
"Mommy! Adikku nanti perempuan ya?" tanya Alex tiba-tiba.
"Aku belum tahu Alex karena aku belum mengeceknya. Memangnya kau mau adik perempuan atau adik laki-laki?" tanya Bella menatap anaknya yang terdiam sejenak. Tampak Alex seperti sedang berpikir.
"Hmmm.....aku...." Alex belum selesai bicara langsung dipotong oleh Dante.
"Alex, cepatlah tidur! Jangan banyak bicara lagi."
"Aku mau tidur daddy! Mommy tadi tanya ke aku....." balas Alex memandang ayahnya sambil mengerucutkan bibir. Dia merasa kesal karena ayahnya tidak berhenti bicara dan terus saja memprotes Alex.
"Diam dulu Dante! Biarkan Alex tidur dulu, kita bisa melakukan apapun setelah itu." ujar Bella.
Dante sudah berusaha untuk bersabar setelah Bella mengatakan itu. "Harusnya tadi aku menitipkan Alex pada Henry. Aku salah strategi! Kenapa aku malah membawanya bersama kita."
Dante merasa menyesal karena tidak terpikir sebelumnya. Kali ini dia merasa kesal karena waktunya terbuang percuma dan dia sudah menahan diri sejak tadi. 'Ck, padahal aku sudah tidak tahan lagi. Aku yakin jika Barack dan Sarah pasti sedang melakukannya sekarang. Sedangkan aku harus menunggu istriku menidurkan anakku dulu! Merepotkan sekali anak ini.' protesnya dalam hati.
Dante bersabar sambil mengubah posisinya bersandar ditempat tidur sembari melirik Bella dan Alex yang sedang bercanda. "Bella, apa masih lama? Kenapa kalian malah bercerita dan tertawa?"
"Lihatlah, dia sudah mulai memejamkan mata! Memang harus begitu menidurkannya, aku mengajaknya bicara sampai dia mengantuk." ucap Bella berbisik dan mengedipkan matanya.
"Baguslah kalau begitu." Dante menghela napas lega. 'Ah....sebentar lagi aku bisa melakukannya bersama istriku. Terakhir kali aku melakukannya dengannya aku merasa kurang pas dan kurang lama. Karena aku terburu-buru seperti aku ingin meninggalkannya selama-lamanya. Aku tidak suka yang seperti itu. Aku ingin melakukannya dengan tenang dan tanpa gangguan.'
"Apa dia sudah tidur, Bella?" tanya Dante berbisik.
"Iya, dia sudah lelap sayang." Bella bicara lirih dengan senyum diwajahnya dan merasa puas saat melihat Alex sudah tertidur pulas. Bella pun perlahan bangun dan menggeser tubuhnya dari dekapan Alex.
"Kemarilah." Dante membuka tangannya agar Bella masuk kedalam pelukannya.
"Dante, kita tidak bisa melakukannya disini. Kalau nanti Alex bangun, dia akan melihat kita. Aku tidak mau anakku melihatnya. Bagaimana kalau aku titipkan pada Sarah saja?"
"Kurasa Sarah juga sedang melakukan hal yang sama seperti yang akan kita lakukan." ucap Dante.
"Apa? Tidak boleh Dante! Dia tidak boleh melakukan itu! Dia baru berumur enam belas tahun." Bella membelalakkan matanya pada Dante.
"Biarkan saja. Barack pasti akan bertanggung jawab padanya nanti. Lagipula kalau kau melarangnya kau pasti aan ribut dengan adikmu seperti waktu itu." Dante mencoba membuat Bella tidak marah pada adiknya.
"Tapi setidaknya mereka harus menikah dulu baru melakukannya. Bukan langsung main saja!" Bella masih protes.
"Baiklah. Kalau itu maumu, besok kita nikahkan saja mereka." jawab Dante dengan santai. Dia tidak mau berdebat dengan istrinya. Dia langsung berdiri dan membawa Bella dengan menggendongnya menjauh dari Alex.
"Kita mau kemana Dante?" tanya Bella.
__ADS_1
"Ke kamar mandi."
"Apa? Kenapa tidak dikolam renang saja kita melakukannya seperti waktu itu? Aku menyukainya." ujar Bella.
"Kau takut kolam renang bukan? Kenapa harus kesana lagi?"
"Ya tapi sekarang aku sudah mulai berani Dante. Kita ke kolam renang saja ya." ucap Bella.
"Lain kali saja kita melakukannnya disana. Sekarang tidak bisa karena semua teman-temanku sedang minum disana." jawab Dante.
"Ah iya....aku lupa tentang mereka." Bella meringis.
"Sudahlah, kita bisa melakukannya disini saja." Dante mendudukkan Bella diatas wastafel. Dia pun membuka kancing baju Bella satu persatu dan pandangan matanya tetap pada Bella.
"Aku senang sekali kau kembali, Dante."
"Kau sudah mengatakannya berkali-kali. Berhentilah mengulang perkataanmu Bella." Dante mendongak menatap wanit itu dan terkekeh karena Bella tidak bisa mengutarakan isi hatinya dengan cara lain.
Dante memberikan kecupan untuk memulai permainan mereka. "Bella sayang, aku tidak suka kalau kau mengacuhkanku saat kau bersama Alex." Dante bebrisik di telinga Bella sambil menjilat telinganya.
"Ohhh......" hanya itu yang keluar dari bibir Bella. Otaknya mulai terbuai dengan sentuhan Dante.
"Aku ingin kau datang padaku untuk menyambutku setiap kali aku datang." bisik Dante menciumi tengkuk Bella.
"Lakukan saja apa yang kuminta! Jangan banyak bertanya."
Bella mengatupkan bibirnya. Dia membiarkan Dante memutuskan sendiri apa yang ingin dilakukannya. Keduanya tenggelam dan hanyut dalam kenikmatan tiada tara. Dante mencoba melakukannya dengan gaya baru sehingga membuat Bella semakin bergairah.
Bella berteriak dan mendesah dengan apa yang dilakukan Dante. Teriakan dan ******* Bella membuat Dante semakin bersemangat menggerakkan tubuhnya. Keduanya saling memberikan dan ba gayung bersambut saling memuaskan pasangannya.
Hingga.......
"Mommy! Daddy! Kalian ada didalam ya? Aku takut sendirian. Keluarlah!" pekik Alex. "Aku dengar mommy teriak!"
"Aduh, Dante! Alex bangun!" pekik Bella saat keduanya hampir saja mencapai puncak untuk kedua kalinya.
"Diam dulu! Ini tanggung, sebentar lagi sudah sampai. Jangan bergerak dulu dan pelankan suaramu."
"Kenapa dia bisa bangun sih? Anak ini seperti punya radar saja! Dia selalu tahu kalau kita sedang bersama." protes Bella.
Tok tok tok tok
__ADS_1
"Mommy! Daddy! Buka pintunya!" teriak Alex dari balik pintu. Dari ketukannya sepertinya Alex sudah tidak sabaran lagi.
"Ini gara-gara suaramu kencang dari tadi Bella, makanya dia terbangun." komentar Dante kembali menggerakkan tubuhnya dengan cepat agar segera mencapai puncak.
'Ah anak itu tidak bisakah menunggu sebentar saja? Memangnya aku melakukannya lama ya? Kenapa dia sepertinya ingin menguasai mommy-nya sendirian? Ah! Dia selalu saja mengganggu setiap kali kami melakukannya.' keluh Dante dihatinya.
Tok tok tok tok
"Mommy! Daddy! cepat buka pintunya." suara ketukan berubah menjadi suara gedoran kencang. Sepertinya anak kecil itu sudah tidak mau menunggu lebih lama lagi.
Saat keduanya mencapai kenikmatan bersama, Dante langsung membersihkan tubuhnya dan melilitkan handuk di pinggang. Sedangkan Bella berbaring di bathtub dan ditutup tirai agar Alex tidak melihat saat dia masuk kedalam.
"Kau tunggu aku disini. Aku saja yang mengurus anak itu." ucap Dante berjalan ke pintu dan membukanya.
"Ada apa Alex? Kenapa kau menggedor pintunya?"
"Daddy, sedang buat apa didalam?" Alex mendongak menatap ayahnya dengan tatapan penuh menyelidik.
"Aku sedang ada urusan dengan mommy mu didalam." jawab Dante seraya menggendong anaknya.
"Mana mommy? Aku mau tidur sama mommmyyyyyyyyy!!!! teriak Alex kencang membuat telinga Dante sakit.
"Jangan mengganggu mommy mu. Kami sedang mengurus adik bayi." ujar Dante mengerutkan kedua alisnya. 'Isss anak ini kenapa sikapnya seperti ini? Dulu dia tidak pernah seperti ini pada Tatiana tapi sekarang dia malah nempel terus dengan mommy-nya. Benar-benar menyusahkan saja.' keluh Dant dihatinya.
"Memangnya adikku mau apa daddy? Dia kan didalam perut mommy?" tanya Alex penasaran. Dia tidak mau dibohongi ayahnya dan mengingat karakternya sama persis seperti Dante yang tidak mudah percaya pada siapapun.
"Ini waktunya daddy menjenguk adik bayi, Alex." jawab Dante sekenanya.
"Menjenguk? Harus begitu ya?" Alex mengeryitkan keningnya sembari mengerucutkan bibirnya menatap ayahnya dengan tatapan curiga.
"Iya." Dante mengangguk. Kepalanya pusing menghadapi anak sulungnya itu. "Adik bayi sudah semakin besar, aku harus sering menjenguknya supaya adik bayi tahu siapa daddy-nya."
'Aduh, kebodohan macam apa yang kukatakan pada anakku? Bagaimana bisa aku mengatakan hal seperti itu pada anakku? Anak ini juga iseng sekali! Dia tidak mau berbagi Bella denganku! Apa dia akan seperti ini juga nanti saat sudah besar? Heeeehhhh dasar bocah nakal.'
"Dulu saat kau masih ada didalam perut mommy, aku selalu menjengukmu." kata Dante.
"Berapa kali daddy menjengukku dulu?" Alex balik bertanya.
"Aiiihhhh anak ini tidak mau berhenti bertanya? Kapan pertanyaan seperti ini akan berakhir? Apa yang harus kulakukan pada anakku ini?' bisik hati Dante.
"Tentu saja aku menjengukmu setiap hari. Karena itulah makanya kau sangat dekat denganku sekarang."
__ADS_1
"Tapi kenapa aku tidak ingat daddy menjengukku?" Alex memiringkan kepalanya menatap Dante seolah sedang menyelidiki ayahnya itu sedang bohong atau tidak.