PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 214. PENOLAKAN TATIANA


__ADS_3

“Hah! Cassandra adalah putriku dengan wanita yang kucintai! Jangan pernah kau sebut dia anak haram! Satu hal lagi, karena dia tidak menyukainya makanya dia membawa anak itu ke dasar jurang bersamanya, iyakan? Cassandra selamat waktu itu tapi ibumu dengan sengaja menarik tangannya dan memeluknya erat hingga jatuh kejurang bersama-sama, bukan begitu?” tanya Omero.


“Dia hanya tidak ingin anak itu mengganggumu dan aku!” jawab Tatiana.


“Kalian sudah merencanakannya! Kalian berusaha untuk merencanakan pembunuhan itu? Sejujurnya aku sangat marah padamu dan ibumu Tatiana! Kalian berdua sangat kejam! Bisa-bisanya kalian merencanakan pembunuhan pada Cassandra!” Omero bicara tanpa menatap Tatiana.


“Saat ini aku bicara denganmu karena aku merasa kasihan pada Dante. Hanya itu alasan kenapa aku mengajakmu untuk berobat! Aku tidak ingin rumah tanggamu hancur karena ulahmu Tatiana!” ujar Omero kembali memarahi Tatiana. “Apa kau  pikir selamanya bisa menyembunyikan penyakitmu dari Dante, ha?” tangan Omero mengepal erat.


“Jangan bawa-bawa Dante untuk menutupi kesalahan masa lalumu Ayah! Aku tegaskan sekali lagi, ibu hanya ingin tenang ayah! Yang dia inginkan hanyalah bisa menjalani hidupnya sesuai yang dia mau dan tak ada anak itu disana. Tapi kau memaksanya berobat dan tidak mau meninggalkan anak itu. Ibu tidak punya pilihan lain, membawanya anak itu mati bersamanya!”


“Jangan meneriaki ku Tatiana!” Omero terengah-engah menahan amarahnya.


“Semua rasa sakit ibu karena anak itu, ayah! Itu yang membuatnya memilih untuk mati, ibu tidak terima kau bersama wanita lain! Kau memaksanya menghilangkan kebiasaan itu, dia tidak kuat ayah! Kau tidak mau menerima ibu apa adanya! Itu yang membuatnya sakit hati, ayah!” Tatiana berbicara lagi dengan intonasi yang tinggi meluapkan semua amarah yang dipendam selama ini.


“Fuuh! Kau pikir aku puas Tatiana? Istriku bermain dengan pria lain setiap harinya. Apa kau pikir aku senang hah? Kau pikir aku bahagia? Jika dia bisa mencari kepuasan dan kebahagiaan dirinya sendiri tanpa peduli bagaimana perasaanku lantas kenapa aku tidak bisa mencari kebahagiaanku juga?” Omero berteriak sambil mengepalkan tangan menahan amarah.


“Aku hanya ingin yang terbiak untuknya, Tatiana! Aku ingin ibumu sembuh dan memperbaiki pernikahan kami, itulah yang membuatku memintanya berobat! Tapi apa yang dilakukan ibumu? Semakin hari semakin menjadi-jadi! Apa kau tidak tahu kalau dia bahkan berani membawa prianya dan bermain dirumah? Kau masih kecil waktu itu, apa ibumu memikirkan perasaanmu dan aku?”

__ADS_1


“Ayah! Kau terlalu banyak berkelit dan mencari alasan! Kau juga bermain dengan wanita itu dibelakang ibu, iyakan? Apa kau pikir kau tidak bersalah?” Tatiana memicingkan matanya pada ayahnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis dan mencibir.


“Semua itu karena aku lepas kendali! Aku juga pria normal! Apa kau pikir aku masih sanggup menyentuh ibumu setelah disentuh pria lain? Cih!” Omero berusaha menguatkan dirinya ketika dia mulai mengingat masa lalunya itu. Ada rasa sakit yang sangat dalam dihatinya dan dia ingin menjelaskan semuanya pada Tatiana.


“Dia adalah istri dari mendiang adikku! Setelah adikku meninggal, kami sama-sama kehilangan dan aku berusaha menghiburnya. Tapi entahlah, saat suatu malam aku mengetahui penyakit ibumu dan aku memergokinya sedang bermain bersama tiga orang pria sekaligus, aku merasa sangat kecewa sehingga aku pergi menemui istri mendiang adikku. Kami semakin sering bertemu dan melakukannya berkali-kali.” Omero menghela napas sejenak karena dia jatuh cinta pada istri mendiang adiknya setelah itu.


“Mungkin kau masih ingat ketika aku tidak kembali kerumah sekian lama, itu karena aku merasa jijik dan muak pada ibumu. Hingga akhirnya wanita itu mengandung anakku! Dan setelah aku mengetahui kehamilannya, aku baru mendapatkan kejujuran dari ibumu kalau dia seorang masokis. Saat itu aku merasa bersalah pada wanita itu dan memilih memperbaiki hubungan kami dengan memintanya melakukan terapi pengobatan.” lagi-lagi Omero menghela napas, masa lalu itu sangat menyakitkan baginya.


“Tetapi aku sudah melakukan kesalahan, kami berdua saling mengakui kesalahan masing-masing dan kami saling memaafkan. Kami berusaha untuk menjalani hidup baru kembali.” ucapnya lagi.


“Aku hanya ingin menceritakan masalahnya, ibumu pasti tidak pernah menceritakan apapun padamu kan Tatiana? Tapi kau lihat sendiri kan aku bahkan memilih kembali pada ibumu dan membiarkan wanita itu pergi.” ada senyum getir di wajah Omero, dia menundukkan kepalanya saat ini.


“Iya memang kau membiarkannya pergi tapi kau malah mengambil anaknya dan membawa pulang!”


“Aku mengambil satu putriku! Dia dia merawat satu putriku yang lain karena anak kami kembar! Tapi sebelum aku membawa Cassandra, aku sudah bertanya pada ibumu dan dia mengizinkan. Aku tidak akan meminta satu putriku kalau ibumu tidak mengizinkan!” sekarang Omero menatap Tatiana dengan wajah dinginnya.


“Dan aku sangat menyesal sekali karena aku mengambil putriku Cassandra! Seharusnya aku tidak membawanya pulang kalau aku tahu kenyataannya akan seperti itu. Aku kehilangan putriku!” ujar Omero lagi dengan perasaan bersalah.

__ADS_1


“Ayah, jangan menatapku seakan kau yang paling benar! Apa kau masih mencari keberadaan wanita itu sampai sekarang? Apa kau masih sangat mencintainya sampai sekarang, ayah?” tanya Tatiana memicingkan matanya.


Omero menggelengkan kepalanya, “Dia tidak ingin aku mencarinya lagi Tatiana. Aku sudah mengecewakannya dengan memilih ibumu dan aku sudah menyakiti hatinya. Aku tidak mau menambah luka dihatinya, mungkin dia sudah memiliki kehidupan baru dengan laki-laki lain. Aku tidak tahu tapi dia sudah kembali ke negara asalnya.”


Omero bicara sambil memandang jauh ke jalan yang ada didepannya. Penyesalan terlihat jelas diwajahnya dan rasa rindu yang mendalam pun tak dapat dia pungkiri.


Memang benar dia sangat mencintai wanita itu melebihi cintanya pada ibu Tatiana! Bahkan sampai sekarang pun rasa cinta itu masih kuat tak pernah pudar sedikitpun. Itulah yang membuatnya tidak pernah menikah lagi ataupun mencintai wanita lain lagi.


“Apa kau masih ingin mencarinya dan hidup bersamanya?” tanya Tatiana penasaran.


“Bukan itu yang harus kita bahas sekarang Tatiana.” Omero menoleh pada Tatiana. “Dengarkan aku, saat aku memutuskan untuk berpisah dengannya dan mengambil anak itu, aku sudah tidak punya keinginan lagi untuk bersamanya. Aku memang mencintainya, tapi aku juga masih sayang dan peduli pada ibumu makanya aku ingin mengobatinya tapi dia menolaknya!”


“Ibumu lebih memilih menyuruhmu untuk mengakhiri hidupnya! Aku tidak menyangka kalau kau begitu tega melakukan itu Tatiana! Harusnya kau tidak menuruti keinginan ibumu.” Lalu Omero tersenyum sinis, “Apa kau menuruti ibumu karena dia mengatakan akan membawa Cassandra? Apa karena kau sangat membenci Cassandra dan takut Dante akan menyukainya lalu saat Cassandra besar Dante akan menikahinya makanya kau mau bekerjasama dengan ibumu? Dante memang suka pada Cassandra karena saat itu Cassandra anak kecil yang cantik dan lucu. Siapa yang tidak menyukainya?” pertanyaan itu sangat mengintimidasi Tatiana.


“A---aku….” tidak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan lagi ketika Omero menatapnya dan seketika itu juga semua kata-kata yang dirangkainya hilang dari kepalanya.


“Jadi benar dugaanku kan Tatiana?” Omero menunjukkan senyum sinis di wajahnya. “Kau takut Dante memilih menikahi Cassandra saat dia besar.”

__ADS_1


__ADS_2