
“Yeahhh aku kalah.” ucap Sarah dengan ekspresi wajah bersedih yang dibuat-buat,
“Sarah! Ayo cepat habiskan es krimnya. Tinggal sedikit lagi! Ayo cepat!” Alex mencoba mendukung Sarah agar bersemangat padahal Sarah hanya pura-pura kalah untuk menyenangkan hati anak itu.
“Hei, aku ini ibumu. Kau tidak mendukungku Alex?” Bella pura-pura sedih.
“Kau juga Bella! Ayo cepat habiskan!” ujar Alex menyemangati.
Bella pun memilih mengalah demi adiknya.
“Sarah, kau menang kedua. Bella menang ketiga.” seru Alex bersemangat. Dia senang sekali menjadi pemenang pertama.
“Ya aku kalah dengan kalian berdua.” ucap Bella kembali mencembungkan pipinya.
“Ye ye ye aku menang!” Alex antusias karena kedua wanita itu kalah.
“Kita mau main apalagi Alex?” tanya Sarah.
“Aku tidak mau main lagi! Sudah mau siang. Aku mau masak untuk kalian.” jawab Alex.
Mendengar itu Bella dan Sarah saling melempar pandang lalu keduanya menatap Alex.
“Tuan Alex, apa anda mau memasak?” tanya Henry.
“Hmmmm! Aku akan jadi chef yang hebat seperti daddy! Ayo kita masak Henry, nanti masakannya untuk makan siang. Aku ingin memberikan hadiah pada Bella dan Sarah dan aku!”
“Jadi kau mau masak untuk kami Alex? Untukku dan Sarah?” tanya Bella antusias dengan tersenyum.
‘Nyonya Bella, anda tahu betapa repotnya membawa Tuan Alex memasak. Senyum anda itu adalah penyemangat untuk saya! Fuuh!’ bisik hati Henry.
“Iya Bella, aku akan masak yang banyak untukmu dan Sarah supaya kalian semua gemuk! Ayo Henry!” tak menunggu lama Alex mendongak menatap Henry untuk mengajaknya ke dapur.
“Baiklah.” ucap Henry berjalan bersama Alex menuju ke dapur.
“Ada-ada saja anakmu itu Bella! Tapi dia pintar sekali. Hahahaha.” ucap Sarah tertawa.
__ADS_1
“Iya, dia sepintar Dante.” Bella pun mengagumi kepintaran anaknya yang persis seperti Dante.
“Huuh! Dante lagi...Dante lagi! Memangnya kau ini bodoh Bella?”
“Bukan begitu maksudku Sarah!”
“Sudahlah, coba sekarang kau jawab pertanyaanku. Apa kau mencintai dante?”
“Pertanyaan yang sama aku tanyakan juga padamu Sarah. Apa kau mencintai Barack?”
Sarah langsung diam sejenak lalu dia memandang Bella dengan tegas berkata, “Ya aku sangat mencintainya. Barack adalah segalanya didalam hatiku. Apa jawabanku ini memuaskanmu Bella?”
“Sebenarnya aku tidak setuju Sarah!”
“Tapi aku sangat mencintainya, Bella. Dia adalah pria yang selalu melindungiku walaupun dia tidak pernah mengatakan perasaannya padaku tapi dari sikap dan perbuatannya dia benar-benar menjagaku. Sikapnya sangat hangat padaku seakan itu adalah caranya menunjukkan cintanya.”
Kata-kata itu keluar dengan lancar dari bibir Sarah dengan tatapannya yang menerawang jauh melihat keatas langit, ada senyum diwajah Sarah dengan jari tangannya sudah memegang kalung yang menggantung dilehernya. Kalung pemberian Barack yang sangat berarti baginya.
“Aku tidak tahu Bella tapi aku akan menerima apapun yang akan terjadi padaku saat aku sudah mengutarakan isi hatiku padanya saat dia kembali nanti.” ucap Sarah yang sudah bertekad.
Kata-kata yang diucapkan Sarah itu bukanlah hal yang ingin didengar Bella saat ini. Dia menegakkan duduknya dan melemparkan pandangannya jauh menerawang. Hatinya terasa sakit sekali mendengar perkataan Sarah adiknya tapi Bella berusaha untuk memendamnya.
“Aku tahu kau sangat ingin menjaga dan melindungiku Bella! Tapi maafkan aku, aku juga tidak bisa menentang perasaanku sendiri dan mengalihkannya kepada orang lain!”
“Cih! Tahu apa kau tentang cinta, Sarah? Kau tahu pengorbanan apa saja yang harus aku lakukan selama aku menjalani hidupku ini?”
Sarah menatap Bella lalu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu tapi aku sadar kalau kau sudah melalui kehidupan yang tidak mudah, Bella!”
“Hmmm…..” Bella menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Kau benar. Mereka memberikanku obat-obatan, mereka menyiksaku untuk melayani orang-orang yang tidak kucintai. Mereka menjualku demi uang dan mereka tidak pernah memikirkan perasaanku. Perbuatan mereka terkadang tidak bisa membuatku berpikir jernih sekarang! Kadang-kadang aku menjadi bodoh dan ada sesuatu didalam diriku yang selalu menginginkan pria untuk menyentuhku. Aku tidak mengerti tapi seluruh perasaan dan cara berpikirku semuanya jadi berbeda, Sarah!”
Bella berhenti sejenak untuk menghela napas panjang, “Aku tidak tahu bagaimana caraku untuk memperbaiki diri. Aku terlalu menginginkan sentuhan pria! Apalagi terkadang aku merasa sangat membutuhkan obat-obatan, rasanya sangat menyakitkan seperti ditusuk-tusuk. Aku tidak tahu bagaimana aku harus berpikir dan kadang sulit bagiku untuk mengalihkan keinginanku kecuali aku mendapatkan kepuasan ditubuhku.”
“Bahkan diusiaku yang baru tujuh belas tahun waktu itu aku seharusnya mengembangkan diriku dan menjadi orang yang sukses tapi aku harus kehilangan kehormatanku dan aku juga harus kehilangan anakku.” ucap Bella menjelaskan panjang lebar pada Sarah.
“Tapi kau kembali pada pria yang sudah menyakitimu itu, Bella? Kenapa? Setelah apa yang dilakukannya padamu?” Sarah menanyakan itu pada Bella yang menganggukkan kepalanya.
“Karena aku mencintainya!” jawab Bella sambil mengenggam kedua tangannya.
“Darimana kau tahu kalau kau mencintainya?” tanya Sarah lagi.
“Karena saat dia menyentuhku, saat dia bersamaku, aku merasakan ada cinta! Aku merasakan perasaan yang berbeda yang aku rasakan saat bersama dengan pria lain.” jawab Bella jujur.
“Tapi dia sudah menyakitimu, Bella. Apa kamu tidak mengingat semua itu?” tanya Sarah.
“Ya memang. Itu karena aku tidak tahu kenapa dia pergi setelah aku melahirkan Alex! Dia membuatku berpisah dengan anakku, saat itu aku depresi sekali karena mengira anakku sudah mati. Tapi sekarang aku tahu alasannya, Sarah.”
Lalu Bella berhenti bicara dan menatap Sarah, “Sekarang aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi setelah aku melihat semua dan aku memahami semuanya.”
“Bella!”
“Maaf Sarah, tapi kondisimu berbeda denganku. Aku minta padamu untuk memikirkan lagi perasaanmu padanya. Kau masih enam belas tahun, hidupmu masih panjang. Aku mohon padamu berilah waktu selama beberapa tahun untuk berpikir. Mungkin seiring berjalannya waktu kau semakin dewasa dan perasaanmu itu juga hilang.”
“Tapi Bella…..” Sarah mulai resah, dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Bella.
“Aku tahu impianmu Sarah. Kau memiliki cita-cita menjadi seorang penulis bukan? Kau ingin menjadi seorang jurnalis hebat. Jalanmu masih panjang, usiamu masih muda.” Bella berusaha untuk mengubah pikirannya adiknya ke masa-masa sebelum dia mengenal Barack.
“Tapi Bella…..” hati Sarah tetap menolak semua yang dikatakan kakaknya. ‘Dulu aku memang menginginkan semua itu tapi sekarang keinginan terbesarku adalah bersama Barack. Aku ingin selalu ada disisinya setiap malam, aku ingin bangun pagi dalam dekapannya sama seperti saat aku tidur dan bangun disisinya saat kami berada di hutan. Aku ingin menikmati hari-hariku bersama dengannya dan makan bersamanya. Salahkah aku berpikir begitu?
__ADS_1