PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 286. MANUSIA SEJENIS


__ADS_3

Jeff yang sebenarnya merasa jijik dan muak pada Tatiana hanya berusaha menenangkan dirinya agar semua rencananya bisa berjalan mulus. Dia bukan orang yang bisa diperintah seperti yang dilakukan oleh Tatiana yang arogan. Jadi Jeff sengaja merendahkan diri saat ini karena dia ada maunya. Dia bahkan sudah memikirkan untuk menguburkan Tatiana dan menyiksanya terlebih dahulu. Menjadikannya binatang peliharaan yang bisa dia permainkan sesuka hatinya, apalagi sepertinya Tatiana sudah mulai bergantung pada obat yang diberikannya.


“Tentu saja! Sekarang cepatlah kirim orang jangan membuang waktuku lagi!” perintahnya pada Jeff dengan nada arogan seolah dia adalah orang yang penting. Lalu Tatiana langsung mematikan teleponnya dan Jeff diseberang sana menunjukkan seringai licik diwajahnya.


‘Tatiana! Kau bercerai dengan Dante ini bukan berita yang bagus untukku! Sebenarnya aku ingin kau tetap bersama dengan Dante dulu untuk beberapa waktu lagi karena aku masih ingin memanfaatkanmu untuk menjatuhkan Dante! Tapi tidak apa, ini juga suatu peluang bagus! Tanpa Dante, kau bukan lagi siapa-siapa dan sudah tidak ada lagi yang akan melindungimu! Hahaha.’


‘Tapi mau bagaimana lagi? Kau sudah berpisah dengannya dan aku juga tidak tahu dengan jelas apa alasannya hingga pria yang katamu mencintaimu itu mau melepaskanmu! Mungkin aku harus menunggu sampai kau datang lalu bertemu denganku dan aku bisa mencari informasi lebih lanjut darinya.’ ucap Jeff sambil matanya memandang layar teleponnya.


Tok tok tok tok


Disaat bersamaan pintu ruang kerja Jeff sudah diketuk.


“Masuk!” ujarnya sambil menekan tombol suara yang berhubungan dengan speaker kecil yang ada dipintu.


“Permisi Tuan!” seorang pria masuk sambil menundukkan kepalanya.


“Apa yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Jeff dengan memicingkan matanya pada pria itu.


“Saya ingin melaporkan tentang penyerangan di San Marino!”


“Hmmm! Ceritakan apa yang terjadi disana.” suara Jeff terdengar sangat dingin pada orang kepercayaannya itu.


“Penyerangan di San Marino berjalan sesuai dengan rencana Anda. Rodrigo melakukan sesuai dengan yang anda perintahkan yaitu membunuh White!”


“Kau yakin dia benar-benar membunuh White?” Jeff benar-benar terkejut sehingga dia mengerjapkan matanya dan ada sinar puas disana.


“Yakin Tuan!” jawab pria yang sudah bekerja pada Jeff selama sepuluh tahun itu. Dia bicara sambil menganggukkan kepalanya. “Awalnya kami memang tidak yakin kalau dia akan menyerang orang itu! Peristiwa pertama di gudang persenjataan itu kami sebenarnya curiga.” ucapnya lagi ketika melihat Jeff tak merespon apapun.


“Katakan padaku apa yang dia lakukan di gudang itu?” Jeff menyandrakan tubuhnya disandaran sofa.


“Di gudang itu yang Rodrigo lakukan adalah mengecek semua senjata satu persatu walaupun hanya sampelnya lalu dia meminta semua anak buah kita memindahkan ke gudang dibelakangnya. Ide itu teretus setelah dia mengecek ruang belakang.”

__ADS_1


“Apa?” Jeff tak mengerti tapi kalimat itu yang keluar dari bibirnya, dia merasa terkejut.


“Kami curiga kalau ingatannya sudah kembali Tuan! Karena dia membawa semua senjata ke gudang belakang dan tidak menyisakan apapun dalam ruangan itu! Kami tidak punya banyak waktu karena ada penjaga, maksudku ada anak buah Dante yang akan segera kembali. Tapi Rodrigo benar-benar memiliki permintaan aneh dengan menghabiskan waktu kami untuk mengangkut senjata namun untungnya kami masih selamat, dia sudah memasang bom ketika meninggalkan tempat itu.”


“Oke, jadi intinya adalah kalian mengeluarkan senjata kemudian dia baru memasang bomnya?” ujar Jeff memastikan apa yang dikatakan oleh orang kepercayaannya itu.


“Benar Tuan! Rodrigo melakukan itu.”


“Lalu?” tanya Jeff lagi mengerutkan dahinya,


“Lalu dia memeriksa gudang belakang tapi tidak ada yang dilakukannya disana, Tuan. Rodrigo hanya menyuruh kami untuk meledakkan gedung kosong itu. Karena itu kami curiga apa benar ingatannya sudah kembali atau berusaha untuk menolong temannya? Tapi ternyata tidak, dia membuat rencana memasang bom di saat Tuan White sudah turun lalu kami segera memasang dimobilnya, dia sendiri ikut memasangnya.”


“Lalu?”


“Sesuai dengan prediksi, setelah penyerangan itu White masuk kedalam mobilnya dan beberapa saat mobil itupun meledak.”


“Oke! Jadi itu saja yang ingin kau laporkan padaku?”


“Good job!” Jeff tersenyum, “Berarti dia sudah semakin percaya pada Gabriella kan?” tanya Jeff sebenarnya dirinya sendiri tetapi didengar oleh anak buahnya.


“Apa yang harus saya lakukan padanya, Tuan?” tanya pria itu lagi.


“Biarkan saja dia masih berguna untuk kita!” Jeff tersneyum. “Untuk sementara biarkan dia melakukan apapun yang dia mau! Semua tujuannya adalah target yang aku buat.”


“Baik Tuan!” pria itupun mengangguk paham.


“Aku juga punya tugas untukmu selanjutnya kau jemput wanita di lokasi yang sudah aku kirimkan ke handphone mu. Jemput dia sesegera mungkin! Kau bisa melihatnya dan pastikan tidak ada satu orangpun yang melihatmu membawa wanita itu.”


“Baik Tuan! Saya mengerti.” jawab anak buah Jeff sambil menunduk lalu pergi meninggalkan ruangan


itu. Tampak ekspresi senang diwajah Jeff.

__ADS_1


“Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku!” ujarnya sambil terkekeh, “Dante! Satu anak buahmu sudah menjadi pengikutku. Dia sangat loyal dan lihatlah apa yang dia lakukan? Dia membuatmu lelah bukan? Kau rugi besar dan mendapatkan musuh besar.” senyum pun merekah di bibir Jeff Amadeo.


“Ini baru satu perintah! Kita lihat sajananti saat aku memberikan perintah yang lain. Dia bahkan telah membunuh orang yang sangat berjasa dalam hidupnya! Bukankah ini semakin menarik dante?” ujar Jeff lagi. “Setelah kau dan White tidak ada lagi maka puncak tertinggi adalah milikku! Para agen-agen kecil mereka akan loyal padaku dan mereka akan memberikan empati padaku! Itu artinya selain aku berusaha untuk mendapatkan Bella, aku juga bisa mendapatkan popularitas dan aku bisa menjadi penguasa yang sejati setelah kau dan White hilang dari dunia ini.” ucap Jeff lagi yang sangat senang dengan rencananya.


Kemudian dia meraih handphonenya dan menghubungi adik perempuannya.


“Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?”


“Dimana dia?” tanya Jeff.


“Dia belum kembali, mungkin sebentar lagi dia akan kembali kakak. Kenapa kau menanyakan tentangnya? Ada apa lagi?” tanya Gabriella.


“Pastikan kau terus memberikan dia informasi tentang kita! Jangan lupa juga tetap berikan obatnya!”


“Soal obat itu aku selalu memberikannya. Kau jangan khawatirkan soal itu kakak!”


“Bagus! Karena dengan obat itu apabila diminum rutin selama satu tahun akan mengganggu pikiran seseorang, jadi dia bisa melupakan masa lalunya lebih cepat! Itu tidak akan membuatnya mengingat kembali apa yang sudah dilupakannya!”


“Tentu saja! Aku akan melakukan itu. Karena aku juga tidak ingin dia mengingat masa lalunya. Aku ingin dia tetap menjadi milikku selamanya!”


“Hmmm! Tapi kau harus pastikan kalau apa yang dilakukan harus menguntungkan untukku, kau mengerti itu kan Gaby?”


“Tentu saja kak!”


Klik!


Jeff sudah mematikan teleponnya dan Gabriella menaruh kembali handphonenya diatas nakas. Saat itu tiba-tiba pintu terbuka. “Apa kau sudah bangun? Siapa yang kau telepon barusan?”


“Hhh! Sejak kapan kau ada dikamar mandi Rodrigo?” tanya Gabriella yang kaget.


“Kau tidak menyadari kedatanganku?” Barack masih bersandar di pintu kamar mandi saat bicara.

__ADS_1


__ADS_2