
‘Julian memang kau sudah mati dan urusanmu didunia ini sudah selesai! Tapi kalau kita bertemu lagi di alam lain, aku akan tetap menghukummu. Kau telah membuat wanitaku menjadi maniak!’ geramnya kesal sambil menatap Bella yang masih mengeringkan rambutnya. Dia memindai seluruh tubuh wanita itu, matanya tak berkedip entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
“Aku sudah selesai,Tuan.” ucap Bella meletakkan kembali hari dryer dan berdiri tepat dihadapan Dante sambil menundukkan kepala.
“Apa kau sadar kesalahanmu, hem?”
Bella menganggukkan kepala. “Maafkan aku Tuan.”
“Kau tahu siapa aku? Atau kau sudah lupa siapa aku?”
“Saya tahu, Tuan.” Bella masih tertunduk. “Aku sangat tahu siapa aku. Aku adalah milikmu yang tak kau inginkan dan aku juga tidak akan pernah pantas untukmu karena aku wanita bekas seribu laki-laki Bukankah itu yang kau katakan tadi?”
“Apa aku menyuruhmu untuk kembali bertanya padaku?”
“Tidak Tuan.” Bella menggelengkan kepala. Dia semakin menundukkan kepala sedangkan Dante sedang berusaha mengatur emosinya dan mendekat pada Bella.
“Apa yang tadi kau lakukan dibawah ini?” tanya Dante sambil memegang inti Bella, menggerakkan jarinya disana membuat Bella menatap pria itu dengan terbelalak tak percaya. ‘Sialan banget orang ini.Tadi rasa itu sudah hilang tapi kenapa sekarang dia memainkan tangannya lagi? Bagaimana kalau aku menginginkannya lagi dan aku tidak bisa mengendalikan diri? Ahhhh sialan…..kau menyusahkan dirimu sendiri Belinda!’ ucap Bella kesal sementara gerakan tangan Dante sudah mengganggu kewarasannya.
“Su---sudah Tuan?”
“Kau jujur padaku?” tanya Dante menatap Bella tajam.
“Aku tidak jujur, Tuan.” jawab Bella sambil mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
“Hah?” Dante terkejut namun jawaban Bella membuatnya tersenyum namun wanita itu tidak dapat melihat senyum Dante karena dia menundukkn kepala menatap ke lantai.
“Apa kau ingin menipuku?”
“Tidak, Tuan. Tadi setelah keluar dari bathtub aku sudah kehilangan rasa itu dan tidak menginginkannya lagi. Tapi tangan anda nakal bermain disana membuatku menjadi menginginkan lagi.” jawab Bella.
“Cuih! Tapi aku masih tetap tak menginginkanmu! Wanita bekas!” Dante menarik tangannya lalu keluar dari kamar mandi meninggalkan Bella yang terpelongo.
‘Dasar brengsek sialan! Wanita bekas….wanita bekas! Memang aku wanita bekas tapi kenapa kau menyentuhku disana? Kau jijik tapi masih saja kau sentuh. Kalau jijik ya tidak usah disentuh. Menyebalkan sekali dia jadi orang, memangnya dia pikir dia itu siapa? Dia pasti sengaja mempermainkanku, dia tahu aku tidak bisa menahan, sudah lama sekali aku tidak terpuaskan dan dia terus saja menyentuh dan memainkan tubuhku. Apa sih maunya dia?’ Bella mengomel kesal tapi tak berani menunjukkannya pada Dante betapa kesalnya dia.
Bella pun berjalan keluar dari kamar mandi mengikuti Dante dari belakang.
“Aku lelah dan mengantuk.”ujar Dante dan langsung naik ke atas tempat tidur sementara Bella masih berdiri didepan pintu kamar mandi.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan disitu?” Dante memanggil Bella yang menundukkan kepala.
“Aku tidak tahu harus berbuat apa disini.” jawab Bella jujur sambil menatap Dante.
“Apa kau sedang menunggu perintahku?” tanya Dante yang dijawab Bella dengan anggukan kepala.
“Jangan senyum! Aku tidak suka melihatmu tersenyum! Tidak tulus!” ujarnya membuat Bella langsung mengatupkan kedua bibirnya.
‘Isss….padahal aku senyum karena memang tulus dari dasar hatiku. Apa senyumku kelihatan tidak tulus ya?’ tanya Bella sendiri dalam hatinya.
“Mendekatlah.” Dante menepuk tempat tidur disebelahnya dan Bella mendekat melakukan perintah Dante.
“Tidurlah. Kau pasti juga lelah.”
“Iya tuan.”
Bella merasa sangat senang karena Dante mengijinkannya tdiur disampingnya. Jadi malam ini aku tidur dengannya? Wah….aku tidak tidur sendirian lagi dan tidak akan mimpi buruk.’ Bella merebahkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” tanya Dante yang sedari tadi memperhatikan tingkah Bella.
“Aku senang karena akan tidur bersama tuan.” jawaban Bella sontak membuat Dante mengatupkan bibir.
“Maaf Tuan.” Bella mengangguk tak berani lagi tersenyum.
‘Jadi dia benar-benar mengharapkanku tidur disampingnya?’ tanya Dante tersenyum. Sebenarnya dia merasa sangat senang bisa tidur seranjang dengan Bella, mengingatkannya pada kenangan masa lalu tapi dia mencoba mempertahankan sikap dinginnya.
“Kenapa kau diam saja, ha? Apa kau tidak tahu apa pekerjaanmu?” ujar Dante mendengus.
Bella menggelengkan kepala. “Maaf Tuan apa yang harus saya lakukan padamu?”
“Kau membiarkanku tidur dengan mengenakan kemeja?”
“Ahhhh…..” Bella terkejut dan menganggukkan kepalanya.
“Apa maksud kepalamu mengangguk begitu?”
“Apa maksudnya Tuan, ingin tidur tanpa memakai kemeja, polos begitu ya Tuan?”
__ADS_1
“Puff…..jadi menurutmu itu yang aku inginkan?” Dante hampir kelepasan tertawa namun menahannya.
“Ya...aku tidak tahu Tuan. Tapi bisa saja itu yang tuan inginkan, bukan? Karena selama ini semua pria yang tidur denganku selalu begitu.” ucap Bella yang sontak membuat Dante panas.
“Apa kau bilang barusan? Kau membandingkan aku dengan mereka?” tanya Dante marah. ‘Kenapa wanita ini selalu membandingkan aku dengan laki-laki yang tidur dengannya? Apa dia sengaja ingin membuatku marah? Dia pikir aku pelanggannya?’ Dante sangat kesal.
“Maaf Tuan. Bukan begitu maksudku. Aku bukan membandingkan Tuan dengan mereka. Tapi aku melihat kebiasaan mereka begitu. Jadi kupikir mungkin semua pria begitu.”
“Aku bukan mereka! Jangan samakan.”
“Oh….apa Tuan mau aku bukakan kemejamu? Tapi Tuan membelakangiku, bagaimana aku membuka kemejamu, Tuan?”
“Diam! Jangan cerewet!” ucap Dante masih kesal.
Bella mengerucutkan bibirnya dan kembali masuk dalam selimut berusaha untuk tidur.
“Apa yang kau lakukan, ha?”
“Tidur, Tuan!” jawab Bella sambil mengerjapkan mata menatap Dante.
“Kenapa kau tidur memandangi punggungku? Apa aku ada menyuruhmu tidur menghadapku?”
“Aku tidak tidur menghadap Tuan. Kau yang memunggungiku dan aku hanya tidur menatap punggungmu.” ucap Bella polos.
“Kau!” Dante sontak membalikkan badan menatap Bella yang mengerjapkan matanya bak anak kecil.
“Kenapa Tuan? Apa aku harus tidur membelakangi, Tuan?” kata Bella sambil menunjuk kearah nakas disampingnya.
“Fuhhh….” Dante mendengus. ‘Kalau dia tahu aku tidur memunggunginya, harusnya dia juga tidur memunggungiku bukannya menatap punggungku! Anak ini benar-benar ya...’ Dante mulai sakit kepala dan kehabisan kata-kata menghadapi tingkah laku Bella.
“Baiklah kalau Tuan mau aku tidur memunggungimu juga. Sejujurnnya aku tidak suka dipunggungi, Tuan!” jawab Bella dengan wajah merengut lalu membalikkan badannya.
“Kenapa kau tidak suka tidur dipunggungi?” tanya Dante.
“Karena tidak pernah ada yang memunggungiku saat tidur.” jawab Bella lagi. “Tapi saat aku tidur melihat punggung anda, aku merasa nyaman sekali. Ingin rasanya aku menempel disana makanya aku memilih tidur menghadap punggung, Tuan.”
“Apa kau tidak bisa berpikir hal lain lagi?” Dante bicara sambil berusaha mengendalikan emosinya. Dia pun duduk tegak dan kedua tangannya berada dipinggang.
__ADS_1
“Aduh Tuan jangan marah-marah terus ya. Aku merasa nyaman memandangi tubuh anda dari belakang dan merasakan kehangatan dari punggung Tuan.” jawab Bella jujur sambil tersenyum malu-malu.