
“Biar aku bicara dengannya nanti. Mungkin dia bisa memberikan bantuan dan tidak melakukan ini padamu!” kata Anthony mencoba berpikir.
“Percuma Anthony! Kau tidak perlu melakukan itu, bahkan ayahmu tadi hampir menghancurkan rumahku. Kau boleh percaya atau tidak tapi aku punya bukti-butkinya. Sekarang aku mau mengungsikan seluruh anggota keluarga.”
“Apa ada rahasia yang kau sembunyikan sehingga ayahku mencarimu?”
“Tidak ada! Aku hanya menyelamatkan pasukan yang masih hidup. Itu saja kesalahanku, karena aku menolak perintah ayahmu agar membiarkan mereka bertarung padahal kami sudah kalah. Kalau aku tidak menarik mereka mundur maka pasukan yang tersisa semuanya akan mati Anthony!” ujar Vince dengan nada penuh penekanan.
“Baiklah. Terimakasih atas penjelasannya. Aku akan mencoba mencari cara untuk menemuimu.”
“Aku tidak tinggal di Slovenia lagi. Seperti kataku tadi kalau aku sudah pergi mengungsi dan melindungi keluargaku.”
“Ha? Kemana kau sekarang?” Anthony terkejut mendengar sahabatnya itu akan pergi.
“Mungkin aku akan kembali ke Italia!” jawab Vince mengatakan niatnya untuk kembali ke negara asalnya.
“Kembali ke Italia?” tanya Anthony mengulang perkataan Vince.
“Iya, sebelum bergabung dengan pasukan federal aku adalah orang Italia. Tentu saja aku akan kembali ketempat tinggal dimana aku dibesarkan.”
“Akan sulit bagiku menemuimu disana. Tempat itu adalah tempat yang mungkin tidak akan bisa aku datangi untuk beberapa waktu kedepan. Bisakah kalian tetap tinggal di Slovenia?”
“Slovenia adalah daerah kekuasaan ayahmu. Aku tidak tahu seberapa besar dia ingin mendapatkan nyawaku karena dia masih terus mengejarku.”
“Begitukah? Jadi kau sengaja pergi ke Italia untuk menghindari pengejaran terhadapmu?”
“Tentu saja! Aku akan mengirimkan obrolan terakhirku dengan pasukan yang aku selamatkan, sisanya sudah dipecat juga dengan tujuan membelot mendukungku dan tiga orang lagi belum dipecat, mereka sudah meninggal Anthony! Mungkin ayahmu yang membunuh mereka!”
“Apa mungkin ini ketidaksengajaan atau…..” Anthony menggantung kalimatnya, ada perasaan ragu dan tak percaya. Dia tidak yakin jika ayahnya berani bertindak sejauh itu.
Tapi pria yang sedang bicara dengannya adalah sahabatnya, dia sangat mengenal Vince yang memang jujur dan loyal.
“Kau pintar Anthony! Aku yakin sekali kalau kau pasti mengerti tentang hal ini!”
“Baiklah. Anggaplah pikiranku dan juga pikiranmu sama. Apa kau ingin mengatakan bahwa ayahku yang menjebak mereka dan membuat mereka mati?”
“Kalau kau satu pemikiran denganku ya itu kemungkinannya! Hanya saja aku tidak memiliki buktinya. Aku sudah memberitahukan beberapa orang anggota pasukan yang masih hidup untuk berjaga-jaga dan berhati-hati. Sebisa mungkin mereka pergi meninggalkan tempat ini!”
“Aku akan menyelidiki hal ini!” ujar Anthony.
“Berhati-hatilah dan jaga dirimu baik-baik Anthony! Aku yakin ayahmu adalah orang yang bertangan dingin, dia bisa membunuh kami dan tidak menutup kemungkinan juga dia bisa juga membunuhmu Anthony! Dia akan melakukan apa saja untuk membungkam siapapun.”
__ADS_1
“Dia mungkin bisa membunuhmu tapi dia tidak mungkin bisa membunuhku! Aku adalah darah dagingnya! Biar aku mencari tahu tentang kasusmu dan biarkan aku membantumu. Jika kau benar-benar tidak bersalah.” ujar Anthony. Dia tidak tahu jika Jenderal Robert akan membunuhnya tanpa pikir panjang karena dia bukan anak kandungnya.
“Terimakasih Anthony! Aku tutup dulu teleponnya. Nanti kalau aku punya informasi terbaru aku akan segera menghubungimu lagi.”
“Ide bagus kawan! Tapi gunakan telepon dan kartu lain ya. Kau mengerti kan?”
“Aku paham Terimakasih sudah mau mendengarkanku.”
“Bagaimanapun juga kau adalah temanku.”
“Terimakasih Anthony. Sampai jumpa.”
Vince mematikan teleponnya dan membuat Anthony menghela napas sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. ‘Ayah? Kenapa dia menghancurkan pasukannya sendiri? Apa sebenarnya yang sedang direncanakannya? Kenapa dia harus menjebak Vince? Bukankah Vince adalah salah satu orang yang sangat berkompeten dan dia juga selalu punya ide-ide yang cemerlang?’ Anthony tidak memahami semuanya.
‘Tapi mungkin sebaiknya aku mencari tahu sendiri perihal itu. Masalah ini sudah menganggu selama sebulan terakhir, pencabutan hak sebagai anggota federal bagi semua anggota yang gagal dalam penyerangan itu. Kalau memang terbukti kau yang salah, apa yang harus kulakukan ayah? Haruskah aku melaporkan yang sebenarnya pada pihak konstitusi federal?’ gumam Anthony dihatinya.
‘Ini pasti akan sulit sekali. Kau adalah ayahku dan aku harus melawanmu! Semoga semua masalah ini cepat selesai, sekarang aku akan melakukan investigasi dulu,’ bisik hati Anthony.
Dreeetttt dreeettttt dreeeetttttt
‘Ada apa Anna meneleponku?’ gumamnya.
“Bukan itu. Aku mau bicara denganmu, bisakah kau keluar dulu? Kau ada dimana sekarang?”
“Aku ada dikamarku. Tunggu sebentar aku akan menemuimu.”
Anthony melangkahkan kakinya keluar dari kamar segera menemui dokter Anna yang sudah berdiri didepan kamar Bella yang berjarak sekitar empat kamar dari kamar Anthony.
“Apa yang ingin kau bicarakan padaku Anna?”
“Jadi itu kamarmu?” ujar Annad sambil menunjuk dengan dagunya.
Anthony menganggukkan kepala, “Iya benar! Itu kamarku,cukup dekat dengan kamar ini hehehe.”
“Lumayan. Dan apa karena kamarmu dekat itu makanya kau mudah keluar masuk kedalam kamar Bella ya Anthony?”
“Ada apa? Kenapa kau bertanya begitu padaku? Aku tidak paham, Anna?”
“Kau tidak perlu bingung Anthony! Tapi sekarang kau jawab pertanyaanku. Apakah kau menyentuh wanita didalam itu? Maksudku hubungan laki-laki dan wanita?”
“Hah? Tidak! Jangankan menyentuhnya untuk hal semacam itu memegang tangannya saja dia sudah berteriak dan melemparku.”
__ADS_1
“Kau serius?” tanya Anna membulatkan matanya.
“Hem. Memangnya kenapa?” tanya Anthony mengeryitkan dah merasa bingung mendengar nada suara dokter Anna dan ekspresi wajahnya.
“Dia hamil, Anthony!”
Glek!
Untuk sesaat Anthony menelan slaivanya setelah dokter Anna memberitahunya kondisi kesehatan Bella.
“Anthony! Kenapa kau diam?”
“Eh iya,,,,Bella hamil katamu?” Anthony mengulang pertanyaan.
“Iya Anthony!” Anna menganggukkan kepalanya.
“Aihhh…..” hanya itu kata yang keluar dari bibir Anthony lalu dia menghela napas kasar sambil memijat pelipisnya.
‘Hamil? Aduh Bella kok bisa hamil sih?’ gumamnya didalam hati dia tak tahu bagaimana lagi harus merespon berita tentang berita kehamilan Bella,
“Anthony!” panggil Anna.
“Heeh?”
“Kau tidak fokus Anthony. Kenapa?” tanya Anna. “Eh maaf Anna. Kau tahu itu anak siapa Anthony?”
“Yang jelas bukan anakku!” Anthony bicara sambil menatap Anna.
“Lalu, siapa kira-kira?”
“Kalau dugaanku benar maka itu adalah anak Dante!” jawab Anthony sambil melipat tangan didada.
“Apa? Anak Dante Sebastian? Kau serius?” tanya Anna membelalakkan mata tak percaya.
“Hem. Pasti anaknya! Aku sangat yakin itu.”
“Anthony katakan padaku dengan jelas, jadi dia memang punya hubungan dekat dengan Dante?”
“Hem, aku rasa begitu.” Anthony mengangguk lalu menatap Anna lagi, “Bisakah kau membantuku?” tanya Anthony lagi.
__ADS_1