PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 211. AKU INI AYAHMU!


__ADS_3

Dante adalah orang yang selalu lembut pada Tatiana dan selalu menuruti semua keinginannya. Melihat Tatiana cemberut sedikit saja Dante sudah tidak tega tapi sekarang semuanya berubah dan hal itu membuat Tatiana tak percaya dan bingung. Sibuk dengan pikirannya tentang perubahan sikap Dante, tiba-tiba ponselnya berbunyi,


Dreeet dreeettttt dreettttt


“Iya kenapa?” Tatiana masih memegang jantungnya yang masih belum stabil  karena kaget dibentak oleh Dante tadi. Dia masih belum tenang setalah dibentak dan dikasari oleh Dante tadi.


“Kapan kau bisa membawanya keluar? Kau bilang disana ada penjaga dan kita tidak bisa masuk sembarangan kesana. Lalu kapan kau akan membawanya kerumah sakit?” tanya Lorenzo.


“Aku rasa aku tidak bisa membawanya sekarang.”


jawab Tatiana dengan sejujurnya.


“Kau sudah berjanji padaku Tatiana!” Lorenzo terdengar tak senang mendengar ucapan Tatiana.


“Lorenzo dengarkan aku! Dante tidak bisa diajak bekerjasama, suamiku sedang ada masalah sekarang dan dia tidak mengizinkan aku membawa wanita itu keluar. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya tapi tadi dia bahkan membentakku dan bicara kasar padaku! Dia tidak pernah melakukan itu Lorenzo!”


Kini Tatiana yang gantian berteriak pada Lorenzo sambil berjalan mondar mandir dikamarnya. Berbagai perasaan campur aduk dan otaknya dipenuhi berbagai macam pikiran tentang perubahan sikap Dante padanya.


“Tatiana! Kau membuat masalah ini semakin rumit. Kau tahu orang seperti apa Jeff Amadeo? Aku sudah menjanjikan padanya kalau aku akan membawa Bella padanya! Dia akan meminta Bella secepatnya padaku!” Lorenzo terdengar cemas dan ketakutan.


“Lorenzo! Bukan hanya kau saja yang menginginkan wanita itu dibawa oleh Jeff! Aku juga menginginkan itu terjadi. Tapi aku tidak bisa membawanya keluar sekarang Lorenzo!”


“Lalu bagaimana solusinya? Coba kau pikirkan caranya.”


Lalu terdengar ketukan dipintu kamarnya, Tatiana langsung mengecilkan suaranya dan hampir berbisik pada Lorenzo di telepon, “Tunggu sebentar, ada yang mengetuk pintu kamarku.”

__ADS_1


Tatiana langsung mematikan teleponnya sambil mendengus dia berjalan menuju pintu.


“Hebat sekali ya pelayan berani menggangguku!” ujarnya kesal karena biasanya tidak ada yang boleh mengetuk pintu kamarnya kecuali sesuatu yang penting.


“Ayah?” ucap Tatiana terkejut saat membuka pintu dan melihat ayahnya berdiri disana.


“Iya Tatiana. Mumpung Dante sedang tidak ada dirumah, bisakah aku bicara denganmu dulu sebentar?”


“Tidak ada yang perlu dibicarakan, ayah.” dengan terbata-bata Tatiana masih mencoba bicara dan menolak permintaan Omero.


“Tatiana! Aku tidak akan membuang waktumu.”


“Singkirkan tanganmu ayah!” ujar Tatiana menepis tangan ayahnya.


“Tidak! Aku ingin bicara dulu dengannya Tatiana.” Omero masih menahan pintu yang ingin ditutup Tatiana.


“Tatiana!” Omero sudah memegang tangan Tatiana. “Aku tidak akan membuang waktumu. Sebagai ayah dan anak mungkin kita perlu bicara. Sudah lama kita tidak keluar bersama bukan?” Omero tetap memaksa walaupun Tatiana menolaknya tetapi pria itu tetap menarik tangan Tatiana keluar dari kamar.


“Apa yang mau kau bicarakan denganku ayah? Kenapa kau memaksaku begini?”


“Hanya mengobrol ringan saja!” Omero tersenyum pada Tataina, “Mungkin akan lebih menyenangkan kalau kita bicara sambil jalan-jalan berkeliling, iyakan? Mumpung Dante sedang tidak ada dirumah dan Alex juga tidak ada dirumah, bukankah ini kesempatan bagus bagi kita untuk berbicara?”


Tatiana sangat ingin menolak tapi ayahnya memegang tangannya sangat erat dan mereka pun sudah menuruni tangga. Omero menyeret Tatiana untuk mengikutinya.


Tidak mungkin Tatiana kembali ke kamarnya. “Kenapa kita tidak bicara disini saja?” Tatiana berdecak dan mencoba untuk bernegosiasi dengan ayahnya.

__ADS_1


“Aku ingin bicara denganmu didalam mobil! Bukankah sudah lama sekali kita tidak pergi keluar bersama-sama?” ujar Omero yang langsung membuat Tatiana bergidik ngeri.


‘Oh Tidak! Jadi maksudnya adalah berkeliling dengan mobil? Bukan berkeliling di taman belakang?’ gumamnya dalam hati dan refleks berhenti melangkah. Tatiana mengatupkan bibirnya, hilang sudah semua kata-kata yang ingin diucapkannya.


“Ayolah Tatiana! Kenapa kau seperti patung saja berdiri disana? Apa kau ingin aku mengangkatmu ke mobil? Kenapa kau bersikap seperti ini pada ayahmu ini, Tatiana?” tanya Omero dengan tatapan matanya yang memindai gerak-gerik dan ekspresi Tatiana.


“Ayah…..aku….ehm….aku tidak bisa ikut denganmu.” tak ada penjelasan yang bisa diberikan oleh Tatiana kecuali gelengan kepala menolak keinginan Omero.


“Kau tidak ingin pergi bersama ayahmu? Bukankah kau adalah gadis favorit ayah ketika kau masih kecil Tatiana? Apa karena sekarang kau sudah dewasa makanya kau tak ingin lagi jalan-jalan bersama pria favoritmu ini?” Omero masih menyunggingkan senyumnya, dengan sikap tenang dia merangkul Tatiana dan memaksa wanita itu melangkah beriringan dengannya menuju ke mobil.


“Ayah….apa sebenarnya niatmu mengajakku keluar?” Tatiana memicingkan matanya.


“Aku tidak punya niat apapun. Masuklah kita bisa bicara sambil jalan. Mungkin kita bisa berhenti di coffe shop, kau suka kopi bukan?” Omero bicara dengan tangannya yang mendorong tubuh anaknya untuk duduk didalam mobil. Dia tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk bicara serius dengan Tatiana.


Sebagai seorang ayah, dia mendapat firasat jika ada yang tak beres dengan rumah tangga Tatiana dan Dante, dan itu kemungkinan besar ada hubungannya dengan penyakit Tatiana. Omero menyembunyikan tentang itu dari Dante karena dia ingin Dante tetap melindungi putrinya dan hanya dengan pria itu maka Tatiana mungkin bisa sembuh. Tanpa dia ketahui, penyakit Tatiana bahkan semakin parah dan dia semakin menggila.


‘Apa yang sebenarnya direncanakan laki-laki tua ini padaku?’ Tatiana ingin menolak tapi tatapan Omero yang tajam dan tidak ingin melepaskannya membuat Tatiana mengurungkan niatnya dan dengan terpaksa dia naik kedalam mobil.


‘Hal seperti ini yang paling kubenci! Dia selalu mencari kesempatan untuk bicara denganku saat Dante tidak ada, selalu saja begitu dari dulu! Apalagi Alex pun sedang tidak ada dirumah. Biasanya aku beralasan menjaga Alex. Apa dia ingin membicarakan masalah itu lagi?’ Tatiana mulai merasa tidak tenang.


“Pakai seatbeltmu! Santai saja Tatiana, tidak perlu tegang begitu. Tidak perlu memandangku seperti musuh, aku ini adalah ayahmu Tatiana! Aku mengajakmu keluar bukan karena aku membencimu tapi aku ingin bicara denganmu karena aku menyayangi dan memperhatikanmu. Aku ingin kau bisa menjalani hidup tenang dan bahagia bersama suamimu hingga hari tua kalian nanti!” Omero bicara sambil menginjak pedal gas. Dia tidak ingin menghakimi putrinya, pandangan matanya lurus ke depan mengemudikan mobilnya.


“Cepat katakan apa yang ingin ayah bahas denganku! Tidak perlu basa basi denganku!” ujar Tatiana dengan raut wajah cemas dan terlihat jika dia tidak tenang.


“Santai saja Tatiana! Kenapa harus terburu-buru? Kita punya banyak waktu untuk bicara dan jalan-jalan sebagai ayah dan anak.”

__ADS_1


“Ayah!” Tatiana meninggikan suaranya.


__ADS_2