PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 535. MENYELAMATKAN DIRI


__ADS_3

“Itu tidak akan pernah bisa menahan mereka lebih dari lima menit, Dante.” Barack mengingatkan.


“Ayo keluar” Dante tidak bicara tapi dia menuliskan di ponselnya.


“Maksudmu kita memanjat naik ke atap?” Barack melakukan hal yang sama seperti Dante.


Dante mengangguk. “Iya, kita harus segera naik keatas. Dan lakukanlah sesuatu, pasang apapun dipintu untuk menahannya.”


“Jangan biarkan mereka masuk dulu. Lakukanlah berbagai cara untuk menahan dan memberikan waktu lebih bagi kita untuk memanjat keatas!” kata Dante lagi menambahkan.


Lalu dia menunjuk lagi ke layar ponselnya dan barack pun mengangguk lalu menyuruh semuanya mengerjakan apa yang diminta Dante sedangkan pria itu berpikir bagaimana dia harus naik keatas.


“Jaraknya lima meter keatas.” Dante mengukur dan dia melirik kearah bawah. “Tidak ada pasukan disini, mereka semua pasti sudah menyerang masuk kedalam. Baguslah kalau begitu.”


Dante melepaskan sabuk pinggangnya. “Aku rasa dengan ini bisa naik keatas.” Dante memencet kepala sabuk itu dan menempelkannya ke dinding diatas kaca.


Lalu perlahan-lahan kepala sabuk itupun bergerak naik keatas sendiri! Seperti merayap dengan roda kecil, terus naik keatas sehingga Dante hanya perlu berpegangan pada sabuknya dan mengikuti kepala sabuk menuju keayas.


Sabuk itu memang didesain untuk mengangkat sekitar satu setengah kali berat badan Dante. “Bagus!” kini Dante sudah berada diatas atap lalu dia kembali memenet kepala sabuknya.


Benda itupun memanjang ujungnya seperti tali. “Cepatlah!” ujar Dante ketika melihat Anna yang naik lebih dulu diikuti Sarah dibelakangnya. ‘Aku tidak bisa menahan lebih dari dua orang.’ bisik hati Dante dan untung saja Barack mengerti setelah naik satu baru menyusul satu orang lagi. Dan yang naik berikutnya adalah Vince.


‘Jangan bicara.’ Dante memberikan tanda dengan ponselnya karena Sarah baru saja ingin bicara hingga dia pun terdiam. ‘Mengerikan sekali sih disadap dimana-mana. Mereka bisa mendengar suara lebih jelas dari manusia! Ya Tuhan, kalau tahu begini aku tidak akan ikut. Aku lebih baik dirumah saja bersembunyi bersama Bella!’ sungut Sarah dalam hatinya.


Dia benar-benar menyesal mengikuti Dante. Bahkan sampai siang ini mereka belum makan apapun.


“Barack, ayo cepatlah naik.” Barack pun sudah bergantung dan dia menutup jendela rapat-rapat sebelum Dante memencet kembali sabuknya dan menarik Baarck keatas. Sedangkan yang lainnya sudah berada naik duluan.


‘Kenapa kau tidak melakukan ini dari tadi? Kau menyiksa kami harus naik sendiri dengan tangan kami?’ Sarah menunjukkan ke layar ponselnya mengajak Dante bicara dan Dante pun menggelengkan kepalanya.


‘Memang sudah aturannya seperti itu! Sabuk ini hanya bisa memanjang satu kali. Setelah itu tidak bisa memanjang lagi. Baterainya bisa habis!’


Dante menuliskan dilayar ponselnya dan dia sudah memakai kembali sabuknya.


Bruk Bruk Bruk


‘Dante sepertinya mereka sudah tahu kalau kita nai.’ Barack menulis di ponselnya.

__ADS_1


‘Sepertinya mereka sudah berhasil masuk dan kita tidak ada disana.” balas Dante lalu dia menunjuk kearah helikopter yang sudah tiba disana.


“Lihatlah jemputan kita sudah datang!” Dante tersenyum ketika melihat helikopter itu semakin mendekat. Lalu dia melirik Barack dan mengangguk. “Ayo cepat, mereka sudah menurunkan tangga.”


“Mereka diatas!” teriak seseorang yang sudah terdengar oleh Dante. Pria dibawah itu sepertinya melihat helikopter yang mendekat kearah atap.


Dor Dor Dor


Beberapa senjata pun sudah menyerang lagi.


“Dante bagaimana ini?”


“Tidak masalah. Semuanya akan baik-baik saja! Kita harus cepat naik!” Dante meraih tali tangga lalu menarik Anna untuk naik lebih dulu sedangkan Sarah naik melalui sisi lainnya karena diantara dua pintu elikopter itu dua-duanya melemparkan tali.


“Kau langsung naik saja Barack.”


“Iya Dante.” sahut Barack melirik Vince. “Kau selanjutnya.”


“Baiklah.” Vince menaiki tali yang dinaiki oleh Anna yang sudah hampir sampai di helikopter. Sedangkan Dante dan Manuel masih menunggu dibawah membiarkan yang lain naik lebih dulu.


“Sekarang kita naik Manuel.” ucap Dante.


Dor Dor Dor


“Nick? Apa kau bisa mendengarku?” tanya Dante.


“Aku sudah mengirimkan yang tadi kau minta Dante! Cepatlah pergi dalam waktu satu menit!” Nick bicara dengan Dante tapi ini membuat Dante memegangi jantungnya yang terasa sangat sakit.


Tak baik melakukan telepati seperti itu berulang-ulang tapi Dante masih tetap melakukannya karena dia ingin menjaga kerahasiaan obrolannya dengan Nick.


“Dante, kau tidak apa-apa?” tanya Manuel yang melihat Dante menahan rasa sakit dijantungnya. Sehingga dia menahan dirinya untuk tidak naik dan menunggu Dante.


“Aku tidak apa-apa. Cepatlah naik! Sarah sudah naik dan yang lainnya juga. Hanya kita yang belum.”


Setelah melihat Barack sudah sampai ditengah dan Sarah tak lagi bergantung pada tali, Manuel buru-buru naik begitupun Dante.


“Jangan tunggu kami sampai diatas, minta jalankan helikopternya segera menjauh.”

__ADS_1


“Dante, berpeganganlah! Kau siap kalau helikopter bergerak sekarang?” tanya Barack.


“Cepat! Kita tidak punya banyak waktu lagi.” Dante tidak mau membahas masalah itu dan dia mencoba untuk tetap fokus sambil menahan rasa sakit dijantungnya.


“Aku mengerti!” Barack pun meminta pilot segera menjalankan helikopter seperti perintah Dante.


Dor Dor Dor


Sambil terus naik dan helikopter menjauh disertai dengan banyaknya peluru yang menyerang mereka berusaha untuk kabur secepatnya.


“Naikkan tangganya!” setelah Dante diatas dan Vince memberikan tangannya pada Dante untuk membantunya naik, mereka pun segera menaikkan tannga itu untuk mencoba menjauh disaat yang bersamaan sebuah rudal sudah mendekat.


DUAAARRRR


“Dante kau tidak apa-apa?” Barack segera menarik Dante lalu menatap kearah pilot.


“Air! Kalian ada bawa air?” teriak Barack pada pilot.


Dante menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak membutuhkan iar.”


“Dante!” teriak Barack dengan cemas.


“Tidak Barack! Aku tidak bisa sembarangan minum. Cairan itu bisa ada didalam air manapun! Dan aku tidak tahu apakah pilot itu masih manusia atau bukan!”


Dante bicara secara blak-blakan hingga membuat Barack pun mengeryitkan dahinya.


“Hei kalian manusia atau bukan?” tanya Barack pada pilot.


“Maksud anda tuan?” tanya pilot dengan bingung.


“Apa kau yakin mereka masih manusia dan bukan robot?” tanya Barack pada Dante.


Dante menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak tahu mereka manusia atau bukan. Aku tidak tahu.” Dante bicara sambil memegangi jantungnya.


‘Aku belajar dari pengalaman. Aku melihat pramugrai yang ada dipesawat pribadiku. Aku juga melihat pilot yang ada dipesawat pribadiku. Mereka masih sama seperti manusia biasa.’ bisik hati dante.


‘Diawal memang mereka terlihat seperti manusia biasa tapi setelah beberapa lama seperti tadi yang terjadi pada Tatiana! Jadi aku akan mengamati mereka benar-benar!’ ucap Dante didalam hatinya yang selalu berhati-hati apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini.

__ADS_1


‘Dante, aku mohon jangan lakukan itu lagi. Tidak bagus untuk jantungmu. Aku tidak mau kau mati!’


__ADS_2