
“Mengurus kepulangan Omero?” tanya Eddie.
“Hmmm! Dan jangan lupa untuk meminta Henry untuk menyiapkan helikopter. Kita akan kembali ke mansion dengan menggunakan helikopter.” ucap Dante dengan tegas memberi perintah pada sahabatnya itu.
“Baiklah Dante!” jawab Eddie tak ingin berlama-lama lagi dan membuat keributan dengan Dante, dia pun pamit undur diri.
“Ayah, jangan terlalu dipikirkan semuanya. Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu!” Dante mengkhawatirkan kondisi kesehatan ayah mertuanya itu. Dia mencoba mengingatkan dan menenangkan hati pria paruh baya itu. Karena dia bisa melihat ada kegelisahan di mata Omero.
‘Fuuhhh! Padahal kedatanganku kesini sebenarnya ingin membicarakan tentang orang bernama Dante Emilio! Tapi sepertinya ayah sudah terlalu banyak pikiran dan sedang tidak tenang sekarang. Aku harus mencari waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini dengannya.’ bisik hati Dante yang tak ingin menambah beban pikiran Omero lagi.
“Dante, boleh aku meminta sesuatu padamu?” tiba-tiba pria paruh baya itu bicara setelah dia diam sejenak.
“Apapun yang ayah minta akan kuberikan.” jawab Dante.
“Aku tidak meminta yang aneh-aneh padamu. Aku hanya ingin memintamu untuk melindungi putriku Bella!” ujar Omero dengan tatapan penuh pengharapan agar Dante mau memenuhi permintaannya.
Mendengar itu membuat Dante tersenyum. Itu hanyalah sebuah permintaan sederhana, tanpa diminta pun dia akan selalu melindungi Bella, ibu dari kedua anaknya.
“Ayah, itu bukan suatu permintaan! Tanpa kau minta pun aku akan melakukannya untuk Belinda.” ucap Dante memegang tangan Omero sebagai bukti janji yang akan dia lakukan dan tepati.
“Aku tidak pernah ada untuk anak itu. Dan aku juga tidak pernah membahagiakan anak itu sejak dia lahir, Dante! Aku meninggalkannya, karena aku juga meninggalkan ibunya juga. Aku memisahkan dia dari saudara kembarnya. Aku tidak pernah melihatnya sejak dia bayi dan kami tidak pernah berhubungan seperti layaknya ayah dan anak." suara Omero tercekat merasa sedih.
" Maafkan aku Dante! Kali ini aku memohon sesuatu yang sulit padamu. Tapi bisakah kau bersikap padanya seperti kau bersikap pada istrimu? Seperti kau bersikap pada adikmu, seperti kau bersikap kepada anakmu dan seperti kau bersikap kepada kekasih hatimu? Perlakukanlah dia dengan sebaik mungkin.” pinta Omero lagi.
“Ayah, kau ingin aku mengambil semua peran itu?” tanya Dante tersenyum mendengar permintaan ayah mertuanya itu.
“Iya! Kau tidak perlu memikirkan tentangku. Umurku sudah senja tapi putriku, dia masih muda dan membutuhkan semua itu. Jangan pernah tinggalkan dia seperti aku meninggalkan ibunya, Dante.” ucap Omero dengan wajah sedih.
“Hmmm….apa kau akan meminta hal yang sama aku juga lakukan untuk Tatiana?” dengan iseng Dante menanyakan hal itu. meskipun dia merasa enggan membicarakan tentang Tatiana.
Dante menanyakan itu karena Tatiana juga adalah putri dari Omero.
__ADS_1
“Tidak! Kau hanya perlu menjaga anakku Belinda! Sedangkan Tatiana, dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya! Dia lebih dewasa daripada Belinda. Usia mereka terpaut jauh dan aku mengkhawatirkan Belinda. Aku takut dia akan mendapatkan kesulitan Dante!”
“Aku akan menikah dengannya ayah! Sekarang ayah tidak perlu memikirkan dan mengkhawatirkan Belinda lagi. Aku akan selalu menjaganya. Aku janji!”
“Kau sudah mengatakan itu padaku.”
“Tapi pernikahan itu harus tertunda sementara ayah! Tatiana belum mau memutuskan dan kami masih ada masalah dengan surat perceraian.” kata Dante lagi dengan menghela napas panjang.
“Itu hal yang wajar Dante.” ucap Omero. “Tatiana tidak akan memudahkanmu.”
“Apa saranmu untuk hal ini, ayah?” tanya Dante lagi karena sebenarnya dia mencemaskan hal itu.
“Menikahlah dengan Belinda! Urusan Tatiana itu nanti biar aku saja yang mengurusnya. Aku akan menyuruh pengacaraku untuk menyelesaikannya. Jangan pedulikan tentang Tatiana. Segeralah menikah dengan Belinda!”
“Terima kasih ayah. Maafkan aku, bukan maksudku menyakiti hatimu dengan meninggalkan anakmu yang lain dan menikahi anakmu yang satu lagi.”
“Tidak perlu berpikir seperti itu. Aku sangat memahami keadaanmu Dante! Anakku yang satu itu, memang dia tidak pantas untukmu Dante! Dia itu bukan istri yang baik!” ucap Omero.
Tok tok tok tok
Suara ketukan di pintu menghentikan pembicaraan keduanya dan mereka langsung diam setelah melihat siapa yang datang. Eddie memasuki ruang perawatan itu dan berkata.
“Semuanya sudah siap Dante! Kau bisa pulang sekarangg.” ucap Eddie yang muncul.
“Bagaimana rencamu Eddie?”
“Kau dan Omero pulanglah lebih dulu. Anak buahku yang akan membawa mobilmu kembali ke mansion. Perawat dan dokter akan ikut bersama denganmu. Aku akan menyusul kalian nanti.”
“Berapa perawat dan berapa dokter yang akan ikut ke mansion?” tanya Dante pada Eddie.
“Dua perawat dan satu dokter. Mereka akan tinggal bersama kita! Kebutuhan obat-obatan akan dikirimkan melalui udara. Semuanya sudah dipersiapkan dan bisa berangkat sekarang.”
__ADS_1
“Baguslah!”
Setelah mendapat persetujuan dari Dante barulah Eddie mempersilahkan perawat dan dokter untuk masuk mengurus persiapan kepulangan Omero. Sedangkan Dante hanya memperhatikan dengan teliti, dia tidak ingin ada satu hal pun yang tidak sesuai yang akan membahayakan nyawa Omero.
‘Kau bukan anakku Dante! Kau adalah anak sahabatku tapi kau sangat memperhatikanku melebihi anak kandungku sendiri! Tatiana, anak kandungku tapi dia hampir saja membunuhku. Aku tahu dia yang melakukan ini padaku dengan sengaja! Mungkin mereka semua tidak ada yang tahu tapi aku tahu kalau kau ingin membunuhku Tatiana! Ssshhh…..”
‘Kau anak kandungku tapi kau lebih parah dari seorang anak tiri dan anak orang lain justru merawat dan menjagaku dengan baik.’ bisiknya. Omero terus saja bergumam sejak dia dibawa keluar dari ruang perawatan hingga sampai diatas helikopter.
“Kau yakin kita akan berangkat sekarang naik ini Dante?”
“Ya ayah.” dia mengangguk sambil menaiki helikopter setelah semuanya naik.
“Kenapa kau diam saja disana?” tanya Dante sebelum pintu helikopter ditutup. Dia bertanya pada wanita yang masih ada dibawah.
“Aku menunggu perintahmu.” jawab wanita itu yang kemudian naik dan duduk tepat disamping Dante.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya sang pilot.
“Sudah! Jalanlah.”
“Apa yang kau bawa itu Dante?” tanya Omero yang melihat benda asing ditangan Dante.
“Oh ini pengecek rudal dan timah panas ayah.” jawab Dante tersenyum pada Omero.
“Apa benda itu bisa bekerja diatas helikopter ini?” tanya Omero mengeryitkan keningnya.
Dante mengangguk dan tersenyum pada Omero penuh makna hingga pria itu tidak bertanya lagi meskipun dia sangat penasaran dengan mainan baru yang ada ditangan Dante itu.
Sesuatu hal baru yang tidak diketahuinya dan belum pernah dilihatnya sebelumnya, membuatnya semakin penasaran dan hampir saja tidak bisa menahan diri untuk bertanya seandainya dia tidak segera sadar dengan kehadiran seseorang yang duduk disebelah Dante. Omero pun mengatupkan bibirnya.
__ADS_1