
"Di masa awal kelahiran Mentari tidak langsung menangis. Otaknya kekurangan oksigen. Hal ini, memang bisa menimbulkan banyak komplikasi. Yang terbanyak memang kejang."
Sumbang dan Lodi mendengarkan penjelasan dr. Ike dengan perasaan tak karuan.
"Apakah ini berbahaya?" tanya Lodi.
"Berbahaya untuk perkembangan dia. Mungkin akan terlambat jalan, bicara, dan semacam itu. Sebaiknya kita rawat inap dulu."
Rawat inap? Bukan biaya atau kerepotan yang Lodi pikirkan. Tapi siapa yang akan menunggu Fajar?
"Kalian berdua tungguin Mentari. Mama yang akan mengasuh Fajar."
"Terima kasih, Mama. Mas Sumbang dan Mama bersama Fajar. Biar saya yang menunggu Mentari."
"Nggak apa kita pulang dulu, Ma. Aku nanti balik ke rumah sakit. Bawa baju ganti untuk mereka berdua."
Bakda isya Sumbang kembali ke rumah sakit. Pelan ia membuka kamar 301 tempat Mentari dirawat. Lodi sedang tertidur di samping Mentari. Kancing atas terbuka sedikit, mungkin baru saja neteki. Sumbang tertegun melihat pemandangan itu.
'Kalau dibenerin, Lodi bisa salah paham. Nggak dibenerin, aku yang jadi gawat.'
Akhirnya Sumbang berpaling, lalu pelan meletakkan rantang berisi makanan di atas meja. Bunyi rantang yang beradu dengan meja membuat Lodi bangun.
"Kok kamu nggak ketuk pintu?" tanya Lodi sedikit jengkel sambil membenahi blousenya.
"Aku ketuk, tapi kamunya yang nggak dengar," kata Sumbang membela diri.
"Kamu tuh pintar cari alasan!"
"Sudahlah, Dik. Kita jangan bertengkar terusss," sengaja Sumbang memanjangkan huruf s untuk mencairkan suasana.
Lodi menjawab dengan mendengus. Ia turun dari tempat lalu masuk kamar mandi untuk cuci tangan.
"Ini dari mama atau ibu?"
"Mama. Fajar sama ibu jadi yang sempat masak mama."
Lodi membuka wadah. Ada nasi, empal daging sapi dan perkedel jagung. Juga sayur daun katuk. Dengan lahap Lodi memakannya. Tahu sendiri makan buteki itu kayak apa.
Sumbang memandang mantannya yang sedang makan lahap. Rambut diikat seadanya dan beberapa helai terjulur di samping telinga. Menggemaskan. Tanpa sadar tangan Sumbang terjulur mengelus rambut hitam Lodi.
"Apaan, sih!"
Spontan Lodi berteriak sambil menepis tangan Sumbang.
"Maaf, aku nggak sengaja."
"Kamu pulang saja deh sekarang."
"Aduh, jangan begitu dong. Aku bener-bener nggak sengaja."
"Aku nggak mau tahu, kau pulang saja."
"Maaf ... Lagian ini di rumah sakit. Memang aku bisa ngapain?"
Lodi tetap cemburut. Ia ingat betul perkataan Umay,"kamu dan Sumbang sudah jadi orang asing. Kalau mau rujuk, mesti akad ulang. Sebelum akad, dia nggak halal buatmu lo ya."
__ADS_1
"Kau bawa baju ganti untukku dan Mentari, kan?"
Sumbang menunjuk sebuah tas. Lodi membuka tas itu dan mengambil handuk serta baju ganti.
"Aku mandi dulu. Jagain Mentari."
Sumbang menjawab dengan senyuman. 'Syukurlah ia tak marah lagi.'
Usai mandi Lodi salat. Wajahnya terlihat segar. Beberapa tetes air yang masih tersisa di kening seperti tetes embun di kelopak mawar. Sumbang memperhatikan lewat sudut matanya. 'Ia lebih cantik dari pertama kali kulihat dulu.'
Usai salat Lodi berdoa cukup lama. Mentari sempat terbangun, tapi dengan sigap Sumbang menggendong anaknya. Usai salat Lodi melipat mukena sambil berkata,
"Sekarang kamu boleh pulang. Terima kasih sudah datang sehingga aku bisa mandi dan salat dengan tenang."
Sumbang tercengang,"kok gitu? Sebenci itukah kamu padaku? Aku hanya ingin membantu jagain Mentari."
"Tidak, Mas. Ini bukan soal benci. Ini tentang kita yang bukan siapa-siapa lagi. Ini kenyataan, dan kita berdua harus belajar menerima semua ini."
Sumbang kepingin ngomong,'kita balikan lagi yuk?'
Tapi pertanyaan itu ia tahan. Kalau ia katakan saat ini, jawabannya sudah pasti. Lodi perempuan keras kepala. Kalau sudah A ya A.
"Baiklah. Aku pulang dulu,"pamit Sumbang dengan nada kecewa.
Lodi melambaikan tangan,"hati-hati."
Sebelum menutup pintu, Sumbang menatap Lodi lekat.
"Aku juga ingin balikan sama Lodi, Ma. Dianya yang nggak mau."
"Dekat-dekat sama siapa sih, Ma."
"Yeah, siapa tahu. Kamu masih muda. Pasti banyak yang naksir. Bisa saja Lodi tuh mau, tapi hanya ingin mengujimu."
Sumbang mengembuskan napas panjang. 'Lodi, tolong beri aku kesempatan sekali lagi.'
Sumbang menutup pintu dengan hati masygul.
***
"Lho, kok nggak nginep di rumah sakit?" tanya ibu.
Mama menginap di rumah ibu. Kepingin nungguin Fajar juga. Karena itu Sumbang mampir.
"Tidak diizinkan Lodi, Bu. Dia lebih nyaman sendiri katanya. Biar saja. Ibu tahu sendiri Lodi seperti apa kalau sudah ada kemauan."
"Nak Sumbang yang sabar ya."
"Iya, Bu. Saya memang banyak salah. Wajar kalau Lodi belum menerima saya."
Sejenak sunyi menyergap mereka.
"Berhubung Sumbang pulang, saya juga pamit," kata mama.
"Sumbang, mampir ke mini market sebentar ya. Mama mau beli sabun cuci. Habis nih."
__ADS_1
Tanpa banyak kata Sumbang pun parkir. Mama turun, dan pada saat itu telepon Sumbang berdering.
Pak RT memanggil.
"Pak Sumbang?"
"Ya, pripun pak RT?"
"Bisa cepat pulang? Ada api dari rumah Bapak."
"Maksudnya?"
"Rumah bapak sepertinya kebakaran. Ini warga coba menyiram dengan air!"
Sesaat Sumbang seperti mimpi. Kebakaran? Di rumahnya? Kok bisa?
"Ma ...."
Sumbang segera menyusul mama ke minimarket. Mama sedang antri di depan kasir.
"Ma, belinya tunda dulu. Kita segera pulang. Rumah kebakaran!"
Muka mama terlihat bingung dengan tindakan Sumbang yang menyeret untuk segera masuk mobil. Barang yang sudah dipilih tapi belum dibayar diletakkan begitu saja.
"Ada apa sebenarnya?"
"Pak RT telepon mereka bilang ada api dari rumah kita."
Setelah itu Sumbang tak berkata apa-apa lagi. Kebakaran? Bagaimana bisa? Semua kompor sudah mati. Jaringan listrik juga rapi. Bagaimana mungkin?
Sumbang menyetir mobil sengebut mungkin. Untungnya ini bukan malam libur, jalanan cukup sepi. Sampai jalan menuju rumah tampak orang ramai berkerumun berusaha memadamkan api.
Pak RT tidak mengada-ada. Tampak api berkobar. Kelihatannya asal api justru dari depan.
Sumbang bergegas turun dari mobil dan segera berlari.
"Motor dan sepeda yang ada di garasi sudah kami selamatkan. Tapi barang yang di dalam tidak bisa kami jangkau."
Sertifikat tanah, buku tabungan dan kartu berharga lain Sumbang simpan di brankas logam. 'Semoga tidak terbakar.'
Tapi Sumbang tiba-tiba teringat sesuatu. Barang kenangan Nada. Album foto Nada dan Lodi. Barang itu tergeletak di kamar.
Tergesa-gesa Sumbang membuka pintu dengan kunci.
"Pak Sumbang ... Hati-hati!"
"Sumbang, untuk apa kamu masuk. Jangan memaksakan diri!" teriak Mama.
Saat pintu terbuka hawa panas menyergap Sumbang. Lelaki itu spontan menutup hidung agar tak kena kepulan asap.
"Sumbang ...."
Mama berniat menyusul namun para tetangga serentak menghalangi.
"Ibu jangan nekad ... bahaya, Bu!"
__ADS_1
Sumbang menghilang disergap kepulan asap. Mama ditahan sehingga tak bisa menyusul. Seseorang tersenyum puas melihat kejadian itu.