menarik! Apa yang direncanakan oleh anak ini? Dia cukup jenius juga bisa melakukan perubahan di akhir seperti sekarang.’ gumam hati Dante.


__ADS_2