
“Nick! Kau juga disini? Benar dugaanku, pasti Dante memang ada disini. Kalian berdua ada disini dan apa kalian baru selesai membicarakan sesuatu?”
“Bukan urusanmu! Tapi jangan ganggu Hans dan jangan pernah mengganggu dua orang disana! Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Sudah sangat jelas kalau Dante tidak menginginkanmu lagi!” ujar Nick ketus.
“Haaahhh! Apa-apaan ini! Jadi Dante berlindung dibalik kalian semua, Henry, Hans, Nick untuk menghindari aku? Dia pergi untuk menghindariku dan mengatakan kalau dia menyukai wanita itu dan ingin mendekati wanita itu. Apakah itu rencana yang sudah dibuat Dante sehingga dia mengusirku?”
‘Eh, apa dia bilang? Kenapa dia menunjukk-nunjuk kearahku?’ gumam Sarah dalam hatinya, dia tidak mengerti bahasa Italia tapi dia melihat tangan Tatiana yang menunjuk kearahnya dan tatapan mata wanita itu sangat sinis. Tapi Sarah tidak bisa bertanya apapun dan lebih memilik diam.
‘Apa yang dilakukan Hans? Dia seperti tameng antara aku dan wanita itu! Sebenarnya ada masalah apa disini? Kenapa jadi sinis padaku? Apa karena aku menggandeng tangan Alex? Tapi ini kan anak Bella, berarti jelas aku ini tantenya! Aku lebih berhak menyentuh anak ini daripada dia!’
‘Apalagi dia kan sudah diceraikan Dante! Dia bukan ibu tiri Alex lagi karena ibu kandungnya sudah ada disini. Buat apa dia bikin ribut disini sih? Cih! Wanita ini…..dulu kupikir dia wanita berkelas dan cantik. Kupikir dia baik karena mau mengurus Alex yang bukan anaknya. Tapi ternyata…...puihhh!’ gumam Sarah didalam hatinya.
Meskipun dia tidak mengerti bahasa Italia tapi melihat pertengkaran didepannya, sedikit banyak dia paham kalau suasana sedang tidak baik dan dari tadi nama Dante terus yang dipanggil.
’Ah pasti kan wanita ini mencari Dante? Tapi kan Dante sedang bersama Bella. Aku juga tidak tahu kemana mereka pergi. Yang aku tahu Bella meninggalkan Alex tadi malam sehingga Alex menangis.’
‘Aku sempat mendengar dia menangis saat aku ingin masuk ke kamarnya. Untung saja ada Hans disana yang sudah menggendongnya.’ gumam Sarah karena tadi malam dia tidur tanpa menutup pintu penghubung ke kamar Alex. Dia sengaja membiarkannya sedikit terbuka sehingga dia masih bisa mendengar percakapan Dante dan Bella sebelum mereka pergi. Dia juga bisa mendengar Alex menangis.
“Aku rasa untuk bicara denganmu, Dante tidak perlu berlindung dibelakang kami! Dan kebetulan juga aku mendengar suara berisik disaat aku mau turun untuk menikmati the soreku jadi aku meresponmu.” ujar Nick dengan ketus membalas Tatiana.
“Kau! Kalian semua dengar ya, aku mau bicara dengan Dante. Apa dia ada diruang kerja?”
“Aku ada disini!” ucap Dante membuat semua orang menoleh.
__ADS_1
“Kau? Dari tadi kau ada disitu Dante?” Tatiana memerah wajahnya ketika melihat Dante. ‘Aduh rencanaku gagal! Aku tadinya ingin menyerang Dante. Aku ingin langsung marah-marah padanya dan ingin bicara dengan lebih terhormat tapi apa yang tadi ku lakukan?’ bisik Tatiana didalam hati.
‘Ternyata dia bersembunyi disana dan sengaja membuat teman-temannya menyerangku duluan? Jadi ini semua jebakan untukku?’ bisik didalam hati Tatiana yang sudah berpikiran lain. Tapi dia sebenarnya malas dan semua yang ada didalam kepalanya yang sudah direncanakannya matang-matang sebelum datang ke tempat Dante pun buyar seketika.
“Hmmm!” Dante menganggukkan kepala lalu dia menengol Alex dan Sarah, “Kalian berdua! Naiklah ke lantai atas dan masuklah ke kamar.” perintah Dante dengan tegas kepada dua orang yang masih berdiri dibelakang Hans. Sarah dan Alex pun menuruti perintah pria itu.
“Iya.”jawab Sarah tidak banyak bicara.
‘Aku melihat Bella diruangan itu! Dia memberi tanda untuk segera pergi! Aku mengikutinya sajalah.’ Sarah sempat melirik kearah belakang saat Dante bicara tadi, disana ada pintu dengan jendela seperti kaca kapal bulat dan Sarah melihat Bella.
“Kau mau bicara soal apa denganku?” tanya Dante yang masih bisa didengar oleh Sarah yang menggandeng tangan Aelx pergi kelantai atas.
“Aku ingin bicara denganmu tentang surat yang kau kirimkan padaku.”
“Lalu?” Dante memicingkan matanya menatap wanita didepannya itu.
“Surat itu dikirimkan oleh kepala pelayanku Henry kepadamu! Sebelumnya surat itu diberikan oleh pengacaraku. Kau mengerti maksudku?”
“Dante!” Tatiana melotot menatap Dante.
“Ada ada yang salah dengan apa yang kukatakan?”
‘Hah, pasti aku tidak mau menerima semua yang aku katakan tadi! Tapi mau bagaimana lagi Tatiana! Kau tidak memberikanku pilihan lainnya selain menyakiti dirimu dan hatimu.’ ucap hati Dante.
__ADS_1
“Kau benar-benar kejam sekali padaku, Dante! Kau sudah meninggalkanku dan sekarang kau ingin mempermalukan aku didepan teman-temanmu?” Tatiana bicara agak sinis.
“Aku sama sekali tidak berniat melakukan itu tapi kau yang duluan memancing Tatiana!” kata Dante tersenyum kecil. “Kalau kau tidak datang kesini dan kau menandatangani surat perceraian itu saja, kau tidak akan merendahkan dirimu sendiri, bukan?”
“Dante!” Tatiana semakin marah dan memuncaklah emosinya bukannya Dante yang terpancing emosi seperti rencana Tatiana di awal.
“Aku harus bicara bagaimana lagi denganmu? Aku tidak bisa menandatangani surat-surat itu.”
“Lalu kalau kau tidak mau menandatanganinya aku juga masih bisa tetap banding pada hakim! Yang pasti kita akan bercerai hari ini atau besok! Dan itu tidak bisa ditunda lagi!” Dante menggelengkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
Dia sudah tidak mau bersama Tatiana lagi sehingga dia mengucapkan kalimat itu pada Tatiana. Keinginannya sudah bulat dan Dante tidak ingin ada gangguan untuk hal perceraian ini.
‘Aku butuh surat nikah itu! Aku ingin memberikannya pada Belinda Alexandra! Aku ingin menjadikannya istri sahku tapi aku harus menghilangkan status Tatiana dulu!’ bisik hatinya.
“Aku tidak terima semua ini Dante! Kau tidak tahu sudah berapa lama kita berhubungan?”
“Lebih dari dua puluh lima tahun, aku mengenalmu. Tentu saja aku tahu semua!” jawab Dante.
“Kalau kau memang tahu kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau tega sekali padaku Dante?”
“Karena kau yang memulai duluan Tatiana!” Dante tersenyum sinis.
“Jadi kau benar-benar tidak mau memaafkan aku lagi Dante?” akhirnya Tatiana menanyakan itu kembali tapi ekspresinya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. “Kau lupa dengan semua bantuan yang telah diberikan oleh ayahku? Kau lupa dengan semua yang telah kuberikan kepadamu? Sehingga kau tega bersikap seperti ini padaku?”
__ADS_1
“Aku tidak melupakan apapun Tatiana! Aku ingat semua yang kau sebutkan itu. Tapi bukan berarti kau bisa berbuat seenaknya dibelakangku dan memanfaatkan semua kebaikanmu di masa lalu sebagai hutang budi. Kalau kau ingin menganggap itu sebagai hutang budi maka semua hubungan kita yang sudah lewat termasuk semua kebaikan yang aku lakukan padamu sudah impas dengan semua keburukan yang kau lakukan itu! Kau paham maksudku bukan?”