
"Duh Lodiku sayang ... Kenapa kamu tidak ngajak kenalan?"
Santi seketika menyesali Lodi yang tidak mencoba berkenalan dengan si penolong.
"Aku lupa. Tapi aku sudah mengucapkan terima kasih kok, San."
"Kalau kamu ngajak kenalan kan bisa ditindaklanjuti."
"Ih, apaan. Dia tuh masih muda banget."
"Aiihhh ... kamu juga masih cantik kok, Lod. Hamil aja badanmu nggak melar. Masih pantas kok ngaku dua puluh."
"Idih," sahut Lodi manyun.
Santi tergelak. Puas menggoda sahabat kentalnya. Mereka berdua sedang santai di dapur.
"Tapi Lod, menurutku sebaiknya kamu jangan terlalu lelah. Kehamilanmu semakin tua. Suruh asistenmu saja yang keliling, siapa tuh?"
"Zula?"
"Iya."
"Zula nggak bisa naik motor."
"Cari orang lain."
"Tapi siapa? Aku nggak mungkin mengganti Zula begitu saja. Dia rajin dan bisa dipercaya. Bisa dibilang kelemahannya cuma satu, nggak bisa naik motor."
"Carilah satu lagi!"
Lodi menarik napas panjang. Nasihat Santi oke juga sebenarnya. Hanya ....
"Aku nggak bisa janjiin gaji sesuai UMR. Itu masalahnya."
Baik Lodi dan Santi terdiam. Sama-sama berpikir tentang 'orang lain'.
"Eh, aku punya manisan mangga. Dimakan, nih," kata Santi sambil menyodorkan sepiring manisan.
Lodi mengambil dan mengunyah perlahan.
"Lod, kalau adikku gimana?" tiba-tiba Santi memberi ide.
"Adikmu? Juki maksudmu?"
"Iyalah. Siapa lagi?"
Lodi terdiam. Marzuki alias Juki adalah adik lelaki Santi. Terakhir melihat sewaktu anak itu SMP. Setelah itu tidak pernah bertemu lagi. Secara kuliah juga di Bandung.
"Aku belum lupa bau kentutnya," ujar Lodi bersungut-sungut.
Lodi, Santi dan Umay masih SMA kala itu. Juki masih berseragam merah putih. Lodi dan Umay main ke rumah Santi.
"Dia meletakkan bangkai cicak di sepatu Umay. Lalu bangkai kecoak di sepatuku."
Santi terkekeh mengingat masa lalu.
"Tapi aku benar-benar emosi saat dia mengumpulkan kentutnya di tangan. Lalu melempar aroma kentut ke mukaku!"
Santi terkekeh semakin keras.
"Lodi... Jelek sekali ingatanmu tentang Juki. Tapi percayalah, dia sekarang tidak begitu. Lucunya masih, tapi sikapnya dewasa."
"Oh, ya? Tapi, apa dia mau?"
"Saat ini, kerjaan dia terima orderan menggambar, desain ... semacam itulah. Anak baru, jadi belum sibuk. Kupikir ini untuk pengalaman dia juga."
"Kalau dia mau, aku nggak masalah sih."
"Assalamualaikum," seseorang beruluk salam.
__ADS_1
"Waalaikum salam. Eh, panjang umur. Itu suara Juki."
Santi memandang Lodi sambil tersenyum. Lodi membalas dengan mengacungkan jempol tangan kanan.
Terdengar suara kaki mendekat.
"Em, masak apa Mbak? Baunya enak banget."
"Ki, masih ingat nggak temenku. Lodi."
"Oh, ada tamu?"
Juki menoleh ke arah Lodi. Rautnya terkejut. Tapi hanya sesaat. Selanjutnya tersenyum manis. "Mbak ...."
Ganti Lodi yang melotot. Napasnya tertahan. Mulutnya terbuka. "Kamu ...?!"
Jadi Lodi, apa arti seorang Juki bagimu saat ini? Mantan bocah tengil yang super iseng? Atau pemuda berhati malaikat bermata mutiara hitam?
***
"Mas, kita nggak ke rumah mama?" tanya Nada.
Sumbang menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab, "aku saja."
"Kapan mama bisa menerimaku?"
Sumbang terdiam. Kalimat mama masih terus terngiang,"menantuku Melodi. Bukan Nada."
"Kemarin Ibu menengok Mbak Lodi. Hanya diam saat melihatku."
Nada sekarang lebih sering menengok ibu. Saat berkunjung, tak disangka mama Sumbang juga sedang ke rumah besan. Tapi untuk menengok Lodi.
"Kamu juga ngapain ke sana," sahut Sumbang datar.
Seketika rasa di hati Nada menjadi pahit. 'Apa layak Sumbang menjawab seperti itu?'
"Aku tidak tahu mama pas ke sana. Aku kesana menengok ibu."
"Mas tidak terlihat berusaha melunakkan hati mama," protes Lodi lirih.
"Seharusnya kau berteriak waktu itu," kata Sumbang dengan nada tinggi.
"Apa maksudmu, Mas?"
"Kamu mestinya melawan waktu itu. Kalau kamu melawan sedikit saja, aku tidak akan melanjutkan!"
Nada menatap suaminya nanar. Kedua tangannya mencengkeram sprei kuat-kuat. Kalau posisi saat ini berdiri, pasti Nada sudah jatuh.
"Kok Mas ngomongnya gitu?"
Sumbang membuang muka, ogah melihat muka Nada.
"Mas!" panggil Nada sebagai usaha membuat suaminya menoleh. Tapi lelaki itu justru berdiri menjauh.
Nada jatuh cinta dengan lelaki itu pada pandangan pertama. Dia masih ingat betul detailnya.
"Ini krukmu." itu kalimat pertama yang Sumbang ucapkan. Kruknya dibuang oleh temannya yang iseng.
Nada mahasiswi. Sumbang asisten dosen. Sebenarnya Sumbang tidak pernah mengajar Nada. Mereka hanya seuniversitas. Tapi tidak sefakultas.
Dia patah hati ketika Sumbang pada akhirnya melamar Lodi. Nada terus mencintai dalam diam.
"Mengapa kau berkata seperti itu, Mas?" suara Nada bergetar.
Sumbang tak menjawab. Dia mengepalkan tangannya kuat.
"Kalau kau tidak mau menceraikanku, aku yang akan menuntut cerai!" Lodi berteriak.
"Aku akan tanggung jawab. Itu pasti. Tapi aku tak sanggup menceraikanmu!"
__ADS_1
"Lalu tanggung jawab seperti apa yang kau maksud?"
Pertengkaran itu masih jelas tergambar di benak Sumbang. Dia masih mencintai Lodi sepenuh hati. Tapi perempuan berahang keras itu kalau sudah memutuskan sesuatu ya harus.
"Arrghh..." Teriak Sumbang sambil memukulkan kepalannya ke tembok.
Nada terpaku melihat Sumbang yang penuh emosi. Dua bulir air mata mengalir deras di pipinya.
***
"Ibu senang kamu lebih banyak istirahat."
Kandungan Lodi sudah masuk bulan kedelapan. Perutnya sudah terlihat besar. Kondisi tanpa suami. Wajar bila ibu khawatir.
"Iya, Bu. Juki bisa diandalkan."
"Juki yang nyaris bikin kamu pecah kongsi sama Santi?"
Lodi tergelak. Itu sudah sekian tahun yang lalu. Kenakalan Juki nyaris membuat persahabatan Santi, Umay dan Lodi bubar.
"Adikmu terlalu! Dulu masukin bangkai kecoa ke sepatu. Sekarang permen karet."
"Duh, maafin aku. Jukiii..."
Dan yang dipanggil entah ke mana. Ngumpet sambil tertawa karena Santi kena marah teman-temannya.
Juki tidak hanya siap antar barang. Dia juga inovatif.
"Mbak, punya alamat atau no kontak para pengrajin tempat pesan?"
"Buat apa? Mereka jelas menolak return."
"Barangkali bisa tukar barang yang senilai. Daster, mukena, baju anak. Kalau hem saja muternya agak susah."
"Boleh dicoba."
Dan Juki cukup sukses melobby. Memang hanya sebagian, tapi lumayan.
"Hebat kamu, Juk.'
"Makasih, Mbak."
"Kamu sekarang masukin apa ke sepatu tamu?"
"Haa...ya sudah enggak lah Mbak."
Lodi tergelak lagi.
***
Pagi itu Lodi ke kios. Dua hari dia tidak menengok kios.
"Zula ...."
"Eh, Mbak Lodi."
"Lagi ngapain?"
"Makan lotek."
Lodi melongok ke arah dalam kios.
"Loh, ada kamu juga, Juki?"
"Eh, iya Mbak. Maaf, loteknya cuma beli satu. Mbak mau kubeliin?"
"Ah, nggak usah. Baru makan. Kalian sepiring berdua?"
"Eh, anu ... itu. Juki cuma beli satu padahal saya juga lapar."
__ADS_1
Lodi menggeleng, lalu tersenyum. "Ah, dasar anak muda."
-bersambung-