
Dante berusaha berpikir logis untuk menenangkan hatinya yang sudah terganggu dengan kata-kata Tatiana tadi. “Ya mungkin sekarang semua terasa menyakitkan baginya. Aku pun belum bisa menerima pengkhianatannya tapi setelah waktu berlalu mungkin aku akan memaafkannya dan dia bisa jadi kakak iparku? Dia adalah kakaknya Belinda! Tapi entahlah, yang jelas aku tidak akan pernah kembali dengannya. Hatiku sudah terpaut pada Belinda dan bayi didalam kandungannya harus kujaga dengan baik. Apa aku kejam?”
Dante meragukan keputusannya sendiri, apakah dia menceraikan istrinya adalah keputusan yang terbaik? Ini menjadi pertanyaan besar didalam hatinya. ‘Sekarang bukan waktunya aku memikirkan ini, aku harus kembali fokus pada kondisi Belinda. Aku tidak bisa meninggalkannya lama-lama. Aku juga harus mengecek kondisi Omero!” ucapnya lalu keluar dan berjalan menuju ruangan ICU
“Masalah tentang White juga bukan masalah yang mudah. Ini sangat serius dan aku tidak pernah mengalami kasus sebesar ini sebelumnya dan pasti keluarganya dan juga orang-orangnya tidak akan terima dengan apa yang terjadi padanya. Aku membutuhkan Omero untuk membantuku menyelesaikan masalah ini. Tapi aku harus melihat kondisinya, jangan sampai ada hal buruk terjadi padanya.” Dante berdecak lalu memikirkan semua masalah satu persatu lagi.
“Kalau sampai Omero kenapa-napa, tidak ada ornag lain lagi yang bisa membantuku melakukan mediasi dengan pihak White untuk mendamaikan dan memperbaiki hubungan ku dengan pihak White. Ini akan sangat sulit karena tidak ada yang mengenal White sebaik Omero mengenalnya.” Dante mengingatkan dirinya sembari melangkah menuju ke ruang ICU.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Dante pada perawat yang khusus menjaga ruangan Omero.
“Kondisinya sudah membaik Tuan. Dia sudah membuka matanya dan sudah sadar tapi kondisinya masih lemah dan dokter mengatakan harus melakukan observasi lagi mungkin dua sampai empat jam lagi baru bisa dipindahkan keruang perawatan kalau sudah tidak ada masalah lain.” ujar perawat itu menjelaskan dengan detail.
“Baiklah.” Dante mengangguk. “Bisa jelaskan padaku dimana maslaahnya sehingga dia bisa seperti sekarang ini?”
“Ada pendarahan Tuan. Di organ bagian dalamnya ditemukan pendarahan, ada juga kerusakan di paru-parunya dan lambungnya sedikit robek akibat pecahan kaca yang menembus tubuhnya mengenai lambung. Dia juga terbanting terlalu keras sehingga tulang iganya retak. Tapi semua sudah dioperasi tadi dan sekarang beliau dalam tahap pemulihan.”
“Baiklah. Aku paham. Apa ada hal lainnya?” tanya Dante lagi untuk memastikan semuanya.
“Ada penggumpalan darah dibagian kepala tapi sudah kami tangani makanya Tuan bisa lihat kalau rambut beliau dipangkas habis untuk operasi tadi, Tuan.”
“Kenapa banyak sekali lukanya?” protes Dante mengerjapkan matanya.
“Betul Tuan.” perawat itu mengangguk, dia tak sadar kalau Dante mulai kesal dengan semua penjelasannya yang membuatnya pusing. “Luka dalam dan pendarahan yang membuat Tuan Omero kritis.” sambung perawat itu lagi.
“Berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk bisa pulih?” dia tak ingin mendengarkan hal mengerikan tentang kondisi Omero.
“Biasanya untuk kasus seperti ini akan butuh sekitar enam bulan, Tuan.”
__ADS_1
‘Enam bulan?’ Dante memijit pelipisnya. ‘Aduh tak mungkin membuat peperangan dengan pihak White dalam waktu enam bulan, itu berarti sampai musim panas.’ Dante mulai agak kesal.
“Boleh aku masuk menjenguknya?” tanya Dante dengan dagunya menunjuk ke pintu ruang ICU.
“Silahkan Tuan. Tapi tolong jangan diajak bicara banyak dulu karena kondisi paru-parunya belum stabil. Tuan Omero baru saja selesai oeprasi. Saya mengkhawatirkan kondisi tubuhnya akan melemah lagi kalau dia stress dan memikirkan sesuatu yang berat.”
“Aku hanya ingin melihat kondisinya.” jawab Dante mengangguk paham.
‘Kenapa perawat ini cerewet sekali?’ Dante merasa membuang-buang waktu bicara dengan perawat wanita itu. Dia sangat lelah, belum tidur sehingga membuat emosinya tak stabil apalagi tadi dia sudah menghabiskan tenaga berdebat dengan Tatiana.
“Silahkan Tuan.” ucap perawat menyerahkan pakaian khusu untuk masuk keruang ICU lalu mengantarkannya ke pintu masuk ruangan itu.
“Terimakasih.” lalu Dante masuk kedalam.
“Ayah, kondisimu buruk sekali. Aku tidak menyangka kau harus memakai selang-selang itu. Ini sangat buruk untuk seorang Omero Rivera. Tidak akan terlihat bagus untuk foto profilemu.” Dante mencoba untuk menggoda Omero untuk menghilangkan stressnya dan dia melihat ada senyum di wajah pria paruh baya itu.
“Hanya sebentar.” ucapnya agak terbata-bata.
“Ayah, aku tidak mau kondisimu semakin buruk dan membahaykan hidupmu.” Dante kembali mencoba memasangkan lagi alat bantu pernapasan karena dia merasa khawatir. Dia sangat menyayangi omero seperti ayahnya kandungnya sendiri.
“Hanya sebentar dante, biarkan aku bicara dulu padamu. Ada yang ingin kusampaikan.”
“baiklah ayah. Apa yang ingin kau katakan padaku?”
“Tolong jaga Bella!” ujar Omero penuh penekanan, dia langsung pada inti untuk menghemat tenaga.
“Tentu saja aku akan menjaganya ayah. Jangan khawatirkan soal itu. Aku juga akan menjagamu. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu ayah.”
__ADS_1
Dante kembali memasangkan alat bantu pernapasan pada Omero sembari tersenyum dan dia mendekatkan kursinya di samping pria paruh baya itu. Dia ingin membuat Omero merasa tenang dan nyaman dengan keberadaannya disana.
“Ayah, bella sudah ada dirumahku dan dia aman disana. kau tidak perlu mengkahwatirkannya. Aku juga tadi sudah bicara dengan Tatiana. Dia sudah keluar dari rumah sakit ini dan katanya dia mau pulang kerumahmu. Aku juga sudah menyampaikan padanya tentang perceraian kami.” Dante mengatakan semua itu untuk menenangkan Omero. Bukannya jadi tenang, Omero malah terlihat gusar sehingga membuat dante khawatir.
‘Kenapa ekspresi wajahnya seperti itu? Apa ada hal lain yang ingin disampaikannya? Tadi aku memaksakan untuk memakai alat bantu pernapasannya. Aku tak ingin dia merasa lelah karena kebanyakan bicara. Apa dia mau menanyakan soal pekerjaan? Untuk sementara aku harus merahasikan tentang apa yang terjadi. Aku tidak boleh membicarakan masalah Tuan White. Aku akan tunggu sampai kondisinya sudah membaik.’ ujarnya didalam hati.
“Ayah, apa kau mau bicara lagi? Tenanglah biar aku saja yang bicara ya?” Dante kembali membujuknya ketika tangan Omero memegang alat bantu napasnya dan pria itu menggelengkan kepalanya menjawab Dante. Dia tetap mau melepaskan alat bantu pernapasannya/
“Jauhkan Tatiana dari Bella dan Alex!” ucapnya sambil meringis menahan sakit.
“Aku tahu itu ayah. Aku sudah melakukannya. Ayah jangan kahwatir ya.”
“Berbeda Dante!” Omero memegang tangan Dante seolah dia merasakan kecemasan yang berlebihan.
“Aku mengerti ayah. Tenangkan dirimu.” jawab Dante mengangguk.
“Berbeda! Dengar baik-baik! Dia bisa membunuh Bella.”
‘Apa yang dikatakan ayah barusan?’ mood Dante sedang buruk dan dia tidak paham maksud ucapan Omero barusan.
“Ayah?”
“Dante….”
“Pakai alat bantu pernapasanmu dulu ayah. Kau tidak perlu mengatakan apapun. Aku tidak mau mendengarkan. Istirahatlah dulu setelah kau sembuh baru kita bicarakan lagi masalah ini.”
Omero menggangukkan kepalanya karena kondisinya memang belum bisa banyak bicara. Dia masih membutuhkan banyak waktu istirahat. Ingin sekali dia menyampaikan semuanya karena dia mengkhawatirkan Bella.
__ADS_1
Dia sama sekali tidak bisa tenang sekarang, pikirannya melanglang buana ke masa lalu. Dia memikirkan nasib cassandra! Rasa bersalahnya pada cassandra membuat Omero yang memang menyelamatkan Tatiana dari kecelakaan tadi juga merasa tidak tenang.