PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 102. KULIHAT CINTA DIMATANYA


__ADS_3

Setelah kepergian Dante, Bella pun membersihkan tubuhnya dan berpakaian. Dia memilih pakaian berwarna lembut membuatnya terlihat sangat cantik dan fresh. “Ahhhh! Apa dia akan memasakkan makanan seperti yang dijanjikannya?” celetuk Bella yang kembali berbaring diranjangnya setelah mengeringkan rambutnya yang basah. Bella berguling-guling ditempat tidurnya seperti seorang anak kecil. Wajahnya yang polos tersenyum bahagia, tidak ada satupun hal negatif yang terlintas dipikirannya. Bella benar-benar terlihat seperti layaknya anak kecil yang antusias menunggu ibunya mengantarkan makanan kesukaannya.


“Sebenarnya dia menyebalkan, bahkan sangat menyebalkan. Dia juga sombong dan tidak pernah memberikan apa yang kuinginkan. Tapi apa yang terjadi? Tiba-tiba dia malah memberinya saat aku sudah tidak meminta lagi. Ha ha ha…..Tuan Dante kau luar biasa. Tahukah kau bahwa beberapa hal tentangmu saat menyentuhku mengingatkanku pada pria itu? Caramu bermain persis sama sepertinya. Tapi tidak mungkinlah kalian orang yang sama, aku hapal betul pria itu. Kenapa ya aku merasa sangat terlindungi dan merasa aman saat bersama Dante? Walaupun dia galak dan pemarah seperti kemarin tapi dia selalu datang kembali dan dia selalu mengobati lukaku baik luka fisik maupun luka hatiku. Haruskah aku masih marah padanya? Tidak! Dia sudah memberiku hadiah pagi ini.’


Bella tertawa kecil sambil senyum-senyum tak jelas masih ingat bagaimana Dante menghunjamnya tanpa henti dan dia benar-benar merasa puas. “Perasaan ini aneh! Aku sangat menyukainya terutama ketika dia membenci dan menolakku. Dia suka mempermainkanku tapi aku melihat cinta yang menggebu dimatanya. Walaupun dia tidak pernah mengatakan dia mencintaiku tapi binar matanya tak bisa berbohong. Aku merasa nyaman melihat matanya meskipun kadang mengerikan.’


“Eh! Apakah kira-kira istrinya tahu ya apa yang kami lakukan dikamarku? Ah tidak mungkinlah, kalau dia tahu pasti dia sudah mendatangiku sekarang dan memarahiku. Mungkin juga dia akan membunuhku karena aku sudah bercinta dengan suaminya. Dasar mak lampir! Bermuka dua, huh…..rasanya aku ingin menghajarmu kalau aku tidak ingat kalau hidupku tergantung pada kalian berdua. Tapi aku merasa puas karena suaminya yang memberikannya padaku tanpa kuminta ha ha ha ha…..pelan-pelan saja aku akan cari cara untuk memberi pelajaran pada mak lampir itu!’


“Ah lupakan! Aku sangat bersyukur karena dia memperlakukanku baik pagi ini, semoga saja sepanjang hari dia bersikap baik padaku.” Bella terus saja bicara sendirian sambil memikirkan apa yang akan dilakukannya bersama Dante hari ini. Bella lupa kalau Dante sudah mengatakan padanya jika dalam waktu satu atau dua hari dia akan pergi.


“Bosan juga kalau dikamar terus tapi aku tidak boleh keluar kama bukan? Kalau begitu aku menunggu disini saja. Apa aku harus mengecek Alex di kamarnya?”


Bella menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu, sebaiknya aku menunggu saja. Wanita itu bilang kalau aku hanya boleh pergi ke kamar Alex kalau anak itu yang memintanya.” wajahnya pun langsung cemberut dan kembali merebahkan tubuhnya ditempat tidur. “Apa yang bisa kulakukan didalam kamar inu? Sangat membosankan, hanya ada TV tapi aku tidak terlalu suka nonton TV mungkin ada hal lain yang bisa kulakukan diwaktu senggang.”


Bella mencoba memikirkan kegiatan apa yang bisa dia lakukan diwaktu senggang untuk mengalihkan perhatiannya sekaligus meningkatkan kemampuan diri. Dia masih ingat semua ucapan Dante padanya bahwa dia harus menjadi wanita kuat, mandiri dan sukses.

__ADS_1


“Tuan Dante bilang aku harus melakukan sesuatu yang berguna untuk peningkatan diri dan masa depanku, bukan?” ucapanya dalam hati dan setelah memikirkannya cukup lama, sesuatu yang disukainya memang main piano. Tapi harus ada hal lain selain main piano, bukan?


“Aku ingin bermake-up, aku suka merias wajahku agar terlihat lebih cantik. Bukankah itu juga bagus ya untuk peningkatan diri? Tapi disini tidak ada alat make-up. Ck!” Bella kembali berdecak. “Kalau aku minta make-up, kira-kira dia masih kasih ya? Hmmm aku tidak yakin, apa justru nanti dia akan bilang aku ingin menggoda pelayannya disini? Heissshhh. Bagaimana kalau aku mau beli make-up sendiri?” terbersit ide dalam benaknya.


“Oh iya! Aku kan masih punya uang tiga puluh ribu dolar didalam tasku! Apa aku bisa minta tolong pada seseorang untuk membelikanku make-up? Harganya pasti tidak terlalu mahal. Aku ingin merias wajahku, aku juga butuh skincare dan juga alat rias.” Bella yang sudah biasa merias wajah kini pikirannya kembali pada masa-masa saat dia bekerja sebagai wanita malam.


“Baiklah. Aku akan mencoba membujuk salah satu pelayan untuk membelikanku make-up dan skincare. Mungkin Sharon mau ya? Atau Rita mungkin?” Bella bergumam sendirian mencoba memikirkan siapa diantara para pelayan yang bisa dia minta tolong.


Tok tok tok tok


“Ah makananku sudah datang!”


“Ini makanan untukku?” tanya Bella pada orang yang mengantar makanan itu, matanya juga menatap baki makanan dengan penutup stainless sudah tak sabar.


“Iya Bella, ini makanan untukmu tapi maaf ya sesuatu terjadi jadi kami tidak bisa membawakan makanan yang seharusnya untukmu.” ujar orang itu dengan ekspresi wajah yang terlihat murung. Dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa memenuhi perintah Dante akibat ulah Tatiana.

__ADS_1


“Oh, apa pecah lagi?” tanya Bella spontan seolah dia sudah tahu apa yang terjadi.


“Heeeh!…….” terbata-bata pelayan itu ingin mengatakan sesuatu tapi dia hanya bisa nyengir. Meskipun dia tidak mengatakan apapun tapi Bella sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.


“Tidak apa-apa. Makan ini pun juga tidak masalah, aku senang. Terimakasih ya sudah membawakan makanan ini untukku.” ucap Bella tersenyum. ‘Aku tahu apa yang terjadi meskipun kau tak mau mengatakannya. Pasti istrinya mengulangi lagi drama piring pecah iyakan? Huh….kita lihat sampai dimana kemampuannya. Apa dia mau memecahkan semua piring dirumah ini? Huh naif sekali!’ bisik Bella didalam hati. ‘Aku sangat yakin jika Tuan Dante tidak tahu kalau makanannya tidak sampai padaku. Tidak apa-apa. Teruskanlah bermain-main ya mak lampir!’


Bella sudah tidak mau pusing dengan urusan makanan dan drama piring pecah lagi jadi dia pun tidak ingin menahan pelayan itu lama-lama karena dia bisa melihat ekspresi bersalah diwajah pelayan itu. “Sudah ya. Sekali lagi terimakasih.”


“Sama-sama Bella.” jawab pelayan menyerahkan baki pada Bella.


“Hei kenapa bakinya kau pegang erat? Bagaimana aku mau ambil?” tanya Bella.


“Hem….ada pesan juga dari Anthony. Dia menuliskan surat untukmu dan suratnya ada dibawah piring tempat piring ini.” jawab pelayan itu.


“Oh, baiklah. Terimakasih.” jawab Bella lagi dan membiarkan pelayan itu meletakkan makanan diatas meja kecil dikamarnya lalu pergi keluar. Dia tidak menyadari jika dikamarnya ada penyadap suara.

__ADS_1


“Argggggg! Kecelakaan lagi? Aku jadi tidak bisa makan makananmu? Lihat apa yang mereka kirimkan padaku. Aku pikir aku akan memakan masakanmu ternyata yang dikirim padaku masakan buatan koki. Arrrgggggggg!” Bella menghentak-hentakkan kakinya penuh kekesalan.


Bella sangat marah dan mengumpat berkali-kali, dia memaki makanan yang ada dihadapannya. “Kau pembohong! Kau sudah janji! Seharusnya kau pastikan makanan itu sampai padaku.” Dadanya naik turun karena amarah, hidungnya kembang kempis dan matanya merah menahan tangis. “Aku bukan mai yang ini! Kau sudah janji tidak akan membawakan makanan ini, semua tidak adil! Aku sudah rindu  sekali dengan masakanmu! Arrgggggg…..apa kau tahu istrimu memecahkan piring lagi? Kemarin dia melakukan itu, sekarang dia melakukannya lagi!” Bella pun cemberut.


__ADS_2