PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 31. BISAKAH KAU JUJUR


__ADS_3

“Puffff…..ada apa sebenarnya antara kau dan Bella? Apa ada rahasia antara kalian berdua yang tidak mau kau beritahukan pada kami?”


Dante diam sejenak dan berusaha menahan diri, menimbang-nimbang apakah dia harus bercerita pada sahabatnya atau tidak. Apakah dia harus jujur mengatakan semuanya?


‘Aneh sekali sikapmu Dante! Selama aku mengenalmu kau hanya peduli pada keluargamu dan teman dekatmu saja. Tidak pernah mau peduli pada orang lain. Apa wanita itu keluarga Dante? Hubungan kekeluargaan seperti apa antara mereka?Kenapa aku tidak pernah tahu?’ ucap Barack dalam hatinya.


Barack memilih untuk diam dan menunggu sampai Dante sendiri yang bicara dan siap mengatakan semuanya pada Barack dan ketiga temannya yang lain. Pria itu merasakan banyak keanehan pada diri Dante sejak dia datang ke Indonesia dan bertemu dengan Bella.


“Dante! Apa kau tidak mempercayai sahabatmu sendiri?” tanya Barack lagi.


“Kenapa kau banyak tanya? Apa kau tidak bisa melakukan apa yang kusuruh?”


“Aku bisa. Selama ini apa pernah aku tidak melakukan perintahmu? Aku selalumelakukannya dan tidak pernah menolak satupun perintahmu, bukan? Termasuk permintaanmu agar aku menjaga Sarah sudah aku pertimbangkan! Bahkan aku memberikan kartu atm ku sendiri karena aku aku khawatir memberi uang tunai padanya.”


“Baguslah karena kau punya inisiatif. Apakah kau khawatir jika ada orang yang akan mengambil uangnya?” tanya Dante.


“Dante! Ini Indonesia bukan di Amerika yang anak kecil sudah pintar menyimpan uangnya. Coba bayangkan seorang anak seumuran Sarah memegang uang tunai sebanyak itu sangat tidak aman.”


“Ya aku tahu itu. Lalu bagaimana lingkungan asramanya, apa cukup aman?”


“Kalau kau bertanya sebagai orang awam maka akan kujawab aman tapi jika yang bersekolah disana bukan anak biasa atau tidak berasal dari keluarga yang berhubungan dengan dunia hitam seperti kita.”


“Jadi kesimpulannya kalau asrama itu tidak aman?”


“Begini ya, saat aku berada disana dan menunjukkan uang tunai yang akan kuberikan pada Sarah pada guru jaga, dia malah langsung mengijinkan anak itu keluar dari asrama. Kemanan juga hanya dijaga oleh satpam dengan senjata pentungan saja. Bagaimana menurutmu?Apakah aman seandainya ada orang jahat datang kesana?”


Barack sengaja menceritakan semuanya pada Dante dan membiarkan pria itu membuat kesimpulannya sendiri dan mempertimbangkan bagaimana keputusan akhirnya.


“Bagaimana jika seandainya aku tidak percaya pada sekolah itu?” tanya Dante lagi.


“Hmmm….aku juga berpikiran sama sepertimu.” balas Barack.


“Apa yang akan kau lakukan untuk melindungi Sarah?”

__ADS_1


“Aku akan mengirimkan anak buahku untuk pergi kesana dan menjaganya. Setelah itu aku akan memasukkan seorang guru ke sekolah itu untuk mengawasi Sarah. Aku akan meminta asistenku untuk mencari tahu tentang sekolah itu dan bagaimana cara melamar pekerjaan disana. Aku rasa dengan adanya orang dalam, kita bisa mengawasi setiap pergerakan disana.”


“Bagus. Aku suka idemu. Secepatnya kau lakukan, aku tidak mau jika terjadi sesuatu pada Sarah.”


“Ha ha ha aku sudah menyiapkan rencana ini karena aku tahu kau pasti akan menyuruhku melakukan ini.” jawab Barack.


‘Tapi sejujurnya aku juga mengkhawatirkan anak itu, dia masih muda dan cantik sekali, pantas saja kakaknya sangat khawatir. Andai aku pun punya adik seperti dia sudah pasti aku akan protektif apalgi kalau aku sudah tahu kalau orang-orang didunia hitam mencarinya.’ gumamnya.


“Aku serahkan soal Sarah padamu. Aku tidak meragukanmu untuk menjaganya.”


“So? Kau masih belum mau mengatakan apapun pada kami? Kami menunggu penjelasan darimu soal ini, Dante! Apa kau sudah tidak mengganggap kami saudaramu lagi?”


“Kumpulkan yang lain nanti malam kita adakan rapat setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Julian.” ujar Dante.


“Terimakasih Dante! Aku sangat senang kau masih menghargai kami sebagai saudaramu! Jangan sembunyikan apapun dari kami, kita selalu saling terbuka dan sudah seharusnya seperti itu.”


‘Aku paham maksudmu Dante! Syukurlah pada akhirnya kau mau jujur pada kami, kau stau-satunya diantara kita berlima yang tidak pernah menceritakan masalah pribadi. Yang kami tahu bahwa hubunganmu dan istri serta anakmu baik-baik saja,’ gumam Barck membatin.


“Hans sudah membawa pria itu, apakah kau mau menemuinya nanti?” tanya Barack.


“Ya. Secepatnya!”


“Apa kau mau pergi ketempat Hans?”


“Aku tidak tahu kemana Hans membawa pria itu tapi aku akan ketempatnya.”


“Begini saja, bagaimana kalau kita semua bertemu di tempat Hans saja. Kita bisa bicara disana, apa kau bersedia?”


Dante tidak langsung menjawab, dia terdiam sejenak sambil berpikir. ‘Aku tidak ingin mereka mengetahui apa yang ingin aku lakukan disana nanti tapi disana juga ada Hans. Bagaimanapun mereka pasti akan mengetahui apapun yang akan kulakukan. Hans pasti akan menceritakan semua pada mereka.’ gumam Dante.


“Baiklah. Aku setuju kita bertemu disana. Atur saja waktunya.” ujar Dante membuat keputusan.


“Oke aku akan memberitahu yang lainnya sekarang. Sampai jumpa disana, Dante!”

__ADS_1


“Jangan ada wanita! Kita disana untuk membicarakan sesuatu yang serius, bukan untuk senang-senang. Ingat itu!”


“Iya, kami mengerti.”


Klik!


Dante langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu lama. Begitulah pria itu, tidak suka basa basi dan membual panjang lebar.


“Sayang, kenapa kau kejam sekali pada teman-temanmu?” terdengar suara lembut wanita dari belakang Dante yang tak sengaja mendengar kata-kata Dante sebelum memutuskan panggilan.


“Apa kau mendengar semua yang kubicarakan ditelepon tadi?” tanya Dante membalikkan badan menatap istrinya. Saat wanita itu sudah berada didekatnya, tangannya tak bisa diam langsung mengelus rambut istrinya.


“Tidak. Aku hanya mendengar kalimat terakhir yang kau ucapkan. Hanya itu saja sayang! Tapi kau memang benar-benar kejam pada temanmu, mereka semua masih single dan butuh hiburan.” ujar Tatiana mengerucutkan bibirnya dengan kedua tangan memeluk pinggang Dante.


“Aku bukan kejam tapi aku tidak mau ada gangguan saat kami sedang bicara. Karena hal yang kami bicarakan bukan hal sepele jadi aku hanya membatasi mereka saat kami membicarakan urusan serius, sayang. Diluar itu mereka bebas mau berbuat apa.” Dante bicara sambil satu tangannya memegang dagu Tatiana hingga membuat wajah wanita itu terdonggak.


“Oh ya? Setahu ku kau selalu bicara serius dengan mereka. Kapan kau pernah bicara tidak serius?” Tatiana memutar bola matanya sambil tangannya memegang wajah tampan suaminya. “Dari dulu kau selalu serius, kau paling suka mengintimidasi orang lain. Apakah kau sadar kalau kau itu sangat menakutkan apalagi saat kau sedang mendapatkan mangsa.”


“Apakah menurutmu aku begitu?” tanya Dante balik.


“Iya memang kau begitu dan aku juga merasakannya. Aku ini istrimu, sayang. Aku yang tahu betul bagaimana suamiku.” senyum Tatiana sambil mengedipkan mata menggoda suaminya.


“Apa kau masih merasa seperti itu sampai sekarang?”


“Hem….sejak pertama kali bertemu denganmu kau sudah mencuri hatiku dan saat itu aku seorang gadis kecil berusia tujuh tahun. Saat itu aku tidak tahu apa itu cinta dan tidak mungkin ada benih-benih cinta tapi saat melihat pesonamu membuatku terpesona dan tidak bisa lepas darimu. Aku selalu ingin berada disisimu, bermain denganmu. Semakin aku dewasa kau semakin membuatku jatuh cinta lebih dalam lagi dan merebut hatiku. Apakah kau sudah melupakan kisah kita, sayang?”


“Tidak. Sedikitpun aku tidak pernah melupakan semua kisah kita.” kata Dante menggelengkan kepala lalu menoleh pada putranya yang sedang duduk dimeja sambil bermain lego.


“Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu bersamanya, sayang?” ucap Dante menunjuk kearah Alex dengan dagunya.


“Baru saja aku mau mengatakannya padamu. Tapi sepertinya kau sibukmemancing dari tadi.”


 

__ADS_1


__ADS_2