PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 137. AKU SUKA MATAMU


__ADS_3

“Apa kau lupa cara berciuman sekarang? Atau mungkin kau juga sudah lupa caranya bercinta, Bella ku sayang?” tanya Dante menghentikan sejenak ciuman bibirnya lalu tangannya menyentuh bagian dada yang menjadi favorit Dante lalu dia meremasnya membuat Bella mendelik marah.


“Kau menciumku bukan aku mimpi kan Tuan Dante?” tanya Bella polos dengan jarak wajah mereka kurang dari tiga puluh sentimeter sehingga deru napas mereka terdengar. “Kenapa kau menyentuhku?”


“Menurutmu?” Dante kembali bertanya tapi sejujurnya hatinya merasa gemas. Bagian bawah tubuhnya sudah bereaksi sejak tadi dan dia ingin melepaskannya pada Bella. Hal ini yang tidak pernah bisa dia hindari, setiap kali dia dekat dengan Bella maka tubuhnya bereaksi cepat.


“Oh jadi yang tadi itu ciuman benaran ya? Bisakah kita ulangi lagi?” ejek Bella menggoda.


Pletak!


“Awww….kenapa kau menyentilu lagi? Kau senang sekali melakukan itu. Tidakkah kau tahu itu sakit?” tanya Bella menatap tajam pada Dante dengan bibirnya mengerucut kesal.


“Apa kau mau aku menyentil yang lain?” tangannya semakin meremas dada wanita itu. Bella berusaha menahan agar tidak mendesah. “Tadi aku sudah menciummu tapi kau tidak membalasnya. Kau hanya diam macam patung es dan membuatku lelah menciummu. Kau pikir aku sedang memperkosa atau mengecup patung hem?” mata Dante mengerling menggoda Bella.


“Tadi….aku kaget saat kau menciumku. Kenapa kau merobek pakaianku? Apa kau mau melakukan yang lain?” Bella terkekeh menggoda. Dia sebenarnya ingin membalas Dante dan Tatiana dengan menggunakan kesempatan ini naik keatas ranjang dan kalau bisa Tatiana bisa melihat suaminya olahraga malam bersama Bella.


“Menurutmu?” satu tangan Dante memeluk erat pinggang ramping milik wanita itu. Dia semakin merasa sesak dan tidak bisa menahan lebih lama lagi. “Apa aku harus melakukan ini baru kau mau bicara denganku, hem?”


“Tadi aku memang marah padamu tapi saat kau memasang pelindung kaca itu aku sudah tidak marah lagi padamu. Meskipun aku kesal karena kau mengerjaiku, membuatku hampir mati jantungan dan sedikit saja kau telat memasang kaca itu maka aku sudah mati. Kau tahu apa yang terjadi jika kita mati? Betapa mengerikannya berada diantara peluru itu. Apakah terkena peluru itu sakit?” Bella bicara menatap Dante membuat pria itu semakin gemas melihat mata indah dan wajah polosnya.


“Jadi kau masih berani melawanku lagi setelah permainan tadi?”


Bella mengatupkan bibirnya dan menggelengkan kepala dengan tatapan mata lurus pada Dante.


“Apa yang kau lihat sekarang?” ucap Dante tanpa menghentikan tangannya meremas tubuhnya.


‘Apa yang sedang dipikirkannya kenapa dia malah senyum-senyum tak jelas begitu? Aissss…..tubuhku sudah bereaksi sejak tadi dan aku sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Kenapa aku tidak pernah bisa mengendalikan tubuhku setiap kali bersamanya?’ bisik hati Dante.


“Matamu Tuan Dante! Aku suka melihat matamu karena mirip dengan mata Alex. Lugu, polos ahhh tapi penuh gairah sehingga menbuat siapapun yang melihatnya akan merasa panas.” jawab Bella jujur dengan senyum di wajahnya.


“Dengarkan aku Belinda! Aku akan memberikanmu sesuatu tapi mulai saat ini aku tidak mengijinkanmu bicara buruk lagi tentang istriku Tatiana!” Dante memberikan syarat.


“Aku tidak akan melakukannya lagi. Itu maumu kan? Kau lebih mempercayai istrimu daripada aku dan bagiku itu sudah cukup. Cukup satu kali saja aku bicara dan aku tidak akan mengulanginya lagi. Walaupun sesuatu yang buruk terjadi pada anakmu suatu saat nanti,aku tidak akan pernah memberitahumu apapun dan kalaupun kau menyesal, rasakan sendiri penyesalanmu.”

__ADS_1


Plaaakkkkk!!!!


“Ssshhh….” Bella memegang pipinya yang ditampar Dante.


“Sudah kukatakan padamu jangan bicara macam-macam dan jangan mengancamku. Apa itu terlalu sulit bagimu? Kenapa kau tidak patuh padaku? Hmmm?” teriak Dante marah tapi tangannya kembali meremas bagian favoritnya.


“Ssshhh….apa kau pernah melakukan hal yang sama pada istrimu seperti yang kau lakukan padaku?”


“Dia tidak pernah membuat masalah denganku kenapa aku harus memukulnya?” ucap Dante jujur.


“Lalu apa aku pernah membuat masalah denganmu?” Bella bertanya kembali dengan posisinya menatap kesamping kanan setelah Dante menamparnya. Dia tidak lagi mendongak menatap pria itu.


“Bisa kau pikirkan sendiri!”


“Aku sudah tidak bisa berpikir, otakku korslet!” Bella menggelengkan kepalanya dan menatap Dante dengan tatapan menantang. Dia enggan menurut pada pria itu.


“Aku bukan orang yang sembarangan memberikan hukuman pada orang.” Dante menegaskan.


“Tapi kau orang yang sembarangan mengambil nyawa orang!” balas Bella.


“Tidak akan jika orang itu tidak menyinggungku.” entah kenapa Dante malah meladeni Bella padahal itu bukan sifatnya sama sekali.


“Tapi kenapa kau melakukan itu pada Anthony? Kau hampir saja membunuhnya.”


Mereka bicara masih dengan posisi Bella menengok kesisi lainnya sedangkan Dante terus menatapnya walaupun tatapannya tidak dibalas Bella sedangkan tangannya bergerak bebas menyentuh tubuhnya.


“Apa yang kau inginkan?” tanya Dante.


“Aku tidak menginginkan apapun.” jawab Bella.


“Apa kau berniat untuk mengambil posisi Tatiana, hem?”


“Aku tidak berniat sampai kesana. Aku hanya mengatakan apa yang harus kukatakan dan aku tidak mau menutupi apapun.” ujar Bella menunggu respon Dante yang hanya diam saja.

__ADS_1


“Kau yang menutup dirimu Tuan Dante! Kau tidak mau mendengarkan anakmu, kau membuat hipotesamu sendiri tentang segala sesuatu. Kau terlalu percaya pada istrimu!”


Plaakkk…...kembali sebuah tamparan mendarat dipipi Bella.


Wanita itu terdiam setelah Dante menamparnya lagi, keduanya sama-sama diam.


“Sudah kukatakan padamu jangan pernah mendikteku dan jangan pernah menyalahkan Tatiana!” ucap Dante tegas mengulangi pernyataannya.


“Ssshhhh…...kalau kau marah padaku ya marahlah! Tapi lepaskan tanganmu dari tubuhku! Kenapa dari tadi tanganmu sibuk menyentuhku?” pinta Bella.


“Kau milikku!” tangan Dante meremas kuat. “Selamanya kau adalah milikku!”


“Sakit!” ucap Bella meringis saat tangan besar itu meremas kuat bagian puncaknya.


“Sudah kukatakan kau adalah milikku dan aku bebas melakukan apapun padamu!”


“Ahhh…..sakit sekali. Jangan kau tekan disana dengan kedua tanganmu. Sakit sekali.”


“Kau tahu rasanya sakit?” tanya Dante menatap wajah Bella.


“Kau mau apa?” tanya Bella merintih.


“Kau sudah dengar apa yang aku mau!” tangan Dante meremas semakin kuat.


“Ahhhh sakit…..” Bella berteriak sambil meneteskan airmata menahan perih.


‘Kenapa dia memperlakukan tubuhku begini? Kemarin dia mencambukku dan sekarang apa yang dilakukannya? Dia memelintir kedua gunungku, sakit sekali. Dia mencengkeramnya erat seakan ingin mencabutnya dan sekarang dia…..melakukan hal yang sama dengan mencubit bagian dalam intiku.’ lirih Bella lagi karena Dante memasukkan tangannya kebagian bawah Bella. Dia tidak melakukannya dengan lembut tapi mencubitnya kuat membuat Bella merasa perih dan menangis.


“Berhati-hatilah bicara padaku.”


“Apa kau ingin membunuhku?” tanya Bella lagi dengan mata berderai airmata.


“Kalau kau memaksaku melakukan itu maka aku akan melakukannya.”

__ADS_1


“Lalu kenapa tidak kau lakukan saja?” teriak Bella tanpa rasa takut sedikitpun.


__ADS_2