
“Kau ingin mengeringkannya manual ya?”
“Kau tidak suka hair dryer kan?” ucap Dante sambil mengelus pelan dengan handuk sehingga tidak ada lagi air yang menetes membuat Bella senyum-senyum dan bisa dilihat Dante dari cermin didepannya.
‘Dia ini senyum-senyum ngak jelas. Pasti sudah berfantasi lagi pikirannya. Apakah ini pengaruh obat yang dulu sering diminumnya? Atau memang sifat aslinya begini? Aku harus menanyakan hal ini ke psikiater. Aku mau dia sembuh total dan bisa menjadi istri dan ibu yang baik buat anak-anakku.’
“Ambilkan sisirnya.”
“Ini!” Bella langsung memberikannya tanpa menunggu lama. Lalu dante menyisir rambut lebat panjang milik wanita itu. ‘Lembut sekali dia menyisirnya. Jadi begini caranya mengeringkan rambutku tanpa hair dryer? Menyisir rambutku lalu setelah semuanya tersisir lalu dia merapikannya dengan handuk?’
Bella merasa senang sekali menerima semua perlakuan Dante padanya. Rambutnya masih setengah basah tida kering tapi juga tidak lembab, sudah tidak ada air yang menetes lagi sehingga terlihat segar.
“Segini kurasa sudah cukup. Tidak akan membasahi pakaianmu lagi.” ucap Dante lalu meletakkan handuk digantungan.
“Terima kasih Dante! Semua yang kau lakukan padaku sangat manis.”
“Kuasai sedikit dirimu Bella. Jadilah wanita yang kuat.”
“Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa salah perbuatanku tadi Dante?”
“Sudah jangan banyak tanya. Pakailah pakaianmu itu.”
“Baiklah.” jawabnya mengerucutkan bibirnya.
Setelah memakai pakaian yang sudah disiapkan Dante untuknya dia berbalik menatap pria itu. “Sudah siap! Terus aku harus melakukan apa lagi?”
“Duduk diam saja disana.” perintah Dante menunjuk ke tempat tidur. Kemudian dia melangkah menuju lemari untuk mengambil kota P3K dari dalam lemari.
“Kau mau mengobati tanganku lagi?” tanyanya yang dijawab Dante dengan anggukan. “Dante! Nanti malam kita tidur disini lagi atau dikamar?”
“Aku sudah bilang diam, kenapa masih bicara lagi?”
“Iya...iya aku diam.” ucapnya mengerucutkan bibirnya tapi Dante tidak peduli.
__ADS_1
“Dante apakah malam ini kau mau menengok bayi kita lagi?”
“Belinda! Sudah kubilang diam!”
“Tapi kan kau sudah selesai mengoleskan obat ditanganku. Jadi aku sudah bisa bicara kan?” celetuknya menatap Dante yang berjalan ke lemari dan memasukkan kota P3K itu kedalamnya. ‘Galak sekali sih! Hanya bertanya saja tidak boleh. Kalau aku jadi istrinya apa dia bakal segalak itu? Aku sudah jadi istrinya belum ya?’
“Dante!”
“Belinda! Tidak bisakah kau diam sebentar saja? Aku sudah menyuruhmu untuk diam! Jadi diamlah sebentar saja!”
“Maaf Dante. Bukan maksudku ingin mengganggumu. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu saja.”
“Apa yang ingin kau tanyakan lagi?”
“Ehh...apa aku sudah menjadi istrimu sekarang?”
“Belum! Tunggu sampai perceraianku selesai. Henry akan mengurusnya hari ini bersama dengan pengacaraku. Ayo bangun, kita harus keatas sekarang. Alex pasti sudah mencarimu.”
“Belinda! Kenapa kau malah diam disitu? ayo pergi?” ujar Dante yang melihat Bella malah tidak bergeming dan masih duduk ditepi tempat tidur. Wajahnya tampak muram dan tak menatap pria itu.
“Aku tidak akan bersamanya lagi! Aku sudah memutuskan.” jawab Dante tegas.
“Tapi dia sangat mencintaimu Dante. Mungkinkah kau akan berpaling darinya?” Bella merasa khawatir dan kembali bertanya pada Dante. Dia sangat takut jika kehilangan pria itu lagi.
“Aku mencintainya!” Dante diam sejenak. “Tapi cintanya salah. Dia melakukan kesalahan fatal yang tidak bisa kumaafkan.” ucapnya menatap Bella.
“Jadi karena itu kau memilih bersamaku?”
“Kau punya alasan lain dalam hatiku! Bangulan! Ayo kita pergi ke atas. Banyak urusan yang harus aku selesaikan.” tegas Dante sambil mengulurkan tangannya pada Bella.
“Baiklah.” Bella berlari sambil mengangguk. Dia begitu bersemangat sehingga melupakan satu hal.
“Jangan berlari Bella! Kasihan dengan anakmu.” teriak Dante merasa khawatir kalau Bella jatuh lagi.
__ADS_1
“Oh iya. Kau benar. Maafkan aku Dante. Aku lupa.” sambil mengulum senyum dia merangkul Dante.
‘Dia ini sama manjanya seperti Alex. Tapi kenapa aku tidak bisa menolaknya? Aku tidak suka wanita yang terlalu manja, karena mereka seperti wanita yang tidak bisa melakukan apa-apa selain menyusahkan orang lain.’
‘Tapi, aku ingin terus memanjakannya! Belinda, kau mirip sekali dengan Cassandra! Gadis kecil yang sudah mengalihkan duniaku.’ bisik hati dante lagi. ‘Gadis kecil yang membuatku kembali melakukan semua hobiku. Gadis kecil yang membuatku bangkit dari keterpurukanku.’
Dan memang apa yang dikatakan Dante itu benar. Dante kembali memasak dan memikirkan masa depannya, itu semua karena Cassandra. Gadis kecil itulah yang menjadi penyemangat hidupnya.
“Dante, aku lapar sekali! Laparnya pakai banget! Kurasa karena anakku juga lapar ya.” ucap Bella saat mereka menuju lift yang menyambungkan bunker ke rumahnya.
“Makanlah apa yang ada didapur dulu. Tidak apa-apa kan? Nanti malam aku akan memasakkan makanan lagi untukmu. Sekarang aku tidak sempat memasak.” ucap Dante.
“Apa tidak lebih baik kalau aku tunggu makannya nanti malam saja?”
“Tidak! Sampai dirumah aku akan memanggil Alex. Kita akan makan bersama, mungkin snack sore untuk Alex dan kau makan makanan utama lalu aku akan berangkat.” Dante memutuskan apa yang din inginkannya kali ini.
Dan Bella pun sepertinya paham dengan menganggukkan kepalanya tanpa penolakan. Dia tidak mau merusak mood pria itu, yang akhirnya dia tidak akan memasak makanan kesukaannya nanti malam.
“Apa kau akan pergi lama Dante?” tanya Bella sedikit khawatir. Ada ketakutan didalam hatinya kalau Dante pergi keluar dan tak pulang kerumah.
“Aku tidak tahu. Mauku hanya pergi sebentar tapi kalau ada sesuatu hal dijalan yang harus aku kerjakan mungkin aku akan lama. Jangan takut, kau aman dirumah bersama Alex dan Sarah. Tidak ada lagi yang akan menyakitimu.” ucap Dante saat masuk kedalam lift.
“Aku bukannya takut berada dirumah tapi yang aku khawatirkan dirimu. Bagaimana kalau kau tidak kembali?” ujar Bella penuh kekhawatiran. Dia benar-benar merasa cemas jika Dante tidak kembali.
“Kenapa kau berpikir begitu?” tanya Dante smabil mengeryitkan kedua alisnya.
“Karena aku tidak mau kehilanganmu. Aku sudah membayangkan hidup denganmu. Aku sudah membayangkan hidup bersama dengan anak-anakku dan kau lalu kita menikmati hidup sebagai keluarga. Pasti sangat menyenangkan, bukan?” ujar Bella sambil tersenyum bahagia.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh Belinda.” didalam hatinya Dante pun merasa senang.
“Tapi benarkan kalau aku menikah denganmu maka aku akan menjadi istrimu?” Bella langsung bermanja lagi dalam dekapan Dante tanpa bicara. Dia hanya melihat pantulan dicermin pintu lift.
Begitupun Dante yang mengarahkan matanya pada pandangan yang sama dengan Bella. Yang membedakan hanyalah Dante dengan wajah tegangnya sedangkan Bella sudah senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
“Kita akan makan sekarang?” tanya Bella saat melangkahkan kaki keluar dari lift bersama pria yang menatapnya sambil menganggukkan kepalanya. Tapi saat Dante hendak membuka pintu penghubung. Terdengar suara yang sangat familiar ditelinganya. Dante melirik Bella yang tampak muram.
“Aku hanya ingin tahu kemana dia pergi! Lepaskan aku Henry! Dimana Dante?” teriakan Tatiana terdengar dari balik pintu penghubung itu.