PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 476. DALAM TIGA MENIT


__ADS_3

“Tapi kami tidak mau terjadi sesuatu padamu bos! Kami mau berjuang sampai titik darah penghabisan bersamamu!”


“Aku tahu apa yang harus kulakukan! Aku tidak akan mati bunuh diri disini! Kalian pergilah dan buat mereka menjauh dari sini. Apa kalian sudah menyiapkan bom juga didaerah sini?”


“Tidak boss!”


“Kenapa tidak?” Eddie kembali bertanya sambil


menatap serius.


“Kalau tidak salah ada tiga, bos!” anak Eddie meralat kata-katanya. “Tapi semuanya memiliki daya ledak yang rendah dan saat mempersiapkan senjata Tuan Henry sudah mengatakan pada kami kalau akan disiapkan rudal dan diatur oleh pusat pengendali.”


“Pusat pengendali?” Eddie mengeryitkan dahinya mendengar penjelasan anak buahnya. Eddie mengulang-ulang kata-kata itu dan otaknya bekerja dengan cepat untuk mendapatkan jawaban apa yang harus dilakukannya sekarang. Apa keutnungan dari penjelasan ini? Eddie mulai memikirkan tentang hal itu hingga akhirnya diapun tersenyum.


“Baguslah. Aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang! Begini saja…..dimana tempat orang-orang yang berhubungan dengan pusat pengendali? Cepat beritahu aku.”


”Diatas sana bos!” pria itu menunjuk kearah bukit dimana Dante tadi berada.


“Di atas bukit itu?” Eddie kembali bertanya karena masih merasa tidak yakin.


“Iya bos! Diatas bukit disana! Kira menaruh dirumah yang nomor delapan itu. Maksudnya rumah diurutan ke delapan.”


“Bagus! Aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang!” Eddie pun tersenyum. “Lakukan apa yang kuperintahkan! Bawa mundur semua pasukanmu perlahan-lahan. Biar aku yang mengurus semuanya disini.”


“Dengan kapal itu bos?”

__ADS_1


“Iya! Jangan membuang waktuku lagi. Berikan aku ponsel.” Eddie bicara sambil mengangguk dan dia menengadahkan tangannya meminta ponsel anak buahnya.


“Baik bos!” pria itupun langsung merogoh sakunya dan memberikan ponselnya kepada Eddie.


“Apa kau punya ponsel lain?”


“Punya bos! Saya sengaja menyimpan dua ponsel bos! Untuk jaga-jaga, ponsel yang satu untuk pekerjaan dan saya yang memegangnya. Sehingga kalau ingin menghubungi saya, bisa bisa menghubungi ponsel itu dengan mudah! Nomor di ponsel yang saya berikan pada bos itu biasanya saya gunakan untuk menghubungi keluarga saya sendiri.”


“Aku mengerti! Aku pinjam dulu ponselmu ini. Tunggu aku menghubungimu. Sekarang kau pimpinlah pasukanmu naik keatas kapal itu dan nanti setelah sampai disana, kau coba menghubungi pangkalan! Segera kau hubungi Nick. Dia akan memberikan instruksi padamu. Tapi pergilah kearah laut lepas sepertinya akan ada jemputan disana. Jangan melakukan sesuatu yang berbahaya hingga aku memberikan kabar pada kalian.”


“Baik bos!” anak buahnya mengerti dan dengan berat hati mereka mengikuti perintah Eddie karena saat ini Eddie sudah pergi berjalan meninggalkan tempat itu sendirian.


“Kau sengaja untuk menjebakku, membiarkanku untuk tinggal lebih lama disana! Kau berusaha membuat aku membahayakan anak buahku.”


“Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja! Kau juga sudah menyadapku dan mungkin semua jaringan Dante. Jadi rencana kami semua sudah kalian ketahui bukan? Ya Tuhan, aku harus segera menghubungi Nick! Tidak boleh sampai seseorang masuk kerumah Dante. Ini berbahaya sekali situasinya.”


Dorrr doooorrr dooooorrrr


BUG! BUG!


Eddie juga membunuh beberapa orang yang berpapasan dengannya. Dia tidak punya pilihan lain karena saat ini hanya ada dua pilihan yaitu dibunuh atau membunuh. Tidak ada lagi negosiasi dan tidak ada kesempatan untuk bicara.


“Aku harus cepat! Sebentar lagi aku sampai disana.” Eddie berbisik sendiri sambil terus berlari dalam gelapnya malam dan menguntungkan sekali untuknya karena suasana gelap membuat dirinya mudah untuk bersembunyi. ‘Dante, aku masih belum mengerti, temanmu orang federal itu mematikan lampu disini tujuannya memang untuk membantu kita?’


‘Ataukah dia membantu dirinya sendiri? Jika dia memang membantu kita maka itu sudah memudahkanku bergerak tapi dia juga membahayakan kita dengan membuat bisnismu merugi! Bukan karena uang sudah ditransfer pada kita tapi dari segi kepercayaan dan anak buahmu! Saat ini sudah banyak yang mati! Kita masih dalam posisi menang sampai mereka mendatangkan orang tambahan untuk melawan kita.’

__ADS_1


‘Dante…..inilah yang paling tidak aku suka darimu saat bekerjasama dengan pihak federal. Aku sudah mengatakan padamu kalau mereka licik! Anthony yang kau percaya itu mungkin saja sudah dicuci otaknya oleh cara berpikir mereka dan mungkin saja dia berkhianat!’ Eddie tetap berlari dan melindungi dirinya.


Tapi dia juga terus berpikir tentang kemungkinan yang terjadi yang menyebabkan dirinya juga mengalami kesulitan saat ini. Segala macam kecurigaan ada didalam benaknya yang tidak bisa sampaikan kepada siapapun. Hingga akhirnya dia sampai didepan rumah yang tadi ditunjukkan oleh orang kepercayaannya.


‘Semoga saja benar rumah ini yang dikatakan anak buahku tadi! Tidak ada bedanya dengan rumah warga lainnya sehingga aku sedikit curiga tapi baiklah, biar aku coba masuk mudah-mudahan saja ini bisa mempermudah langkah kami.’ Eddie mencoba menyakinkan dirinya sendiri saat dia baru mau memegang gagang pintu.


“Tidak dikunci?” Eddie awalnya enggan untuk masuk tapi akhirnya dia memutuskan untuk langsung masuk kedalam rumah itu. ‘Aku harus memastikan keadaan karena tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan anak buahku.” Eddie memperingatkan dirinya snediri dan sudah menodongkan senjatanya untuk berjaga-jaga.


“Berani melangkah lagi kami akan menembakmu!” ucapan terdengar dari dalam rumah ketika senjata Eddie sudah muncul lebih dulu dipintu sebelum tubuh dan wajahnya dilihat oleh mereka.


“Turunkan senjatamu! Aku Eddie!”


“Bos! Ada apa bos?” anak buahnya pun langsung melunak ketika mereka mendengar suara yang familiar milik atasan mereka itu.


“Kalian yang bertugas untuk menghubungi pusat pengendali disini?” tanya Eddie sudah dengan posisinya masuk didalam rumah dan dia pun langsung menutup pintu.


“Iya bos!” jawab salah satu dari tiga orang berada didalam rumah itu dalam keadaan lengkap dengan komputer mereka.


“Bagus!” ucap Eddie singkat.


Dia lalu duduk dan menunjuk pada layar komputer. “Perhatikan! Saat pasukan kita sudah mulai naik ke kapal, aku minta kalian meledakkan bomnya!” Eddie memperingatkan sambil menunjuk kearah kapal mereka. Kini pria itu terlihat sangat fokus memperhatikan layar komputer seraya memberi perintah pada anak buahnya.


“Bos! Kita tidak ada bom disini! Hanya bom-bom kecil saja yang memiliki daya ledak rendah. Ini tadinya digunakan untuk menarik perhatian mereka supaya fokus pada sesuatu yang sedang mereka selamatkan. Dan akhirnya orang-orang itu bisa kembali menyerang ketitik yang ingin dituju.” ujar salah satu pria menjelaskan pada Eddie.


“Apa maksudmu?” Eddie bertanya dengan sedikit bingung.

__ADS_1


“Senjata terkuat kita dikirim dari pangkalan bos! Mohon maaf karena kami baru menginformasikan ini bos! Karena memang seperti itu perintah dari Tuan Dante. Kami tidak boleh memberitahukan kepada siapapun kecuali bicara langsung seperti ini. Kita harus menghubungi pangkalan dan mereka akan membutuhkan waktu kurang lebih tiga menit untuk meledakkan bom.”


__ADS_2