
Setelah mematikan handphone, Dante langsung memasukkan kedalam saku celananya.
“Hei, apa tadi kau membicarakan soal Barack? Aku mendengar kau menyebut namanya!” cecar sarah yang langsung bertanya pada Dante setelah pria itu menutup teleponnya. Dante bicara dengan bahasa Italia dan Sarah tidak paham apa yang mereka bicarakan sedangkan Alex sedang tidur dalam pelukannya. Kalau Alex bangun mungkin dia akan menjelaskan kalimat yang diucapkan oleh dante pada lawan bicaranya di telepon tadi.
“Bukan urusanmu! Tidak ada hubungannya dengan Barack sama sekali!” Dante tak ingin menjelaskan apapun apa Sarah karena dia tidak mau gadis itu malah membuat masalah baru.
“Kau bohong! Aku tadi mendengar kau menyebut nama Barack!” Sarah tetap mendesak.
“Temanku bertanya keberadaan Barack, aku bilang Barack tidak bersamaku,” ujar Dante berbohong.
“kau pasti berbohong! Aku benar-benar tidak percaya padamu.” ujar Sarah dengan wajah cemberut lalu memandang kedua teman Dante yang ada disebelahnya, “Apa yang dikatakan Dante itu pasti bohong, bukan? Dia membicarakan tentang Barack tadi, iyakan? Apa Barack sudah ditemukan?” Sarah memaksa meminta penjelasan.
“Kalau Dante mengatakan begitu maka kau harus percaya saja pada ucapannya.”
“Kalian beruda sam saja! Tidak bisa menolongku. Benar-benar tidak berguna!” Sarah menunjukkan wajah kesalnya pada ketiga pria itu.
“Kami pun sulit untuk menolong diri kami sendiri. Jadi sebaiknya kau terima saja apa yang dikatakan Dante ya.” Eddie menimpali.
“Kakak iparku itu tidak baik padaku! Bisakah kalian menolongku memberitahuku apa Barack sudah ditemukan?” memang tidak mudah membuat Sarah berhenti bicara apalagi sekali dia sudah merasa curiga. Tadi dia memang mendengar nama Barack dan dia curiga pada Dante. Itu yang membuatnya tidak bisa diam sepanjang perjalanan diatas helikopter menuju ke bandara. Dia masih saja ribut meminta penjelasan pada Dante dan teman-temannya. Dia benar-benar tidak mau menyerah.
“Dante! Anak ini berisik sekali!” celetuk Eddie dengan bahasa Italia dengan intonasi pelan.
“Hmmm! Akhirnya kau percaya padaku kan? Bisa kau bayangkan bagaimana Barack bisa hidup denganmu? Mulutmu berisik sekali! Bikin pusing!”
“Hei kalian membicarakan aku atau membicarakan Barack? Kenapa kalian tidak pakai bahasa Inggris saja? Aku tidak mengerti bahasa yang kalian pakai!”
“Kalau kau tidak mengerti sebaiknya kau diam saja! Jangan berisik!” celetuk Dante.
“Tapi aku ingin tahu apakah Barack sudah ditemukan, dimana dia sekarang? Dari caramu bicara sepertinya tadi kau memang bicara tentang Barack. Banyak sekali kau membahas tentangnya dengan temanmu tadi diteleponkan?”
“Sudah kujelaskan apa yang ingin kau tanyakan tentang apa yang aku bicarakan tadi di telepon. Jadi berhentilah menggangguku lagi kalau kau tidak percaya telan saja!” ujar Dante ketus pada Sarah.
“Kenapa sih kalian sulit sekali bicara? Aku cuma minta ifnormasi tentang Barack.” Sarah pun menyerah setelah menggerutu. Dia memilih menyandarkan tubuhnya sambil memeluk Alex erat-erat.
__ADS_1
‘Awas saja kalau aku sudah bertemu lagi dengan Barack! Aku akan menceritakan semua padanya. Arrgggg aku punya kakak ipar kejam sekali! Tidak ada baik-baiknya padaku,” omel Sarah didalam hatinya.
“hei! Kenapa kau melihatku begitu?”
“Aku sedang berpikir apa yang akan aku sampaikan pada Barack. Kau galak sekali padaku. Aku akan mengadu padanya nanti.”
“Hahahaha…..mengadulah pada Barack! Aku tidak yakin dia peduli padamu.”
“Kenapa kau bilang begitu?”
Dante tidak menjawab dan hanya tersenyum sini, “Turun! Kita sudah sampai dan jangan banyak pertanyaan lagi. Ini sudah malam, sudah waktunya untuk beristirahat. Sebaiknya sampai di pesawat kau tidur saja.” perintah Dante.
“Semuanya kan belum selesai. Kenapa kau sudah ingin kabur?”
“Kita tidak punya banyak waktu! Cepat turun dan cepat naik keatas pesawat!”
“Iyaaa.”
“Tidak perlu menggendong Alex. Biar aku yang menggendongnya.”
“Bella!”
‘Lagi-lagi kau menyebut namanya saat kau tidur. Apa kau masih merindukannya?’ tanya Dante didalam hatinya yang membuatnya semakin mengeratkan pelukannya pada Alex.
“Bella!”
“Alex! Kita mau pulang sekarang! Kau akan segera bertemu dengan Bella!” bisik Dante ditelinga Alex yang membuatnya sedikit melirik dan bangun dari tidurnya.
“Daddy! Aku bermimpi Bella-ku.” jawab Alex mengerucutkan bibirnya.
“Apa yang kau mimpikan Alex?” tanya Dante.
“Bella! Aku mimpikan Bella-ku!” ujar Alex menganggukkan kepalanya, “Aku kesal sekali pada Bella, daddy!” bibirnya mengerucut dengan wajah cemberut.
__ADS_1
Dante tersenyum kecil, “Kau hanya mimpi saja tak perlu dimasukkan dalam hati ya. Memangnya apa yang dikatakan Bella dalam mimpimu?” tanya Dante sambil berjalan menuju ke kamar tempat tidur Alex. Saat ini kondisi malam hari karena itu Dante langsung membawa anaknya kedalam kamar untuk beristirahat sedangkan Sarah mengikutinya dibelakang Dante. Hans dan Eddie lebih memilih untuk duduk dan bersiap-siap untuk berangkat.
“Bella tidak bilang apa-apa. Tapi….” wajah Alex langsung cemberut dan menunjukkan kekesalannya lagi saat Dante sudah membuka pintu kamar.
“Tapi apa?”
“Aku melihat Bella-ku, daddy! Dia membawa baby! Tapi Bella-ku tidak menggendongku lagi tapi dia menggendong baby itu! Apa Bella-ku akan punya anak jadi dia tidak akan datang bertemu denganku lagi?” tanya Alex dengan ekspresi serius dan sedih.
“Hahahahah!” suara tawa dibelakang Dante membuat Alex dan Dante segera menoleh kearah suara saat Dante mendudukkan Alex ditempat tidurnya.
“Apa yang lucu?” tanya Dante mengerutkan keningnya.
“Aku bersyukur sekali kalau yang dikatakan Alex itu benar!” jawab Sarah sambil menunjukkan kekesalannya pada Dante.
“Apa maksudmu? Kau senang karena Bella akan memberikan keponakan baru?” Dante memicingkan matanya menatap tajam pada Sarah.
“Fuuh!” Sarah menganggukkan kepala, “Tentu saja aku sangat senang sekali. Itu artinya kau kehilangan Bella bukan? Dia memilih laki-laki lain? Hahahaha! Jangan-jangan dia sudah memiliki anak dari laki-laki lain sekarang selama satu bulan kau tidak mencarinya!”
“Aihhh bocah kecil! Hati-hati kau bicara padaku.” Dante sangat kesal sambil berdiri dia menengok Alex. “Alex! Kau tidak boleh membenci bayi itu ya?”
“Memangnya kenapa aku tidak boleh membencinya daddy?”
“Sudah kubilang, kau tidak boleh membenci baby-nya. Lakukan saja apa yang daddy katakan.”
“Tapi Bella-ku mencium baby itu! Bella-ku tidak menyayangiku lagi, dia tidak menggendongku.”
“Bella sangat menyayangimu. Dia sangat merindukanmu. Kau ingin bicara dengan Bella?” ujar Dante mengelus rambut Alex.
“Apa aku bisa bicara dengannya daddy? Kau sudah menemukannya daddy?” Alex antusias sekali.
Dante menganggukkan kepalanya lalu dia mengambil ponsel dan menghubungi lagi nomor telepon yang tadi dipakai Anthony.
“Kenapa lagi kau menghubungiku?”
__ADS_1
“Katakan pada Bella kalau Sky-nya sangat merindukannya dan dia ingin bicara dengan Bella.”