
Dante bisa mendengar suara keributan itu dari dalam ruang oenghubung dengan ruang keluarga didekat tangga. Dia mengeryitkan dahinya merasa tidak senang dengan kedatangan Tatiana yang membuat rusuh dirumahnya.
“Dante!” Bella memanggilnya tapi tangan besar Dante langsung menutup mulutnya.
“Diam dulu disini! Tidak perlu kesana.” ucap pria itu pada wanita yang ada disampingnya.
‘Apa lagi yang dia inginkan sampai datang kesini sekarang?’ bisik hatinya yang merasa resak tapi berusaha ditutupinya.
“Dia mencarimu!” Bella berbisik menunjukkan wajah sedihnya.
“Jangan memasang wajah begitu!” ucap Dante menarik Bella kedalam pelukannya.
“Apa kau akan menemuinya dan pergi meninggalkanku?” bisik Bella pelan sekali sambil memeluk Dante sangat erat. Ketakutannya muncul kalau dia akan kehilangan pria itu membuatnya tidak bisa berpikir panjang.
“Bella! Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku akan menyelesaikan semuanya dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” jawab Dante.
“Kau berjanji padaku?”
Dante mengintip keadaan diluar sambil menjawab pertanyaan Bella dengan anggukan kepalanya.
“Kau diam dulu disiniya. Biar aku selesaikan masalah ini dulu. Ingat, jangan pergi kemana-mana.”
“Tapi Dante….” dia mencoba menahan pria itu agar tidak pergi.
“Bella, aku tidak bisa mendengar apapun yang mereka katakan kalau semua pintunya ditutup seperti ini.” ujar Dante mencoba meminta pengertian Bella.
“Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa kalau kau pergi kesana menemuinya.”
“Fuuhh! Bella, coba dengarkan aku!”
Dante bicara sambil mengelus rambut Bella dan wanita iutpun menganggukkan kepalanya setelah dirinya agak tenang. “Kalau kau keluar, suasana akan tambah ribet. Lihatlah adikmu, dia tidak sengaja melihat keluar untuk menemui Hans dan sekarang dia bermasalah dengan Tatiana disana!”
__ADS_1
“Aduh apa yang mereka aktakan Dante?” Bella ingin ikut keluar juga.
“Diam! Aku memintamu untuk menungguku disini dan jangan keluar.”
“Tapi aku mau dengar juga Dante! Kenapa aku tidak boleh keluar?”
“Karena kalau kau keluar maka suasana tambah kacau! Biarkan aku yang mengurus Tatiana. Kau paham kan Bella?” tanya Dante yang akhirnya dijawab Bella dengan anggukan kepala.
‘Kalau Bella keluar maka rencanaku dan Anthony pasti gagal.’ bisik hati Dante.
“Iya Dante. Aku paham.” akhirnya Bella menganggukkan kepala.
“Kalau begitu diamlah disini! Aku akan menyelesaikan masalah didepan sana! Dan aku akan mengunci pintu ini! Kau mengerti?”
“Jadi maksudmu aku tidak bisa keluar dari sini?” tanya Bella ulang.
“Tidak! Aku tidak mau dia bicara macam-macam, adikmu itu mulutnya tidak bisa dijaga! Karena itu aku akan keluar dan aku akan mengatakan pada Tatiana apapun supaya dia bisa pergi dari sini tanpa menyinggung tentangmu. Kau paham?”
“Iya Dante!” Bella kembali menganggukkan kepala.
Lalu Dante keluar dan menutup pintu penghubung lalu menguncinya. Dia masih diam ditempatnya berdiri dan memperhatikan keributan yang terjadi di balik tangga.
“Nyonya Tatiana apa anda bisa untuk tidak memaksa seperti ini?”
“Henry! Dulu ini adalah rumahku dan sekarang juga masih rumahku dan seterusnya juga akan menjadi rumahku selamanya! Kau paham!” protes Tatiana tetap memaksa kehendaknya.
“Maaf Nyonya! Tapi rumah ini adalag warisan peninggalan dari ayah Tuan Dante yaitu Tuan Mateo Sebastian!” ujar Henry yang tak terima dengan ucapan Tatiana.
“Aku tahu!” Tatiana tersenyum sinis, hatinya mulai panas karena ucapan Henry, “Tapi Dante berhutang nyawa pada ayahku! Dan dia emngatakan sendiri bahwa semua miliknya adalah milik ayahku! Jadi sebaiknya kau berhati-hati denganku, Henry!” ancam Tatiana merasa menang dihadapan Henry.
“Nyonya Tatiana, aku rasa kau berlebihan!” suara itu membuat Tatiana terkejut lalu menoleh.
__ADS_1
“Hans! Kenapa kau tiba-tiba menyapaku?” Tatiana tersenyum kecil. “Kau ada disini sudah pasti Dante juga ada disini. Dan lihatlah wanita kecil yang sedang bersama Alex dibelakangmu itu! Apa kau disuruh oleh Dante untuk melindungi mereka Hans?”
“Wah….tebakanmu betul sekali Nyonya Tatiana!”
Ucapan Hans membuat Tatiana mengerjapkan mata menatap kedua orang yang berada dibelakang Hans. ‘Ini sungguh sebuah penghinaan! Lihatlah bagaimana Hans bicara denganku! Dia benar-benar merendahkanku! Apakah karena dia pikir aku sudah tidak bersama Dante maka aku ini hina? Atau Dante telah menceritakan semua kekuranganku pada mereka? Yah, bisa jadi karena itu. Pantas saja dia menghinaku seperti ini!’ bisik hati Tatiana.
“Kalian!” napas Tatiana terengah-engah karena marah. “Dimana Dante! Dimana kalian menyembunyikan Dante?” Tatiana sudah tidak tenang lagi dan langsung berteriak marah.
“Nyonya Tatiana! Anda sudah berpikir terlalu jauh tentang kami! Ada yang harus saya tekankan disini supaya anda mengerti ya!” Hans tersenyum penuh ejekan.
“Pertama, kami tidak menyembunyikan Dante karena dia adalah orang yang paling tidak bisa bersembunyi! Dia menentukan apa yang ingin dia lakukan dan saya yakin anda paham dengan sifatnya ini. Kedua, Tuan Dante atau mantan suamimu Dante atau sahabatku Dante memang mengatakan pada ayahmu kalau dia berhutang nyawa dan semua miliknya adalah milik Omero. Tapi itu bukan berarti menjadi milikmu nyonya! Karena kau adalah anak Omero, kau bukan Omero!”
“Kata-kata itu hanyalah kata-kata kiasan belaka! Kau paham maksudnya? Sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua. Apakah kau lebih tua daripada Dante? Berapa usiamu, hem? Usiamu saja lebih muda dari Dante walaupun kalian lahir di tahun yang sama tetapi kau lahir beberapa bulan setelah Dante.” senyum merekah diwajah Hans. Dia merasa puas menghajar wanita ini dengan kata-katanya.
“Kau sudah berani melawanku sekarang Hans? Apa tadi kau bilang padaku? Dulu saat aku dan Dante masih berstatus suami istri, kau bahkan tidak berani bicara bahkan tidak satu katapun berani kau ucapkan padaku!” Tatiana memicingkan matanya.
“Aku berani mengatakan ini karena kau terlalu memaksa pada Dante, dia sudah mengatakan kalau dia tidak menyukaimu! Lalu apa masalahnya sekarang? Kau sendiri melakukan hal yang sangat buruk dibelakangnya, harusnya kau sadar untuk tidak melakukan itu karena Dante sangat mencintaimu!”
“Kau!” Tatiana menunjuk Hans dengan jari telunjuknya yang gemetar karena amarah.
‘Ah! Tujuanku bukan dia! Tujuanku adalah Dante. Fokus Tatiana! Fokus! Demi semua rencanamu yang sudah disusun oleh Jeff! Dimana kau Dante? Tapi sebelum aku sempat bertemu denganmu justru aku sudah terpancing emosi karena temanmu ini. Seharusnya aku meluapkan semua emosiku padamu. Ini benar-benar tidak sesuai rencana!’ Tatiana mengingatkan dirinya untuk menjaga emosinya tapi-kata-kata Hans sangat mengganggu pikirannya.
“Hans! Jadi daddy ku tidak lagi menikah sama mommy? Jadi aku tidak punya mommy?” suara kecil itu bertanya dari belakang Hans yang membuat Tatiana semakin panas.
“Kau anak kecil! Berani kau mengatakan itu, hah?” Tatiana naik pitam menatal nyalang pada Alex.
“Tatiana! Dia hanya bicara saja dan bertanya padaku. Kenapa kau ingin mengejar anak kecil itu?”
“Sekarang kau bahkan memanggilku dengan namaku saja, Hans! Kemana penghormatan yang seharusnya kau berikan kepadaku?” Tatiana berusaha melewati Hans untuk mendapatkan Alex.
“Sekali kau menyentuh Alex, aku yakin Dante pasti akan memberikan balasan yang sangat buruk kepadamu.” ucap seseorang yang turun dari tangga membuat Tatiana menoleh kearah tangga.
__ADS_1