PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 142. LAGU UNTUK DANTE


__ADS_3

“Dia benar-benar menyukai pianonya. Lihatlah bagaimana dia menyentuhnya seakan dia menyentuh tubuhku. Tangan lembutnya itu menyentuh setiap sisi piano dengan sangat elmbut ahhh…..bikin aku pengen.’ gumam Dante memperhatikan gerak gerik Bella dari pintu. Grand piano itu memang baru dibelinya dan rencananya untuk diberikan sebagai hadiah untuk Bella. Dia meletakkan grand piano itu disana agar tidak ketahuan Tatiana.


“Aku pinjam sebentar pianonya ya.” ucap Bella.


Setelah Dante menganggukkan kepalanya, dengan perasaan gembira Bella menghempaskan tubuhnya dan mulai memainkan pianonya. Jari jemarinya menyentuh piano dan bibirnya mulai bernyanyi.


At last, my love has come along…...my lonely days are over


And life is like a song


Ooh yeah, yeah


At last, the skies above are blue


My heart was wrapped up in clover


The night I looked at you


I found a dream, that I could speak to


A dream that I can call my own


I found a thrill to rest my cheek to


A thrill that I have never known


Ohh yeah yeah


You smile


You smile


Oh and then the spell was cast


And here we are in heaven


For you are mine


At last……

__ADS_1


‘Aku suka caranya bermain piano. Huh kenapa tubuhku jadi panas dingin begini? Tapi pijatannya tidak enak harusnya dulu dia memijat tubuh dengan cara yang sama seperti dia memijat piano itu.’ tangan Bella sedang bermain piano justru Dante mengartikan lain. Didalam pikirannya, jari-jari lentik Bella itu sedang menyentuh dan memijat tubuhnya sambil bernyanyi.


‘Suaranya bagus juga….ssshhhh. Kenapa aku baru sadar kalau suaranya merdu? Sayangnya Tatiana tidak suka bernyanyi!’ tanpa dia sadari dirinya mulai membandingkan Bella dengan istrinya sendiri.


Plok….plok…..plok…… Dante bertepuk tangan setelah Bella selesai bernyanyi.


“Kau mendengarkan aku bermain piano sampai selesai?”


“Hem….” Dante menganggukkan kepala sambil berjalan mendekati Bella dan duduk dikursi panjang disamping Bella. “Kau bermain sangat baik.” dia melirik Bella sambil tersenyum.


“Terimakasih. Aku sangat suka piano.” jawab Bella. “Mungkinkah kelak aku bisa jadi seorang pianis?”


“Kalau kau terus berlatih tidak ada yang tidak mungkin.” ucap Dante.


“Asyikkk…..!” hanya satu kata yang diucapkan Bella sambil bertepuk tangan.


“Kenapa kau memilih lagu itu?” pilihan lagu Bella sangat cocok dengan suaranya dan Dante ingin tahu alasannya karena makna lagu itu sangat tersirat.


“Karena lagu ini mengingatkan aku padamu. Kaulah impianku, kau membuatku tersenyum dan mempunyai harapan bahwa kelak kau lah yang terakhir. Itulah intinya, cinta pertama dan terakhir.” jawab Bella menatap Dante.


“Tidak akan dibalas!” jawab Dante sambil menggelengkan kepalanya dan memicingkan mata menatap wanita itu. ‘Cinta pertama dan terakhir katanya?’


“Tidak apa-apa.” Bella tersenyum.


“Aku juga menyukai BTS tapi aku tidak apa-apa juga kalau BTS tidak menyukaiku.” jawab Bella.


“Apa katamu?” Dante mengerjapkan mata.


“Memangnya kau tidak tahu ya?”


“Apa kau menyamakan aku dengan artis?” tanya Dante. ‘Siapa BTS ya?; Dante bukan pecinta band apalagi musik dari Asia yang belum pernah didengarnya jadi dia tidak tahu BTS.


“Hem….karena aku suka padamu jadi anggap saja aku suka sama artis. Kalau tidak dibalas ya tidak apa-apa, cari saja yang lain.” ucapnya enteng yang membuat Dante marah.


Pletak!


“Aduh! Kepalaku kenapa terus-terusan kau sentil? Aku lupa melindungi kepalaku tapi kenapa dia jadi marah? Memangnya ada yang salah dengan ucapanku?” Bella menatap Dante dengan wajah mendung.


“Kau tidak bisa menjaga mulutmu makanya aku sentil.”

__ADS_1


“Kau tidak bisa diajak bercanda. Lagipula selain aku emnyindirmu dengan lagu itu tujuanku juga karena aku suka Etta James. Dia penyanyi legendaris, suaranya bagus banget! Aku ingin punya anak perempuan dan aku akan menamainya Etta.” ujar Bella lagi.


“Bukankah katamu kau sudah punya anak?”


“Maksudmu Sky? Aku tidak tahu anakku laki-laki atau perempuan makanya aku memberinya nama Sky. Nama yang bagus karena aku berharap anakku bisa seperti Sky yang menaungi bumi.”


“Aku tahu artinya. Arti nama itu dalam bahasa Indonesia adalah Langit iyakan?” ucap dante.


“Kau benar! Baguskan nama itu?”


“Cih!”


“Hei kenapa kau begitu padaku? Kau juga memberikan nama yang sama pada anakmu bukan? Alexander Sky Sebastian.” ujar Bella. “Kenapa namanya sama dengan namaku ya?”


“Kau! Darimana kau tahu nama anakku?” Dante mengerling menatap Bella.


“Aku? Tentu saja aku tahu nama lengkapnya. Kan aku pernah masuk ke kamar anakmu dan aku melihat buku milik Alex, disana ada tulisan namanya. Aku juga pernah lihat dilemari pakaian anakmu. Di wardrobe juga ada nama itu. Ada beberapa baju Alex yang dibordir dengan nama itu. Kau juga suka Sky artinya langit iyakan?” sindir Bella.


“Kau juga menamai anakmu Alexander sama persis dengan namaku Alexandra! Apa kita saling kenal? Atau mungkin aku ada hubungannya dengan anakmu?” tanya Bella asal.


Sedangkan Dante tak berani mengatakan apapun hanya menatap Bella. Ya, semua yang dikatakan Bella memang benar soal pemilihan nama, dia sengaja memberikan nama itu pada anaknya agar sama dengan nama ibu kandungnya dan kata Sky dipakai karena dulu Bella sering mengucapkan kata itu saat dia mengandung Alex.


“Katakan padaku, kenapa kau menamakan anakmu mirip seperti namaku dan juga ada kata Sky?”


“Apa kau harus menjawab pertanyaanmu?” suara Dante agak terbata-bata bahkan untuk beberapa detik dia tidak bisa mengucapkan kata-kata apapun dari bibirnya. Dia tidak pernah menyangka Bella akan menanyakan itu dan dia pun tak tahu bagaimana menjelaskannya.


“Menjawab sih harus tapi masuk sini juga harus...hihihihi…..” Bella terkekeh menggoda Dante dengan suara dan tatapan manja.


“Cih!” pria itu mencibir.


“Hahahahaha!” Bella justru semakin terkekeh melihat wajah pria itu. ‘Kena kau! Aku memang senang menggodamu semakin kau menolakku maka aku semakin menggodamu! Aku penasaran sekali denganmu, kapan sih akan bertekuk lutut dihadapanku? Hahahaha aku mau melakukan perayaan apa ya kalau dia bertekuk lutut. Makan seblak sebanyak-banyaknya? Eh tapi disini mana ada makanan kayak gitu.” Bella sungguh menikmati menggoda Dante.


‘Kau memang dingin tapi ada kemajuan sih setidaknya kau sudah memberikan kenikmatan padaku sekali. Kau mau meladeni aku, tidak seperti pertama kali bertemu kau benar-benar seperti tak punya hati, kaku dan dingin seperti robot!’


“Ada apa denganmu?” tanya Dante menghembuskan napas dan melemparkan pandangannya jauh tidak mau lagi memandang Bella.


“Aku sudah sering melihat pria sepertimu tapi tidak ada yang sepertimu! Kau ini berbeda.”


“Kau mau bilang apa?” Dante melirik Bella.

__ADS_1


“Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?”


“Kau terlalu banyak permintaan!” Dante menggelengkan kepalanya.


__ADS_2