
“Well, apakah dia sudah tahu?” Anthony berteriak agak kencang pada Henry.
“Kalau aku sudah tahu, apakah menurutmu dia tidak akan tahu?” ada senyum diwajah Henry ketika dia menjelaskan ini. Dia sengaja membuat Anthony berpikir. Pria itupun diam ditempat dan tidak bertanya lagi pada Henry, hanya ada genuruh didalam hatinya.
“Oh iya, aku lupa pintu belakang tidak terkunci sampai jam empat pagi, jadi kau tahu harus kemana perginya!” Henry bicara lalu dia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Anthony dan tidak lagi menoleh padanya.
‘Dia memberikan aku jalan keluar! Tapi dia memberikan aku misi tambahan! Siapa yang harus aku selamatkan? Apakah itu ada keuntungannya untukku?’ Anthony mencoba memikirkan ucapan Henry sambil sedikit berdecak.
“Tapi baguslah! Mereka sudah mencoba membunuhku dua kali tadi pagi dan kemarin malam! Pantas saja karena mereka tahu siapa aku!” Anthony mendengus. “Tapi bagus juga teori bolanya, sampai membuatku tidak sadar kalau tujuanmu adalah aku!” Anthony kembali terkekeh lalu masuk kedalam mempersiapkan apa saja yang harus dilengkapinya.
“Untuk misi penyelamatan aku tidak boleh main-main! Selain mengeluarkan orang itu aku juga harus menyelamatkan diriku sendiri, bukan? Tempat ini bukan tempatku lagi!” celetuk Anthony lagi, dia juga menyiapkan beberapa barang yang penting seperti pakaian beberapa peralatan yang sudah dibawa olehnya juga merakit sebuah senjata. ‘Apa aku harus memberitahu jenderal?’ Anthony mencoba berpikir lalu dia memilih memantapkan hatinya dengan menggelengkan kepalanya.
‘Aku belum mendapatkan bukti apapun disini! Aku rasa aku tidak bisa memberitahunya dulu, biar aku temukan dia dulu dan bicara dengannya!’ ucap Anthony lagi agak galau tapi dia sudah memakai tasnya ketika langit sudah mulai agak gelap dan Anthony keluar dari ruangan tempat tinggalnya. Asrama tempat tinggal karyawan itu tidak terlalu ramai di jam segitu karena setiap orang masih bekerja dan mereka banyak yang menikmati makan malamnya diruang makan karyawan.
Anthony pun langsung keluar tanpa banyak pertanyaan, dia langsung menuju tempat yang sudah dijelaskan oleh Henry lalu bersembunyi disana menunggu hingga waktu yang tepat. “Sampai kapan aku harus menunggu disini?” ucap Anthony yang mulai agak resah tapi dia benar-benar bersabar untuk menunggu, cukup lama Anthony berdiam disana hingga akhirnya senyum Anthony bisa merekah. “Yang aku tunggu sudah datang!” Anthony pun bersembunyi lebih dalam di kegelapan.
“Apa yang dia lakukan disana? Aku sungguh menyangka bahwa tempat itu adalah tempat listrik.” Anthony bicara sendiri tapi kemudian dia mendengus.
“Lama juga dia didalam sana.” Anthony sudah semakin tidak sabar. “Sampai kapan aku harus menunggu disini?” Hampir satu jam berlalu tapi Dante belum tampak juga. Hingga…..
Kreeeeekkkkk
__ADS_1
“Huh…..pintu akhirnya dibuka juga!” ucap Anthony yang kini mulai kembali fokus.
“Henry! Kapan dua orang lagi itu kau lepaskan?”
‘Dua orang?’ gumam Anthony lagi. ‘Apakah dua orang itu Sharon dan Elie? Sharon kekasih Ricci yang entah ada dimana itu?’ Anthony mencoba berpikir tapi dia masih diam ditempat persembunyiannya.
“Besok Tuan!” jawab Henry yang berdiri berhadapan dengan Dante.
Anthony terus menajamkan pendengarannya untuk bisa mendengar jelas pembicaraan kedua orang itu. ‘Ah pantas Henry bilang kalau dia bukanlah misiku! Karena mereka sudah akan dibebaskan!’ Anthony tersenyum tipis.
“Hati-hati dengan mereka! Aku tidak ingin mereka bicara dengan Anthony! Kau harus pastikan memberikan pengamanan khusus pada keduanya!” ujar Dante.
‘Ah, benar saja dugaanku! Ternyata mereka adalah orang-orang yang kena hukuman karena masalah kasus suratku itu.’ Anthony sedikit berdecak. ‘Ini semua karena kesalahanku.’ celetuk Anthony lagi.
“Kau ingin bicara apa?” suara Dante meladeni.
“Apa saya harus mengantar makanan untuk nona Bella?”
Deg!
Saat inilah hati Anthony mulai merasa tidak nyaman.
__ADS_1
“Biarkan saja! Tak perlu memberikannya makan tak perlu memberikan minuman. Aku akan pikirkan kapan aku akan memberikannya!”
Mata Anthony sontak membelalak kaget. ‘Gila! Tidak diberi makan dan minum bisa membunuh Bella! Pantas saja Henry menyuruhku untuk menjemput wanita itu! Berarti orang yang dimaksud Henry adalah Bella!’ Anthony kemudian berdecak dan dia mulai bersiap-siap masuk. ‘Bella aku akan menyelamatkanmu!” ucapnya lagi sebelum keluar dari tempat persembunyiannya. Anthony tersenyum kecil ketika dia sudah berada dekat pintu. ‘Kau benar-benar tidak mengunci pintu ini Henry! Kau memeprcayakan aku untuk masuk bukan?’ celetuk Anthony dan dia langsung berjalan menuju lantai dasar mengikuti petunjuk yang dijelaskan oleh Henry.
“Tuan Dante! Tolong lepaskan kami!”
Anthony merasa tak nyaman mendengar suara itu. “Tapi besok mereka sudah dilepaskan, aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka!” celetuk Anthony dan dia pun melangkah lurus menuju pintu didepannya dengan tangan sedikit bergetar.
“Apa yang dilakukan Bella makanya dia dihukum disini?” tanya Anthony sambil membuka pintu dan berjalan cepat ke lantai dasar.
“Ruangan ini pengap dan panas sekali! Oh Tuhan batu granit ini. Ini tidak bagus!” pikir Anthony lalu membuka pintu yang dikatakan oleh Henry. “Oh Tuhan!” tak berpikir lama Anthony segera berlari menuju sesosok tubuh yang kini terlentang di lantai. “Bella! Kau tidak apa-apa?” ada kecemasan diwajah Anthony, ada rasa khawatir dan rasa kasihan saat melihat kondisi Bella.
“Bella!” Anthony mencoba memanggil wanita itu sekali lagi.
“Oh Tuhan! Ada apa ini? Kenapa kau tidak meresponku Bella?” Anthony semakin panik karena masih tidak ada jawaban dari wanita yang sedari tadi dipanggil olehnya. Bella tetap diam hanya pandangan matanya lurus keatas tanpa bicara satu katapun, bagai sudah tidak bernyawa lagi tapi jantungnya masih tetap berdetak. “Bella….ayolah respon aku Bella!” saking paniknya Anthony mencoba lagi untuk memanggil nama Bella. Dia tidak fokus sama sekali dengan tubuh Bella yang sedang polos dihadapannya.
Pikiran Anthony hanya tertuju pada satu hal, bagaimana caranya membuat Bella meresponnya. ‘Ya Tuhan, kenapa Bella bisa begini? Apa yang telah dilakukannya sampai dia dihukum seperti ini? Darah dimana-mana, tubuhnya dingin tampak sekali ketakutan pada dirinya. Kesakitan pada tubuhnya tapi dia tidak merespon ku juga dan ah! Pantas Henry menginginkan aku untuk menyelamatkanmu! Celetuk Anthony lagi didalam hatinya.
“Bella! Coba bicara padaku, Bella! Jangan diam saja begitu! Kau tidak apa-apa kan? Bisakah kau mendengarku Bella?” Anthony kembali memohon dan meminta Bella untuk meresponnya. Sekujur tubuh Anthony benar-benar gemetar melihat Bella. ‘Bagaimana bisa dia menyiksa wanita seperti ini? Dante, kau benar-benar sudah gila! Kau menyakitinya bukan hanya fisiknya tapi juga psikisnya.’ rasa bergemuruh didalam hati Anthony habis-habisan namun dia kembali melihat jam tangannya.
‘Misiku! Aku tidak boleh melupakan itu dan aku hanya punya waktu sedikit yang tersisa untuk keluar dari tempat ini!’ Anthony kembali mengingatkan dirinya. “Bella! Kau tidak mau bicara padaku? Apa kau tidak mengenaliku?” Anthony masih mencoba untuk tetap bicara, hanya saja kali ini Anthony tetap fokus dengan misi yang seharusnya dilakukannya. Anthony bicara sambil membuka tasnya. “Aku tidak punya apa-apa untuk kau pakai Bella! Aku hanya membawa sedikit barang.”
__ADS_1