PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 17. BELLA MIMPI BURUK


__ADS_3

“Yeah….setidaknya aku tidak merasa bosan. Aku bisa nonton film dan ponselku juga bisa di cas.” ucapnya melangkahkankaki menuju kamar. Meskipun dia kesal tapi dia sedikit terhibur dengan barang yang ditinggalkan Dante.


Dia duduk di ranjang dan mulai membuka laptop, melakukan apa yang ingin dia lakukan. “Ah…..aku bisa mengisi waktuku juga menelusuri internet. Barangkali ada hal menarik yang bisa kupelajari. Siapa tahu kelak aku bisa hidup bebas dan punya kerjaan normal.”


“Jarang-jarang aku bisa bersantai seperti ini dan nonton film sampai pagi buta! Ini mengingatkanku kembali pada jaman sekolah dulu, akhir pekan aku habiskan waktu nonton drama.Aduh senangnya!” ujar Bella kegirangan, dia bahkan tak terpikir untuk mengenakan pakaian. Sepanjang malam dia tak mengenakan apapun. Kini dia berguling-guling diselimut hingga tubuhnya terbungkus seperti kepompong.


“Biasanya aku terbangun di malam hari untuk melayani orang, sekarang aku jadi sulit tidur malam hari.” seraya menghela napas. Hingga menjelang pagi dia pun menguap lalu merebahkan tubuh dan tidur. Dia tidur di pagi hari dan terbangun saat matahari sudah terbenam. “Hoaammm….sudah jam enam sore ternyata.”


Tangannya menyibak rambutnya, lalu dia beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuh, benar-benar bersih tanpa sehelaipun bulu halus mengganggu. Lalu dia mengambil lingeri dari paperbag dan memakainya.


“Sepertinya tadi ada orang yang masuk ke kamarku dan mengambil pakaian kotor.” ucap Bella ketika melihat pakaian yang dipakainya saat datang sudah tidak terlihat lagi dan handuk basah juga sudah tak ada ditempatnya. “Benar dugaanku, pasti pelayan itu yang membersihkan.”


Lalu dia turun kelantai bawah dan menuju ke meja makan. Ada sajian makanan yang masih hangat diatas meja membuat perut Bella berbunyi karena lapar. “Masih hangat. Enak sekali steaknya! Ini makanan kesukaanku sudah lama aku tidak makan steak seperti ini. Kemarin aku hanya makan sekali itupun tidak jelas makan apa. Tapi hari ini aku makan enak.” ucapnya dengan wajah ceria. Dia sudah tak peduli skaing laparnya, toh hanya dia seorang disana.


Setelah menghabiskan semua makanan, Bella pun mulai bingung mau melakukan apa. Dia duduk diruang TV sambil menyalakan TV, membawa makanan ringan, tak ada kegiatan lain yang bisa dilakukannya. “Apa dia akan datang malam ini?” tanyanya dalam hati sambil melirik kearah lift lalu kembali mengalihkan pandangan ke TV.


Tak ada hal lain yang dia lakukan hanya menonton TV sampai tengah malam. “Pasti dia tidak datang.” ujarnya mengambil cemilan. “Dari tadi kerjaanku makan mulu.” keluhnya melihat kearah perutnya yang membusung kekenyangan. “Oh tidak! Aku tidak mau gendut!” celetuknya panik. Bella segera berdiri lalu mengambil air minum dan menggunakan sisa tenaganya berolehraga.


Di penthouse itu ada gym sehingga memudahkan Bella melakukan aktivitas olahraga. “Setidaknya aku bisa membakar kaloriku!” ujarnya sambil oleh raga hinga lewat tengah malam. Sekitar pukul dua pagi baru dia selesai lalu beralih keruang sauna dan kembali ke kamarnya setelah mandi.


“Melelahkan juga ternyata.” sambil membaringkan tubuh dan memeriksa ponselnya. Ada pesan masuk dari Sarah adiknya. [Kak...aku sudah di asrama sekolah. Kakak apa kabar? Jangan lupa mengabariku ya kak.]


Membaca pesan dari adiknya membuat hatinya merasa sedih, sambil mengerucutkan bibir dan tersenyum, Bella meletakkan kembali ponselnya tanpa membalas pesan Sarah.


Aku tidak tahu kapan aku akan pulang dan keluar dari tempat ini. Kenapa nasibku buruk sekali? Sendirian tak punya teman. Hidupku sangat menyedihkan! Ini mengerikan, bagaimana kalau listrik padam dan gelap? Aku sendirian disini, dia pun bergidik ngeri.

__ADS_1


Bella selalu takut akan kegelapan sejak kejadian yang menimpanya empat tahun lalu. Meskipun jalan hidupnya menderita tapi dia selalu tegar demi adiknya.


Tak terasa matanya terpejam karena letih jasmani dan rohaninya. Ditengah tidur pulasnya, Bella mimpi buruk. Mimpi tragedi empat tahun lalu yang membuatnya ketakutan. “Hentikan! Aku mohon hentikan! Tolong!!! jeritnya.


“Hey! Hey!” sebuah tangan menepuk-nepuk pipinya.


“Haaahhhhh! Tuan Dante!” Bella sangat kaget dan terbangun dari mimpi buruk. Tatapan matanya penuh ketakutan, dia tida sadar antara masih tidur atau sudah bangun. Dia tak tahu apa yang membuatnya mimpi buruk kejadian empat tahun lalu. Matanya hanya menatap pria yang berdiri dihadapannya dengan mata tak berkedip.


“Apa yang terjadi denganmu? Apa kau mimpi buruk?” tanya Dante pada Bella yang kini wajahnya merenggut dan merapatkan kakinya ketubuh. Dia memeluk tubuhnya erat-erat, jelas terlihat ketakutan diwajahnya.


‘Mimpi itu? Mimpi itu mengapa terasa sangat nyata? Itu aku….dia merenggut kesucianku! Orang itu yang pertama! Dia…..’ Bella berusaha mengingat-ingat kejadian empat tahun lalu.


“Hei! Kau kenapa? Mimpi buruk?”


“Tuan...aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian. Hiks...hiks….hiks..” isak tangis Bella pun pecah. Airmatanya bercucuran dan histeris. Dante mengeryitkan keningnya tak mengerti apa yang telah terjadi pada gadis itu.


“Jangan tinggalkan aku Tuan Dante! Aku mohon jangan tinggalkan aku!” ucap Bella sesenggukan dan seluruh tubuhnya bergetar, keringat mengucur deras, dia terlihat linglung dan ketakutan.


“Kau tidak apa-apa? Dante bertanya lagi membuat Bella menengadahkan wajahnya menatap pria itu.


“Berikan aku obat! Tolonglah berikan aku obat.”


“Obat? Obat kau bilang? Obat apa maksudmu?” Dante mengeryitkan kening.


“Aku takut sekali. Tolong berikan saja aku obat agar tenang. Aku tidak bisa tenang kalau begini. Aku mohon...obatku! Berikan obatku.” pintanya menangis dan tangannya bergetar memohon pada Dante seperti layaknya seorang pengemis yang memohon kebaikan hari.

__ADS_1


“Jadi selama ini kau diberikan obat?”


“Cepat berikan aku obatnya….tolonglah, aku takut. Hiks..hiks...hiks….” Bella tidak menjawab, tangisnya semakin pilu dan menyayat hati.


Dante berpikir apa yang terjadi pada gadis itu. Kenapa dia meminta obat padanya, apa yang dia mimpikan sehingga membuatnya ketakutan seperti itu? Syukurlah aku mengikuti instingku dan segera datang kesini.


Entah apa yang akan terjadi padanya kalau tidak datang, gumam Dante dalam hati. Dia tiba sesaat dia mendengar Bella menjerit dan menangis. Saat dia melihat Bella yang tak biasa, dia pun membangunkannya.


“Obatnya! Mana obatku.” Bella merintih dengan tangan terbuka memohon, menyadarkan Dante apa yang harus dia lakukan pada gadis itu.


“Kau ini menyusahkan saja.” ucapnya lalu keluar dari kamar dan buru-buru ke dapur mengambilkan air minum dan kembali lagi ke kamar.


“Minumlah dulu.” Dante duduk berhadapan dengan Bella sambil menyodorkan gelas. Wanita itu masih menangis terisak dan ketakutan memandang Dante dengan tubuhnya bergetar.


“Apa kau tidak mendengarku? Minumlah dulu!”


“Berikan aku obatnya. Aku mau obat!” pinta Bella memohon dengan raut wajah yang memelas.


“Akan kuberikan setelah kau minum.”


Mendengar ucapan dante, Bella pun mengambil gelas, tapi tanpa sengaja gelas terjatuh dan pecah.


“Ahhh….” tangannya tidak stabil karena bergetar sehingga gelas jatuh ke lantai.


“Hei! Apa yang membuatmu seperti ini?” Dante berusaha bertanya pada Bella setelah melihatnya semakin ketakutan, dia mundur dan memeluk tubuhnya lagi.

__ADS_1


Ada apa dengannya? Kenapa dia jadi seperti ini? Hati pria itu kembali merasa sedih melihat kondisi Bella.


__ADS_2