
“Oh Dante, terimakasih. Aku tadi sangat khawatir kalau kau marah padaku dan tidak mendukungku.”
“Tidurlah! Aku akan mengecek Alex dulu.”
“Iya Dante sayang. Tapi----”
“Apalagi yang kau khawatirkan, hmm?”
“Dia tidak ada dikamar Alex sekarang, bukan?” tanya Tatiana ragu.
Dante hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ‘Tidak. Aku rasa dia tidak ada disana. Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”
“Wajahnya lebam karena tamparanku. Aku tidak mau Alex bertanya padanya kenapa wajahnya lebam.”
“Apa aku sudah memberikan obat untuk lebamnya?”
“Belum. Tadi aku terlanjur marah, sudahlah besok aku akan suruh pelayan memberikan obat padanya.” ujar Tatiana memasang wajah bersalahnya pada Dante tapi dalam hatinya bersorak senang.
“Ya sudahlah. Kau istirahat saha Tatiana.” Dante pun berdiri lalu pergi meninggalkan Tatiana.
‘Huh kenapa kau memukulnya Tatiana? Aihhhhh kenapa aku jadi kesal begini karena istriku memukulnya ya? Tapi tidak mungkin juga aku melarang Tatiana karena tadi aku pun memukulnya tapi saat orang lain yang memukulnya rasanya hatiku tidak tenang! Kenapa perasaanku seperti ini? Apalagi saat mendengar ocehannya tadi, lucu sekali! Wajah dan tingkahnya sambil mengumpat tadi sungguh menggemaskan tapi aku juga tidak tega jika Tatiana memukulnya. Aku bisa apa? Tidak mungkin aku terang-terangan menentang istriku dan membela Bella, nanti Tatiana malah semakin curiga.’
“Mungkin dengan memeluk Alex, aku bisa tenang dan merasa nyaman dan aku bisa mengendalikan diriku.” ucap Dante lalu membuka pintu kamar Alex. “Apa yang dilakukannya disini?” lirih Dante ketika dia melihat seseorang tidur sambil memeluk Alex. Keduanya tampak pulas saling memeluk. “Hari ini dia tidak menemani Alex dan dia malah sibuk bermain, Bella sama sekali tidak peduli dengan pekerjaannya dan tidak memperhatikan Alex.” Dante mendengus.
“Tapi kenapa setiap kali dia berada disini menemani Alex dan melihatnya memeluk anak itu seketika aku merasa senang dan semua kesalku hilang, aku selalu luluh jika melihatnya bersama Alex seperti ini.” gumam Dante lirih, dia tidak sadar jika Bella tidak menemani Alex karena Dante sudah membawa anak itu pergi bersamanya.
“Apa aku perlu membangunkannya?” tanya Dante lagi dengan senyum getir diwajahnya. Bukannya membangunkan Bella, malah dia mengunci pintu kamar Alex lalu menghirup aroma tubuh wanitanya sehingga membuat Bella terbangun.
“Tuan, apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau mengunci pintunya? Kenapa begini?” lirih Bella pelan. Dia terbangun karena merasakan hembusan napas dilehernya.
“Kau terbangun?” tanya Dante.
“Iya tuan. Hembusan napasmu ditengkukku membuatku terbangun.”
‘Duh kenapa lagi sih dia ini pakai peluk-peluk aku dan anaknya segala? Tangannya cukup panjang melindungi kami berdua dalam dekapannya.’ gumam Bella, ada senyum muncul diwajahnya. Hangat pelukan Dante membuatnya lupa atas semua yang dilakukan pria itu padanya.
__ADS_1
“Ohhh jadicara-cara begini bisa membangunkanmu ya?” ucap Dante mempererat pelukannya. Dia malah menekan wajahnya ke tengkuk Bella dan menghirup wangi tubuh wanita itu.
“Kalau kau sudah ada disini, biar kau saja yang temani Alex ya biar aku kembali ke kamarku.”
‘Huh! Aku mau jual mahal dulu padamu, karena kau sudah memukulku tadi. Kau pikir semudah itu meluluhkanku? Cuma modal pelukan doang? Tak sudi!’ bisik hati Bella.
“Tidak boleh! Kau tidur disini!”
“Tidur seperti ini? Dengan kau memelukku begini? Bagaimana kalau….”
“Tidak boleh banyak tanya padaku!”
“Ya sudahlah kalau begitu aku tidur lagi.” balas Bella ketus. Membuat Dante tersenyum tapi Bella tidak bisa melihatnya.
“Apa kau senang bermain dibelakang, hm?”
“Tadi aku sudah menjawabnya, kenapa sih bertanya lagi? Apa kau belum puas memukulku karena aku bermain-main disana bersama mereka?”
“Dasar bodoh! Apa kau pikir aku memukulmu hanya karena alasan itu?” tanya Dante balik.
“Karena kau tidak memperhatikan anakku, aku menyuruhmu untuk memandikannya tapi kau malah mengajaknya main sepeda! Aku membawanya pergi tapi kau bukannya menunggu dikamarnya tapi malah bermain dihalaman belakang seolah-olah kau menikmati kepergian kami. Kau bisa lepas dari pekerjaanmu dan bersenang-senang disini!”
“Kenapa? Kenapa kau melirikku begitu?”
“He he he tumben bicaranya panjang lebar begitu, biasanya juga bicara irit.” ujar Bella tersenyum.
“Aw…..sakit! Jangan cubit pipiku!” Bella langsung memegang pipi kanannya. “Jadi kau marah bukan karena aku dekat dengan Anthony dan Ricci?” tanya Bella sambil mengelus pipinya.
“Bukan! Kau tidak memperhatikan anakku, kau malah dekat-dekat dengan pria lain di mansionku. Itu alasanku harus mencambukmu!”
Dante memberikan alasan sebenarnya setelah emosinya reda dan sudah tidak ada lagi emosi yang tersisa karena tangan Bella memeluk erat tubuh Alex. Dante selalu merasa senang melihat ibu dan anak itu saling berpelukan.
“Oh begitu ya! Jadi kau tidak suka kalau aku dekat dengan pria lain, iyakan?”
“Sejak awal sudah kukatakan untuk menjauhi semua pelayan laki-laki. Apa kau lupa, ha? Aku sudah mengatakan itu semua sebelum kau datang kerumahku!”
__ADS_1
“Tapi mereka baik padaku! Masa aku tidak boleh baik sama mereka?” Bella mencoba membela diri.
“Jadi kau pikir aku tidak baik padamu?” celetuk Dante.
“Awww, jangan cubit lagi kenapa sih?” teriak Bella pelan supaya tidak membangunkan Alex.
“Lagi-lagi kau membandingkan aku dengan orang lain. Aku tidak akan segan-segan menghukummu lebih berat dari tadi jika kau masih melakukan itu.” kata Dante yang tidak suka dibandingkan dengan laki-laki lain.
“Tapi itukan kenyataannya? Memangnya kapan kau baik padaku? Kau tahunya hanya marah dan menyisaku saja!” ujar Bella sambil berpikir. “Kau siksa fisikku, kau siksa batinku dan kau siksa hatiku sejak pertama kali kita bertemu.”
“Apa kau bilang?” Dante merubah posisinya jadi duduk dan memandang Bella yang masih memeluk Alex.
“Oh iya, bagaimana dengan adikku? Apa kau sudah menemukan Sarah?” Bella sengaja mengalihkan pembicaraan karena dia pikir kalau Dante akan merasa bersalah dan kasihan padanya dengan begitu dia tidak akan marah lagi pada Bella. Toh, dia juga kehilangan adiknya karena Dante.
“Kami masih mencarinya.” intonasi suara Dante datar dan tidak ada penenkanan.
“Baiklah kalau begitu terimakasih.” ucap Bella lalu bangkit berdiri.
“Eh kau mau kemana?” tanya Dante.
“Karena kau sudah ada disini Tuan Dante yang terhormat! Aku balik ke kamarku dulu ya. Sebenarnya tadi Alex menangis makanya aku kesini. Saat aku membuka pintu kamar untuk mengecek, dia sudah terlihat panik dan sedih karena sendirian jadi aku mencoba menenangkannya.” kata Bella menjelaskan alasannya berada dikamar Alex. Dia tidak mau nanti malah disalahkan lagi.
“Apa ini semua masih sakit?”
“Ini bekas tamparan istrimu, tuan.”
“Hmmm…..”
“Ini semua sakit tapi tidak sesakit hatiku karena kau mencambukku dan menyakiti tubuhkku.” jawab Bella singkat sambil berjalan hendak kembali ke kamarnya.
“Tunggu!”
“Apalagi sih Tuan? Apa belum cukup tadi mencambukku? Menginjak kepalaku dan menyiksaku?”
“Jauhi mereka semua! Aku tidak suka kau bermain dengan mereka!” perintah Dante menatap Bella.
__ADS_1
“Huh, aku juga sudah berusaha menjauhi mereka tapi mereka ingin bermain dan kenalan denganku, lagian aku juga stress kalau dikamar terus sendirian tidak ada kegiatan. Lama-lama aku bisa gila tau ngak?” Bella memberikan perlawanan atas perintah Dante.